Anda di halaman 1dari 11

Transaksi-Transaksi

Khusus

KELOMPOK 8 :
NIDIA TRI HARDIYANTI 15312267
ARJUNA BAHAR 15312275
MUH SYAFIQ ASHARI 15312279
VAVIN PAPERU 15312280
AIDIL HUDAYA 15312289
 Build,Operate & Transfer (BOT)
 Bangunan guna serah( Built Operate and Transfer ) adalah bentuk perjanjian
kerjasama yang dilakukan antara pemegang hak atas tanah memberi hak
kepada investor untuk mendirikan bangunan selama masa perjanjian BOT dan
mengalihkan kepemilikan bangunan kepada pemegang hak atas tanah setelah
masa guna serah (BOT) berakhir.
 Contoh bangunan yang didirikan investor dapat berupa gedung
perkantoran,apartemen, pusat perbelanjaan ,rumah toko(ruko),hotel dan atau
bangunan lainya.
 Ketentuan pelaksanaan perpajakan tentang BOT diatur dalam Keputusan
Menkeu No. 248/KMK.04/1995 dan SE.38/PJ.4/1995
Kriteria transaksi leasing :
 Leasse memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang di leasingkan pada akhir
masa leasing dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya
perjanjian leasing
 Seluruh pembayaran berkala yang di lakukan oleh lesse , ditambah dengan nilai
sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang di leasing
serta bunganya.
 Masa Leasing minimal 2 tahun
Mekanisme Pemecahan Bukti Potong PPh Pasal 23
 Seperti di ketahui atas penghasilan yang merupakan objek PPh Pasal 23 berupa
bunga, sewa, jasa teknik, jasa manajemen dan lain-lain, yang diterima atau
diperoleh Joint Operation dari pemilik proyek (project owner), dipotong PPh
Ps.23. Besarnya PPh Ps.23 yang dapat dikreditkan adalah sesuai JOA (joint
operation agreement) yang telah disepakati bersama.
 BerdasarkanPasal 1 angka 15 Undang-UndangNomor 8 Tahun 1983
tentangPajakPertambahanNilaiBarangdanJasadanPajakPenjualanatasBarangMewa
hsebagaimanatelahbeberapa kali diubah, terakhirdenganUndang-UndangNomor 18
Tahun 2000, diaturbahwaPengusahaKenaPajak (PKP) adalahpengusaha yang
melakukanpenyerahanBarangKenaPajak (BKP) danataupenyerahanJasaKenaPajak
(JKP) yang dikenakanpajakberdasarkanUndang-Undang PPN.
 Dalam rulling yang dikeluarkan olej DJP dengan surat NO. S-823/PJ.312/2002
tertanggal 24 Oktober 2002, ditegaskan rentang status dan kewajiban Pajak
Pertambahan Nilai dari JO.
KepastianHukumTerhadapPemajakanAtas JO
 Sudah 25 tahunreformasiperpajakandiluncurkantahun 1983,
namunhinggakinibelumadasatuketentuandalamUndang-
UndangPajakmaupunPeraturanPemerintahdanPeraturan/KeputusanMenteriKeuangan
yang mengaturpemajakanatas JO. Hanyaadasaturuling setingkatSuratEdaranDirjen
Pajak, yakni SE No. 44/PJ./1994 tentangmekanismepemecahanbuktipotongPPhpasal
23 yang dikaitkandengan SE No. 26/PJ.9/1991 tentangPetunjukTeknisPemindahbukuan
(Pbk).
Dasar Hukum Perpajakan Industri Golf
 Dalammenyikapidanmencarikebenaran normative dalampemajakan industry
golf, selainmengkajiaspekfilosofinya, marikitatengoksejenakdasarhukum yang
mewadahinya. DalamPenjelasan UU No. 42 tahun 2009
PerubahanketigaatasUndang-Undang No. 8 tahun 1983 tentang PPN
barangdanjasadanPajakPenghasilanatasbarangmewahinibertujuan :
 “MeningkatkankepastianhukumdankeadilanbagipengenaanPajakPertambaha
nNilai”
Dampak positif
 Upaya yang terus ditempuh untuk menuju terciptanya kondisi yang lebih teknis
dalam pemajakan atas pendapatan industri golf adalah:
 Terciptanya iklim perpajakan yang lebih mendorong tumbuh dan berkembangnya
industri golf serta pembinaan/pengembangan olahraga di indonesia.
 Terciptanya moral perpajakan yang lebih baik. Untuk membidik pendapatan
daerah yang lebih tinggi, tidak perlu dilakukan dengan mendegradasi klasifikasi
pajak yang mestinya pajak pusa menjadi daerah.
 Merapatkan mata rantai pemajakan PPN untuk mencegah distorsi agar hak
pengkreditan pajak masukan tidak terganggu.
 Meningkatkan kepastian hukum tentang PPN atas pendapatan golf.
 Prinsip keadilan dalam proses pamajakan dikedepankan.
 Menghilangkan pemajakan ganda yang merugikan pengusaha golf akibat high
cost economy.
Tax planning
 Semua billing kepda klien harus di buat sebagai “pelatihan jasa public”.surat
pengantar faktur penjualan atau invoice wajib di lampirkan pada setiap faktur
yang di serahkan kepada klien, menyebutkan klien untuk memotong pajak
pemotongan dengan mengacu pada pasal undang-undang pajak yang
bersangkutan tidak di perlukan.
 Agar di akui secara hukum oleh pemerintah sebagai institusi pendidikan atau
lembaga pelatihan atau sebagai perusahaan jasa penyelenggara pelatihan
public/ program kursus, menjadi prioritas utama dan pertama untuk
mendapatkan sertifikat izin usaha dari departermen tanaga kerja
Kesimpulan

 Suka atau tidak suka, kita harus menerima kenyataan terhadap


perubahan global yang terjadi di semua lini bisnis, regulasi
pemerintah termasuk perpajakannya, perubahan pemain di dasar
global, di servitifikasi produk yang semakin beragam, perubahan
market, seleran konsumen, dan banyak perubahan lainnya yang
membuat manajemen lebih smart dalam mencermati, menyikapi,
dan menyisiati, dampak perubahan tersebut dengan
memanfaatkan peluang bisnis terhadap sustainable growth
perusahaan.
Terima kasih