Anda di halaman 1dari 28

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

REPUBLIK INDONESIA

SOSIALISASI
KREDIT USAHA RAKYAT
(KUR)

Sosialisasi Bersama antara Bank BRI dengan


Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan
kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi
Latar Belakang KUR
 Jumlah pelaku Usaha Mikro dan Kecil sebanyak 51,3
juta unit usaha
 Usaha Mikro dan Kecil menyerap tenaga kerja
sebanyak 90,9 juta pekerja
 Kontribusi Usaha Mikro dan Kecil terhadap PDB
sebesar 55,6% terhadap PDB
 UMKMK cukup strategis dalam membantu
perekonomian pada masa krisis
 Terbatasnya UMKMK dalam mengakses kredit/
pembiayaan dari Perbankan
 Terbatasnya kemampuan UMKM dalam menyediakan
agunan.
Kebijakan Pemerintah
 Dalam rangka membantu Usaha Mikro, Kecil,
Menengah, dan Koperasi (UMKMK) yang
produktif dan layak namun belum bankable
(belum memenuhi persyaratan
kredit/pembiayaan Bank) untuk dapat
mengakses kredit/pembiayaan dari bank.

 Untuk menjembatani kebutuhan UMKMK dalam


mengakses perbankan, Pemerintah
menerbitkan Inpres No. 6 tahun 2007 tentang
Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor
Riil dan Pemberdayaan UMKMK.
Pengertian KUR

KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)

Adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan


atau investasi kepada UMKMK di bidang usaha
yang produktif dan layak namun belum
bankable dengan plafon kredit sampai dengan
Rp. 500.000.000,- yang sebagian dijamin oleh
Perusahaan Penjamin.
Pengertian Usaha Layak & Belum Bankable

Usaha Layak :
adalah Usaha dari Calon Debitur KUR yang
menguntungkan/ memberikan laba sehingga mampu
membayar bunga/marjin dan mengembalikan
seluruh hutang/kewajiban pokok KUR dalam jangka
waktu yang disepakati antara Bank dengan Terjamin
dan memberikan sisa keuntungan untuk
mengembangkan usahanya.

Belum Bankable:
adalah Calon Debitur KUR yang belum dapat
memenuhi persyaratan perkreditan dari Bank antara
lain dalam hal penyediaan agunan dan pemenuhan
persyaratan perkreditan sesuai dengan ketentuan
Bank.
Kategori “Belum Bankable”

 Jenis dan nilai (ratio) Agunan belum


memenuhi ketentuan Perbankan.
 Legalitas & Perizinan belum memenuhi
ketentuan Perbankan.
 Lamanya usaha yang dijalankan.
 Ketentuan Bank Teknis lainnya, seperti :
Laporan Keuangan atau pembukuan yang
belum sesuai standar akuntansi, dsb.
Sumber Dana KUR

Sumber Dana Penyaluran KUR adalah


100% (seratus persen) bersumber dari
DANA BANK PELAKSANA yang dihimpun
dari dana-dana masyarakat (tabungan,
giro, dan deposito).
Maksud dan Tujuan KUR

 KUR dimaksudkan untuk meningkatkan akses


pembiayaan bagi UMKMK yang melakukan
kegiatan usaha produktif dan layak namun
belum bankable kepada Bank Pelaksana.

 KUR bertujuan untuk tercapainya percepatan


pengembangan sektor riil dan pemberdayaan
UMKMK dalam rangka penanggulangan/
pengentasan kemiskinan dan perluasan
kesempatan kerja.
SKEMA KUR

BANK
PELAKSANA
Nota Pemerintah
Kesepahaman
Bersama

Imbal Jasa
Kredit Pengembalian Penjaminan
Kredit

Perjanjian Kerjasama
(Penjaminan KUR)

UMKMK Perusahaan Penjamin


USAHA PRODUKTIF & LAY AK
Pihak-pihak terkait KUR
Bank Pelaksana
Pemerintah 1. Bank BRI
1. Kemenko Perekonomian 2. Bank Mandiri
2. Kementerian Keuangan 3. Bank BNI
3. Kementerian Pertanian 4. Bank BTN
4. Kementerian Kehutanan 5. Bank Bukopin
5. Kementerian Kelautan & Perikanan 6. Bank Syariah Mandiri
6. Kementerian Perindustrian 7. Bank DKI
7. Kementerian Koperasi & UKM 8. Bank Nagari
8. Kementerian Perdagangan 9. Bank Jabar Banten
9. Kementerian BUMN 10. Bank Jateng
11. BPD DIY
Perusahaan Penjaminan 12. Bank Jatim
1. PT. Askrindo 13. Bank NTB
2. Perum Jamkrindo 14. Bank Kalbar
15. BPD Kalsel
16. Bank Kalteng
Pengawasan 17. Bank Sulut
1. Bank Indonesia 18. Bank Maluku
2. B P K P 19. Bank Papua
Sasaran debitur kur
USAHA MIKRO USAHA KECIL

