Anda di halaman 1dari 35

DIARE TANPA DEHIDRASI

Disusun Oleh: Pembimbing:


Raisha Triasari, S. Ked dr. Sumarni, M.Kes, Sp.GK
N 111 17 136 dr. Nur Indriyani

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TADULAKO
PALU 2017
LATAR BELAKANG

 Diare merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di negara


berkembang, karena mordibitasnya dan mortalitasnya yang masih tinggi.
 Diare melanjut dapat menyebabkan malnutrisi, defisiensi mikronutrien,
meningkatkan resiko morbiditas, dan mortalitias penyakit lain terkait diare
serta berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan.
 Menurut data UPTD Puskesmas Wani, angka kejadian diare pada tahun
2016 sebanyak 274 kasus atau 34,9%, menduduki urutan ke-5 dari pola
terbesar penyakit di daerah tersebut.
 Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kejadian diare,
seperti penyuluhan tentang diare dan PHBS.
 Upaya-upaya ini dapat menurunkan kejadian diare disetiap tahunnya,
namun belum dapat menekan kejadian diare secara optimal.
LATAR BELAKANG
 Sepuluh Penyakit Terbesar Puskesmas Wani Tahun 2016

No. Nama Penyakit Jumlah


1 Ispa 1610
2 Gastritis 695
3 Radang Sendi 393
4 Hipertensi 326
5 Diare 274
6 Hipotensi 248
7 Penyakit Kulit 239
8 Penyakit Rongga Mulut 217
9 Vulnus 108
10 Asma 95
TUJUAN

 Sebagai syarat penyelesaian tugas akhir di bagian Ilmu Kesehatan


Masyarakat
 Sebagai gambaran penyebaran penyakit diare dan beberapa
resiko penyebarannya di wilayah kerja Puskesmas Wani.
LAPORAN KASUS
Tanggal Pemeriksaan: 14 November 2017

Identitas Pasien Ayah Ibu


Nama An. M Tn. P Ny. I
Umur 6 tahun 43 tahun 40 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan
Pekerjaan - Petani Ibu Rumah Tangga
Agama Islam
Alamat Desa Wombo Kalonggo
ANAMNESIS
 Keluhan Utama
BAB cair sebanyak 5 kali.

 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke puskesmas Wani dibawa oleh ibunya dengan
keluhan BAB cair sejak 1 hari yang lalu. Dalam sehari frekuensi BAB cair
5 kali. BAB yang disertai lendir berwana kuning, berbau busuk yang
menyengat dan tidak ada darah. Selain itu pasien juga disertai
muntah sebanyak 1 kali. Nafsu makan menurun. Demam (+) 1 hari
timbul sebelum mengalami BAB cair. Mata cowong (-), Rewel (+),
Turgor < 2 detik, BAK lancar. Sebelumnya pasien mengonsumsi jajanan
kue yang dibeli pada saat penjual kue lewat di depan rumah pasien.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak pernah mengalami ini sebelumnya.
ANAMNESIS
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki yang sama dengan pasien
saat ini.

 Riwayat Kehamilan
- Antenatal : Ibu pasien sering memeriksakan kehamilannya pada
pelayanan kesehatan (bidan).
- Natal : Pasien lahir normal dan dibantu oleh bidan. Usia
kehamilan cukup bulan.
- Postnatal : Tidak ada kelainan.

 Riwayat Imunisasi
Diberikan semua jenis vaksin seperti HB O (0-7 hari), BCG (0-1 bulan),
Polio (0, 2, 4, 6 bulan), DPT/HB (2, 4, 6 bulan), dan Campak (9 bulan).
ANAMNESIS
 Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan

- Ibu pasien tidak mengetahui apakah anak-anak tetangga ada


yang mengalami buang air besar cair atau tidak. Pasien sering
bermain di luar rumah bersama anak-anak tetangga.

- Pasien makan 3 kali sehari dengan sayur atau lauk yang beraneka
ragam namun juga suka diberikan jajanan sekitar.

- Pasien belum mampu mencuci tangan sendiri.

- Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya.

- Untuk air minum, air untuk mandi, dan air untuk mencuci pakaian,
pasien mendapatkan dari air PDAM. Ibu pasien mengaku memasak
air untuk konsumsi rumah tangga menggunakan tungku kayu.
ANAMNESIS
 Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan

- Rumah pasien berada di dalam lorong, terdiri dari 3 kamar tidur,


ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan teras.

- Memiliki pencahayaan dan ventilasi udara yang cukup.

