Anda di halaman 1dari 53

Citra Olivia Dinanti, S.

Ked

Pembimbing
Dr. Rudyanto, Sp.B
 Akut abdomen  kegawatdaruratan
 Biasanya timbul mendadak
 Dapat disebabkan berbagai penyebab
 Dapat berakibat fatal hingga kematian
 Peritonitis adalah peradangan yang disebabkan
oleh infeksi pada selaput organ perut
(peritonieum
 Peritonitis primer
 Peritonitis sekunder
 Peritonitis tertier
 Nyeri perut
 Anoreksia, mual, muntah, demam
 Facies hipocrates
 syok
 Laboratorium
 radiologi
1. Resusitasi cairan
2. Antibiotik
3. operatif
 Lokal
 sistemik
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis,
antara lain:
 Jenis infeksinya/penyakit primer

 Durasi/lama sakit sebelum infeksi

 Keganasan

 Gagal organ sebelum terapi

 Gangguan imunologis

 Usia dan keadaan umum penderita


Identitas Pasien
 Nama : Tn. A
 Umur : 70 tahun
 Tanggal lahir : 20 Mei 1948

 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : Pensiunan
 Alamat : Jalan Pertahanan No 1844 RT
33/11
 Agama : Islam
 Suku : Sumatera
 MRS : 05-07-2018
 Jam MRS : 23.34 WIB
 RM : 55.80.90
 Nyeri mendadak di seluruh lapang perut
 Os mengeluh nyeri seluruh lapang perut
dirasakan sejak 1 jam sebelum masuk rumah
sakit. Nyeri dirasakan tiba-tiba, dengan
intensitas nyeri kuat terasa seperti ditikam
pisau. Awalnya dirasakan disekitar daerah
epigastrium, lalu ke perut kanan bawah dan
kemudian menyebar ke seluruh lapang
abdomen
 Nyeri dirasakan terus menerus, memberat bila
pasien bergerak. Nyeri berkurang bila pasien
berbaring. Selain nyeri, pasien juga mengeluh
badan terasa lemas dan nafsu makan menurun.
Mual (+). Muntah (+). Perut terasa kembung
(+). Demam (-). BAB (+), 1-2 x/hari, feses
kadang berwarna hitam, ampas (-). BAK (+)
kateter terpasang.
 Beberapa tahun terakhir os mengeluh sering
timbul nyeri atau rasa tidak nyaman pada ulu
hati, dirasakan hilang timbul. Nyeri ulu hati
disertai rasa kembung atau perut terasa penuh.
Nyeri ulu hati biasanya muncul bila pasien
terlambat makan.
 Mereda dengan istirahat dan setelah makan
atau minum obat penghilang nyeri dan obat
maag. Pasien juga pernah mengeluhkan BAB
berwarna hitam, pekat, lengket dan berbau
namun tidak sering sehingga os merasa tidak
perlu berobat
 Riwayat mengkonsumsi jamu atau obat –
obatan herbal disangkal. Riwayat
mengkonsumsi obat penghilang nyeri – nyeri
sendi juga disangkal. Namun os mempunyai
kebiasaan mengkonsumsi kopi setiap pagi
sejak muda dulu.
 BPH
 Vesikolitiasis
 Penyakit jantung (-)
 Penyakit ginjal (-)
 Diabetes mellitus (-)
 Hipertensi (-)
 Alergi (-)
 Asma (-)
 Penyakit jantung (-)
 Penyakit ginjal (-)
 Diabetes mellitus (-)
 Hipertensi (-)
 Alergi (-)
 Asma (-)
 Keadaan umum : Tampak kesakitan
 Kesadaran : Compos mentis
 Tekanan darah : 90/60 mmHg
 Frekuensi Nadi : 102 x/menit
 Frekuensi Nafas : 22 x/menit
 Temperatur : 36,5 ˚C
 Kepala : TAK
 Mata : Mata cowong (+/+), konjungtiva
anemis +/+, sklera ikterus -/-, edema palpebra
(-), pupil isokor  3 mm, reflek pupil langsung
dan tidak langsung +/+.
 THT : Otorea (-), rinorea (-), jejas (-)
 Mulut : mukosa bibir pucat (+), kering (-),
atrofi papil lidah (-), lidah kotor/thypoid
tongue (-), rosea spot (-).
 Leher : Massa (-), tidak terdapat pembesaran
KGB.
 Thoraks
Pulmo :
Inspeksi : Bentuk simetris, gerakan dinding
dada simetris, pelebaran sela iga (-), tipe
pernafasan thorakoabdominal.
Palpasi : Pengembangan dinding dada
simetris, fremitus raba sama, nyeri tekan (-),
krepitasi (-)
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru.
Auskultasi : Vesikuler +/+, ronki -/-,
whezing -/-
Cor :
 Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak

 Palpasi : Iktus cordis teraba ICS V midclavikula


line sinistra
 Perkusi : batas kanan jantung pada ICS II
parasternal line dextra, batas kiri pada ICS V
midklavikula line sinistra
 Auskultasi : S1S2 tunggal reguler, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen
 Inspeksi : Kulit keriput, distensi (-),
pelebaran vena colateral (-), Kaput medusa (-),
massa (-), darm contour (-), darm steifung (-).
 Auskultasi : BU (+) menurun
 Perkusi : Timpani (+), pekak hepar
menghilang, pemeriksaan undulasi (-), Shifting
Dullness (-).
 Palpasi : Abdomen distensi (-), massa (-), hepar
tak teraba, lien tak teraba, defans muscular (±)
seluruh kuadran, nyeri tekan lepas (+)
Inguinal
 Inspeksi : Hernia (-), Massa (-).
 Palpasi : Teraba denyut arteri femoralis (+),
Hernia (-), massa (-), nyeri tekan (-).
Ekstremitas atas:
 Warna kulit normal, turgor kulit menurun,
edema -/-, akral hangat +/+, CRT < 2 detik.
 Ekstremitas bawah:

 Warna kulit normal, turgor kulit menurun,


edema -/-, akral hangat +/+.
Darah Rutin
 Hb : 9,3 gr/dl
 Leukosit :16.500/UI
 Trombosit : 592.000/UI
 Hematokrit : 25 %
 Diff. count :0/0/4/66/24/6
 Waktu perdarahan : 4’

 Waktu pembekuan : 10’

USG Abd : suspek apendiksitis non


perforata
Peritonitis et causa apendiksitis akut
Peritonitis et causa perforasi gaster
 Penatalaksanaan
 IVFD RL gtt 20 x/m (makro)
 Injeksi ceftriaxone 2 x 1 gr
 Injeksi ranitidin 2 x 1 amp
 Rencana laparotomi
 Diagnosis pasca bedah : Peritonitis et causa
perforasi duodenum dan appendisitis akut
Terapi Post Operasi
 Rawat ICU

 Puasa 4 hari

 Injeksi Meropenem 2 x 1 gr

 Infus metronidazole 2x500 mg (infus kocor)

 Injeksi Ketorolac 2 x 30 mg

 Drip Tramadol 3 x 1 amp

 PA hasil post op
 Berdasarkan teori, dalam kasus ini bisa
ditegakkan terjadinya peritonitis karena dari
amnanesis didapatkan nyeri seluruh kuadran
abdomen yang bertambah berat apabila saat
bergerak dan batuk.
 Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan defans
muscular pada seluruh kuadran abdomen serta
nyeri tekan maupun nyeri lepas abdomen.
Keluhan ini baru pertama sekali dialami oleh
Os
 Selama ini os sering merasa mual disertai
dengan BAB hitam. Hal tersebut menunjukkan
bahwa terjadinya perdarahan di saluran cerna
bagian atas (ligamentum treitz) dapat berupa
gaster, duodenum ataupun jejunum.
 Gangguan pada saluran pencernaan atas
tersebut lama-lama kelamaan dapat terjadi
perforasi organ sehingga menyebabkan
peritonitis. Gejala yang terjadi sesuai dimana
pada daerah ulu hati seperti ditikam oleh
pisau.
 Kemudian nyeri berpindah ke perut kanan
bawah dan menyebar ke seluruh kuardan
abdomen. Hal tersebut juga menunjukkan
gejala dari apendiksitis akut. Dari gejala kita
bisa membedakan antara perforasi gaster atau
duodenum dengan apendiksitis dimana
apabila terjadinya perforasi gaster atau
dudoenum,
 nyeri yang terjadi pertama kali di epigastrium
sangat hebat dan nyeri berpindah ke perut
kanan bawah, namun intensitasnya tidak
sehebat nyeri di epigastrium dikarenakan
terlah terjadinya pengenceran zat yang keluar
oleh isi peritonium. Sebalikanya pada
apendiksitis akut nyeri yang muncul di
kuadran kanan bawah lebih hebat dari nyeri
epigastrium.
 Untuk avarado skor pada kasus ini yaitu enam
dengan interpretasi suspek apendiksitis akut.
Jadi untuk kemungkinan penyebab peritonitis
yang terjadi yaitu karena terjadinya
apendiksitis akut.
 Namun penyebab karena perforasi gaster atau
duodenum tidak dapat disingkirkan karena Os
sering mengeluh BAB hitam disertai dengan
keluha sering merasa tidak nyaman di daerah
ulu hati serta mual
 Terapi yang diberikan sudah tepat yaitu
dilakukan laparotomi sebagai terapi dan
memastikan organ mana yang sebenarnya
terjadinya gangguan. Setelah dilakukan
laparatomi ternyata didapatan perforasi
duodenum dan apendiksitis.
 Sehingga perbaikan pada duodenum
diharuskan dan juga dilakukan apendiktomi.
Selain itu juga diberikan antibiotik dan
analgetik sebagai terapi farmakologi pada
kasus ini. Selain itu juga diperlukan observasi
ketat tanda vital dan pemeriksaan ulang
hemoglobin post operasi.
 Pemberian makan dilakukan secara bertahap
dimulai dari puasa empat hari, dilanjutkan
dengan pemberian air putih satu sampai dua
sendok, kemudian diet cair bertahap. Hal
tersebut dilakukan untuk memberikan waktu
bagi duodenum untuk memperbaiki diri dan
mengurangi beban organ pencernaan.
Kesimpulan
 Peritonitis adalah kegawat daruratan bedah,
peradangan yang disebabkan oleh infeksi pada
selaput organ perut (peritonieum).
 Peritonitis ini apabila tidak segera
ditatalaksana dapat menyebabkan kematian.
 Penatalaksanan tergantung penyakit yang
mendasarinya. Intervensi bedah hampir selalu
dibutuhkan dalam bentuk laparotomy
explorasi dan penutupan perforasi dengan
pencucian pada rongga peritoneum (evacuasi
medis).
Saran
 Perlu dilakukan penyuluhan kepada
masyarakat tentang pentingnya menyadari
setiap penyakit yang ia alami dan
mengedukasi untuk selalu memeriksakan
setiap penyakitnya ke dokter.
 Sebaiknya dilakukan edukasi pada masyarakat
agar tidak sering menggunakan obat – obatan
yang dibeli di warung secara rutin dan
meminta resep obat kepada tenaga medis yang
ada.