Anda di halaman 1dari 34

PERAN BPK-RI DALAM MENCEGAH PENYIMPANGAN

PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

OLEH

Zulfikri, SE, MSi, AK


Pengendali Teknis Perwakilan BPK RI Provinsi Sumatera Selatan

Disampaikan di Program Pascasarjana Program Magister Manajemen


UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG
Sabtu, 10 Maret 2018
Illustration

TEXT

HIKAYAT SI KUMBANG

• Pegawai Ditjen Pajak


• Golongan III/a
• Korupsi Rp1,7T

HOW COME?!

2
Illustration

KESEMPATAN

• Klien meliputi Chevron, Kaltim Prima Coal, Bakrie


TEXT
Group, Bumi Resources, dan perusahaan besar lainnya
• Pajak terhutang > USD$1 Juta
• UU Kerahasiaan Pajak

Fakta lain:
Ada juga pegawai pajak yang mengurusi klien besar
dengan jujur

WHAT MAKES THE DIFFERENCE?

3
Illustration

TEKANAN

TEXT

Rumah si Kumbang sebelum bekerja


di Ditjen Pajak 4
Illustration

RASIONALISASI

TEXT
“Semua orang juga korupsi”

“Capek-capek kerja dapet apa?”

“Cuma sedikit ini...”

“Nanti dikembalikan ...”

Rumah si Kumbang sekarang

5
PENYEBAB KORUPSI

Berdasarkan studi yang dilakukan


oleh Donald R Cressey, fraud
terjadi karena adanya tiga faktor
yang timbul secara simultan, yang
dikenal dengan sebutan “Fraud
Triangle”.
6
“FRAUD TRIANGLE”

kondisi yang bisa


KESEMPATAN mendukung seseorang
untuk menutupi fraud
yang dilakukannya

TEKANAN RASIONALISASI

merupakan motivasi yang pembenaran atas apa saja


berasal dari seseorang untuk yang telah dilakukan
melakukan fraud seseorang yang bertujuan
untuk memberikan kepuasan 7
pribadi
FAKTOR-FAKTOR YG MENINGKATKAN TEKANAN

Kondisi ekonomi

Kebutuhan mendesak TEXT

Ketergantungan obat

Kecanduan tertentu

Jumlah istri

dll
8
FAKTOR-FAKTOR YG MENINGKATKAN KESEMPATAN

Sistem pengendalian internal yang lemah

TEXT
Tidak ada alat atau kriteria pengukuran kualitas kerja

Tidak adanya akses terhadap informasi sehingga tidak dapat


memahami keadaan yang sebenarnya

Gagal mendisiplinkan atau memberikan sanksi pada pelaku fraud

Kurang atau tidak adanya audit trail (jejak audit) sehingga tidak dapat
dilakukan penelusuran data.
9
FAKTOR-FAKTOR YG MENINGKATKAN KESEMPATAN
KELEMAHAN PENGENDALIAN INTERN
Tidak ada pengamanan yang memadai atas aktiva

Tidak ada pencatatan & verifikasi yang memadai atas aktiva


TEXT

Tidak ada pemisahan tugas (akuntansi, otorisator & fungsi bendahara)

Tidak ada otorisasi yang memadai

Tidak ada persetujuan yang memadai

Tidak ada rekonsiliasi

Tidak ada pemantauan/reviu yang memadai


10
FAKTOR-FAKTOR YG MENDORONG PEMBENARAN
Mencontoh atasan atau teman sekerja

Merasa sudah berbuat banyak kepada organisasi/ perusahaan


TEXT

Menganggap bahwa fraud yang dilakukan tidak seberapa

Menganggap hanya sekadar meminjam

Menganggap bahwa apa yang dilakukannya tidak merugikan


organisasi.

Menganggap yang dilakukannya krn alasan yang baik, misalnya untuk


membiayai perawatan keluarga di rumah sakit
11
MANFAAT PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

 Penyediaan hasil pemeriksaan

Penguatan upaya pemberantasan korupsi.


 Penguatan akuntabilitas, transparansi, keekonomian, efisiensi dan
efektifitas dalam pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara.

 Peningkatan kepatuhan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan


negara terhadap ketentuan peraturan perundangan.