- Bagian teras, kamar mandi dan dinding bagian depan rumah


berlantai tegel. Sedangkan bagian ruang tamu, ruang keluarga,
kamar dan dapur masih berlantai semen.

- Kamar mandi terletak berdekatan dengan dapur.

- Didalam rumah tidak ada hewan peliharaan.


ANAMNESIS
 Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan

- Tempat pembuangan sampah terdapat di depan halaman rumah


pasien dan tidak ada tempat sampah khusus. Kemudian sampah
yang terkumpul akan dibakar.

- Di depan rumah terdapat tempat mengalir mata air yang


digunakan warga sekitar untuk mencuci baju, dan lain-lain/

- Terkadang ada hewan ternak seperti sapi dan kambing yang


berkeliaran di sekitar rumah, beserta kotorannya yang tersebar di
sekitar lingkungan rumah.
PEMERIKSAAN FISIK
Pasien An. M (6 tahun/Laki-laki/19 kg/95 cm)
Kondisi Umum Sakit ringan
Tingkat Kesadaran Compos Mentis
Status Gizi Gizi Baik
Nadi 104 kali/menit (kuat angkat, reguler)
Suhu 37,7oC
Pernapasan 24 kali/menit
Kulit Warna sawo matang, lapisan lemak di bawah kulit cukup.
Normosefal, rambut berwarna hitam, tipis dan tidak mengkilap,
konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, pupil bulat isokor
Kepala (diameter 3 mm). Tidak terdapat sekret pada hidung, tidak
terdapat pernapasan cuping hidung. Tidak ada sekret pada
telinga, bibir tidak sianosis.
Tonsil dan faring tidak tampak kelainan. Tidak terdapat
Tenggorokan-Leher
pembesaran kelenjar getah bening.
PEMERIKSAAN FISIK
Pasien An. M (6 tahun/Laki-laki/19 kg/95 cm)
Permukaan dada simetris, penggunaan otot-otot bantu
Paru
pernapasan (-).
(Inspeksi)
(Palpasi) Massa (-), nyeri tekan (-), taktil fremitus kiri = kanan.
(Perkusi) Sonor pada kedua lapang paru
(Auskultas)
Bronkovesilkuler +/+, wheezing (-/-), ronkhi (-/-).
Jantung Iktus Kordis tampak
(Inspeksi) Iktus Kordis teraba pada ICS V Linea Midclavicula Sinistra
(Palpasi)
(Perkusi) Pekak
(Auskultasi) Bunyi Jantung I dan II murni, reguler, dan bising jantung (-).
Abdomen Permukaan datar, seirama gerak napas.
(Inspeksi) Peristaltik kesan meningkat.
(Palpasi)
(Perkusi) Tympani
(Auskultasi) Massa (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.
PEMERIKSAAN FISIK
Pasien An. M (6 tahun/Laki-laki/19 kg/95 cm)
Turgor Turgor kembali segera
Ekstremitas atas Akral hangat, edema (-).
Ekstremitas Bawah Akral hangat, edema (-).
Pemeriksaan
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
Penunjang
Diagnosis Kerja Diare akut tanpa dehidrasi.
- Diare akut et causa Rotavirus
Diagnosis Banding
- Diare akut et causa salmonella
Anjuran - Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan - Pemeriksaan feses.
- Zin 20 mg (1 tablet) per hari.
Terapi
- Oralit diberi 200 ml setiap kali BAB cair.
Medikamentosa
- Paracetamol syrup 3x1
PEMERIKSAAN FISIK
Pasien An. M (6 tahun/Laki-laki/19 kg/95 cm)
Menganjurkan ibu melakukan kompres hangat bila anak
demam.
Menganjurkan ibu utuk memberi minum air matang atau susu
yang biasa di minum atau makanan yang mengandung air
seperti kuah sayur.
Mengedukasi ibu tata cara pemberian oralit dan zink serta
mengingatkan kembali untuk menghabiskan konsumsi zink
Terapi Non- selama 10 hari walaupun BAB sudah tidak cair.
Medikamentosa
Memberi makanan bergizi pada anak secara teratur untuk
membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Setelah diare berhenti, beri makanan yang sama dan makanan
tambahan selama 2 minggu.
Nasihati ibu untuk membawa anak di Puskesmas Wani kembali
apabila tidak membaik dalam 3 hari.
Istirahat yang cukup.
ANALISIS KASUS
 Pasien merupakan anak yang aktif, sering bermain di lingkungan
luar rumah.
 Pasien sering bermain dan kontak dengan tanah dan setelahnya
jarang mencuci tangan.
 Pasien juga belum pernah diajari cara mencuci tangan yang baik.
IDENTIFIKASI MASALAH PADA PASIEN
 Bagaimana masalah Diare di Wilayah kerja Puskesmas Wani?
 Faktor resiko apa saja yang mempengaruhi masalah Diare di
Wilayah kerja Puskesmas Wani?
 Bagaimana pelaksanaan program puskesmas terkait Diare di
Wilayah kerja Puskesmas Wani?
FAKTOR UTAMA
 Faktor Genetik
- Berdasarkan teori diare bukanlah penyakit keturunan.

 Faktor Perilaku
- Mencuci tangan tidak menggunakan sabun.
- Mengolah makanan dengan tidak higienis.

 Faktor Lingkungan
- Adanya kotoran hewan ternak seperti sapi dan kambing yang
berkeliaran di sekitar rumah.
- Kondisi rumah yang tidak sehat dimana pembuangan sampah
terdapat di depan rumah pasien tanpa ada tempat khusus
- Pasien yang mandi di kuala apabila air dari PDAM tidak mengalir.
FAKTOR UTAMA
 Faktor Pelayanan Kesehatan

- Di Puskesmas Wani, terdapat 1orang pemegang program diare


dan tersedianya sarana rehidrasi yang juga dikenal sebagai pojok
oralit sebagai media penyuluhan tentang penyakit diare. Namun,
terkendala karena tidak ada fasilitas pemeriksaan feses untuk
mengetahui penyebab diare.

- Perlunya ditingkatkan mengenai pelayanan kesehatan lingkungan


yang sangat penting dalam mengendalikan masalah diare.

- Upaya yang dapat dilakukan bisa dengan melakukan pelayanan


konseling, inspeksi faktor resiko lingkungan serta intervensi
lingkungan baik secara pembinaan maupun secara pemenuhan
kebutuhan dasar lingkungan fisik pasien yang bersangkutan.
ALUR PELAYANAN UPTD PUSKESMAS WANI

Pasien

Poli MTBS/Anak
(ukur TB,BB,Tanda Vital, anamnesis-
penatalaksanaan) sekalian dijelaskan
mengenai penggunaan oralit dan zink

Apotik
Memberikan obat sesuai
resep dokter
RENCANA TERAPI DIARE
Peniliaian A B C
Lihat
Lesu, lunglai atau
Keadaan Umum Baik, sadar Gelisah, rewel
tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat Cekung
Minum biasa tidak Haus. Ingin minum Malas minum atau
Rasa Haus
haus banyak tidak bias minum
Periksa
Kembali sangat
Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat
lambat
Dehidrasi Dehidrasi berat
ringan/sedang bila Bila ada 2 tanda
Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi
ada 2 tanda atau lebih atau lebih
lebih tanda lain tanda lain
Terapi Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C
Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO
RENCANA TERAPI DIARE
 Rencana Terapi A, untuk anak Diare tanpa Dehidrasi (Perawatan di
rumah)

- Beri cairan tambahan.


o Sampai umur 1 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali berak.
o Umur 1 sampai 5 tahun: 100 sampai 200 ml setiap kali berak.

- Katakan kepada ibu:


o Agar meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari
mangkuk/cangkir/gelas.
o Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi
dengan lebih lambat.

- Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

- Beri tablet Zinc selama 10 hari.

- Lanjutkan pemberian makan dan beritahu ibu kapan kembali.


RENCANA TERAPI DIARE
 Rencana Terapi B, untuk anak Diare dengan Dehidrasi Ringan-
Sedang

- Jumlah oralit untuk cairan parental (jika diperkirakan kebutuhan


cairan untuk pasien melaluli oral tidak tercukupi karena pasien
muntah) yang dibutuhkan 3 jam pertama: 75 ml/kg BB

- Berikan tablet zinc selama 10 hari


o < 6 bulan = 10 mg/hari (1/2 tablet)
o > 6 bulan = 20 mg/hari (1 tablet)

- Setelah 3 jam:
o Ulangi penilaian derajat dehidrasi
o Pilih rencana terapi yang sesuai
RENCANA TERAPI DIARE
 Rencana Terapi B, untuk anak Diare dengan Dehidrasi Ringan-
Sedang

- Berikan oralit setiap kali berak


o < 2 tahun = 50-100 ml setiap kali berak
o > 2 tahun = 100-200 ml setiap kali berak
o Atau 10 ml/kg BB/BAB
o Minumkan sedikit-sedikit tapi sering
RENCANA TERAPI DIARE
 Rencana Terapi C, untuk anak Diare dengan Dehidrasi Berat

- Beri cairan interavena secepatnya. Jika anak bias minum, beri oralit
melalui mulut sementara infus dipersiapkan.

