Anda di halaman 1dari 27

KOREKSI MAGNESIUM

INDAH ISWARA
NURULIA ASTRI
NISRINA AFIFAH
SEFTIA VARERA NANDA
MAGNESIUM

Hanya 1 – 2% disimpan di
Magnesium merupakan cairan ekstraseluler, 67% di
kation intraseluler yang tulang, 31% di intraseluler
berfungsi sebagai kofaktor
berbagai jalur enzim. Kation intraseluer ke- 2
terbanyak

Kadar magnesium normal


dalam serum adalah 1,7 – Kebutuhan asupan
2,1 mEq/L (0,7 – 1,2 magnesium adalah 0,2 – 0,5
mmol/L) mEq/kgBB/hari
*sumber lain : 1,5-2,5 mEq/L
Fisiologi

 Kation intrasel terbanyak ke-2 setelah kalium


 Berperan penting dalam sistem neuromuskular dan
enzim
 Mg total pada dewasa sehat sekitar 1000 mmol,
sekitar 50% di tulang
 Mg serum 0,75-1 mmol/L
Mg direabsorpsi 15% pada tubulus
proximal, 70% reabsorpsi
Hampir 80% magnesium difiltrasi
paraseluler di Thick Ascending
di glomerulus dan direasorpsi di
Limb (TAL) dari ansa henle, 10-
sepanjang nefron
15% reabsorpsi transeluler di
tubulus distal

Mekanisme penghambat Regulasi ekskresi Mg2+


dipengaruhi oleh defisit distimulasi oleh
magnesium, kalsium dan volume hipermagnesemia, hiperkalsemia,
cairan hipervolemia dan loop diuretik

Mg juga dipengaruhi oleh hormon Keadaan dimana kadar Mg plasma


paratiroid yang bekerja pada TAL meningkat, akan menekan
dan Mg juga berperan dalam pelepasan PTH, begitu juga
regulasi sekresi PTH sebaliknya
hipermagnesemia

Hampir selalu
berhubungan dengan
Penybebab lain 
kelebihan intake Hipermagnesemia
insufisiensi
(antasida / laksatif iatrogenik terjadi
adrenal,
yang mengandung selama terapi MgSO4
hipotiroidisme,
magnesium), pada hipertensi
rhabdomiolisis,
kerusakan ginjal gestasional
pemberian lithium
(GFR <30 mL/menit,
atau keduanya

Mg > 2,6 mg/dL


hipermagnesemia

 Gagal ginjal akut atau kronik


 Penurunan ekskresi magnesium melalui ginjal tanpa
terjadi perubahan pada GFR
a. Kekurangan garam
b. Defisiensi mineralkortikoid
c. Hipotiroidisme
d. Hiperkapnia kronik
 Pemberian magnesium
a. Penyalahgunaan laksatif/antasid
b. Terapi magnesium pada kejang
c. Dialisat tinggi magnesium
 Perusakan jaringan
a. Rabdomiolisis
b. Luka bakar
hipermagnesemia

Manifestasi Klinis
• Hiporefleksia (patella (-) pada Mg>8mEq/L), sedasi,
kelemahan otot skeletal
• Vasodilatasi, hipotensi, bradikardi, depresi miokardium
• EKG  pemanjangan interval PR dan pelebaran QRS;
interval QT memanjang dan blok AV pada hipermagnesemia
berat (>12 mEq/L)
• Dapat menyebabkan henti nafas

Koreksi
• Stop semua sumber intake magnesium
• Kalsium intravena (1 gr kalsium glukonat) dapat
mengantagonis sebagian besar efek hipermagnesemia
• Loop diuretic + ½ normal saline dalam Dekstrosa 5% dapat
meningkatkan ekskresi magnesium
Koreksi hipermagnesemia

Ca glukonas 10% sebanyak 10-20 ml selama 10 menit (IV)

ATAU

CaCl2 10% sebanyak 5-10 mg/kgBB (IV)

Kemudian pemberian diuretik untuk memacu ekskresi

*Pada pasien tanpa gangguan ginjal berat dapat diberikan Ca glukonas


10% sebanyak 20 mL dalam 1L NaCl 0,9% dengan kecepatan 100 – 200
mL per jam
hipomagnesemia

Defisiensi magnesium
Obat-obatan yang
dapat disebabkan oleh
Umumnya menyebabkan
intake yang tidak
berhubungan pengeluaran
adekuat, penurunan
dengan defisiensi magnesium oleh
absorpsi
dari komponen ginjal  etanol,
gastrointestinal,
intraseluler seperti teofilin, diuretik,
peningkatan ekskresi
kalium dan fosfor siklosporin,
ginjal, kehilangan GI
amfoterisin B
>> (muntah, diare)

Hypomagnesemia is defined as a serum magnesium level


less than 1.8 mg/dL (< 0.74 mmol/L).
hipomagnesemia

1. Pemasukan yang berkurang


a. Malnutrisi protein-kalori
b. Kelaparan
c. Terapi intravena yang berkepanjangan
2. Absorpsi intestinal yang berkurang
a. Malabsorpsi
b. Reseksi usus halus
c. Hipomagnesemia neonatal
3. Kehilangan yang hebat bukan melalui ginjal
a. Pengisapan nasogastrik yang lama
b. Penyalahgunaan laksatif
c. Fistula intestinal/biliaris
d. Diare kronik
e. Laktasi yang berkepanjangan (jarang terjadi)
4. Kehilangan yang hebat melalui ginjal
a. Terapi diuretik
b. Fase diuretik dari ATN
c. Alkoholisme kronik
d. Hiperaldosteronisme primer
e. Hiperkalsemia
f. Diabetes
g. Hipertiroidisme
h. Siklosporin A
 Lain-lain
a. Hipomagnesemia idiopatik
b. Pankreatitis akut
c. Transfusi berkali-kali dengan darah yang
mengandung sitrat
Manifestasi klinis hipomagnesemia

Sebagian besar asimptomatik

Gejala biasanya timbul saat Mg turun dibawah 1,2


mg/dL

Anoreksia, kelemahan, fasikulasi, parestesia, konfusi,


atasia dan kejang dapat menonjol

Hipomagnesemia biasanya berhubungan dengan


hipokalsemia dan hipokalemia

Efek mengancam jiwa  ventricular arrhythmia


Koreksi hipomagnesemia

Hipomagnesemia berat (<1 mmol/L) atau hipomagnesemia simtomatik


dengan kelainan neuromuskular atau manifestasi neurologis atau aritmia
jantung

2 gr MgSO4 dalam 100 mL Dekstrosa 5% dalam waktu 5-10 menit

Bisa diulangi sampai total 10 gr dalam 6 jam berikutnya

Teruskan penggantian dengan infus lanjutan 4gr/hari selama 3-5 hari

Untuk mencegah rekurensi dapat diberikan Mg oksida (peroral) 2x400


mg per hari atau Mg glukonat 2-3x500 mg per hari

MgSO4 25-50 mg/kg/dosis IV


Koreksi hipomagnesemia

Hipomagnesemia
ringan – sedang (1.2
mg/dL to 1.7 mg/dL)

Magnesium sulfat
0,03 – 0,06 gr/kg/hari
dalam 4 – 6 dosis

hingga magnesium
serum normal