Anda di halaman 1dari 54

REFLEKSI KASUS

SEORANG BAYI DENGAN


BBLR, SGNN DAN
HIPOGLIKEMIA
Pembimbing :
dr. Budi Nur Cahyani, Sp.A

Disusun oleh :
Shintia Malinda
30101307080
Identitas
Nama : By. Ny. Y
Umur : 0 hari
Jenis Kelamin : laki - laki
Alamat : Demak
Tanggal dan Jam Masuk : 26 Juni 2018 jam 22.00 WIB
Ruang : Perinatologi
No. RM : KLJG01200xxxxxx
No. Reg : RG00xxxxxx
Status Pasien : BPJS PBI
Identitas Orang Tua
Ayah
Nama : Tn. J
Umur : 36 tahun
Pekerjaan : Buruh

Ibu
Nama : Ny. Y
Umur : 32 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Anamnesis

Dilakukan secara Alloanamnesis


dengan ibu pasien pada tanggal 28
Juni 2018 jam 16.00 yang dilakukan di
ruang Perinatologi RSUD Sunan
Kalijaga Demak serta didukung catatan
medik.
Keluhan Utama

Sesak nafas.
Riwayat Penyakit Sekarang
• Seorang bayi laki-laki lahir dari ibu G2P1A0 usia
32 tahun, usia kehamilan 39 minggu lahir
spontan atas indikasi IUGR dan riwayat partus
prematorus imminent pada tanggal 26 Juni
2018 jam 19.00 di rumah pasien.
• Bidan datang 15 menit setelah bayi lahir. Bayi
dalam keadaan biru dan tali pusat belum
dipotong.
• APGAR score tidak dapat dinilai, berat badan
lahir 2120 gram, panjang badan 45 cm lingkar
kepala 30 cm, dan lingkar dada 29 cm, plasenta
lahir lengkap.
• Bayi langsung menangis saat lahir
• Setelah ± 15 menit kulit bayi tampak membiru dan
tampak sesak
• Bayi kurang aktif dan tangis kurang kuat.
• Bidan datang melakukan perawatan postnatal dan
membawa bayi ke IGD RSUD Sunan Kalijaga
Demak dan diharuskan dirawat di ruang
perawatan bayi dengan risiko tinggi.
Riwayat Penyakit Keluarga
o Riwayat Hipertensi pada ibu : Disangkal
o Riwayat DM pada ibu : Disangkal
o Riwayat infeksi dan demam saat kehamilan : Disangkal
o Riwayat perdarahan saat hamil : Disangkal
o Riwayat ibu mengkonsumsi jamu saat hamil : Disangkal
o Riwayat aktifitas berat saat hamil : Disangkal
o Riwayat bepergian jauh saat hamil : Disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Ayah seorang buruh, ibu seorang ibu rumah tangga dan
mengasuh anaknya sendiri. Pasien merupakan anak kedua.
Pasien akan tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak
perempuannya yang berumur 4 tahun. Pasien menggunakan
biaya pengobatan BPJS PBI.

Kesan: Ekonomi cukup


Riwayat Prenatal
• Ibu memeriksakan kandungannya pada usia kehamilan 13
minggu. Mulai usia kehamilan hingga mendekati persalinan,
pemeriksaan dilakukan sebanyak 3 kali di bidan.
• Pemeriksaan USG tidak pernah dilakukan.
• Selama kehamilan berat badan ibu bertambah sebanyak 2
kg/bulan. Ibu makan dengan nasi, lauk dan pauk cukup,
serta minum 1500 ml air/hari. Riwayat DM, anemia,
perdarahan, infeksi, darah tinggi selama hamil disangkal.
Kesan: riwayat pemeliharaan prenatal kurang baik.
Riwayat Kelahiran

