Anda di halaman 1dari 148

HAKEKAT SAINS

HAKEKAT SAINS
SCIENCE (SAINS)

ILMU PENGETAHUAN ALAM

ILMU ALAMIAH

INTEGRASI DARI BIOLOGI,FISIKA,KIMIA


DAN IPBA
BUKAN MERUPAKAN JUMLAH DARI KE 4
NYA
Apakah sebenarnya IPA itu?

Pengertian sains atau IPA mengalami


perkembangan dari jaman ke jaman. Pada
mulanya sains merupakan pengetahuan biasa,
lambat laun pengertiannya berubah menjadi
pengetahuan yang rasional lepas dari takhayul
dan kepercayaan, kemudian berkembang
menjadi pengetahuan yg didapat dari metode
ilmiah
IPA adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya melalui
metode ilmiah. Jadi disini metodenyalah yang menentukan
apakah pengetahuan itu ilmiah atau tidak.

Alam semesta terbentuk dari objek dan interaksinya yang


menimbulkan fenomena.

Fenomena tersebut tidak terkotak-kotak seperti ilmu-ilmu dasar


dan terapan

Hanya keterbatasan kompetensi manusialah menyebabkan ilmu


mengenai alam terkotak-kotak ( kimia, biologi,fisika, IPBA)

IPA sebagai proses untuk membentuk hukum, model, dan teori


yang memungkinkan orang untuk memprediksi, menjelaskan,
dan mengendalikan tingkah laku alam.
Ilmu Pengetahuan Alam
 Ilmu merupakan pengetahuan yang bersifat
ilmiah dan diperoleh dengan metode ilmiah.
 Sifat Ilmu adalah : rasional (masuk akal,
logis, dapat diterima akal sehat dan
objektif).
 Pengetahuan : segala sesuatu yang
diketahui manusia
 Alam artinya alamiah, berasal dari pencipta.
Definisi IPA
 Suatu cabang pengetahuan yang
menyagkut fakta-fakta yang tersusun
secara sistematis dan menunjukkan
berlakunya hukum-hukum umum.
 Pengetahuan yang didapatkan
dengan jalan studi dan praktik.
 Suatu cabang ilmu yang bersangkut
paut dengan observasi dab klasifikasi
fakta-fakta, terutama dengan
disusunnya hukum umum dengan
induksi dan hipotesis.
 Pengetahuan yang sistematis
tersusun secara teratur, berlaku
umum (universal), dan berupa
kumpulan data hasil observasi dan
eksperimen (Carin Sund,1993).
 IPA memiliki 4 unsur utama :

a. Sikap : IPA memunculkan rasa ingin


tahu tentang benda, fenomena alam,
makhluk hidup, serta hubungan seba
akibat.
b. Proses : Proses pemecahan masalah
adanya prosedur yang runtut dan
Cara Berpikir IPA
 Percaya (believe); masalah gejala
alam dimotivasi kepercayaan bahwa
hukum alam dapat dikonstryksi dari
observasi dan diterangkan dengan
penalaran.
 Rasa ingin tahu (curiousity), alam
dapat dimengerti dan didorong rasa
ingin tahu untuk menemukannya.
 Imaginasi (imagination); memiliki
imajinasi untuk memecahkan masalah
gejala alam.
Cara penyelidikan ipa
1. Observasi (observation); diperoleh
fakta dan diolag menjadi hsil
observasi.
2. Eksperimen (eksperimentation);
harus diikuti observasi dengan teliti
dan cermat agar diperoleh data yang
akurat.
3. Matematika (Mathematic); diperlukan
untuk menyatakan hubungan antar
variabel dalam hukum dan teori, serta
penting untuk membuat model.
Hakikat Sains atau Ilmu pengetahuan
alam

adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan


konsep, prinsip, hukum, dan teori yang
dibentuk melalui proses kreatif yang
sistematis melalui inkuiri yang dilanjutkan
dengan proses observasi (empiris) secara
terus-menerus; merupakan suatu upaya
manusia yang meliputi operasi mental,
keterampilan, dan strategi memanipulasi
dan menghitung, yang dapat diuji kembali
Hakikat IPA
Konsep  suatu ide atau gagasan yang
digeneralisasikan dari pengalaman yang
relevan
Prinsip  generalisasi meliputi konsep-
konsep yang bertautan atau adanya
hubungan antara satu konsep dengan
konsep lainnya
Teori  generalisasi prinsip-prinsip yang
berkaitan dan dapat digunakan untuk
menjelaskan gejala-gejala alam
Hakikat Pembelajaran IPA
 Pembelajaran IPA adalah interaksi antara
komponen-komponen pembelajaran dalam
bentuk proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan yang berbentuk
kompetensi yang telah ditetapkan.
 Proses pembelajaran IPA terdiri dari 3
tahap :
a. Perencanaan proses pembelajaran

b. Pelaksanaan proses pembelajaran

c. Penilaian proses pembelajaran.


