Anda di halaman 1dari 28

Karsinoma Nasofaring

Disusun oleh :
Teuku Muhammad Arief Yamin (12116539)
Mustika Rani (30101206671)
Nur Fitriani Hamra (30101206795)
Emi Latifah (30101306932)
Wenda Nur Cholifah (30101307098)

Pembimbing :
dr. Bambang Agus Soesanto.,Sp.THT
Tumor Ganas daerah kepala dan leher
yang terbanyak di Indonesia

Nasofaring

Hidung dan sinus

Laring

Rongga Mulut, Tonsil,


Hipofaring
Anatomi
Epidemiologi
• Cina Selatan, Hongkong, Singapura, Malaysia dan
Taiwan 10-50 kasus per 100.000 populasi per
tahun
• laki-laki : perempuan  2-3:1
• Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus
KNF dari tahun 2000 – 2002
• Usia rata-rata pasien saat didiagnosis KNF adalah
45-55 tahun
• Pasien muda mempunyai survival rate lebih baik
dibandingkan pasien tua.
Etiologi

Human Leucocyte Antigen terutama HLA-


BW46, and HLA-B17
Pengaruh lingkungan yang dapat menyebabkan KNF
dapat berupa zat zat kimia atau bahan makanan
yang biasa dimakan. Mediator di bawah ini
dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma
nasofaring yaitu
Ikan asin, makanan yang diawetkan dan
nitrosamin
gas kimia
asap industri
asap kayu
beberapa ekstrak tumbuhan
ramuan herbal cina
Merokok
Berdasarkan klasifikasi histopatologi
menurut WHO, KNF dibagi 3 tipe,
yaitu:
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi
(Keratinizing Squamous Cell Carcinoma).
2. Karsinoma non-keratinisasi (Non-Keratinizing
Carcinoma).
3. Karsinoma tidak berdiferensiasi
(Undifferentiated Carcinoma).
Diagnosis
Anamnesis

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Penunjang
Gejala Klinis
1. Gejala dini/gejala setempat, adalah gejala-gejala yang dapat
timbul di waktu tumor masih tumbuh dalam batas-batas
nasofaring, dapat berupa:
• Gejala hidung: pilek lama yang tidak kunjung sembuh;
epistaksis berulang, jumlahnya sedikit dan seringkali
bercampur dengan lendir hidung sehinga berwarna merah
jambu; lendir hidung seperti nanah, encer/kental, berbau.
• Gejala telinga: tinnitus (penekanan muara tuba eustachii
oleh tumor, sehingga terjadi tuba oklusi, menyebabkan
penurunan tekanan dalam kavum timpani), penurunan
pendengaran (tuli), rasa tidak nyaman di telinga sampai
otalgia.
2. Gejala lanjut/gejala pertumbuhan atau penyebaran tumor, dapat berupa:
a. Gejala mata: diplopia (penglihatan ganda) akibat perkembangan tumor
melalui foramen laseratum dan menimbulkan gangguan N. IV (N.
Trochlearis) dan N. VI (N. Abducens). Bila terkena chiasma opticus akan
menimbulkan kebutaan.
b. Gejala tumor: pembesaran kelenjar limfe pada leher, merupakan tanda
penyebaran atau metastase dekat secara limfogen dari karsinoma
nasofaring.
c. Gejala kranial, terjadi bila tumor sudah meluas ke otak dan mencapai
saraf-saraf kranialis, antara lain:
 Sakit kepala yang terus menerus, rasa sakit ini merupakan metastase
secara hematogen.
 Sensitibilitas daerah pipi dan hidung berkurang.
 Kesukaran pada waktu menelan
 Afoni
 Sindrom Jugular Jackson atau sindrom retroparotidean mengenai N. IX (N.
Glossopharyngeus), N. X (N. Vagus), N. XI (N. Accessorius), N. XII (N.
Hypoglossus). Dengan tanda-tanda kelumpuhan pada: lidah, palatum,
faring atau laring, M. Sternocleidomastoideus, M. Trapezius.
Peeriksaan fisik
• Telinga : Untuk mengetahui keadaan membran
timpani dilakukan pemeriksaan otoskopi
sedangkan untuk mengetahui adanya
penurunan pendengaran dapat dilakukan tes
garpu tala
• Hidung : Untuk mengetahui keadaan kavum
nasi, keadaan konka inferior, konka media
serta sekret bila ada dapat dilakukan
pemeriksaan rinoskopi anterior
• Tenggorok : Tampak massa di dinding
nasofaring berwarna kemerahan dengan
permukaan tidak rata yang tampak dengan
pemeriksaan rinoskopi posterior
• KL : Tampak benjolan pada leher (lateral)
dengan berbagai ukuran, biasanya berada di
level II-III dengan permukaan rata, terfiksir
dan tidak nyeri tekan
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
2. Serologi IgA anti EA dan igA anti VCA
3. CT Scan/ MRI daerah kepala dan leher
4. Biopsi Nasofaring (Gold Standart)
PENENTUAN STADIUM
Stadium ini berdasarkan kriteria dari American Joint Committee
On Cancer (AJCC 2002)

T = Tumor primer
 T0 - Tidak tampak tumor.
 Tis – Karsinoma insitu, dimana tumor hanya terdapat pada 1 lapisan
jaringan.
 T1- Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja
(lateral/posterosuperior/atap dan lain- lain).
 T2 - Tumor yang sudah meluas kedalam jaringan lunak dari rongga
tenggorokan.
 T3 - Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung
atau orofaring dsb).
 T4 - Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang
tengkorak atau mengenai saraf-saraf otak.
 TX - Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.
N = Nodule
 N - Pembesaran kelenjar getah bening regional .
 NX - Pembesaran kelenjar reginol tidak dapat dinilai
 N0 - Tidak ada pembesaran.
 N1 - Terdapat pembesaran tetapi homolateral dan tumor
dalam kelenjar limfe berukuran 6 cm atau lebih kecil.
 N2 - Terdapat pembesaran kontralateral/bilateral dengan
ukuran tumor 6 cm atau lebih kecil.
 N3 - Tumor terdapat di kelenjar limfe dengan ukuran lebih
dari 6 cm atau tumor telah ditemukan didalam kelenjar
limfe pada regio “segitiga leher”
 N3A – Tumor dalam kelenjar limfe dengan ukuran lebih dari
6 cm.
 N3B – Tumor ditemukan diluar “segitiga leher”
M = Metastasis
 M = Metastasis jauh
 M0 - Tidak ada metastesis jauh.
 M1 – Terdapat Metastesis jauh .
Stage 0
Stage 1
Stage 2A dan 2B
Stage 3
Stage 4A, 4B , 4C
Penatalaksanaan
• Prinsip pengobatan karsinoma nasofaring
meliputi terapi antara lain
• Radioterapi, Kemoterapi, Kombinasi, Operasi, dan
Terapi Gen Dan Imunoterapi. Penatalaksanaan
KNF berdasarkan stadiumnya terdiri dari
Stadium I : Radioterapi
Stadium II : Radioterapi
Stadium III : Kemoterapi + radiasi
Stadium IV : Kemoterapi + radiasi