Anda di halaman 1dari 19

UPAYA PENANGANAN LIMBAH

BATIK DENGAN BIOREMEDIASI


MENGGUNAKAN Polyporus rubidus
Disusun Oleh :
Haryanti 0402514029
Fanny Firman Syah 0402514042
Afriani Laela Nuritasari 0402514049
Ardiyana Pratono 0402514077
Yunita Wulansari 0402514079
Limbah
Limbah Padat Limbah Cair Limbah gas

hasil buangan industri sisa dari proses usaha


yang berupa padatan, dan/atau kegiatan yang
lumpur, bubur yang berwujud cair.
berasal dari sisa kegiatan Contohnya : Limbah dari sisa dari proses usaha
dan atau proses pabrik tahu dan tempe dan/atau kegiatan yang
pengolahan. . yang banyak berwujud gas/asap.
Contohnya: limbah dari mengandung protein, Contohnya : limbah dari
pabrik tapioka yang dari industri pengolahan pabrik semen
berupa onggok, limbah susu, dan limbah
dari pabrik gula berupa deterjen pencucian.
bagase,
Limbah Batik
Karakteristik utama dari limbah industri
tekstil batik adalah tingginya kandungan zat
warna sintetik, yang apabila dibuang ke
lingkungan tentunya akan membahayakan
ekosistem perairan. Zat warna ini memiliki
struktur kimia yang berupa gugus kromofor dan
terbuat dari beraneka bahan sintetis, yang
membuatnya resisten terhadap degradasi saat
nantinya sudah memasuki perairan.
Bioteknologi Lingkungan
Bioteknologi lingkungan dalam biologi
merupakan kajian yang menjanjikan mengenai
analisis dampak lingkungan (AMDAL) untuk
kesejahteraan dalam meningkatkan penjagaan
lingkungan hidup dalam kehidupan modern yang
lebih baik lagi di masa industrialisasi. Salah satu
perlakuan teknologi dalam bioteknologi lingkungan
dilakukan melalui mikrobiologi yang sudah
dikembangkan pada abad 20, seperti mengaktivasi
berbagai kotoran (hewan dan manusia) dan
pencernaan anaerobik hewan, kotoran-kotoran lain
yang berserakan di lingkungan tempat tinggal kita.
Bioremidiasi
Bioremediasi merupakan pengembangan
dari bidang bioteknologi lingkungan dengan
memanfaatkan proses biologi dalam
mengendalikan pencemaran. Laju degradasi
mikroba terhadap zat pencemar tergantung pada
beberapa faktor, yaitu aktivitas mikroba, nutrisi,
derajat keasaman dan faktor lingkungan
(Hardiani, dkk., 2011).
Teknologi bioremediasi

Ex-situ adalah pengelolaan yang meliputi


pemindahan secara fisik bahan-bahan yang
terkontaminasi ke suatu lokasi untuk
penanganan lebih lanjut.

in situ adalah perlakuan yang langsung


diterapkan pada bahan-bahan kontaminan di
lokasi tercemar.
Teknologi bioremediasi dalam
menstimulasi pertumbuhan mikroba
Biostimulasi Bioaugmentasi Intrinsik
Dengan cara Dengan cara
memperbanyak dan penambahan produk
mempercepat mikroba komersial ke
pertumbuhan mikroba terjadi secara alami di
dalam limbah cair dalam air atau tanah
yang sudah ada di daerah
tercemar dengan cara untuk meningkatkan yang tercemar.
memberikan lingkungan efisiensi dalam
pertumbuhan yang pengolahan limbah
diperlukan, yaitu secara biologi.
penambahan nutrien dan
oksigen.
Jamur sebagai Agen Bioremediasi