1. Nilai Praktis  hasil-hasil penemuan IPA, baik secara langsung
atau tidak langsung dapat digunakan dan dimanfaatkan manusia
dalam kehidupan sehari-hari
2. Nilai Intelektual  IPA dengan metode ilmiahnya banyak sekali
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah, bukan saja
masalah yang berkaitan dengan IPA, tetapi masalah-masalah lain
yang berkaitan dengan sosial dan ekonomi
3. Nilai sosial politik-ekonomi  negara yang IPA dan teknologinya
maju akan mendapat tempat khusus dalam kedudukan sosial, politik,
dan ekonominya
4. Nilai keagamaan  sadar bahwa ada yang menciptakan dan
mengatur segala keteraturan yang ada di Jagat Raya ini.
5. Nilai Pendidikan  menciptakan warganegara yang sadar akan IPA
dan teknologi
STRUKTURISASI IPA

1. OBYEK:
» Mulai dari Bumi s.d Ruang angkasa

2. KEJADIAN:
» Mulai dari perkembangan metodologi
– konsepsi – kejadian-kejadian
alaminya

3. METODOLOGI:
IPA DASAR, IPA TERAPAN, DAN TEKNOLOGI

Teknologi

Membuat
Digunakan alat Digunakan

Alam
Menjelaska Mengendalika
IPA n n
IPA
Dasar Digunakan
Terapan
IPA Dasar:
Mencoba untuk memahami bagaimana
alam bekerja

IPA Terapan:
Mencoba mencari cara untuk
mengendalikan bagaimana alam bekerja

Teknologi:
Mencoba memanfaatkan penemuan IPA
NILAI-NILAI IPA

 Nilai-nilai sosial dari IPA


 Nilai etik dan estetika dari IPA
nilai itu terutama terletak pada sistem
yang menetapkan kebenaran yg ojektif
pada tempat yang utama, terdapat
hubungan saling percaya diantara
ilmuwan, penemu suatu konsep atau teori
yg terdahulu tetap dihormati
 Nilai moral humaniora dari IPA
terdapat dua sisi nilai yg berlawanan, IPA
sendiri adalah suci, yang tidak suci adalah
manusianya
 Nilai ekonomi IPA
Nilai-nilai Psikologis/Paedagogis IPA

 Sikap mencintai kebenaran, mendorong manusia


untuk berlaku jujur dan objektif
 Sikap tidak purbasangka
 Sadar bahwa kebenaran ilmu yang diciptakan
manusia itu tidak pernah mutlak
 Yakin akan adanya tatanan alami yang teratur
dalam alam semesta ini
 Bersikap toleran atau dapat menghargai pendapat
orang lain
 Bersikap tidak putus asa
 Sikap teliti dan hati-hati
 Sikap corious atau ingin tahu
 Sikap optimis
Keterbatasan IPA

 IPA tidak dapat menjangkau untuk menguji


kebenaran adanya Tuhan
 IPA tidak dapat menjangkau secara
sempurna tentang objek pengamatannya
 IPA tidak menjangkau masalah etika (tata
krama) yg mempermasalahkan tingkah laku
yg baik atau buruk, tidak menjangkau
masalah estetika yg berhubungan dengan
keindahan, dan tentang sistem nilai. Hal itu
karena tolok ukur IPA adalah objektifitas
bukan subjektifitas
IPA serta pengaruhnya terhadap masyarakat
a. Jenis-jenis pengetahuan
 pengetahuan takhayul atau mitos
 pengetahuan ilmiah
 pengetahuan super-natural
 pengetahuan ilmiah semu (pseudo science)
pengetahuan ini berdasarkan fakta
ilmiah tetapi dicampur dengan
kepercayaan dan hal-hal yang bersifat
supra-natural.
b. Manusia selalu bertanya
What, How, Why?
boleh atau tidak? dikaitkan dengan agama
Misalkan: Apa itu pelangi?
Bagaimana terjadinya warna-warna pelangi?
Mengapa bentuk pelangi melengkung
berupa busur?
Hewan tidak sama dengan manusia,
mengapa?
SIKAP, METODE, DAN PRODUK ILMIAH

Sund (1975):
1. SCIENTIFIC ATTITUDES :
kepercayaan/keyakinan, nilai-nilai, pendapat, obyektif, jujur dsb.
Misal: membuat keputusan setelah memperoleh cukup data yg
berkaitan dengan problemanya.
2. SCIENTIFIC PROCESSES :
Cara khusus dalam menyelidiki/memecahkan problema.
Misalnya: membuat hipotesis, merancang dan melaksanakan
eksperimen, mengumpulkan dan menyusun data, menganalisis
data dsb.
3. SCIENTIFIC PRODUCTS :
Fakta, prinsip, hukum, teori dsb.
Prinsip ilmiah: Logam bila dipanasi akan memuai.
PROSES-PROSES ILMIAH

Penelitian2 baru Proses- Produk-produk


thd fenomena2 di proses ilmiah ilmiah baru
alam
Sikap ilmiah: -hasrat ingin tahu
-rendah hati
-jujur
-obyektif

Penelitian thd Proses ilmiah Produk ilmiah


Fenomena di alam -mengidentifikasi -fakta, konsep,
-obyek-obyek -mengamati prinsip,teori,hukum
-hub-hub dsb -merumuskan hipot
-menganalisis
-membuat sintesis
-mengevaluasi dsb
PRODUK-PRODUK ILMIAH
» Produk dan sasaran sains adalah konsep, prinsip, dan teori
ilmiah. Dasar untuk pembentukan produk sains berasal dari
data hasil observasi.
KONSEP: adalah suatu ide/gagasan yang digeneralisa sikan dari
pengalaman-pengalaman tertentu yang relevan. Misalnya
konsep tentang listrik, magnet, sel, cahaya dsb
PRINSIP: adalah generalisasi yang meliputi konsep-konsep yang
berkaitan. Misal, logam bila dipanasi akan memuai.
TEORI: adalah suatu generalisasi prinsip-prinsip ilmiah yang
berkaitan dan yang menjelaskan gejala-gejala ilmiah. Teori
menghubungkan, menerangkan dan meramalkan berbagai
macam hasil eksperimen dan observasi melalui cara-cara yang
sederhana sampai pada yang paling efisien. Misal teori
gravitasi, teori sel, teori evolusi dsb.
PERKEMBANGAN KESADARAN MELALUI BELAJAR
SAINS

1. SESEORANG AKAN SEGERA MENYADARI BAHWA GEJALA YANG


DITEMUKAN MELALUI PENGAMATAN DGN INDERANYA.

