Anda di halaman 1dari 56

Oleh : PRADITO HASIBUAN,S.Ag.

Definisi Hadits

Secara harfiyah

Jadid Qorib Khabar

Secara istilah

Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi


Muhammad saw. baik berupa ucapan, perbuatan
maupun sikap/takrir dsb.
Istilah Hadits
Sunnah
Secara tradisi, artinya suatu tradisi yang sudah dibiasakan.
harfiyah
Menurut Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw. baik berupa
istilah perkataan, perbuatan, atau taqrir, pengajaran, sifat,
kelakuan, maupun perjalanan hidup baik Nabi saw. setelah
diutus menjadi Rasul ataupun sebelumnya.

Al Khabar
Secara harfiyah berarti Berita
Kata Al Khabar searti dengan Al Hadits namun, biasanya
digunakan untuk menyebut hadits-hadits yang marfu’.

Al Atsar
Secara harfiyah berarti bekas atau jejak
Kata Al Atsar searti dengan Al Hadits
namun, biasanya digunakan untuk
menyebut hadits-hadits yang maukuf.
Struktur Hadits

Sanad
Secara bahasa Sandaran, yang kita bersandar kepadanya.
Menurut istilah Jalan yang dapat menghubungkan matanul
hadits kepada Nabi Muhammad saw.

Matan
Secara bahasa Punggung jalan; tanah yang keras dan tinggi
Menurut istilah Pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover
oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda
Nabi, sahabat, ataupun tabi’in.

Rawi
Orang yang menyampaikan hadits atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang
pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya).

Sedangkan orang yang menukilkan hadits dari suatu kitab atau musnad ke kitab lain
disebut Mukharij
Hadits sebagai sumber ajaran agama

َ ‫ َفإ ْن َت َو َّل ْوأ َفإ َّن هللا ََل ُيح ُّب ْأ‬,‫ُق ْل َأط ْي ُعوهللا ََو َّألر ُس َول‬
َ‫لكإ ِفرْين‬
ِ ِ ِ ِ ِ
“katakanlah; taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling,
maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”
(Ali Imran [3] : 32)

ُ َ ْ َ ُ ْ ُ َ ُ ُ َ ُ ُ َ
‫َو َمإ َءأتإكم ألرسول فخذوه ومإنهإكم عنه فإنتـهوأ‬
َ ْ َ َ َ ُ ُ َّ ُ
“apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan
apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah”
(Al Hasyr [59] : 7)
Keadaan hadits

Hadits memiliki tiga keadaan, jika dilihat dari segi


hukum dan hubungannya dengan Al Qur’an,

1. Mengakui dan menguatkan suatu


hukum tersebut dalam Al Qur’an

2. Menjelaskan Al Qur’an

3. Menetapkan suatu hukum yang


tidak tersebut dalam Al Qur’an
Sejarah penulisan & pengkodifikasian hadits
ُ‫ َو َم ْن َكـ َت َب َع ِني َش ْي ًإ َغ ْي َر ْأل ُق ْرأن َف ْل َي ْم ُحه‬,‫َل َت ْكـ ُت ُبوأ َع ِني َش ْي ًإ أ َّل ْأل ُق ْرأن‬
Hadits pada periode Rasul dan sahabat ِ
ْ
‫ َّألن ِإر (ر‬Nabi,
‫اوه‬Masa ‫ه ِم َن‬perhatian ‫ ًدأ َفل َي‬diutamakan
ُ ‫ َت َب َّوأ َم ْق َع َد‬lebih ‫ذ َب َع َل َّي ُم َت َع ِم‬pada ‫ َو‬: ‫ني َو َل َح َر َج‬
َ ‫َم ْن َك‬pemeliharaan
ِ
َ ‫َو َح ِد ُث‬
‫وأع‬
al-
Qur’an
 Dua hadis yang nampak ‘bertentangan’ )‫مسلم‬
1. Hadis yang melarang penulisan hadis
‫ب‬
2. ‫أكت‬
Hadis \).....( ‫فقال أكتبوا له‬
yang memerintah penulisan,‫أكتبوا لي‬ hadis ,‫ يا رسول هللا‬............
)‫ ما يخرج منه إال حق (رواه أبو داود‬,‫فوالّذي تفسي بيده‬

“Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain Al
Qur’an hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku,
tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku,
maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.”
(H.R. Muslim)
....... Wahai rasulullah tuliskan untukku, maka rasul berkata tuliskanlah
untuknya. Demi Allah jangan engkau mengeluarkan sesuatu kecuali
dengan benar. ( HR. Abu Dawud)
Para Sahabat yang mempunyai naskah Hadits

1. Abdullah bin Amr bin ‘Ash ( 7 SH - 65 H)


Naskahnya disebut “Ash-shahifah As-shidiqah ” karena ditulis
secara langsung dari Rasulullah saw.
.
2. Jabir bin Abdullah Al Anshary r.a. (16 H - 73 H)
Naskah haditsnya disebut “Ash-shahifah Jabir ”

Hadits pada masa khalifah Abu Bakar, Umar Ibnu Khattab,


dan Usman bin Affan
Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar Ibnu Khattab perkembangan hadits
tidak begitu pesat sebab, anjurab beliau kepada para sahabat agar
mengutamakan penyiaran Al Qur’an sebagai dasar syari’at islam yang pertama.

Sedangkan pada masa Khalifah Usman bin Affan perkembangan hadits begitu
pesat sebab, banyak sahabat kecil dan tabi’in yang mulai mencari dan
mengumpulkan hadits dari para sahabat yang lainnya.
Pembukuan hadits secara resmi
Pembukuan hadits terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Motif / tujuan pembukuan hadits :

1. Agar tidak mudah hilang dan lenyap


dari perbendaharaan masyarakat

2. Untuk membersihkan dan memelihara


al hadits dari hadits-hadits maudhu’

3. Agar tidak bercampur dengan Al Qur’an

4. Mengantisipasi dari banyaknya kaum muslimin yang


hafal hadits wafat, karena usia dan karena pertempuran.
Ulumul Hadits
Pengertian, Sejarah Perkembangan dan Cabang-cabangnya

Pengertian dan sejarah perkembangannya

Ulumul hadits adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang hal


yang berkaitan dengan hadits.

Riwayah

Ilmu Hadits

Dirayah
Arti, Obyek, dan Faedah Ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah

Ilmu Hadits Riwayah

Arti Ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengetahui


cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan pembukuan apa-apa
yang disandarkan kepada Nabi Muhammad. Baik berupa
perkataan, perbuatan, taqrir dsb.

Obyek Bagaimana cara menerima, menyampaikan, pada orang lain


dan memindahkan atau membukukan dalam suatu kitab hadits.

Faedah Menghindari adanya kemungkinan salah kutib terhadap apa


yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.
Ilmu Hadits Dirayah (Musthalahul Hadits)

Arti Undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal


sanad, matan, cara-cara menerima, dan menyampaikan
hadits, sifat-sifat rawi dsb.

Obyek Meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya


(sanad dan matannya).

Faedah Menetapkan maqbul atau mardudnya hadits dan selanjutnya


diamalkan yang maqbulnya dan ditinggalkan yang mardud
Cabang-cabang Ilmu Hadits

1. Ilmu Rijalul Hadits

2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil

3. Ilmu Fannil Mubhamat

4. Ilmu ‘Ilalil Hadits

5. Ilmu Gharibil Hadits

6. Ilmu Nasikh wal Mansukh

7. Ilmu Talfiqil Hadits

8. Ilmu Tashrif wat Tahrif

9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits

10. Musthalah Ahli Hadits


1. Ilmu Rijalul Hadits
Ilmu yang membahas para perawi hadits, baik sahabat, tabi’in maupun
agkatan sesudahnya.

2. Ilmu Jarhi wat Ta’dil


Ilmu yang membahas tentang sifat seorang rawi yang dapat mencatatkan
keadilan dan kehafalannya.

3. Ilmu Fannil Mubhamat


Ilmu yang dengannya diketahui nama orang-orang yang tidak disebut
namanya di dalam matan atau di dalam sanad.

4. Ilmu ‘Ilalil Hadits


Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang
dapat cacat suatu hadits yang nampaknya tiada bercacat itu.