Bayi laki-laki lahir dari ibu


G2P1A0 hamil 39 minggu lahir
spontan dengan IUGR

BB 2120 gr
PB 45 cm
LK 30 cm
LD 29 cm
Riwayat Postnatal

Pemeliharaan postnatal dilakukan


oleh bidan di rumah pasien
RIWAYAT PERTUMBUHAN
Kesan
BB : Kecil Masa Kehamilan
PB : Perawakan Pendek
LK : Mikrosefal
Skor : 35  kehamilan
38 minggu
Kesan : Tidak sesuai
dengan usia
kehamilan
Imunisasi
• Hepatitis B : Dilakukan saat pulang
• BCG : Belum dilakukan
• Polio : Belum dilakukan
• DPT : Belum dilakukan
• Campak : Belum dilakukan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap sesuai usia
Pemeriksaan Fisik

Tanggal 28 Juli 2018 jam 17.00 WIB di ruang Perinatologi

Status Present
• Jenis Kelamin : Laki - laki
• Usia : 0 hari
• Berat Badan : 2120 gram
• Panjang Badan : 45 cm
• Lingkar kepala : 30 cm
• Lingkar dada : 39 cm

Tanda Vital
• Nadi : 139 x/menit, irama regular, tegangan kuat
• Suhu : 36,3ºC (aksilla)
• Pernapasan : 64 x / menit, reguler, kedalaman cukup
• Saturasi : 98% dengan Headbox 7 L/menit
KEPALA
Sutura tidak molase, ukuran fontanela tidak
lebar dan datar, moulding (-), UUB belum
menutup, caput (-), sefal hematoma (-)

WAJAH

Simetris, tampak kuning(-), penampakan


sindrom down (-).

MATA
strabismus (-/-), glaukoma kongenital (-/-)
katarak kongenital (-/-), koloboma (-/-),
sekret (-/-), epichantus tidak melebar

HIDUNG

Bentuk normal, nafas cuping hidung (-),


sekret (-/-)
TELINGA

Jumlah 2, Bentuk normal, fistel -/-

MULUT

Simetris, ukuran normal,


labiopalatoskisis (-), sianosis (-)

LEHER

Simetris, gerakan tak terbatas, leher


pendek (-)

THORAK

Simetris, retraksi suprasternal (-),


intercostal (+), subcostal (+)
Pulmo
• Inspeksi : Simetris, dalam keadaan statis dan
dinamis, retraksi (+)
• Palpasi : Stem fremitus kanan dan kiri sama.
• Perkusi : Tidak dilakukan
• Auskultasi : Suara dasar : Bronkovesikuler
(+),Suara tambahan : wheezing (-),
ronkhi(-).

Cor
• Inspeksi : Iktus kordis tak tampak
• Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga ke
V, linea midclavicularis sinistra, 1
cm ke medial, tidak kuat angkat,
tidak melebar.
• Perkusi : Tidak dilakukan
• Auskultasi : Reguler, Bunyi jantung I-II reguler,
gallop (-), bising (-)
Abdomen

Inspeksi : Auskultasi :
Datar, tali pusat Peristaltik (+)
normal normal

Palpasi :
Supel, turgor
Perkusi : kembali cepat,
Timpani massa (-),
hepar dan lien
tidak teraba.

Genitalia : Laki - laki, testis sudah turun, rugae jelas


Anus (+)
Ekstremitas
Pemeriksaan Superior Inferior
Jari lengkap +/+ +/+
Kelainan kongenital -/- -/-
Akral Dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
Capillary refill <2 <2
Sianosis -/- -/-
Lanugo Tipis Tipis
Ikterik -/- -/-
Refleks Primitif
• Reflek moro : (+)
• Tonic neck : (+)
• Sucking reflek : (+)
• Rooting reflek : (+)
• Palmar reflek : (+)
• Plantar reflek : (+)
DOWNE SKOR

Frekuensi Napas : 1
Retraksi :2
Sianosis :1
Merintih :1
Air entry :1
Downe score : 6
Kesan : Gangguan Nafas Sedang
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Rutin dan GDS tanggal 26 Juli 2018
Hasil Nilai Normal
Hb 17,8 14-24 g/dL
Hematokrit 50,2 ↑ 38-47%
Leukosit 8.100 3,6-11,0 x 103
Trombosit 186.000 150-400 x 103
GDS jam 21.00 21 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS jam 23 103 70 – 115 mg/dL

