Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

KETOROLAC DAN NIFEDIPIN SEBAGAI TOKOLITIK PADA


ANCAMAN PERSALINAN PREMATUR

Pembimbing
dr. G. S. Heru Tribawono, Sp. OG

Disusun Oleh :
Putri Dery Cahyani (201620401011123)

SMF ILMU KANDUNGAN DAN GINEKOLOGI


RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
LATAR BELAKANG
• Ancaman Persalinan Prematur  penyebab utama
morbiditas dan mortalitas neonatus  maturitas organ
pada bayi lahir: paru, otak, dan gastrointestinal.
• Prevalensi di dunia 80% dari kematian neonatus adalah
akibat prematuritas dan bayi yang selamat 10%
mengalami permasalahan dalam jangka panjang
• Prevalensi di Indonesia 14% dari sekitar 4 juta
kelahiran.
• Penundaan persalinan  tokolitik  menghilangkan
kontraksi uterus  persalinan prematur dapat dihambat
 menurunkan angka mortalitas dan morbiditas janin
akibat prematuritas
DEFINISI

• Persalinan prematur  puncak kontraksi uterus yang reguler


disertai dengan perubahan serviks sebelum usia kehamilan 37
minggu.
• Persalinan prematur diartikan oleh WHO sebagai kelahiran
diantara usia kehamilan 20-37 minggu.
• Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun
2005 menetapkan bahwa persalinan prematur adalah persalinan
yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.
EPIDEMIOLOGI

• Di negara Barat sekitar 80% dari kematian neonatus adalah


akibat prematuritas, dan pada bayi yang selamat 10% mengalami
permasalahan dalam jangka panjang .
• Di Indonesia sekitar 14% dari sekitar 4 juta kelahiran.
• WHO tahun 2015, Indonesia menempati urutan ke 5 dari 10
negara yang memiliki jumlah persalinan preterm tertinggi di
dunia sebesar 675.700 kelahiran preterm atau 15,5 dari 100.000
Kelahiran Hidup
Masalah Persalinan Preterm

• WHO  Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian


Bayi (AKB) dunia masih tinggi.
• AKN di dunia sebesar 22 per 1000 kelahiran hidup
• Kelainan jangka pendek  RDS (Respiratory Distress Syndrome),
perdarahan intra/periventrikular, NEC (Necrotizing Entero
Colitis), displasi bronko-pulmonar, sepsis, dan paten duktus
arteriosus.
• Kelainan jangka panjang  kelainan neurologik seperti serebral
palsi, retinopati, retardasi mental, disfungsi neurobehavioral dan
prestasi sekolah yang kurang baik
FAKTOR RISIKO
• Faktor Iatrogenik
• Faktor Maternal
1. Usia ibu
2. Riwayat Kelahiran Prematur
3. Trauma
4. Infeksi
5. Gaya Hidup
6. Kesenjangan Ras dan Etnik
7. Pekerjaan
8. Genetik
9. Jarak Kehamilan
10. Inkompetensi Servik
• Faktor Janin
1. Kehamilan Ganda/gemeli
2. Abortus
3. Kelainan Kongenital
PATOFISIOLOGI
PERAN MAKROFAG PADA
DESIDUA
DIAGNOSIS
Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman
persalinan preterm, yaitu:
1. Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8 menit sekali,
atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
2. Adanya nyeri pada punggung bawah
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan pada daerah serviks
5. Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan
sedikitnya 2 cm dan penipisan 50-80%
6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal
terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
Indikator yang dijadikan sebagai acuan
terjadinya ancaman persalinan prematur

• Klinis
Timbulnya kontraksi dan pemendekan serviks
• Laboratorium
Leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih), pemeriksaan CRP (>
0,7 mg/dl), pemeriksaan leukosit dalam serum ibu ( > 13.000 / ml).
• Biokimia
1. Fibronektin janin: peningkatan kadar fibronektin janin 50 ng/ml
2. Peningkatan Corticotropin Releasing Hormone (CRH)
3. Sitokin inflamasi
4. Isoferitin plasenta: tidak hamil10 U/ml dan meningkat
selama kehamilan, mencapai puncak pada trimester akhir yaitu
54,8 ± 53 U/ml.
5. Feritin yang rendah merupakan indikator kekurangan zat besi
PENATALAKSANAAN
• Tirah Baring
• Tokolitik
1. Nifedipine
Diberikan per oral. Dosis 10 mg/oral diulang 2-3 kali/jam,
dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang. Diberikan lagi jika
timbul kontraksi berulang
2. Inhibitor Prostaglandin
Indomethacine: 50-100 mg dilanjutkan dengan interval 8 jam
dengan dosis total selama 24 jam tidak melebihi 200 mg.
3. Magnesium Sulfat
Dosis awal 4g intravena diikuti dengan infus secara kontinu 2g/jam
4. Agonis Reseptor β-Adrenergik
Terbutalin Sulfat: 0,25 mg subkutan diulang tiap 4 jam
OBAT-OBAT TOKOLITIK
EVALUASI KLINIS