 Peningkatan efektifitas peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, dan

 Peningkatan kepercayaan publik atas hasil pemeriksaan BPK dan


pengelolaan keuangan negara 12
PERAN BPK DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI
 Dalam pemeriksaan keuangan, BPK juga melakukan
penilaian atas sistem pengendalian intern dan
memberikan rekomendasi perbaikan system
pengendalian intern yang dapat mengurangi terjadinya
risiko penyimpangan.
 Berdasarkan pemeriksaan kinerja, BPK memberikan
rekomendasi untuk memperbaiki tatakelola pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan Negara.
 Rekomendasi BPK senantiasa menjadi acuan
memperbaiki Sistem Akuntansi Pemerintah dan banyak
kementerian negara/lembaga (KL) dan Pemda
memperbaiki transparansi dan akuntabilitas LK.
 Hasil pemeriksaan BPK menjadi alat kontrol masyarakat.
13
PERAN BPK DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI
(Lanjutan)
 Dalam semua jenis pemeriksaan, BPK selalu menilai
aspek kepatuhan terhadap peraturan perundangan-
undangan.
 Apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran
ketentuan yang memenuhi unsur – unsur tindak pidana,
BPK wajib menyampaikan temuan tersebut kepada
aparat penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK)
 Dalam hal-hal tertentu, BPK memberikan kesempatan
kepada instansi untuk menyelesaikan masalah
ketidakpatuhan secara administrasi, misalnya dengan
mengembalikan kepada negara potensi kerugian yang
timbul, mengenakan saksi denda kepada pihak ketiga
dan memberikan sanksi kepegawaian kepada pejabat
yang bertanggungjawab.

14
PERAN BPK DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI
(Lanjutan)
 Atas permintaan Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK, BPK
dapat melakukan pemeriksaan lanjutan atas temuan
dugaan TPK dan menghitung kerugian negara.
 Dalam rangka proses peradilan kasus TPK, BPK dapat
menunjuk pejabatnya untuk memberikan keterangan ahli
di muka pengadilan, sesuai dengan permintaan majelis
hakim.
 Dalam menghitung kerugian negara, BPK dapat
menggunakan tenaga ahli dari luar BPK.

15
PEMBERANTASAN KORUPSI

Lapisan Memperkecil
Pengawasan SPI Kesempatan
dan
Membantu
pengungkapan

Fungsional Pengawasan Legislatif

Upaya memperkecil
keserakahan dan
mencukupi kebutuhan
tidak termasuk domain
Masyarakat tugas pengawasan
16
LANDASAN KONSTITUSIONAL UUD 1945

1) UNTUK MEMERIKSA PENGELOLAAN DAN TANGGUNGJAWAB


TENTANG KEUANGAN NEGARA DIADAKAN SATU BADAN
PEMERIKSA KEUANGAN YANG BEBAS DAN MANDIR

2) HASIL PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA DISERAHKAN


PASAL 23E
KEPADA DPR, DPD, DAN DPRD SESUAI DENGAN
UUD 1945
KEWENANGANNYA

3) HASIL PEMERIKSAAN TERSEBUT DITINDAKLANJUTI


OLEH LEMBAGA PERWAKILAN DAN/ATAU BADAN
SESUAI DENGAN UNDANG UNDANG (UU NO.15 TAHUN
2004)
17
LANDASAN KONSTITUSIONAL UUD 1945

1) ANGGOTA BPK DIPILIH OLEH DPR DENGAN

PASAL 23F MEMPERHATIKAN PERTIMBANGAN DPD DAN


UUD 1945 DIRESMIKAN OLEH PRESIDEN

2) PIMPINAN BPK DIPILIH DARI DAN OLEH ANGGOTA

1) BADAN PEMERIKSA KEUANGAN BERKEDUDUKAN DI


IBUKOTA NEGARA, DAN MEMILIKI PERWAKILAN DI
PASAL 23G
SETIAP PROVINSI
UUD 1945
2) KETENTUAN LEBIH LANJUT MENGENAI BADAN PEMERIKSA
KEUANGAN DIATUR DALAM UNDANG-UNDANG (UU NO.15
TAHUN 2006)
18
LANDASAN OPERASIONAL
Berdasarkan UUD 1945 Pasal 23C dan Pasal 23G, Pemerintah dan
DPR telah mengesahkan 4 UU di bidang keuangan negara, yaitu :
 UU No. 17 Tahun 2003 ttg Keuangan Negara;
 UU No. 1 Tahun 2004 ttg Perbendaharaan Negara; dan
 UU No. 15 Tahun 2004 ttg Pemeriksan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
 UU No. 15 Tahun 2006 ttg BPK
Keempat UU tsb merupakan landasan yang kokoh dalam
pengelolaan keuangan negara serta mempertegas tugas dan
wewenang BPK dalam pemeriksaan keuangan negara.

19
KELEMBAGAAN BPK

1 ORANG KETUA MERANGKAP ANGGOTA


KEANGGOTAAN BPK
1 ORANG WAKIL KETUA MERANGKAP
ANGGOTA
DIPILIH DPR SETELAH
MEMPERTIMBANGKAN DPD &
DIRESMIKAN PRESIDEN 7 ORANG ANGGOTA

Susunan Keanggotaan BPK Saat ini


1. Dr. Moermahadi Soerja Djanegara, S.E, Ak., M.M, C.P.A. Ketua BPK RI
2. Prof. Dr. Bahrullah Akbar, M.B.A., C.M.P.M. Wakil Ketua BPK RI
3. Dr. Agung Firman Sampurna,S.E., M.Si. Anggota I BPK RI
4. Agus Joko Pramono,M.Acc., Ak. Anggota II BPK RI
5. Achsanul Qosasi Anggota III BPK RI
6. Prof. Dr. H. Rizal Djalil, M.M. Anggota IV BPK RI
7. Ir. Isma Yatun, M.T Anggota V BPK RI

8. Dr. H. Harry Azhar Azis, M.A Anggota VI BPK RI


9. Prof. Dr. Eddy Mulyadi Supardi Anggota VII BPK RI
20
STRUKTUR ORGANISASI BPK
KETUA
WAKIL
KETUA
ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA
I II III IV V VI VII

TORTAMA TORTAMA TORTAMA TORTAMA TORTAMA TORTAMA TORTAMA


SEKJEN
I II III IV V VI VII

UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT UNIT


KERJA KERJA KERJA KERJA KERJA KERJA KERJA
UNSUR PEMERIK- PEMERIK- PEMERIK- PEMERIK- PEMERIK PEMERIK- PEMERIK-
PENUNJANG SAAN SAAN SAAN SAAN -SAAN SAAN SAAN
DAN
PENDUKUNG
UNIT KERJA PEMERIKSAAN TERDIRI DARI KEPALA AUDITORAT, SUB AUDITORAT, UNIT
FUNGSIONAL

21
TUGAS BPK
Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, meliputi
seluruh unsur keuangan negara;

Manyampaikan laporan pemeriksaan kepada DPR, DPD dan DPRD sesuai


dengan kewenangannya;

Menyampaikan laporan pemeriksaan kepada Presiden, Gubernur, Bupati,


Walikota dan Pimpinan Instansi yang diperiksa, untuk ditindaklanjuti.

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana, wajib melaporkan


kepada penegak hukum, paling lambat satu bulan sejak diketahuinya unsur
pidana tersebut.

Memantau tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan memberitahukan hasil


pemantauan tersebut kepada DPR, DPD dan DPRD
22
PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Definisi

“Proses identifikasi masalah, analisis dan evaluasi yang


dilakukan secara independen, objektif dan profesional
berdasarkan standar pemeriksaan”,

“untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas dan


keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara”.

23
KEWENANGAN BPK

Menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan


waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan;

Meminta keterangan dan/atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang, unit organisasi
Pemerintah Pusat, Pemerintah daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, BLU,
BUMD, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara;

Menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara

Menetapkan kode etik pemeriksaan

Memantau penyelesaian dan pelaksanaan ganti kerugian negara/daerah

Menggunakan tenaga ahli/tenaga pemeriksa diluar BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK
24
VISI DAN MISI BPK

VISI BPK (2015 – 2020)


Menjadi pendorong pengelolaan keuangan negara untuk mencapai tujuan negara
melalui pemeriksaan yang berkualitas dan bermanfaat.

MISI BPK
Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara secara bebas dan mandiri;
Melaksanakan tata kelola organisasi yang berintegritas, independen dan profesional.
UNSUR-UNSUR KEUANGAN NEGARA
UU 17 TAHUN 2003 PASAL 2

a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan
melakukan pinjaman;
b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum, pemerintahan
negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan negara dan Pengeluaran Negara;
d. Penerimaan daerah dan Pengeluaran daerah;
e. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa
uang, surat berharga, piutang, barang serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan
uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan
daerah;
f. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan
tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
g. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan
oleh pemerintah.
26
JENIS PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Pemeriksaan •Pemeriksaan atas laporan keuangan


Keuangan • Bertujuan memberikan opini

Pemeriksaan atas :
Pemeriksaan • Economy (Spending Less)
Kinerja • Efficiency (Spending Well)
• Effectiveness (Spending Wisely)

Pemeriksaan
Dengan Tujuan • Pemeriksaan selain keuangan dan kinerja
Tertentu • Misalnya investigasi

27
JENIS-JENIS PENDAPAT (OPINI) ATAS LAPORAN KEUANGAN

Wajar Tanpa
Wajar Dengan
Pengecualian
Pengecualian
(WTP/ Unqualified
(WDP/ Qualified Opinion)
Opinion)

OPINI BPK

Tidak Memberikan
Tidak Wajar (Adverse)
Pendapat (Disclaimer)

28
Apakah opini WTP
=
tidak ada korupsi?

29
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

DISERAHKAN
LEMBAGA PERWAKILAN HASIL PEMERIKSAAN
BAHAN PENGAWASAN BPK
LEMBAGA PERWAKILAN
TERHADAP PEMERINTAH

TERBUKA UTK UMUM


PUBLIKASI DI WEB SITE
BAHAN PENGAWASAN
MASYARAKAT TERHADAP
PEMERINTAH DAN
TERHADAP BPK
PEMERINTAH

APARAT YANG BERWENANG BAHAN PERBAIKAN


APABILA ADA INDIKASI TINDAK PENGELOLAAN &
PIDANA TANGGUNG JAWAB
KEUANGAN NEGARA
SEBAGAI DASAR PENYIDIKAN
TINDAKLANJUT HASIL PEMERIKSAAN

1) PEJABAT WAJIB MENINDAKLANJUTI REKOMENDASI


DALAM LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP).
2) PEJABAT WAJIB MEMBERIKAN JAWABAN ATAU
PENJELASAN KEPADA BPK TENTANG TINDAK LANJUT
ATAS REKOMENDASI DALAM LHP
PASAL 20
3) JAWABAN ATAU PENJELASAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD
UU NO.15
PADA AYAT (2) DISAMPAIKAN KEPADA BPK SELAMBAT-
TAHUN 2004 LAMBATNYA 60 (ENAM PULUH) HARI SETELAH LHP
DITERIMA
4) PEJABAT YANG DIKETAHUI TIDAK MELAKSANAKAN
KEWAJIBAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (1)
DAPAT DIKENAI SANKSI ADMINISTRATIF SESUAI
DENGAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN DI BIDANG KEPEGAWAIAN.

31
TINDAKLANJUT HASIL PEMERIKSAAN

SETIAP ORANG YANG TIDAK MEMENUHI KEWAJIBAN


UNTUK MENINDAKLANJUTI REKOMENDASI YANG
PASAL 26 DISAMPAIKAN DALAM LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
UU NO.15 SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 20
TAHUN 2004 DIPIDANA DENGAN PIDANA PENJARA PALING LAMA 1
(SATU) TAHUN 6 (ENAM) BULAN DAN/ATAU DENDA
PALING BANYAK RP500.000.000,00 (LIMA RATUS JUTA
RUPIAH).

32
MENGHALANGI PEMERIKSAAN ADALAH PIDANA
1) Setiap orang yang dengan sengaja tidak menyerahkan
dokumen dan/atau menolak memberikan keterangan yang
diperlukan untuk kepentingan kelancaran pemeriksaan
dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
2) Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalangi,
dan/atau menggagalkan pelaksanaan pemeriksaan dipidana
PASAL 24 dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan
UU NO.15 dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
TAHUN 2004 3) Setiap orang yang menolak pemanggilan yang dilakukan
oleh BPK tanpa menyampaikan alasan penolakan secara
tertulis dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun
6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
4) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan atau
membuat palsu dokumen yang diserahkan dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 tahun dan/atau denda paling
banyakRp1.000.000.000,00
33
TERIMA KASIH

34