Proses bioremediasi yang menggunakan jamur


sebagai agen pengurainya disebut dengan
mikoremediasi. Jamur sebagai agen bioremediasi
digunakan untuk detoksifikasi lingkungan yang
tercemar polutan berbahaya. Salah satu peran jamur
dalam bioremediasi dilakukan oleh miselium. Miselium
ekstraselular yang mengeluarkan enzim dan asam yang
memecah lignin dan selulosa, dua blok bangunan utama
tanaman serat
Jamur yang sampai saat ini banyak digunakan
dalam bioremediasi adalah jamur pelapuk putih (white
rot fungi).
Penelitian di Indonesia menujukkan bahwa jamur
pelapuk putih mampu menguraikan biomassa ampas
tebu (Rosyida, dkk., 2013), mendegradasi insektisida
jenis karbofuran dalam tanah sebanyak 6-22% (Chanif,
dkk., 2015), serta mengurangi bobot dan
mendekomposisi limbah kakao selama 40 hari (Rahim,
dkk., 2015).
Polyporus rubidus merupakan salah satu jenis
spesies jamur pelapuk putih yang memiliki kemampuan
bioremediasi. Jamur ini mendegradasi zat pencemar dan
zat warna sebesar 80% (Dayaram & Debjani, 2008).
Jamur Polyporus sp. mampu mendegradasi polutan
fenantren sebanyak 150 mg/ml selama 96 jam (Tony,
dkk., 2011), dan minyak mentah dalam tanah sebesar
93% (Kristianti, dkk., 2011).
• Dayaram dan Debjani (2008), salah satu jenis jamur lapuk
putih yaitu Polyporus rubidus mampu mendegradasi zat warna
sintetik, yaitu reactive blue, remazol black, reactive orange
dan congo red. Pada konsentrasi 100 mg/L, jamur Polyporus
rubidus dapat mendegradasi 90% zat warna reactive blue
dalam lama inkubasi 5 hari. Dan enzim laccase yang
dihasilkan oleh jamur Polyporus rubidus juga mampu
mengdegradasi limbah cair industri tekstil. Jamur Polyporus
rubidus merupakan jamur yang paling efektif digunakan untuk
mendegradasi zat warna dan zat pencemar lain yang ada di
limbah.
Jamur lapuk putih mampu menghasilkan enzim
lignolitik ekstraseluler yaitu laccase, mangan
peroksidase (MnP) dan lignin peroksidase (LiP) yang
berperan penting dalam mendegradasi lignin, selulosa
dan hemiselulosa. Ketiga enzim ini bertanggung
jawab terhadap pemecahan awal polimer lignin dan
menghasilkan produk dengan berat molekul rendah
(Hakala, 2007).
Mekanisme degradasi lignin oleh enzim
MnP
Perbedaan jamur dan bakteri
Pada sistem jamur, enzim
Bakteri menguraikan senyawa pendegrasi disekresi
organik polutan dengan cara (dikeluarkan) oleh jamur dari
mengambil senyawa tersebut miselianya, atau disebut
kedalam selnya dan enzim ekstra seluler. Dengan
memanfaatkan enzim demikian, proses biodegradasi
intraseluler. Dengan terjadi diluar sel jamur, atau
mekanisme ini, diffusi miselianya. Dengan
senyawa polutan kedalam mekanisme ini dapat
dinding sel dibatasi oleh mengatasi permasalahan
ukuran molekul senyawa ukuran molekul senyawa
polutan, ukuran dinding sel, polutan dan toksisitas
dan toksisitas dari senyawa senyawa polutan terhadap
akan mengganggu atau mikroorganisme
bahkan mematikan bakteri. pendegradasi.

.
Pengolahan limbah batik
• Pengolahan limbah cair batik adalah bagaimana
menghilangkan atau menurunkan unsur-unsur dan
senyawa pencemar dari limbah tekstil untuk
mendapatkan effluent dari pengolahan yang
mempunyai kualitas yang dapat diterima oleh badan
air penerima buangan tanpa gangguan fisik, kimia
dan biologis.
Cara pengoalahan limbah batik

1. Pengolahan limbah cair batik secara fisik


Pada pengolahan ini bertujuan untuk menyisihkan atau
memisahkan bahan pencemar tersuspensi atau melayang
yang berupa padatan dari dalam air limbah. Pengolahan
limbah cair secara fisik pada industri tekstil, misalnya
penyaringan dan pengendapan. Aerasi adalah proses
awal yang selalu dilakukan secara terbuka maupun
dengan paksa (injeksi udara).
2. Pengolahan limbah cair batik secara kimia
Pada pengolahan ini bertujuan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),
menetralkan limbah cair dengan cara menambahkan
bahan kimia tertentu agar terjadi reaksi kimia untuk
menyisihkan bahan polutan. Pada pengolahan ini
menggunakan arang aktif. Arang aktif selain lebih
ekonomis dan juga lebih aman bagi lingkungan.
3. Pengolahan limbah cair batik secara biologi
Pengolahan secara biologi ini memanfaatkan
mikroorganisme yang berada di dalam air untuk
menguraikan bahan-bahan polutan. Pengolahan limbah
cair secara biologi ini dipandang sebagai pengolahan
yang paling murah, efisien dan ramah lingkungan.
Pengolahan ini digunakan untuk mengolah air limbah
yang biodegradable. Selain itu pengolahan limbah cair
tekstil berdasarkan karakteristiknya, limbah tersebut
juga dapat diolah dengan berbagai macam metode
yang inovatif.
Pengolahan Limbah Batik Sederhana