2. INDERA MANUSIA SBG: Window to the world

3. SUATU KESADARAN TENTANG SULITNYA MENEMUKAN KONSEP DAN


MEMECAHKAN MASALAH, AKAN DAPAT MEMBANTU SESEORANG DLM
MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN INTELEKTUAL, SIKAP ILMIAH, DAN
METODE ILMIAH.

4. PROSES PERKEMBANGAN INI SUATU PERKEMBANGAN MENTAL YG


DIMULAI DARI: “Lack of understanding to under-
standing”
Perkembangan kesadaran (Wuryadi, 1971)

1. KESADARAN AKAN ADANYA GEJALA


2. KESADARAN AKAN ADANYA PROBLEMA
3.KESADARAN AKAN ADANYA PEMECAHAN PROBLEM
4.KESADARAN AKAN ADANYA CARA-CARA MEMECAHKAN
MASALAH/PROBLEMA
5. KESADARAN AKAN ADANYA HUBUNGAN ANTAR KONSEP
6.KESADARAN AKAN ADANYA PENGEMBANGAN SIKAP DAN
METODENYA
Sikap ilmiah:
»Sampai sejauh mana seorang ilmuwan menerapkan sikap ilmiah dlm
melakukan penelitian-penelitiannya sehingga dpt digunakan sebagai
ukuran dalam menggunakan proses ilmiah untuk penemuan2 yang
bermakna ?
»Penelitian untuk mencari kebenaran yang ilmiah, seseorang harus:
mengidentifikasi problema, merumuskan hipotesis, merancang suatu
eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganali-
sis data, membahas dan menyimpulkan.
»Menjadi seorang scientist berarti dapat menjelmakan perilaku dan
sikap-sikap tersebut dalam memecahkan berbagai problema.
»Pertanyaan Apa ? Bagaimana ? dan Mengapa ? Adalah tiga bentuk
pertanyaan yang merupakan dasar dari sains dan inti sari dari “scientific
inquiry”
SELAMAT BELAJAR !!

TERIMA KASIH
Partikel Penyusun atom
Elektron(e) me = 9,11x10-31Kg
Proton(p) mp = 1,67x10-27 Kg
Netron(n) mn = mp

Foton
Partikel a, b dan g
MODEL ATOM

 Bohr lintasan
 Kuantum orbital

Persamaan Schrodinger untuk Atom H:


perkalian fungsi radial dan Fungsi sudut
Fungsi radial
Bergantung pada r
Rnl(r)= f(r)(Z/ao)3/2e-r/2
dengan ao = jari-jari Bohr = 0,53A
dan r = 2Zr/n ao diperoleh
n l f(r)
1 0 2
2 0 (1/2V2)(2-r)
2 1 (1/2V6)r dst.
Fungsi radial tidak punya makna, Yang punya arti
fisik adalah fungsi distribusi radial yaitu keboleh
jadian menemukan elektron
Fungsi radial
Fungsi distribusi radial

Prakt-1 menggambar
Fungsi radial dan fungsi distribusi radial
Fungsi sudut
Bergantung pada sudut  
Ylml(, )= (1/4p)1/2 y (, )

l ml y (, )
0 0 1
1 0 31/2 cos
1 +1 + 31/2 sin e +i
Shriver Table 1.2 hal 13
Fungsi sudut menggambarkan bentuk orbital
Bentuk orbital
Prakt-2 menggambar orbital atom
Atom berelektron banyak

•Elektron terdistribusi dalam orbital


mengikuti aturan Aufbau dan Pauli
menghasilkan ‘konfigurasi elektron’
•Elektron saling berinteraksi
menghasilkan efek tolakan,
sehingga elektron ‘luar’ merasakan
efek tarikan inti lebih rendah
dari elektron ‘dalam’
•Muatan inti yang dirasakan disebut Z eff
Urutan pengisisan orbital

Tingkat energi orbital 3d dan 4s hampir sama


Atom H vs atom polielektron

•Antaraksi antar elektron (efek perisai)


•Tingkat energi orbital berubah
Muatan inti efektif
EFEK PERISAI (S)

Efek perisai pada Li < Rb


Aturan Slater- memperkirakan nilai S

a) Tuliskan konfigurasi elektron sesuai urutan


(1s) (2s,2p) (3s,3p) (3d) (4s,4p) …..dst
b) elektron dikanan kelompok ns,np
tidak memberi sumbangan pada S
c) elektron pada ns,np masing-masing
menyumbang 0,35
d) elektron di (n-1) masing masing menyumbang
0,85
e) elektron di (n-2) dst masing-masing
menyumbang 1,0
Bila elektron ada pada nd atau nf maka aturan d)
dan e) menjadi
f) semua elektron di kiri nd atau nf menumbang
1,0
Cara perhitungan
N ( Z= 7), konfigurasi elektron (1s2) (2s2 2p3)
S = (2 x 0,85) + (4 x 0,35) = 3,1
Zeff = 7- 3,1 = 3,9