5. Ilmu Gharibil Hadits


Ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadits
yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum.
6. Ilmu Nasikh wal Mansukh
Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang
menasikhkan

7. Ilmu Talfiqil Hadits


Ilmu yang membahas tentang cara mengupulkan (mengkompromikan) antara
hadits-hadits yangsecara lahir bertentangan.

8. Ilmu Tashrif wat Tahrif


Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (yang
dinamai mushahhaf), dan bentuknya dinamai muharraf.

9. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits


Ilmu yanhg mnerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa
Nabi menuturkan itu.

10. Musthalah Ahli Hadits


Ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah) yang dipakai
oleh ahli-ahli hadits.
Pembagian Hadits
dari segi kualitas sanad, hadits
terbagi menjadi 3 bagian

Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil,


1. Hadits Shahih sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-
sambung, tidak berillat, dan tidak janggal.

Hadits yang diriwayatkan oleh seorang 0yang


adil, tapi tak begitu kokoh ingatannya,
2. Hadits Hasan
bersambung-sambung sanadnya, dan tidak
terdapat illat serta kejanggalan pada matannya.

3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari
syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
dari segi kuantitas rawi, hadits
terbagi menjadi 3 bagian

1. Hadits Mutawatir

2. Hadits Masyhur

3. Hadits Ahad
Hadits Mutawatir

adalah suatu hadits hasil tanggapan dari panca indera, yang diriwayatkan oleh
sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul
dan bersepakat berdusta

Para ahli Ushul Fiqh membagi


hadits mutawatir kepada 2 bagian

Mutawatir Lafdzi

Mutawatir Ma’nawi
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir
bila telah memenuhi tiga syarat

1. Pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi tersebut


harus berdasarkan tanggapan panca indera
2. Jumlah rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan
mereka bersepakat untuk berdusta atau berbohong
3. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam taqhabah pertama
dengan jumlah rawi-rawi dalam taqhabah berikutnya
Hadits Masyhur

adalah Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih,


serta belum mencapai derajat mutawatir.

Hadits Masyhur terbagi menjadi tiga bagian

1. Masyhur di kalangan para muhaditsin dan lainnya


( golongan ahli ilmu dan orang umum )
2. Masyhur dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya masyhur
di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqih saja, atau ahli nahwu saja dsb.

3. Masyhur di kalangan orang umum saja.


Hadits Ahad

adalah suatu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir

Para muhaditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits Ahad mengingat banyak
sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqat, yaitu dengan
Hadits Masyhur, Hadits Aziz dan Hadits Gharib

Contoh hadits Dha’if, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

‫اإليمان‬ َ
َ ‫م‬ ٌ
‫ة‬ َ
‫عب‬‫ش‬ُ ُ‫ضع َو َسبعون ُش َعب ًة َوال ََح َي ُا‬
ٌ ‫ اإليمان ب‬: ‫قل النبي صلى هللا عليه وسلم‬
ِ ِ ِ
“ Nabi Muhammad saw, bersabda : iman itu bercabang-cabang menjadi 73 cabang,
malu itu salah satu cabang dari iman.”
Pembagian Hadits
dari segi kualitas sanad, hadits
terbagi menjadi 3 bagian

Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil,


1. Hadits Shahih sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-
sambung, tidak berillat, dan tidak janggal.

Hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil,


tapi tak begitu kokoh ingatannya, bersambung-
2. Hadits Hasan
sambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta
kejanggalan pada matannya.

3. Hadits Dho’if Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari
syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
Syarat-syarat Hadits Shahih

1. Rawinya
bersifat adil

2. Sempurna
ingatan
Hadits dinilai
shahih apabila 3. Sanadnya
memenuhi lima tidak putus
syarat
4. Hadits itu
tidak ber’illat

5. Tidak ada
kejanggalan
Seorang Rawi dikatakan adil apabila
memenuhi 4 syarat

1. Selalu memelihara perbuatan ta’at dan


menjauhi perbuatan maksiat

2. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat


menodai agama dan sopan santun

3. Tidak melakukan perkara-perkara mubah


yang dapat menggugurkan iman kepada qadar
dan mengakibatkan kepada penyesalan

4. Tidak mengikuti salah satu madzhab yang


bertentangan dengan dasar syara’
Hadits shahih terbagi kepada dua bagian

Shahih lidzatih

Shahih lighairih
Hadits Dha’if dan Macam-macamnya
Hadits Dha’if adalah Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat
Hadits Shahih atau Hadits Hasan.