Kesan : Haem, Hipoglikemia (perbaikan)


Pemeriksaan GDS tanggal 27 Juli 2018
Hasil Nilai Normal

GDS Jam 06.00 37 ↓ 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 08.00 42 ↓ 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 10.00 34 ↓ 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 12.00 83 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 14.00 80 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 16.00 24 ↓ 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 18.00 256 ↑ 70 – 115 mg/dL

GDS Jam 20.00 302 ↑ 70 – 115 mg/dL

Kesan : Hipoglikemia - Hiperglikemia


Diagnosis
• Diagnosis utama : BBLR
• Diagnosis komorbid :
• Diagnosis komplikasi : SGNN, Hipoglikemia,Hiperglikemia
• Diagnosis sosial ekonomi
: Cukup
• Diagnosis Imunisasi : Lengkap sesuai usia
• Diagnosis Pertumbuhan: Kecil Masa Kehamilan, perawakan
pendek, mikrosefal
• Diagnosis Perkembangan : Tidak sesuai usia
kehamilan
Terapi
• O2 Headbox 8 lpm
• Infus D10% 8 tpm
• Inj Vit K 1x1 mg
• Inj Cefotaxim 2x100 mg
• Inj Gentamisin 2x5 mg
• Inj Ca Glukonas 1x2 cc
Edukasi
• Memberitahukan kepada ibu pasien bahwa pasien
mengalami sesak jadi perlu diberikan bantuan dengan
menggunakan oksigen.
• Memberitahukan kepada ibu pasien bahwa pasien akan
dilakukan observasi untuk menilai sesak dan komplikasinya
• Meminta kepada ibu pasien bahwa untuk sementara
bayinya tidak boleh disusui dahulu karena bisa
menyebabkan keluhan sesaknya bertambah parah karena
ketika menyusui bayi membutuhkan banyak tenaga.
• Ketika sesak sudah berkurang, boleh menyusui
PROGNOSA

Quo ad
sanam
• Dubia ad • Dubia ad
bonam • Dubia ad bonam
bonam
Quo ad Quo ad
vitam fungsional
Progress Note
TINJAUAN PUSTAKA

BBLR
Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir
adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1
(satu) jam setelah lahir.
Etiologi
a) Faktor ibu
 Penyakit : Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
 Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu
seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran
preterm.
 Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi
yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia
 Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu
perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
a) Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
a) Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi,
sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun.
Diet untuk BBLR
Berat lahir 1500-1749 gram
.
Bayi Sakit
Bayi dapat minum per oral 
seperti bayi sehat
Bayi Sehat Apabila bayi memerlukan cairan
• Anjurkan bayi menetek tiap 2 intravena:
jam seklali. Berikan cairan intravena hanya
• Pantau pemberian minum dan selama 24 jam pertama
kenaikan berat badan untuk Mulai berikan minum per oral pada
hari ke-2 atau segera setelah bayi
menilai efektifitas menyusui.
stabil. Anjurkan pemberian ASI
Apabila bayi kurang dapat apabila ibu ada dan bayi
menghisap, tambahkan ASI menunjukkan tanda-tanda siap
peras dengan menggunakan untuk menyusu.
salah satu alternatif cara Apabila masalah sakitnya
pemberian minum menghalangi proses menyusui
(contoh; gangguan nafas, kejang),
berikan ASI peras melalui pipa
lambung
Diet untuk BBLR
Berat lahir 1750 – 2500 gram
.
Bayi Sehat Bayi Sakit
• Berikan ASI peras dengan Bayi dapat minum per oral 
cangkir/sendok. Bila jumlah yang seperti bayi sehat
dibutuhkan tidak dapat diberikan
menggunakan cangkir/sendok atau ada
Apabila bayi memerlukan cairan
resiko terjadi aspirasi ke dalam paru intravena:
(batuk atau tersedak), berikan minum Berikan cairan intravena hanya
dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan selama 24 jam pertama
pemberian menggunakan cangkir/ Mulai berikan minum per oral pada
sendok apabila bayi dapat menelan hari ke-2 atau segera setelah bayi
tanpa batuk atau tersedak (ini dapat stabil. Anjurkan pemberian ASI
berlangsung setela 1-2 hari namun ada
kalanya memakan waktu lebih dari 1
apabila ibu ada dan bayi
minggu) menunjukkan tanda-tanda siap
• Beri minum 8x/24 (Apabila bayi telah untuk menyusu.
mendapatkan minum 160/kgBB per hari Apabila masalah sakitnya
tetapi masih tampak lapar, beri menghalangi proses menyusui
tambahan ASI setiap kali minum) (contoh; gangguan nafas, kejang),
• Bisa minum dengan cangkir/sendok  berikan ASI peras melalui pipa
menyusu lambung
TINJAUAN PUSTAKA