Zn (Z = 30) (1s2) (2s2,2p6) (3s2,3p6) (3d10) (4s2)


Satu elektron lepas dari orbital 4s
S = (10 x 1) + (18 x 0,85) + (1 x 0,35) = 25,65
Zeff = 30 - 25,65 = 4,35
Satu elektron lepas dari orbital d
S = (18 x 1) + (9 x 0,35) = 21,15
Zeff = 30 - 21,15 = 8,85
Maka ketika Zn terionisasi, elektron yang
dilepaskan pasti dari 4s dan bukan dari 3d.
Latihan
Hitung muatan inti efektif untuk
1. Li(Z=3), Na(Z=11), K(Z=19), Rb(Z=37)
2. Li(Z=3), Be(Z=4),Direktur
B(Z=5), C(Z=6),
N(Z=7), O(Z=8), F(Z=9), Ne(Z=10)
Dari hasil yang diperoleh simpulkan
Kecenderungan unsur dalam satu golongan
Dan dalam satu perioda
Kesimpulan
SISTEM PERIODIK UNSUR-UNSUR

Sistem periodik unsur-unsur mula-mula disusun


oleh Mendeleeff dan Lotar Meyer berdasarkan
masa atom .

Hukum periodik unsur-unsur tersebut


menyatakan bahwa bila unsur-unsur disusun
berturut-turut sesuai dengan berat atomnya,
maka unsur-unsur itu akan menunjukkan sifat-
sifatnya yang berulang secara periodik.
Meskipun pernyataan ini benar, namun ada
beberapa kelemahannya,

Mis. ada beberapa pasangan unsur yang


tidak cocok dengan hukum periodik, yakni
unsur dengan masa atom lebih besar
ditempatkan didepan unsur dengan masa
atom lebih kecil, agar sifatnya berulang.

Contoh Ar (massa atom 39,95) didepan K


(massa atom 39,10)
Co (massa atom 58,93) didepan Ni (masa atom
58,70); Te ( massa atom 127,6) didepan I
(massa atom 126,9).

Hal ini karena setiap inti atom tersusun atas proton


dan neutron, jumlah proton dalam setiap atom
suatu unsur sama, tetapi jumlah neutronnya
dapat berbeda sehingga massa atomnya dapat
berbeda pula.

Padahal yang menentukan sifat unsur dan


banyaknya elektron adalah jumlah proton.
Jumlah proton dalam atom disebut nomor atom.
Jadi hukum periodik seharusnya berbunyi : jika
unsur disusun menurut kenaikkan nomor
atomnya, maka sifat-sifatnya akan berulang
secara periodik.
Tabel Periodik yang disusun berdasarkan
nomor
atom:

Dalam tabel Periodik tersebut, unsur-unsur


dalam deret mendatar dinamakan perioda,
sedangkan kolom vertikal dinamakan
golongan.

Perioda I : 2 unsur,
Perioda II dan III : 8 unsur
Periode IV dan V : 18 unsur
Periode VI : 32 unsur
Perioda VII : 19 unsur.
Bilangan-bilangan 2, 8, 18 dan 32 menunjukkan jumlah
elektron maksimum dalam orbital dengan
n = 1, n = 2, n = 3 dan n = 4.

Karena orbital yang dihuni elektron dalam atom terdiri


atas orbital-orbital s, p, d dan f maka bilangan-
bilangan ini merupakan bilangan yang terbentuk dari
penggabungan bilangan 2, 6, 10 dan 14 , yaitu
bilangan yang menyatakan jumlah maksimum elektron
yang terkandung dalam orbital-orbital s, p, d dan f.
Dalam tabel Periodik unsur-unsur dikelompokkan
ke dalam golongan :

- Unsur-unsur utama dengan indeks A


- Unsur transisi / peralihan dengan indeks B

Unsur nomor atom 57 sampai dengan 71 terletak


dalam satu kotak, dan dikenal sebagai unsur-
unsur Lantanida.

Sedangkan unsur-unsur nomor atom 89 sampai


dengan 105 dikenal sebagai unsur-unsur aktinida
dan unsur peralihan dalam.
Golongan 1 – Logam Alkali
Golongan 2 – Logam Alkali Tanah
Golongan 13 – Logam Tanah (Triels)
Golongan 14 - -

Golongan 15 - Pnictogens (Pentels)


Golongan 16 - Chalcogens
Golongan 17 - Halogens
Golongan 18 - Noble Gases
Unsur-unsur Golongan Utama
Unsur-unsur golongan utama adalah unsur-unsur
yang pengisian elektronnya berakhir pada orbital-
orbital s dan p.
Cara penomoran golongan bagi unsur-unsur Utama:
Contoh: 3 Li 1s22s1 Golongan IA
4 Be 1s2 2s2 Golongan II A
5 B 1s2 2s2 2p1 Golongan III A
6 C 1s2 2s2 2p2 Golongan IV A
7 N 1s2 2s2 2p3 Golongan V A
8 O 1s2 2s2 2p4 Golongan VI A
9 F 1s2 2s2 2p5 Golongan VII A
10 Ne 1s2 2s2 2p6 Golongan VIII A
Unsur-unsur Golongan Transisi:

Unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang


pengisian elektronnya berakhir pada orbital d.

Fenomena yang terdapat pada orbital-orbital d


ialah: Elektron-elektron dalam orbital- orbital d
cenderung berada dalam keadaan penuh (d10)
atau setengah penuh (d5).

Oleh karena itu, konfigurasi elektron 24 Cr adalah


4s1 3d5 bukannya 4s2 3d4 dan 29Cu adalah 4s1 3d10,
bukannya 4s23d9
Cara penomoran golongan unsur-unsur transisi:
1. Nomor golongan harus dibubuhi huruf B
2. Nomor golongan = jumlah elektron s + d ( jumlah
elektron dikulit terluar + jumlah elektron d yang diisi
terakhir).
jika s + d = 9 , golongan VIII B
s + d = 10, golongan VIII B
s + d = 11, golongan IB
s + d = 12, golongan II B
Contoh :
2 2 6 2 6 2 1
21 Sc 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d golongan IIIB
Ti 4s 23d2 golongan IVB
22
V 4s 23d3 golongan VB
23
Beberapa sifat khas unsur-unsur transisi:

1. Semua unsur transisi adalah logam


2. Hampir semua unsur transisi berwujud padat pada
suhu kamar, kecuali Hg
3. Memiliki sifat katalis
4. Bersifat para magnetik ( tertarik oleh medan magnet )
5. Mempunyai valensi dan bilangan oksidasi umumnya
lebih dari satu
6. Dapat membentuk senyawa kompleks
7. Umumnya berwarna-warni
Beberapa Sifat Periodik Unsur
1. Jari-jari atom
Jari-jari atom adalah jarak dari inti atom sampai kulit
terluar suatu atom.

Jari-jari atom unsur segolongan dari atas ke bawah


umumnya makin besar, sedangkan untuk unsur-
unsur dalam satu periode dari kiri ke kanan jari-jari
atomnya semakin kecil.

Nomor atom unsur-unsur seperiode dari kiri ke kanan


makin besar, sehingga muatan inti unsur-unsur tsb
dari kiri ke kanan makin besar pula.
Makin besar muatan inti, maka gaya tarik elektrostatik
terhadap elektron akan lebih kuat, sehingga jarak
inti elektron ( jari-jari atom) makin kecil.

Pada unsur-unsur segolongan memiliki ukuran orbital


dan muatan inti yang berbeda satu sama lain

Makin besar ukuran orbital dalam suatu atom, makin


besar pula jari-jari unsur tsb.
Unsur-unsur segolongan dari atas ke bawah memiliki
ukuran orbital makin besar, sedangkan muatan
intinya makin besar pula.
Faktor ukuran orbital lebih menentukan dibandingkan
dengan faktor muatan inti.

Perubahan dari atom menjadi ion positif mengurangi


gaya tolak antar elektron karena jumlah elektron
menjadi berkurang sedang muatan intinya tetap,
sehingga jari-jari menjadi berkurang.

Sebaliknya pada perubahan atom menjadi ion negatif,


kenaikkan jumlah elektron mengakibatkan semakin
besarnya gaya tolak antar elektron, sehingga jari-
jari menjadi bertambah.
Tabel : Jari-jari atom unsur-unsur utama ( dalam
angstron )
2. Potensial ionisasi

Potensial ionisasi adalah energi yang diperlukan


untuk melepaskan satu elektron yang terikat
paling lemah dari suatu atom netral atau dari
suatu ion.
Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron
pertama dari suatu atom netral dinamakan
potensial ionisasi tingkat pertama, sedangkan
energi yang diperlukan untuk melepaskan
elektron berikutnya dinamakan potensial ionisasi
tingkat ke dua, tingkat ke tiga dan seterusnya.
Potensial ionisasi kedua, ketiga dst. mempunyai
harga yang lebih besar dari pada potensial
ionisasi.

Hal ini disebabkan karena setelah melepaskan


elektronnya yang pertama jari-jari menjadi jauh
lebih kecil.

Bila elektron dilepaskan dari kulit yang lebih dalam


maka potensial ionisasi menjadi jauh lebih besar.
Potensial ionisasi biasanya dinyatakan dalam
satuan elektron volt.

1 elektron volt (eV) adalah banyaknya energi yang


diperoleh elektron, ketika elektron tersebut
melalui medan listrik dengan perbedaan
potensial sebesar 1 volt.

eV merupakan besaran energi yang sangat kecil,


karena itu sesuai untuk menyatakan energi
ionisasi atom-atom.
Tetapi apabila yang dibicarakan adalah energi
ionisasi banyak atom, misalnya untuk 1 mol
atom gas, energi ionisasi tidak lagi dinyatakan
dalam eV, tetapi dalam kJ/mol atom gas.

1 eV /atom = 96,48 kJ/mol.

Contoh potensial ionisasi:

Mg (g)  Mg+ (g) + e PI1 = 7,64 eV


Mg+ (g)  Mg++ (g) + e PI2 = 15,03 eV
Tabel : Potensial ionisasi tingkat pertama unsur-unsur
utama
Gambar : Potensial ionisasi pertama unsur-
unsur
3. Keelektronegatifan

Keelektronegativan adalah suatu ukuran kemampuan


atom untuk menarik elektron terluarnya baik
elektron bebas ataupun ikatan sehingga atom
tersebut cenderung bermuatan negatif.
Atom-atom dengan jari-jari atom yang kecil
mempunyai kecenderungan lebih besar untuk
menarik elektron dari pada atom-atom yang memp.
jari-jari lebih besar.
Makin tinggi potensial ionisasi suatu unsur, makin
besar pula elektronegatifitas unsur tersebut.
Dalam sistem periodik, dari atas kebawah elektrone-
gativitas unsur-unsur makin kecil. Dari kiri ke kanan
elektronegativitas unsur-unsur makin besar.
Tabel : Keelektronegatifan unsur-unsur
4. Afinitas elektron

Afinitas elektron suatu unsur adalah besarnya energi


yang dilepaskan apabila atom unsur itu menangkap
sebuah elektron dari luar.

Bila potensial ionisasi merupakan ukuran kemampuan


suatu unsur untuk berubah menjadi ion positif, maka
afinitas elektron dapat dikatakan sebagai ukuran suatu
unsur untuk berubah menjadi ion negatif.
MODEL-MODEL
IKATAN KIMIA
Sifat Atom dan Ikatan Kimia
 Suatu partikel baik berupa ion bermuatan,
inti atom dan elektron diantara mereka,
akan membentuk ikatan kimia karena
akan menurunkan energi potensial antara
partikel positif dan negatif
 Dalam tataran atomik, kita membedakan
adanya logam dan non logam
berdasarkan beberapa sifat yang
berhubungan dalam tabel periodik
3 Kombinasi Ikatan antara Logam dan
Non Logam
Transfer Elektron dan Ikatan Ionik
1. Ikatan ini terjadi ketika ada perbedaan tendensi yang
sangat besar dari atom untuk melepas atau menangkap
elektron
2. Perbedaan terjadi antara logam yang reaktif (gol 1A) dan
non logam (gol 7A dan 6A atas)
3. Atom logam (IE rendah) kehilangan satu atau dua
elektron valensi, sementara atom non logam (EA sangat
negatif) menangkap elektron
4. Terjadi transfer elektron antara logam dan non logam
membentuk ion dengan konfigurasi gas mulia
5. Gaya elektrostatik antar ion positif dan negatif
membentuk susunan padatan ionik dengan rumus kimia
menunjukkan rasio kation terhadap anion (rumus empiris)
Sharing Elektron dan Ikatan Kovalen
 Ikatan ini terjadi manakala terjadi perbedaan kecil pada tendensi
untuk melepas atau menangkap elektron sehingga terjadi
sharing elektron
 Tipe ikatan ini umum terjadi antar atom non logam (logam juga
bisa berikatan kovalen)
 Tiap-tiap atom non logam mempertahakan elektron masing-
masing dan mencoba menarik elektron atom lain
 Gaya tarik masing-masing atom terhadap elektron valensi
lawannya membuat kedua atom berikatan
 Pasangan elektron sharing (pakai bersama) dianggap
terlokalisasi diantara kedua atom
 Ikatan ini menghasilkan molekul-molekul yang terpisah dan
merefleksikan rumus kimia sebenarnya (rumus molekul)
Pita Elektron Ikatan Logam
 Secara umum atom logam berukuran besar, logam dapat
dengan mudah kehilangan elektron terluar (IE rendah)
namun sulit menangkap/memperoleh elektron
 Sifat ini mengarahkan logam-logam untuk sharing elektron
valensi mereka dengan cara yang berbeda pada ikatan
kovalen
 Dalam model ikatan logam, elektron valensi atom-atom
logam yang berdekatan akan berkumpul membentuk pita
(lautan elektron) yang terdistribusi secara merata diantara
atom-atom tersebut dan disekitar inti dan elektron bagian
dalam
 Pada ikatan ini elektron sharing terdelokalisasi dan
bergerak bebas disekujur potongan logam.
Simbol Titik Elektron Lewis
 Dalam model simbol titik elektron Lewis (G.N.
Lewis1875 – 1946), simbol unsur mewakili inti dan
elektron bagian dalam sedangkan titik-titik
disekitarnya menunjukkan elektron valensi
 Nomor grup A yang menunjukkan jumlah elektron
valensi
 Tempatkan satu titik pada masing-masing sisi (atas,
bawah, kiri, kanan)
 Baru pasangkan titik-titik hingga semua terpakai
Model Ikatan Ionik
 Fokus utama model ikatan ionik adalah
adanya transfer elektron dari logam ke
non logam untuk membentuk ion yang
kemudian bersatu membentuk padatan
senyawa ionik
 Berdasarkan fenomena yang terjadi Lewis
mengajukan aturan oktet, saat atom-atom
berikatan, ia akan melepas, menangkap
atau memakai bersama elektron untuk
3 Cara Penulisan Transfer
Elektron
 Penggambaran dengan konfigurasi
elektron
 Penggambaran dengan diagram orbital
 Penggunaan simbol titik elektron Lewis
Soal Latihan
 Gunakan diagram orbital parsial dan
simbol titik elektron Lewis untuk
menggambarkan pembentukan ion Na+
dan O2- dari atom-atomnya dan tentukan
rumus senyawa
 Gunakan konfigurasi elektron ringkas dan
simbol Lewis untuk menggambarkan
pembentukan ion Mg2+ dan Cl-, tuliskan
rumus senyawanya!
Aspek Energi dalam Ikatan Ionik:
Energi Kisi
 Misalkan ada suatu reaksi antara unsur
logam yang reaktif (Li) dan mudah melepas
elektron dengan gas halogen (F) yang
cenderung menarik elektron:
Li(g)  Li+(g) + e- IE1 = 520 kJ
F(g) + e-  F-(g) EA = -328 kJ
 Reaksi total:
Li(g) + F(g)  Li+(g) + F-(g) IE1 + EA = 192
kJ
 Energi total yang dibutuhkan reaksi ini bahkan lebih
besar karena kita harus mengkonversi Li dan F
kedalam bentuk gas
 Akan tetapi eksperimen menunjukkan enthalpi
pembentukan padatan LiF (∆H0f) = -617 kJ
 Jika kedua unsur dalam bentuk gas:
 Li+(g) + F-(g)  LiF(g) ∆H0 = -755 kJ
 Energi kisi adalah perubahan enthalpi yang
menyertai ion-ion gas yang bergabung membentuk
padatan ionik:
 Li+(g) + F-(g)  LiF(s) ∆H0kisi LiF = energi kisi
= -1050 kJ
Daur Born-Haber
Soal Latihan
 Dengan menggunakan daur Born-Haber
untuk senyawa KF, hitung afinitas
elektron fluorine jika diketahui data-data
sebagai berikut
K(s)  K(g) ∆H0 = 90 kJ
K(g)  K+(g) + e- ∆H0 = 419 kJ
F2(g)  2F(g) ∆H0 = 159 kJ
K(s) + ½ F2(g)  KF(s) ∆H0f = -569 kJ
K+(g) + F-(g)  KF(s) ∆H0kisi = -821 kJ
Trend Periodik Energi Kisi
 Menurut Hukum Coulomb:
 Gaya elektrostatik ∞ (muatan A x muatan B)
Jarak2
 Karena energi = gaya x jarak, maka rumusan
diatas dapat juga ditulis:
 Energi elektrostatik = (muatan A x muatan B)
Jarak
 Didalam padatan ionik, A dapat berupa kation
dan B anion dengan memperhitungkan jarak =
jari-jari kation + jari-jari anion
Trend pada Energi Kisi
Faktor yang Mempengaruhi Energi Kisi

 Pengaruh dari ukuran ion, semakin besar


ukuran/jari-jari maka energi kisi akan
semakin kecil. Dalam satu golongan
makin kebawah ukuran makin besar dan
energi kisi makin kecil
 Pengaruh dari muatan ion dengan
semakin besar muatan ion (Na+ < Mg2+)
maka energi kisi akan semakin besar.
Soal Latihan
 Untuk masing-masing pasangan berikut
tentukan mana senyawa dengan energi
kisi tertinggi (paling negatif) dan jelaskan
jawaban anda!
(a) BaS atau CsCl
(b) LiCl atau CsCl
Sifat-sifat Ikatan Ionik

 Keras
 Kaku
 Rapuh
Model Ikatan Kovalen
 Jika kita membuka literatur kimia berupa
hand book atau ensiklopedi maka akan
didapati sebagian besar senyawa kimia
yang ada dialam berupa senyawa kovalen
 Senyawa kovalen mengambil porsi
terbesar dan yang utama dalam model
ikatan kimia antar unsur-unsur dialam
Pembentukan Ikatan Kovalen
 Dalam model ikatan kovalen, atom
mencapai konfigurasi elektron kulit terluar
penuh (seperti gas mulia) namun elektron
yang dipakai bersama dihitung secara
keseluruhan sebagai milik masing-masing
 Pasangan elektron sunyi (tidak berikatan)
adalah pasangan elektron yang tidak
dipakai bersama dalam ikatan
 Orde ikatan menunjukkan jumlah
pasangan elektron yang digunakan
bersama antara dua atom yang berikatan
Energi Ikatan
Hubungan Orde Ikatan, Panjang
Ikatan dan Energi Ikatan
Panjang Rata-rata Energi Ikatan
Ikatan Orde Ikatan
(pm) (kJ/mol)
C–O 1 143 358
C=O 2 123 745
C≡O 3 113 1070
C–C 1 154 347
C=C 2 134 614
C≡C 3 121 839
N–N 1 146 160
N=N 2 122 418
N≡N 3 110 945
Soal Latihan
 Dengan menggunakan tabel periodik,
urutkan ikatan dibawah ini dengan
panjang dan kekuatan ikatan semakin
kecil
(a) S – F, S – Br, S – Cl
(b) C = O, C – O, C ≡ O
 Urutkan ikatan dibawah ini menurut
kenaikan panjang dan kekuatan ikatan:
(a) Si – F, Si – C, Si – O
(b) N = N, N – N, N ≡ N
Sifat Ikatan Kovalen
Sifat Ikatan Kovalen 2
Elektronegatifitas dan Polaritas
Ikatan
 Dicetuskan pertama kali oleh Linus Pauling dan
menelurkan skala elektronegatifitas (EN) dari unsur dalam
tabel periodik
 Gambaran Umum: Kita bisa memperkirakan energi ikatan
H – F akan memiliki nilai diantara energi H – H (432 kJ/mol)
dan F – F (159 kJ/mol). Namun ternyata nilai energi ikatan
H – F sebesar 565 kJ/mol
 Pauling menduga besarnya energi ini karena ada kontribusi
elektrostatik dalam ikatan tsb.
 Jika F menarik elektron lebih banyak kearahnya, maka
pemakaian bersama yang tidak seimbang ini memicu
timbulnya muatan parsial negatif pada F dan positif pada H.
Beda muatan ini kemudian menimbulkan gaya tarik
elektrostatik sehingga ikatan H – F lebih besar energinya
dari yang diperkirakan
Elektronegatifitas dan Polaritas Ikatan
Elektronegatifitas dan Ukuran Atom
Elektronegatifitas dan Bilangan
Oksidasi
 Penentuan bilangan Oksidasi berdasarkan
elektronegatifitas:
 Atom yang lebih elektronegatif mendapatkan semua
elektron sharing dan atom yang kurang elektronegatif
dihitung nol
 Tiap-tiap atom dalam ikatan masing-masing dihitung
semua elektron tak berikatannya sendiri-sendiri
 Bilangan oksidasi diberikan oleh rumus:
 Biloks = jml e valensi – (jml e share + jml e non share)
 Contoh HCl memiliki elektron valensi 7 dan elektron
share 2 sehingga biloksnya = 7 – 8 = -1. sedangkan H
dihitung biloks = 1 – 0 = 1
Ikatan Kovalen Polar dan Polaritas
Ikatan

 Dalam ikatan kovalen dengan perbedaan


elektronegatifitas besar, elektron
cenderung tertarik lebih besar kearah satu
atom
 Pada posisi ini ikatan bersifat polar dan
digambarkan dengan dua cara:
 Dengan panah polar → atau
 Dengan pemberian tanda δ+ dan δ-
Soal Latihan
 Tunjukkan polaritas ikatan berikut dengan
bantuan panah polar: N – H, F – N, I – Cl
 Susun berdasarkan urutan kenaikan
polaritas beberapa ikatan berikut: H – N, H
– O, H – C.
 Susun berdasarkan kenaikan polaritas
ikatan dan beri tanda dengan δ+ dan δ-
pada atom yang sesuai: (a) Cl – F,Br – Cl,
Cl – Cl,
Karakter Ionik Parsial Ikatan Kovalen
Polar
 Didunia nyata, ikatan kimia tidak dapat sepenuhnya
dikatakan ionik atau kovalen, seringkali lebih cocok
menggunakan istilah seberapa ionik atau seberapa
kovalen!
 Karakter ionik parsial suatu ikatan terkait dengan
perbedaan keelektronegatifan (EN)
 Semakin besar EN akan semakin besar muatan
parsial dan semakin besar pula karakter ionik
parsial
 LiF memiliki EN = 4,0 – 1,0 = 3,0; HF memiliki EN
= 4,0 – 2,1 = 1,9; F2 memiliki EN = 0. sehingga
dapat disimpulkan LiF lebih berkarakter ionik
dibandingkan HF yang juga lebih berkarakter ionik
dibandingkan F2.
Skala Karakter Ionik Parsial
Perubahan Sifat Dalam Perioda
Ikatan
Logam
Teori Orbital Molekul Padatan
Sifat Konduktifitas Padatan
STRUKTUR PADATAN
SEDERHANA
Sistem
kristal
Kubus
bcc
fcc
Kubus sederhana, bcc
Bidang kristal
Bidang kristal
Struktur terjejal

hcp ccp
Lubang pada struktur terjejal
Lubang pada fcc
Struktur logam pada 25oC, 1 atm

hcp Be, Cd, Co, Mg,


Ti, Zn
fcc Ag, Al, Au, Ca, Cu,
Ni, Pb, Pt
bcc Ba, Cr, Fe, W,
logam alkali
Paduan logam
Kriteria terbentuknya paduan logam:
1. Perbedaan jari-jari unsur tidak lebih
dari 15%
2. Struktur kristalnya sama/compatible
3. Memiliki kemiripan karakter
elektropositif
Paduan logam
Struktur Na & K sama, tetapi beda jar-jari ~ 19%,
jadi tidak mungkin terbentuk paduan logam alkali

Cu 1,28A & Ni 1,25A, strukturnya fcc


terbentuk paduan logam dengan berbagai komposisi

Zn 1,37A, struktur hcp bukan fcc


Bisa terbentuk paduan logam dengan Cu
Pada komposisi terbatas
Struktur padatan ionik
CsCl, CaS, CsCN, CuZn Cesium klorida
CaF2, BaCl2, HgF2, PbO2 Fluorite
NiAs, NiS, FeS, CoS Nikel Arsenida
CaTiO3, BaTiO3 Perovskite
NaCl, LiCl, KBr, AgCl, Garam batu
CaO, TiO
TiO2, MnO2, NiF2 Rutile
ZnS, CdS, HgS Sphalerite/zinc blende
ZnS, ZnO, SiC, NH4F Wurzite
Struktur padatan ion
1:1 dan 1:2
Struktur NaCl
Struktur ZnS
Struktur CaF2
Penentuan Struktur
Kovalen vs ionik
Aturan Fayans

i. Potensial ionik (perbandingan muatan


dan ukuran kation ) besar, makin bersifat
kovalen
Li+ = 17 Be2+ = 64 B3+ = 150
Na+ = 10 Mg2+ = 31 Al3+ = 60
K+ = 8 Ca2+ = 20 Ga3+ = 48
muatan kation harus besar dan ukuran
kation harus kecil
Aturan Fayans

ii. Muatan anion besar dan ukuran anion


juga besar, ini menunjukkan sifat LUNAK
yang berarti anion ini mudah dibentuk
atau mudah dipolarisasikan. Contoh I-,
Se2- dan Te2- (ukurannya besar)
sedangkan As3- dan P3- menunjukkan
muatannya besar; anion tersebut lebih
bersifat kovalen
Aturan Fayans

iii. konfigurasi elektron kation. Logam


transisi lebih mudah mempolarisasikan
bila dibandingkan dengan logam alkali
atau alkali tanah. Contoh Hg2+ (r = 102
pm) lebih bersifat kovalen sedangkan
Ca2+ (r = 100 pm) lebih bersifat ionik.
STRUKTUR MOLEKUL
RUMUS STRUKTUR
Latihan:
Gambarkan struktur
Geometri pasangan
elektron bebas
Geometri molekul
Ikatan sigma dan pi
Geometri molekul
polar-nonpolar

Bergantung pada elektronegativitas


Molekul polar-nonpolar
Teori Ikatan Valensi
Hibridisasi