Sebab-sebab
tertolaknya Hadits dari
dua jurusan

Sanad Matan
Dhaif disebabkan terputusnya sanad dan macam-macamnya

Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena


sanadnya digugurkan/tak bersambung

Yang digugurkan Disebut


Sanad pertama Hadits Mu’allaq
sanad yg terakhir Hadits Mursal
dua orang rawi atau lebih
berturut -turut Hadits Mu’dhal

dua orang rawi atau lebih Hadits Munqathi’


tidak berturut -turut

Menyembunyikan
kecacatan sanad diganti Hadits Mudallas
dengan sanad yang baik
Dhaif disebabkan cacat selain keterputusan sanad
dan macam-macamnya

Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena


cacat pada keadilan dan kedhabitan rawi

No Jenis cacat Disebut


1 Dusta Hadits Maudhu’
2 Tertuduh dusta Hadits Matruk
3 Fasik
4 Banyak salah
5 Lengah dalam menghafal Hadits Munkar
6 Banyak waham Hadits Muallal
7 Menyalahi riwayat orang kepercayaan
8 Tidak diketahui identitasnya Hadits Mubham
9 Penganut Bid’ah Hadits Matrud
10 Tidak berturut-turut Hadits Syadz &
Mukhtalith
Sebab-sebab tertolaknya Hadits karena
suatu sifat yang terdapat pada Matan

Hadits Mauquf
Berita yang disandarkan hanyha sampai kepada sahabat saja,
baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan
dan baik sanadnya bersambung hatau teroutus

Hadits Maqthu’
Perkataan atau perbuatan yang berasal dari seseorang tabi’i
serta dimaukufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak
Kehujjahan Hadits Dha’if

1. Melarang secara mutlak

2. Membolehkan
Syarat-syarat Seorang Perawi
Dan Proses Transformasi

1. sama’ min lafdzhi


asy-syikh
2. Al Qira’ah ‘ala asy-syikh

3. Ijazah
Syarat2
4. Munawalah seorang
rawi
5. Mukatabah

6. Wijadah

7. Washiyah

8. I’lam
Lafadz-lafadz untuk meriwayatkan Hadits

Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi


yang mendengar langsung dari gurunya

Saya telah mendengar ......... ‫َس ِمع ُت‬


َ
Kami telah mendengar .......... ‫َس ِمعنا‬

‫َح َّد َث ِنى‬


Seseorang telah bercerita padaku ........

Seseorang telah bercerita pada kami ........ ‫َحدثنا‬


َ َ َّ
َ َ َ َ َ َ
Seseorang telah mengabarkan padaku/kepada kami........ ‫ اخبرنا‬/ ‫اخبرِنى‬
َ
Lafadz meriwayatkan Hadits bagi para Rawi yang
mungkin mendengar sendiri atau tidak mendengar
sendiri

َّ‫ َان‬,َ‫ َع‬,‫ ُح ِك َى‬,‫ُرِو َى‬

diriwayatkan oleh ……, dihikayatkan oleh….. dari….


bahwasanya…..
ILMU JARHI WA AT-TA’DIL
Ta’rif Ilmu Jarhi Wa At-Ta’dil

Menurut Muhadditsin Jarh ialah sifat seorang rawi mentaatkan


keadilan dan kehafalannya. Mentajrih seorang rawi
berarti mensifati seorang rawi dengan sifat-sifat yang dapat
menyebabkan kelemahan dan tertolak apa yang diriwayatkannya.

Ilmu Jarh wa At-ta’dil ialah ilmu yang membahas tentang


memberikan kritikan ‘aib atau memberikan pujian adil kepada
seorang rawi
Manfa’at Ilmu Jarh Wa At-Ta’dil

Untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu


apat diterima atau harus ditolak sama sekali.
Macam-macam keaiban rawi

Bid’ah

Mukhalafah

Ghalat

Jahalatul hal

Da’wa al-Inqitha