Anda di halaman 1dari 15

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam

menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir.


Secara garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi
pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan
transport, pengolahan dan pembuangan akhir.
TPA Sampah Terpadu/ TPST atau Material Recovery Facility
(MRF) didefinisikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pemisahan
dan pengolahan sampah secara terpusat.
Fungsi TPST adalah sebagai tempat berlangsungnya: pemisahan,
pencucian/pembersihan, pengemasan, dan pengiriman produk daur ulang
sampah.
1. Penanganan sampah pada sumbernya yaitu semua perlakuan
terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah di tempatkan di
tempat pembuangan. Penanganan sampah di sumbernya dapat
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah
pada tahap selanjutnya. Karena penanganan sampah pada tahap ini
dapat mengendalikan timbulan sampah.
Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya meliputi
pemilahan (sorting), yaitu memilah mana sampah organik, anorganik dan
sampah berbahaya.
 Sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali (reuse) contohnya :
menggunakan kembali botol dan wadah kemasan produk untuk
penyimpanan daripada membeli baru dan tidak membuang barang
yang masih layak digunakan namun memberikannya kepada yang
membutuhkan. Selain itu dapat di daur ulang misalnya kaleng bekas
susu untuk membuat mainan atau mempersilahkan pemulung
mengambilnya untuk didaur ulang.
 Sampah organik dapat memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu dijadikan
kompos atau pakan ternak.
 Sedangkan sampah berbahaya harus ditangani secara khusus untuk
menetralisir dari pencemaran. Sampah ini harus dipisahkan dari
yang lainnya sehingga proses daur ulang lebih cepat dan
menghasilkan produk yang bebas dari bahan berbahaya. Tujuan
utama dan kegiatan di tahap ini adalah untuk mereduksi besarnya
timbulan sampah (reduce).
3. Pengumpulan
Pengumpulan adalah kegiatan pengumpulan sampah dari sumbernya
menuju ke lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Umumnya
dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dari rumah-rumah
menuju ke lokasi TPS atau diantar sendiri oleh mayarakat ke TPS.
4. Pengangkutan
Pengangkutan adalah kegiatan pemindahan sampah dari TPS menuju
lokasi pembuangan dan pengolahan sampah atau Tempat
Pembuangan Akhir (TPA).
5. Pengolahan
Pengolahan berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan
sampah, di antaranya adalah: pemisahan komponen sampah dan
pemadatan, yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan
pengangkutan.
6. Pembakaran (incinerate)
Pembakaran merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat
mengubah sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat
berkurang. Meski merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan
merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini disebabkan karena teknik
tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.
1. Penetapan definisi dan fungsi TPST.
2. Penentuan komponen sampah yang akan diolah untuk saat sekarang dan
masa mendatang.
3. Identifikasi spesifikasi produk.
4. Pengembangan diagram alir proses pengolahan.
5. Penentuan laju beban pengolahan.
6. Penentuan lay out dan disain.
7. Penentuan peralatan yang digunakan.
8. Penentuan upaya pengendalian kualitas lingkungan.
9. Penentuan pertimbangan estetika.
10. Penentuan adaptabilitas peralatan terhadap perubahan yang mungkin
terjadi.
 Lokasi TPST
Lokasi sebaiknya jauh dari permukiman penduduk dan industri, dengan
pertimbangan TPST akan mendapatkan daerah penyangga yang baik
dan mampu melindungi fasilitas yang ada. Tetapi tidak menutup
kemungkinan lokasi dekat dengan permukiman atau industri, hanya
saja dibutuhkan pengawasan terhadap pengoperasian TPST sehingga
dapat diterima dilingkungan.
 Emisi ke lingkungan TPST yang akan dioperasikan harus melihat
kemampuan lingkungan dalam menerima dampak yang ditimbulkan dari
adanya fasilitas TPST, misalnya : kebisingan, bau, pencemaran udara,
estetika yang buruk dan lain-lain.
 Masalah Penerapan TPST Kesehatan dan kemanan masyarakat
Kesehatan dan keamanan masyarakat secara umum sangat terkait
denganproses yang ada di dalam TPST. Jika proses di TPST
direncanakan dandilaksanakan dengan baik, maka dampak negatif
yang akan ditimbulkan pada masyarakat dapat diminimalkan.

 Kesehatan dan keselamatan pekerjaan


Pengoperasian TPST juga menimbulkan resiko terhadap para
pekerja, seperti kemungkinan adanya paparan dari bahan toksik
yang masuk ke lokasi TPST, sehingga pekerja harus dilengkapi
peralatan safety pribadi. – Contoh peralatan tersebut pakaian yang
aman, sepatu boot, sarung tangan, masker dan lain-lain.
1. Analisis Keseimbangan Material (material balance analysis) –
Mengetahui jumlah sampah yang masuk kelokasi pengolahan
termasuk komposisi dan karakteristik sampah. – Langkah ini
bertujuan untuk membuat material balance guna mengetahui proses
pengolahan yang akan dilakukan serta berapa produk yang di hasilkan
dan residu yang dihasilkan. Langkah ini juga merupakan langkah awal
untuk menentukan prakiraan luas lahan serta kebutuhan peralatan
bagi sitem di TPST.
2. Identifiksi seluruh kemungkinan pemanfaatan material mengetahui
karakteristik sampah dan pemanfaatannya untuk bisa
mengembangkan diagram alir proses pemanfaatan material balance.
3. Perhitungan akumulasi sampah
Menentukan dan menghitung jumlah akumulasi dari sampah, berapa
sampah yang akan di tangani TPST dan laju akumulasi dengan penetapan
waktu pengoperasian dari TPST.
4. Perhitungan material loading rate
Perhitungan jumlah pekerja dan alat yang akan dibutuhkan serta jam
kerja dan waktu pengoperasian dari peralatan yang digunakan di dalam
TPST
5. Layout dan desain
Tata letak di dalam lokasi TPST agar mempermudah pelaksanaan
pekerjaan.