Anda di halaman 1dari 38

MODUL

SURVEY DAN PENGUKURAN

Ir. Irianto Uno, MSc.

BIMBINGAN TEKNIS JURU UKUR


BPK PU – LPJK SULTENG – FT UNTAD
Tahun 2013
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
1. Memahami prosedur pengukuran sesuai jenis konstruksi
2. Mampu mengawasi, mengendalikan dan mengoreksi
terhadap prosedur pekerjaan lapangan yang sedang diawasi
3. Memahami cara kerja alat ukur/pemetaan teknik serta
alternatif pemilihan alat sesuai jenis pekerjaan

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


1. Memahami jenis-jenis peta, skala dan produk-produk
pengukuran dan prosedur penggambaran sesuai dengan
spesifikasi yang berlaku
2. Memahami metode-metode dasar perhitungan pekerjaan
tanah
3. Dapat mengenal lebih jelas tentang pengoperasikan alat
ukur standar berupa Water Pass, Theodolith dan Kompas

Sasaran : Peserta Pelatihan


Bintek Juru Ukur
• WAKTU : 4 x 50 menit
• METODE : Ceramah, tanya jawab,
diskusi kelompok, dan tugas
• MEDIA PENGAJARAN : Multi Media
• ALAT EVALUASI : - Tugas
» - Test tertulis.
PENDAHULUAN

ARTI DAN TUJUAN ILMU UKUR TANAH


Ilmu Ukur Tanah adalah Ilmu yang berhubungan
dengan bentuk muka bumi (Topografi), artinya
Ilmu yang bertujuan menggambarkan bentuk
topografi muka bumi dalam suatu peta, dengan
segala sesuatu yang ada pada permukaan bumi
seperti kota, jalan, sungai, bangunan, dan lain-
lain, dengan skala tertentu. Sehingga dengan
mempelajari peta, kita dapat mengetahui jarak,
arah dan posisi tempat yang kita inginkan.

Tujuannya :
Membuat peta.
Menentukan elevasi dan arah.
Mengontrol elevasi dan arah, agar sesuai dengan
rencana dan lain-lain.

Pengukuran dalam lingkup teknik sipil meliputi :


Melakukan pengukuran sederhana.
Pengukuran Detail
Mentransfer data dalam bentuk gambar dan
hitungan di lapangan.
PENDAHULUAN

DIMENSI-DIMENSI YANG DAPAT DIUKUR


Jarak : Garis hubung terpendek antara 2 titik,
diukur dengan mistar, pita ukur,
theodolit, water pass.
Sudut : Besaran antara 2 arah yang bertemu pada satu
titik (untuk menentukan azimuth dan arah).

Ketinggian Jarak tegak diatas atau dibawah bidang


referensi, dapat diukur dengan water pass
dan rambu ukur.

PRINSIP DASAR PENGUKURAN


Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin
saja terjadi, maka tugas pengukur harus didasarkan
pada prinsip pengukuran yaitu :

- Perlu adanya pengecekan yang terpisah.


- Tidak ada kesalahan-kesalahan dalam pengukuran.

PEMAHAMAN SKALA

1. Dengan Cara Ekspresi / Verbal


1 cm = 10 m
2. Skala Reprentatif Fraction
1 : 1000
3. Skala Grafik
PENDAHULUAN
PETA DAN PLAN
1. Skala kecil Peta : 1 : 500.000, 1 : 250.000 s/d
1 : 25.000
2. Skala besar Plan : 1 : 10.000 s/d skala lebih besar .