Usaha produktif milik Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,


orang perorangan yang dilakukan oleh orang perorangan/badan
dan/atau badan usaha usaha yang bukan merupakan anak perusahan
perorangan yang atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki,
memenuhi kriteria usaha
dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
mikro sbb :
maupun tidak langsung dari usaha menengah
- Asset ≤ Rp. 50 juta atau usaha besar yang yang memenuhi kriteria
(tidak termasuk tanah & sbb :
bangunan tempat usaha); - Rp 50 juta < Asset ≤ Rp 500 juta
atau (tidak termasuk tanah & bangunan
tempat usaha); atau
- Omzet ≤ Rp.300 juta
- Rp.300 juta < Omzet ≤ Rp. 2,5 miliar
Sasaran Debitur KUR
USAHA MENENGAH KOPERASI
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perorangan atau
Badan Usaha yang
badan usaha yang bukan merupakan anak beranggotakan orang
perusahaan atau cabang perusahaan yang seorang atau badan hukum
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dengan Koperasi dengan
Usaha Besar dengan jumlah kekayaan melandaskan kegiatannya
bersih atau hasil penjualan tahunan yang
Memenuhi kriteria :
berdasarkan prinsip koperasi
sekaligus sebagai gerakan
- Rp.500 juta < Asset ≤ Rp.10 M ekonomi rakyat yang
(tidak termasuk tanah & bangunan tempat
usaha) berdasar atas asas
atau kekeluargaan.
- Rp.2,5 M < Sales ≤ Rp. 50 M
Sasaran Debitur KUR
KELOMPOK USAHA LEMBAGA LINKAGE
Lembaga yang menerus
kumpulan orang pinjamkan KUR dari Bank
kepada Calon Debitur KUR,
perorang atau badan usaha yaitu Koperasi Sekunder,
(UMKM) yang melakukan Koperasi Primer (Koperasi
kegiatan usaha produktif dan Simpan Pinjam, Unit Simpan
Pinjam Koperasi), Badan Kredit
dibentuk atas dasar kesamaan Desa (BKD), Baitul Mal Wa
kepentingan atau kesamaan Tanwil (BMT), Bank
kondisi lingkungan untuk Perkreditan Rakyat/Syariah
(BPR/BPRS), Lembaga
meningkatkan usaha Keuangan Non Bank,
anggotanya. Kelompok Usaha, Lembaga
-
Keuangan Mikro.
Kriteria Calon Debitur KUR
1. Masuk dalam kriteria UMKMK, Kelompok Usaha dan Lembaga
Linkage serta End-User.
2. Menjalankan usaha produktif yang layak.
3. Tidak sedang menerima kredit/pembiayaan dari perbankan
dan/atau yang tidak sedang menerima Kredit Program dari
Pemerintah.
4. Dapat sedang menerima kredit konsumtif.
5. Dalam hal UMKMK masih tercatat pada Sistem Informasi
Debitur BI, tetapi telah melunasi pinjaman, maka diperlukan
Surat Keterangan Lunas Bank sebelumnya;
6. Untuk KUR Mikro tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan
Sistem Informasi Debitur BI.
7. Dapat menyerap tenaga kerja.
8. Bukan hasil take over Kredit dari bank lain.
Mekanisme Penyaluran KUR
I. Langsung dari Bank Pelaksana ke UMKMK
Bank Pelaksana b Perusahaan
Penjamin