SYNDROME GAWAT
NAFAS NEONATUS
PENGERTIAN

Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau


takipnea dengan frekuensi pernafasan besar 60
x/menit, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan
retraksi didaerah epigastrium, suprosternal,
interkostal pada saat inspirasi.
E •Kelainan paru: pneumonia
T •Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan,
disfungsi miokardium
I •Kelainan susunan syaraf pusat akibat:
Aspiksia, perdarahan otak
O •Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis
metabolik
L •Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel
O trakheoesofageal, hernia diafragmatika
•Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium,
G penyakit membran hialin

I
Penatalaksanaan secara umum
Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi,
yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan
dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
Pantau selalu tanda vital
Jaga patensi jalan nafas
Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)

•Jika bayi mengalami apneu


Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
Lakukan penilaian lanjut

•Bila terjadi kejang potong kejang


•Segera periksa kadar gula darah
•Pemberian nutrisi adekuat
TINJAUAN PUSTAKA

HIPOGLIKEMIA
NEONATUS
DEFINISI
Hipoglikemi adalah kondisi
ketidaknormalan kadar glukosa serum yang
rendah. Keadaan ini dapat didefinisikan
sebagai kadar glukosa dibawah 40 mg/dL
setelah kelahiran berlaku untuk seluruh bayi
baru lahir.
Tanda dan Gejala
 Jitteriness (gerakan seperti kejang)
 Sianosis.
 Kejang atau tremor.
 Letargi dan menyusui yang buruk.
 Apnea.
 Tangisan yang lemah atau bernada tinggi.
 Hipotermia.
 RDS.
Figure 92-1 Insidensi hipoglikemia berdasarkan berat lahir, umur gestasi, dan pertumbuhan
intrauterine. (Dari Lubchenco LO, Bard H: Incidence of hypoglycemia in newborn infants classified
by birthweight and gestational age. Pediatrics 1971;47:831–838.)
Pencegahan
• Memantau kadar glukosa darah
• Pencegahan hipoglikemia
• Hindari faktor resiko yang dapat dicegah (misalnya
hipotermia)
• Pemberian makan enteral
• Jika bayi tak menyusui, mulailah pemberian minum
dengan menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam
setelah lahir.
• Neonatus beresiko tinggi harus dipantau nilai
glukosanya sampai asupannya penuh dan tiga kali
pengukuran normal sebelum pemberian minum
berada diatas 45 mg/dL.
Penatalaksanaan
• Koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg dengan
dekstrosa 10% = 2cc/kg dan diberikan melalui iv selama
5 menit dan diulang sesuai keperluan
• Infus tak terputus (continual) glukosa 10% dengan
kecepatan 6-8mg/kg/menit harus dimulai
• Ketika pemberian makan telah dapat di toleransi dan
nilai pemantauan glukosa sudah normal maka infus
dapat diturunkan bertahap (tindakan ini mungkin
memerlukan waktu 24-48 jam atau lebih untuk
menghindari kambuhnya hipoglikemia)