- Berikan 100 ml/kg cairan Ringer Laktat (atau jika tidak tersedia,
gunakan NaCl) yang dibagi sebagai berikut:
o Bayi < 12 bulan, pemberian pertama 70 ml/kgBB selama 1 jam.
Pemberian selanjutnya selama 5 jam.
o Anak 1-5 tahun, pemberian pertama 70 ml/kgBB selama 30 menit.
Pemberian selanjutnya selama 2,5 jam.
RENCANA TERAPI DIARE
 Rencana Terapi C, untuk anak Diare dengan Dehidrasi Berat

- Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika nadi belum teraba, beri
tetesan lebih cepat.

- Beri oralit (kira-kira 5ml/kg/jam) segera setelah anak mau minum:


biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri juga
tablet Zinc.

- Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam.


RENCANA TERAPI DIARE
- Klasifikasikan dehidrasi dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk
melanjutkan pengobatan.

- Pada kasus ini, factor yang berperan dalam penularan diare ialah
faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan.

- Sangat penting bagi kita untuk waspada dengan menjaga perilaku


hidup bersih dan sehat untuk meminimalisir resiko tertular diare.

- Serta untuk pelayanan kesehatan agar lebih meningkatkan


koordinasi antara bagian konseling dengan bagian pelayanan
kesehatan terutama dalam melakukan sosialisasi.

- Sosialisasi seperti penyuluhan yang berkaitan dengan sanitasi


lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
KESIMPULAN
 Diare masih menempati posisi ke 5 dari 10 penyakit terbanyak di
Puskesmas Wani.

 Diare merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian


ASI eksklusif, imunisasi lengkap, penerapan gaya hidup sehat,
mengaplikasikan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjaga
kebersihan rumah agar tetap sehat.

 Kejadian penyakit diare pada kasus ini dipengaruhi faktor perilaku


dan faktor lingkungan.
SARAN
 Promosi Kesehatan (health promotion)

- Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas).


- Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air
bersih, pembuangan sampah, pembuangan tinja dan limbah.
- Edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, salah satunya
pentingnya mencuci tangan dengan sabun.
- Pendidikan kesehatan. Dalam hal ini perlu untuk memberikan
promosi kesehatan tentang makanan sehat dan cukup, bagaimana
menjaga higinitas dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan
kesehatan tentang diare di tingkat masyarakat dan sekolah-sekolah
di wilayah Puskesmas Wani.
SARAN
 Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu
(general dan specific protection)
- Pembuangan tinja di tempat yang aman, terutama yang berasal
dari penderita diare, baik penderita bayi, anak ataupun dewasa.
- Cuci tangan setelah buang air besar, setelah membersihkan kotoran
bayi dan anak, sebelum makan, menyuapi atau menyiapkan
makanan.
- Menjaga agar air minum terbebas dari pencemaran, baik di rumah
maupun di sumbernya.
- Memastikan kebersihan tempat penyimpanan makanan sehingga
tidak dihinggapi serangga ataupun tercemari oleh debu.
SARAN
 Penegakkan diagnose secara dini dan pengobatan yang cepat dan
tepat (early diagnosis dan prompt treatment)
Jika ada didapatkan penderita diare segera dilakukan penegakkan
diagnose dan pengobatan yang cepat dan tepat.

 Pembatasan kecacatan (disability limitation)


Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita
sembuh dan tak terjadi komplikasi, sehingga apabila telah
ditegakkan diagnosa diare diberikan pengobatan sesuai dengan
gejala dan dianjurkan untuk ke fasilitas kesehatan terdekat untuk
mendapatkan penanganan awal apabila didapatkan diare
dengan dehidrasi.
SARAN
 Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
Pada tingkat ini, pasien diberikan konseling tentang jika munculnya
gejala baru atau bertambah parah agar segera dibawa ke
puskesmas, misalnya BAB cair lebih banyak, lebih sering, disertai
darah, muntah, anak rewel/gelisah, tidak mau minum, dan
sebagainya.
LAMPIRAN

Gambar 1. Foto bersama


pasien dan ibunya serta
pemeggang program
promosi kesehatan.

Gambar 2. Ruang
keluarga dan kamar
pasien
LAMPIRAN

Gambar 3. Dapur, Kamar mandi, dan tempat mencuci piring dan baju.
LAMPIRAN

Gambar 4. Tempat pembuangan sampah yang berada


di depan rumah dan tampakan depan rumah pasien.
Thank you