UMKMK

a. Bank melakukan analisa kelayakan usaha calon


Debitur KUR. Jika dinilai layak dan disetujui, maka
Bank dan Debitur KUR menandatangani Perjanjian
Kredit
b. Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada
Perusahaan Penjamin.
Mekanisme Penyaluran KUR (lanjutan…)
II. Tidak langsung melalui lembaga linkage dgn Pola Executing
a. Lembaga Linkage mengajukan
permohonan KUR kepada Bank
Perusahaan Pelaksana.
Bank Pelaksana c
Penjamin b. Bank Pelaksana melakukan pengecekan
SID dan analisa kelayakan. Apabila layak
dan disetujui maka Bank Pelaksana
Perjanjian Kredit/ Pembiayaan dengan
Lembaga Linkage.
a b c. Bank Pelaksana mengajukan permintaan
a penjaminan KUR kepada Perusahaan
Penjamin atas nama Lembaga Linkage.
d d. Lembaga Linkage menyalurkan KUR
yang diterima dari Bank Pelaksana
Lembaga kepada debitur UMKMK dari Lembaga
Linkage UMKMK Linkage.
e e. Debitur UMKMK melakukan pembayaran
kewajiban KUR kepada Lembaga
Linkage.
Mekanisme Penyaluran KUR (lanjutan…)
III. Tidak langsung melalui lembaga linkage dgn Pola Channeling
a. UMKMK memberikan kuasa kepada pengurus
Lembaga Linkage untuk mengajukan kredit &
Bank d menjaminkan agunan kepada Bank Pelaksana;
Perusahaan
Pelaksana Penjamin b. Lembaga Linkage mewakili UMKMK mengajukan
permohonan KUR kepada Bank Pelaksana.
c. Bank Pelaksana melakukan pengecekan SID dan
analisa kelayakan. Jika layak dan disetujui, maka
Lembaga Linkage dengan UMKMK atau
PK c Lembaga Linkage denan Bank Pelaksana
b menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan..
d. Bank mengajukan permohonan penjaminan
kepada perusahaan penjamin atas nama
e UMKMK.
Lembaga UMKMK e. Lembaga Linkage menerus pinjamkan KUR yang
Linkage diterima dari Bank Pelaksana kepada debitur
a UMKMK.
f. Debitur UMKMK melakukan pembayaran
kewajiban KUR kepada Bank Pelaksana melalui
Lembaga Linkage.
DOKUMEN MINIMAL PENGAJUAN
KUR :

1. Identitas pribadi/pengelola/pengurus, misal : KTP, SIM,


Kartu Keluarga

2. Perijinan dan legalitas usaha sesuai bidang usaha (min. dari


Kelurahan), misal : NPWP, SIU, TDP, dll.

3. Akta pendirian dan Perubahannya (usaha telah berjalan


min. 6 bulan s/d 2 tahun – tergantung Bank Pelaksana).

4. Dokumen pendukung atas tempat usaha yang digunakan.

5. Laporan keuangan, min. Pembukuan / catatan keuangan

6. Rekening giro dan atau tabungan di Bank


Ketentuan Penyaluran KUR Melalui
Lembaga Linkage Pola Executing
1) Lembaga Linkage tersebut diperbolehkan sedang memperoleh
Kredit/ Pembiayaan dari perbankan.
2) Lembaga Linkage tersebut tidak sedang memperoleh Kredit
Program Pemerintah.
3) Plafon KUR yang dapat diberikan oleh Bank Pelaksana kepada
Lembaga Linkage maksimal sebesar Rp. 1.000.000.000,- dengan
jangka waktu sesuai ketentuan KUR.
4) Suku bunga KUR dari Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage
maksimal sebesar 14 % efektif pertahun.
5) Suku bunga dan plafon kredit/pembiayaan dari Lembaga Linkage
kepada UMKMK ditetapkan maksimal sebesar 22% efektif per
tahun dan maksimal Rp 100 juta per debitur.
6) Lembaga Linkage bertanggung jawab atas pengembalian KUR
yang diterima dari Bank Pelaksana.
7) KUR yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah KUR yang
diterima oleh Lembaga Linkage.
Ketentuan Penyaluran KUR Melalui
Lembaga Linkage Pola Channeling
1. Lembaga Linkage diperbolehkan sedang memperoleh
Kredit/Pembiayaan dari perbankan maupun Kredit Program
Pemerintah.
2. Jumlah KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana adalah
sesuai dengan daftar nominatif calon debitur yang diajukan oleh
Lembaga Linkage.
3. Plafon, suku bunga dan jangka waktu KUR melalui Lembaga
Linkage kepada debitur mengikuti ketentuan KUR Retail dan
KUR Mikro.
4. Atas penyaluran KUR tersebut, Lembaga Linkage berhak
memperoleh fee dari Bank Pelaksana yang besarnya ditentukan
berdasarkan kesepakatan dengan Bank Pelaksana.
5. Debitur KUR bertanggung-jawab atas pengembalian KUR.
6. Jumlah kredit yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah
sesuai dengan yang diterima oleh Debitur KUR.
Struktur KUR
Plafon KUR Mikro : s/d Rp. 5 juta
KUR Ritel : Rp.5 juta s/d Rp.500 juta
KUR melalui Lembaga Linkage Pola
Executing : maksimal Rp.1 miliar