PEMILIHAN JENIS ALAT UKUR


Dua Faktor Utama
1. Jenis Pekerjaan
2. Ketelitian
Semakin tinggi tingkat ketelitian (presisi) semakin tinggi pula
spesifikasi alat
Pada umumnya pekerjaan bidang keairan mengharuskan
presisi alat yang semakin tinggi.
Harga alat merupakan indikator tingkat ketelitian
hasil pengukuran
Untuk medan yang berat sebaiknya menghindari
pemakaian alat ukur digital
Spesifikasi pekerjaan umumnya mengharuskan
pemakaian kombinasi menyipat datar dan
pengukuran sudut
Untuk pekerjaan orientasi dapat menggunakan
kompas, klinometer dan rol meter
Untuk pengukuran yang sangat presisi seperti
pengukuran bentang jembatan rangka baja
(pre-fabrikasi) memerlukan alat pengukur jarak
Electronic Distance Meter (EDM).
PETA DAN BAGIAN-BAGIANNYA

PETA DAN PLAN

1. Peta Jika skalanya kecil.

2.Plan Jika skalanya besar

Kapan dapat dikatakan


skalanya besar dan
skalanya kecil ??

HAL PENTING TENTANG BENTUK BUMI

Bentuk Bumi tidak datar (elipsoidal). Sumbu elipsoid, yaitu


sumbu horisontal dan vertikal memiliki selisih panjang
antara 21 – 22 km.
Pendekatan diambil untuk bidang datar, yaitu suatu
bidang dengan panjang yang tidak melebihi 55 km.

Karenanya untuk scope


keteknikan bidang
perantara yang digunakan
umumnya merupakan
bidang datar
PETA DAN BAGIAN-BAGIANNYA

Sebuah peta yang baik harus terdiri dari bagian-


bagian sebagai berikut :
1.Rangka peta Poligon
Water pass
2. Situasi / detail
3. Garis-garis ketinggian (kontur)
4. Titik-titik kontrol (triangulasi/BM/CP).

Peta Topografi Sebagian Wilayah Lembar


Palu (Bakosurtanal, 1991)
PETA :
• GAMBARAN SEBAGIAN PERMUKAAN BUMI DIATAS
BIDANG DATAR (KERTAS), DALAM SKALA DAN SISTEM
PROYEKSI TERTENTU
Muka Peta Informasi Tepi
Keterangan dari Simbol yang
Informasi dari permukaan bumi digambar pada muka peta dan
berupa Simbol danToponimi yang keterangan lain yang dianggap
digambarkan langsung sebagai isi penting dan memperkaya
dari peta. informasi yang disampaikan

Berdasarkan :

Skala : Besar, Sedang, Kecil


Fungsi : Peta Dasar, Peta Tematik
Tujuan : Perencanaan, Legal.
Jenis : Peta Garis, Peta Foto.

PETA SKALA BESAR, CONTOH : 1: 1000, 1:5000, 1: 10.000, 1:50.000


PETA SKALA KECIL, CONTOH : 1:100.000, 1:250.000, 1:1000.000

1 CM DI PETA :

SKALA PETA JARAK DILAPANGAN


BESAR

1:10.000 100 METER


1:25.000 250 METER
1:50.000 500 METER
1:100.000 1.000 METER
KECIL

1:250.000 2.500 METER


1:1000.000 10.000 METER
WARNA :
MERAH Unsur transportasi darat : jalan, jalan setapak

HITAM Unsur buatan manuasia : Bangunan, batas


administrasi

BIRU Unsur hidrologi : Sungai, danau, sawah, irigasi,


tambak

COKLAT Unsur relief : garis countour, gunung, bukit,


lembah, jurang

HIJAU Unsur vegetasi : hutan, kebun, semak belukar

PUTIH Unsur yang sedikit vegetasinya : tegalan, tanah


terlantar

SIMBOL : UNSUR VEGETASI

Garis grid geografi dan tick UTM peta

Referensi , Priadi, P. 2005


SUDUT DEKLINASI ARAH UTARA
PADA PUSAT PETA

SUDUT JURUSAN (BEARING) = ARAH


Sudut horizontal, dihitung berawal dari arah utara (geografi, magnet) searah
jarum jam,sampai pada arah (jurusan) yang dituju (0¤ - 360 ¤)

Referensi , Priadi, P. 2005


SISTEM KOORDINAT PETA RBI`
Koordinat Geografi - Lintang dan Bujur =Satuan Derajat, Menit, Detik

Lintang = Besaran sudut pada Meridian, diukur kearah utara atau selatan
Katulistiwa. Katulistiwa (lintang 0°) , Kutub Utara (lintang 90° U )
Kutub Selatan (Lintang 90° S).
Bujur = Sudut Busur yang diukur ketimur atau kebarat dari meridian awal
melalui kota Greenwich, di Inggris.
Di Indonesia, memakai sistem BT =Bujur Timur

SISTEM KOORDINAT PETA RBI


Koordinat Bidang Proyeksi - Utara - Timur (Kartesian Dua Dimensi) = Satuan Meter
Peta RBI menggunakan Sistem Proyeksi Universal Tranverse Mercator (UTM). Proyeksi UTM membagi
setiap daerah kedalam zona-zona. Seluruh wilayah Indonesia terbagi dalam 9 (sembilan) zona.

Referensi , Priadi, P. 2005


Koordinat proyeksi peta dapat didekati dengan aturan diatas
atau ditetapkan oleh surveyor secara pendekatan lokal jika
belum tersedia Bencmark disekitar lokasi pengukuran. Sistem
kuadran yang digunakan pada pengukuran dan pemetaan
berbeda dengan sistem koordinat matematis (trigonometri).
Sistem kuadran matematis bertambah besar ke arah
berlawanan jarum jam. Alasan dari aturan kuadran ilmu ukur
tanah yang searah jarum jam adalah karena peralatan
pengukuran sudut menggunakan bantuan magnet bumi yang
nilainyabertambah besar searah jarum jam.

Sistem kuadran koordinat geometric berbeda dengan


kuadran trigonometric karena alat-alat Ilmu Ukur Tanah
arahnya dari utara dan searah jarum jam.

Menurut teori, sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari


arah utara geografis, maka arah utara diambil sebagai suatu
salib sumbu.

Referensi , Priadi, P. 2005


ILMU UKUR TANAH DAN GEODESI
AZIMUTH

Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol


derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju, azimuth juga
sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum
jam. Ada tiga macam azimuth yaitu :

a) Azimuth Sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk


antara utara sebenarnya dengan titik sasaran;

b) Azimuth Magnetis, yaitu sudut yang dibentuk antara utara


kompas dengan titik sasaran;

c) Azimuth Peta, yaitu besar sudut yang dibentuk antara


utara peta dengan titik sasaran.

Arah orientasi merupakan salah satu unsur utama dalam proses


pengukuran untuk membuat peta, khususnya peta umum.
Pada umumnya setiap peta merniliki arah utama yang ditunjukkan
ke arah atas (utara). Terdapat 3 (tiga) arah utara yang sering
digunakan dalam suatu peta.

a. Utara magnetis, yaitu utara yang menunjukkan kutub magnetis.


b. Utara sebenarnya (utara geografis), atau utara arah meridian.
C. Utara grid, yaitu utara yang berupa garis tegak lurus pada
garis horizontal di peta.
AZIMUTH
KOREKSI KELENGUNGAN DAN PEMBIASAN

Koreksi Kelengkungan :

2
L
Cc 
2R
Dimana :
Cc : Koreksi kelengkungan
L = Jarak ukur (km)
R = Jari-jari bumi (6370 km)

Koreksi Refraksi :

1
Cr   (0,0785L2 )
7
Dimana :
Cr : Koreksi refraksi
L = Jarak ukur (km)

Untuk menghindari koreksi :

 Hindari pengukuran dengan jarak bidik > 120 m


(Cc = 0,001 dapat diabaikan)

 Hindari pembacaan dibawah 0,5 m untuk menghindari


fluktuasi density udara dekat tanah
PENGUKURAN TRAVERSE

Pada dasarnya merupakan pengukuran jejaring


(jaringan) atau rangkaian titik-titik secara
horisontal dengan menggunakan peralatan berupa
Theodolith, EDM, BTM, Plane Table dan jenis
lainnya

Istilah umum yang lebih dikenaladalah


pengukuran poligon atau pengukuran
situasi

Pertanyaannya :
Apakah waterpass dan
kompas genggam dapat
melakukan Job ini?? :

Cek kembali spesifikasi dan kerangka acuan kerja


(TOR) yang telah ditentukan untuk
pekerjaan/perencanaan yang dilakukan
PENGUKURAN TRAVERSE
Pengukuran poligon dimaksud menghitung koordinat,
ketinggian tiap-tiap titik polygon untuk itu kita
mengadakan pengukuran sudut dan jarak dengan
mengikatkan pada suatu titik tetap seperti titik
triangulasi, jembatan dan lain-lain yang sudah
diketahui koordinat dan ketinggiannya.

Secara ringkas urutan (prosedur pengukuran)


adalah :
- Pengukuran sudut dan jarak
- Menghitung sudut datar dan koreksi
- Menghitung azimuth
- Menghitung selisih koordinat (absis dan
dan ordinat)
- Menghitung koreksi koordinat
- Menghitung koordinat
- Menghitung beda tinggi dan elevasi titik
- Menghitung Luas
- Menginterpolasi ketinggian untuk
pembuatan kontur
- Menggambar garis ketinggian (kontur)
- Menghitung luas (jika poligonnya tertutup)
PENGUKURAN TRAVERSE

Jenis-jenis traverse (Poligon)


- Poligon terbuka
- Poligon Tertutup
- Poligon Terikat Azimuth
- Poligon Terikat Koordinat
- Poligon terikat Azimuth dan Koordinat
- Poligon bebas

Hal-hal penting dalam pengukuran traverse


Pilihlah titik titik yang tepat untuk station
Pengukuran dengan menggunakan pita (rol) harus memperhatikan
kondisi permukaan tanah.
Pengukuran jarak dilakukan dengan cara langsung dan cara optis.
Pada pengukuran dengan cara langsung diharuskan mengkalibrasi
Pita Ukur yang digunakan terhadap pita ukur standar.
Hindari pengukuran yang terlalu pendek
Rambu ukur harus menggunakan nivo
Theodolith, dalam bentuk konvensional tidak dirancang mengukur
azimuth secara langsung. Pengukukuran azimuth ini dapat
dilakukan dengan bantuan kompas yang dipasang pada theolith.
Namun, karena jarum kompas sangat sensitif karenanya hal ini
hanya dimungkinkan untuk pengukuran dengan ketelitian yang
rendah.
Untuk pengukuran dengan spesifikasi teknis yang ketat penggunaan
kompas hanya untuk awal pengukuran, dan pembacaan sudut baik
horisontal dan vertikal mencapai bilangan lebih kecil dari 1 detik.
(Contohnya jenis T2)
PENGUKURAN DENGAN METODE TACHEOMETRY

Pada dasarnya Tacheometry merupakan metode


dalam pengukuran situasi.
Pengukuran dengan metode ini, sebagaimana halnya
pengukuran traverse/poligon metode ini juga dengan
mengaplikasikan theodolith dan EDM

Bagi sebagian besar kalangan surveyor, hal yang


paling sulit dalam pekerjaan survey adalah
pengukuran jarak

Karenanya metode pengukuran jarak dikembangkan


dengan memanfaatkan sistem optik teleskop, seperti
halnya penggunakan stadia pada theodolith dan
waterpass.

Yang lebih advance saat ini, pengukuran jarak dengan


dengan metode elektromagnetik telah dikembangkan,
dikenal sebagai Electromagnetic Distance Meter
(EDM).

Salah satu contoh adalah spesifikasi yang


sangat ketat dalam pekerjaan jembatan
rangka baja.
Spesifikasi yang sangat ketat mengharuskan
aplikasi EDM dalam pengukuran bentang
guna mengantisipasi keterkaitan dengan
konstruksi rangka baja
PENGUKURAN DENGAN METODE
TACHEOMETRY

Optik lensa pada alat ukur

Jarak horisontal = mS + k
dimana m= faktor multiplikasi (pengali) = 100
S= Beda pembacaan B.Atas – B. Bawah
k= konstanta tambahan (sangat kecil,
(diabaikan)
sehingga :
Jarak horisontal = mS, jika alat disetel level

Pengukuran dengan metode tacheometry sangat


membantu kecepatan kerja, terutama pada
medan-medan yang agak berat dengan topografi
yang tidak beraturan dan banyak obstacle.
D’

a. Menentukan Beda tinggi


Rumus Umum =

Beda tinggi = TP – BTM + D/tanV

Keterangan :
a. TP = Tinggi pesawat
b. BTM = Benang tengah muka
c. D = Jarak datar
d. V = Sudut Vertikal
POLIGON THEODOLIT

Prinsip : Menetapkan sudut jurusan (azimuth) dan panjang dari gabungan beberapa buah
garis, yang bersama-sama membentuk kerangka dasar untuk keperluan pemetaan
dari suatu daerah tertentu.

Sudut-sudut diukur dengan theodolit dan azimuth dihitung dari sudut yang diukur tadi. Azimuth dan
jarak kemudian digambarkan dengan busur derajat atau sistem koordinat.
Poligon Terbuka
Ro
E
A C
D

B
Sungai F

Kesalahan dalam pengukuran sudut maupun jarak tidak dapat dikontrol. Kontrol dapat
dilakukan dengan melakukan pengukuran ulang untuk keseluruhan poligon, atau
melakukan pengukuran dari arah yang berlawanan. (dari F ke A).

Poligon Tertutup
Pengukuran Searah Jarum Jam
B Diukur Sudut Luar.
- Jumlah sudut = (2n +4) x 90o
C dimana n = jumlah titik sudut.
- Toleransi : + 40 n detik.
A
- Bila pengukuran sudut tidak sesuai
D
dengan rumus diatas, maka harus
diratakan hingga memenuhi syarat
F E diatas.

Pengukuran Berlawanan Jarum Jam.


- Yang diukur sudut dalam.
- Jumlah sudut = (2n – 4) x 90o.
- Bila hasil pengukuran tidak sesuai dengan rumus diatas, maka harus diratakan, hingga memenuhi
(2n – 4) x 90o.
D’

a. Menentukan Beda tinggi


Rumus Umum =

Beda tinggi = TP – BTM + D/tanV

Keterangan :
a. TP = Tinggi pesawat
b. BTM = Benang tengah muka
c. D = Jarak datar
d. V = Sudut Vertikal
PETA TOPOGRAFI
PETA TOPOGRAFI
PENGUKURAN LUAS
Metode-metode yang dapat diterapkan dalam perhitungan luas :
Metode Kubus/Kisi-kisi (counting squares)
Metode Geometris
Metode Trapesium
Metode Sympson
Metode Koordinat
Metode Mekanis dengan menggunakan Planimeter

Pemilihan metode perhitungan luas umumnya


tergantung dari bentuk geometrik areal yang diukur.

Penggunaan Planimeter sangat membantu dalam kecepatan


pengukuran dan juga untuk areal yang tidak beraturan. Namun
kalibrasi dan kecermatan sangat dibutuhkan, terutama pada
media dasar (alas) dimana roda planimeter berputar.

Pengukuran paling akurat jika batas areal berupa garis


lurus, semua titik sudut memiliki koordinat sehingga
dapat dilakukan perhitungan luas dengan cara koordinat

Pengukuran luas sangat penting karena


merupakan dasar dalam pengendalian
kuantitas/volume pekerjaan baik dalan bidang
bina marga, pengairan dan konstruksi
bangunan
PENGUKURAN LUAS

Cara Trapesium
P Q
1
Strip

Offset Offse Offse Offse Offse


1 t2 t3 t4 t5
(yo) (y1) (y2) (y3) (y4)
Luas = Lebar Strip * (rata-rata offset awal dan akhir + jumlah offset lainnya

P Q Cara Sympson
1
Strip

Offset Offse Offse Offse Offse


1 t2 t3 t4 t5
(yo) (y1) (y2) (y3) (y4)

Luas = 1/3 lebar strip * [offset pertama +offset terakhir+2(jumlah


offset ganjil) + 4 (jumlah offset genap)]

Luas = 1/3 lebar strip * [yo + y4 + 2(y2) + 4 (y1 + y3)]


PENGUKURAN LUAS

D
C

Cara Koordinat
 Paling teliti jika semua
koordinat diketahui

B
Rumus perhitungan luas :
2 Luas =  Xn*Yn+1  Xn+1*Yn, atau
Luas =  Xn*Yn+1  Xn+1*Yn
2

Titik
start Cara Planimeter
B A
 Cepat tapi memerlukan
media (base) yang datar
tanpa gangguan
CONTOH KRITERIA PENGUKURAN UNTUK
PERENCANAAN TEKNIS JALAN DESA
SURVAY UNTUK JALAN BARU

Pengukuran Situasi dan Topografi


Dilakukan sepanjang sumbu (as) rencana jalan
serta sekitarnya yang diperlukan dalam rencana detail. Meliputi :

Pengukuran situasi, penampang memanjang dan penampang


melintang
1). Pengukuran Situasi
Dipergunakan alat pengukur jarak dan sudut jurusan (theodolit, atau
bila tidak ada dapat dipergunakan pita ukur dan kompas) .

2). Pengukuran Penampang Memanjang


Pengukuran sepanjang sumbu (as) dengan titik-titik stasiun setiap jarak
50 m, harus diberi patok.Digambar dibuat dengan SH 1:1000 dan SV 1:100

3).Pengukuran Penampang Melintang


Setiap100 m di bagian yang lurus dan landai, 25 m daerah tikungan.

Patok-patok :
1). Patok-patok Pengukuran Jalan
a). Titik-titik awal dan titik akhir sumbu jalan/jembatan harus
Diikatkan pada titik-titik polygon yang telah dibuat sebelumnya, bila
ada.
b). Titik-titik stasiun yang ada pada gambar perencanaan harus pula
ditentukan kedudukannya di lapangan.
c). Titik-titik (CT), (PI), (TC) ditentukan dengan teliti, dibuat patok pembantu
dan perlu dipasang 1 patok pada Titik Pertemuannya.
d). Patok dan profil dibuat dari kayu, diberi tanda BM dan nomor urut, dicat,
diletakkan sebetah kiri kearah jalannya pengukuran. Khusus untuk profit
memanjang titik yang terletak di seberang sumbu jalan diberi paku dengan
dilingkari cat sebagai tanda.
e). Untuk memperbanyak titik tinggi yang tetap, perlu ditetapkan titik
tinggi referensi pada pokok pohon atau titik tetap lainnya yang
permanen dan mudah diketemukan kembali.

2). Perhitungan dan Penggambaran Peta


Gambar ukur yang berupa gambar situasi harus digambar pada
kertas milimeter dengan skala 1:10.000 dengan garis ketinggian
interval kurang lebih 1 m.
TANTANGAN KEDEPAN BAGI
SURVEYOR BERBASIS TERESTRIS
Referensi : Sumarto I, 2000

Dampak dari teknologi di bidang elektronika komputer sudah menyentuh


termasuk disiplin bidang Survai dan Pemetaan (Surta) yang merupakan bidang
informasi kebumian.

Akibat perkembangan teknologi tersebut, Global Positioning System (GPS),


Remote Sensing (RS) dan Geographic Information System (GIS) telah
mendominasi tahapan proses ektraksi dan analisis informasi kebumian.

Lebih jauh lagi, aspek analisis basisdata spasial yang tercermin pada teknologi
GIS akan lebih berperan dibandingkan proses konvensional penyajian data.

Karakteristik peta yang pasif deskriptif akan lebih berkembang menjadi dinamis
analisis sehingga menjadikan fungsi peta lebih variatif. Sifat variatif tersebut
mengakibatkan semakin luasnya bidang aplikasi dari peta muka-bumi.

Salah satu dampaknya adalah berubahnya format peta dari visual analog
menjadi numerik digital,

Peta digital sebagai sarana untuk merepresentasikan informasi kebumian


akan lebih dikenal dengan istilah basisdata kebumian karena peta
tersebut menjadi lebih dinamis dan aktif.

Pengelolaan basisdata yang lebih dikenal dengan Sistem Informasi


Geografis (SIG) semakin terasa.

Berbagai piranti lunak untuk pengelolaan, penyimpanan dan manipulasi


peta digital marak bermunculan. Sayangnya, variasi struktur/format dat
penyimpanan peta digital makin menambah keruwetan masalah.
Komunikasi antar berbagai sistem dan software tidak berlangsung mudah
seperti yang diharapkan.
TANTANGAN KEDEPAN BAGI SURVEYOR
BERBASIS TERESTRIS

Keluwesan peta digital menyebabkan


''fungsi peta'' menjadi lebih dinamis.

Sifat statis dan pasif yang dipresentasikan


dalam bentuk peta dan diagram selama
ini telah berubah menjadi peran yang
lebih aktif dengan pemodelan yang
dinamis.

Sifat deskriptif dari peta akan menjadi


lebih variatif.

PARADIGMA BARU BIDANG PEMETAAN

Beberapa jenis aplikasi dari informasi kebumian sering sekali


tidak memerlukan ketelitian geometrik yang ketat. Bahkan
mereka para pemakai peta tidak memerlukan seluruh tahapan
pemetaan yang secara konvensional selalu ditaati oleh
Surveyor selama ini.

Bagi mereka, kelengkapan informasi (completeness) semantik


kebumian lebih diutamakan keperluannya dibandingkan
dengan tingkat ketelitian lokasinya.

Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan kelaziman yang


selama ini selalu dibanggakan oleh seorang surveyor yaitu
ketelitian geometrik selalu diutamakan.
TANTANGAN KEDEPAN BAGI SURVEYOR
BERBASIS TERESTRIS
PERAN PENGAWAS DALAM
PEKERJAAN SURVEY UNTUK KONSTRUKSI
 Peran pengawasan harus dimulai sejak tahapan perencanaan
 Diperlukan pengecekan tentang kebenaran lokasi yang direncanakan.
Penggunakan peta rupabumi sangat dibutuhkan dalam penentuan
titik awal.
 Jika konstruksi akan melalui atau menggunakan lahan baru maka
kondisi eksisting pemilikan tanah harus dikonfirmasi batas-batasnya,
termasuk didalamnya mengecek pengukuran situasi batas keliling.
Untuk skala luas penggunaan GPS akan sangat membantu
 Pengawasan termasuk pula pemantauan jenis alat yang digunakan,
metode pengukuran dan cara pemasangan tanda-tanda pengukuran
 Pada saat Pra Konstruksi, jika lokasi telah direncanakan sebelumnya
maka pada lokasi tersebut terlebih dahulu dilakukan uitzet dan
pemasangan patok-patok pada jalur yang akan diukur untuk
konstruksi. Pada periode-periode tertentu masa Konstruksi
pengukuran berkala harus dilakukan untuk pemantaun dan
pengendalian pekerjaan tanah

Karenanya, pengetahuan praktis tentang prosedur


pengukuran dan cara kerja/penggunaan alat sangat penting

Kontraktor tidak menguasai Bersiaplah dengan volume yang


membludak

Konsultan tidak menguasai Ini tidak boleh terjadi

Pengawas tidak menguasai Pengendalian gagal

Tapi percaya atau tidak, dihampir semua pekerjaan tanah


volumenya selalu lebih (atau selalu kurang ?)
Jadi ????????
TERIMA KASIH