• Kortikosteroid
1. Betametason 2 x12 mg/IM dengan jarak pemberian 24 jam
2. Dexametason 4x6 mg/IM dengan jarak pemberian 12
• Antibiotik
Eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari.
Obat pilihan lain : Ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari
Langkah-Langkah Untuk Mencegah Ancaman
Persalinan Prematur

1. Hindari kehamilan pada ibu usi terlalu muda > 17 tahun


2. Hindari jarak kehamilan terlalu dekat
3. Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh
pelayanan antenatal yang baik
4. Anjurkan tidak merokok maupun mengkonsumsi obat terlarang
5. Hindari kerja berat dan perlu cukup istirahat
6. Obati penyakit yang dapat menyebabkan ancaman persalinan
prematur
7. Kenali dan obati infeksi genitalia atau saluran kemih
8. Deteksi dan pengamanan faktor risiko terhadap persalinan
prematur mengancam
KETOROLAC

• Ketorolac digunakan untuk jangka pendek (tidak lebih dari 5 hari).


• Ketorolac merupakan obat penghambat prostaglandin yang bekerja
dengan menghambat sintesis prostaglandin dan menghambat aksi
prostaglandin pada organ target.
• Ketorolac merupakan salah satu obat yang efektif dalam menghambat
persalinan prematur. Penggunaan obat ini selama 48-72 jam  efek
samping ibu: gangguan gastrointestinal, cefalgia, peningkatan ureum
dan creatinin, retensi cairan dan edema.
• Terjadinya perdarahan  menghambat fungsi agregasi trombosit
sehingga waktu perdarahan memanjang.
• Efek samping janin  oligohidramnion sekunder, menurunkan
perfusi ginjal fetus, penutupan duktus arteriosus prematur dan
hipertensi pulmonal pada saat lahir.
KETOROLAC
• Ketorolac mempunyai risiko kecil terhadap janin pada umur
kehamilan <32 minggu dan pemakaian <48 jam.
• Ketorolac menghambat kerja enzim ini sehingga produksi
prostaglandin akan menurun, kadar kalsium sel menurun dan
kontraksi dihambat. Mekanisme penghambatan sistem COX-2
ketorolac lebih selektif sehingga diharapkan efek samping ke
janin minimal.
• Dosis awal untuk tokolitik: 60 mg IM. Apabila masih terdapat
kontraksi uterus, pemberian diulang 6 jam kemudian dengan
dosis 30 mg IM.
• Maintenance diberikan ketorolac 3x10 mg IM. Dosis maksimal
ketorolac dalam 24 jam adalah 90 mg.
NIFEDIPINE
• Absorbsi terjadi di usus. Bioavaibilitasnya sebesar 65%.
Konsentrasi puncak tercapai dalam 30 menit. Efek dari obat ini
akan nampak 30-60 menit setelah pemberian oral. 70-99%
berikatan dengan plasma protein dan waktu paruh dalam
plasma berkisar sekitar 2 jam
• Nifedipin dipergunakan secara luas sebagai obat anti hipertensi
yang diberikan secara oral ataupun sublingual. Selain itu ada
juga efeknya pada uterus yaitu sebagai tokolitik
• Nifedipin menghalangi aktivitas kontraksi otot polos uterus
pada wanita hamil dan pasca persalinan. Nifedipin akan
mengurangi konsentrasi kalsium bebas di sitoplasma sehingga
menghambat kontraksi otot polos uterus.
• Efek samping : pusing, mual, flushing, hipotensi, edema paru
dan gagal jantung.
Patofisiologi Ketorolac Dan Nifedipin Dalam Mencegah
Terjadinya Persalinan Prematur.
KESIMPULAN
• Tokolitik  menghilangkan kontraksi uterus  persalinan prematur dihambat.
Tokolitik dapat memperpanjang fase laten persalinan prematur antara 24–48
jam, yang dipergunakan untuk mempersiapkan pematangan paru janin. Tujuan
akhir  menurunkan mortalitas dan morbiditas janin akibat prematuritas.
• Nifedipin mempunyai efek pada uterus sebagai tokolitik. Nifedipin menghalangi
aktifitas kontraksi otot polos uterus wanita hamil dan pasca persalinan dengan
menghalangi aliran kalsium pada membran sel otot.
• Efektivitas ketorolac dan nifedipin adalah sama dalam mencegah persalinan
prematur selama 2x24 jam. Mekanisme penghambatan sistem COX-2 ketorolac
lebih selektif sehingga efek samping ke janin minimal. Ketorolac memiliki risiko
kecil terhadap janin pada usia kehamilan <32 minggu dan pemakaian <48 jam.
• Nifedipin secara signifikan menghalangi aktivitas kontraksi otot polos uterus
pada wanita hamil dan pasca persalinan. Nifedipin efektif mengurangi
kontraktilitas miometrium pada kehamilan sehingga efek samping pada ibu dan
janin minimal.
TERIMA KASIH