Penggunaan Kredit Modal Kerja dan atau Kredit Investasi

Jangka Waktu Kredit Modal Kerja maksimal 3 tahun


Kredit Investasi maksimal 5 tahun
DAPAT diperpanjang, utk KMK maks. 6 Th dan
KI maks.10 tahun, terhitung sejak PK Awal.
Suku Bunga KUR Mikro : maks. 22% Eff pa
KUR Ritel : maks. 14% Eff p.a

Provisi & Adm Sesuai ketentuan Bank yang berlaku


Imbal Jasa Penjaminan dibayar oleh Pemerintah.

Agunan Utama : Usaha yang dibiayai


Tambahan : Sesuai ketentuan Bank
Ketentuan Perpanjangan & Suplesi KUR
1. Debitur masih belum dapat dikategorikan bankable.

2. Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi


Rp 5 juta untuk KUR Mikro atau tidak melebihi
sebesar Rp 500 juta untuk KUR Ritel atau tidak
melebihi Rp.1 Miliar untuk KUR yang diberikan
kepada Lembaga Linkage dengan pola executing.

3. Ketentuan lainnya, sesuai dengan ketentuan KUR


Mikro atau KUR Ritel atau KUR melalui Lembaga
Linkage.
Ketentuan Restrukturisasi KUR
1. Tidak diperbolehkan penambahan plafon pinjaman KUR.

2. Ketentuan lainnya sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau


KUR Ritel.

3. Terhadap KUR yang di restrukturisasi tidak menggugurkan


hak klaim dari Bank Pelaksana kepada Perusahaan
Penjamin

Jangka Waktu yang diberikan untuk Perpanjangan, Suplesi &


Restrukturisasi adalah Kredit Modal Kerja : maks. 6 tahun, Kredit
Investasi maks. 10 tahun, Terhitung sejak Pengikatan Kredit Awal.
Pengawasan Pelaksanaan KUR
1. Komite Kebijakan melakukan pengawasan
atas pelaksanaan KUR sebagai tindakan yang
bersifat preventif dan melakukan verifikasi
secara selektif melalui Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
2. BPKP akan bekerjasama dengan unit audit
internal Bank Pelaksana dan Perusahaan
Penjamin.
3. Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan
diatur tersendiri dalam Standar Operasional &
Prosedur (SOP) Pengawasan KUR.
Kewajiban Kementerian Teknis
1) Mempersiapkan UMKMK yang produktif (individu, kelompok,
kemitraan, cluster) yang dapat dibiayai dengan KUR;

2) Menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan


menerima penjaminan KUR;

3) Melakukan pembinaan dan pendampingan UMKMK selama


masa kredit/ pembiayaan atau ketika usulan kredit/
pembiayaan UMKMK ditolak oleh Bank Pelaksana;

4) Memfasilitasi hubungan antara UMKMK dengan pihak


lainnya seperti perusahaan inti/offtaker yang memberikan
kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha.
Langkah-langkah yang Dilakukan
Kementerian Teknis KUR
1) Menyiapkan rencana kerja pendukung pelaksanaan
KUR,

2) Memasukkan rencana kerja pendukung pelaksanaan


KUR sesuai tupoksinya dalam rancangan Rencana
Kerja Kementerian/ Lembaga (Renja K/L) masing-
masing, dan mengusulkan penganggarannya;

3) Pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan


perencanaan terkait pelaksanaan KUR dapat
dirumuskan dalam SOP tersendiri oleh Kementerian.
Kesimpulan
1. KUR diberikan untuk UMKMK yang produktif dan layak
namun belum bankable agar dapat mengakses
kredit/pembiayaan dari bank.
2. KUR merupakan pinjaman yang harus DILUNASI
kepada bank dan BUKAN Hibah.
3. UMKMK menyerahkan agunan sesuai ketentuan Bank.
4. Keputusan pemberian KUR sepenuhnya merupakan
kewenangan Bank.
5. UMKMK wajib membayar/mengangsur kewajiban
pengembalian KUR kepada Bank sampai lunas.
6. Apabila KUR tidak dilunasi maka ada konsekuensi
hukum.
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA

SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH