Anda di halaman 1dari 14

Disusun oleh :

Kelompok 1
 Arie Asterlita (1015070)
 Ayu Sri Rahayu (1015071)
 Adelisa Mulyani (1015065)
 Agustin tya (1015067)
 Dede Willi W (1015074)
 Mega Tresnawati (1015098)
 Puput Putriyanti (1015109)
 Regina Dwiseptiyani (1015110)
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil,dalam wujud lisan atau
tulis yang memiliki sekurang-kurangnya subjek dan predikat.
Bagi seorang pendengar atau pembaca, kalimat adalah kesatuan kata
yang mengandung makna atau pikiran. Sedangkan bagi penutur atau
penulis, kalimat adalah satu kesatuan pikiran atau makna yang
diungkapkan dalam kesatuan kata. Efektif mengandung pengertian
tepat guna,artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran yang
tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah ketetapan penggunaan
kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu
pula.
PENGERTIAN
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan
gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat
dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat
Kalimat efektif memiliki syarat:
 Secara tepat mewakili gagasan penulis atau pembicaranya.
 Menimbulkan gambaran yang sama antara penulis dengan pembaca atau pembicara
dengan pendengar.
 Sesuai EYD
Sebuah kalimat efektif haruslah menggunakan ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku pun mesti
menjadi perhatian agar tidak sampai kata yang kamu tulis ternyata tidak tepat ejaannya.
 Sistematis
 Tidak boros dan bertele-tele
 Tidak ambigu
Ciri kalimat efektif :
1. Kesepadanan struktur
Ada beberapa hal yang menyangkut ciri-ciri yang satu ini :
- Pastikan kalimat yang dibuat mengandung unsur klausa minimal yang lengkap, yakni
subjek dan predikat.
- Jangan taruh kata depan (preposisi) di depan subjek karena akan mengaburkan pelaku di
dalam kalimat tersebut.
Contoh kalimat efektif dan tidak efektif:
 Bagi semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)
 Semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)
Hati-hati pada penggunaan konjungsi yang di depan predikat karena membuatnya menjadi
perluasan dari subjek.
Contoh:
 Dia yang pergi meninggalkan saya. (tidak efektif)
 Dia pergi meninggalkan saya. (efektif)
tidak bersubjek ganda, bukan berarti subjek tidak boleh lebih dari satu, namun lebih ke
arah menggabungkan subjek yang sama.
Contoh:
 Adik demam sehingga adik tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)
 Adik demam sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)
2. Kehematan kata
Penyusunan kata-kata yang bermakna sama di dalam sebuah kalimat tidak boleh
dilakukan. Ada dua hal yang memungkinkan kalimat membuat kalimat yang boros sehingga
tidak efektif. Yang pertama menyangkut kata jamak dan yang kedua mengenai kata-kata
bersinonim.
Contoh Kata Jamak:
 Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (tidak efektif)
 Siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (efektif)
Ketidakefektifan terjadi karena kata para merujuk pada jumlah jamak, sementara siswa-
siswi juga mengarah pada jumlah siswa yang lebih dari satu. Jadi, hilangkan salah satu kata
yang merujuk pada hal jamak tersebut.

Contoh Kata Sinonim:


 Ia masuk ke dalam ruang kelas. (tidak efektif)
 Ia masuk ruang kelas. (efektif)
Ketidakefektifan terjadi karena kata masuk dan frasa ke dalam sama-sama menunjukkan
arti yang sama. Namun, kata masuk lebih tepat membentuk kalimat efektif karena sifatnya
yang merupakan kata kerja dan dapat menjadi predikat. Sementara itu, jika
menggunakan ke dalam dan menghilangkan kata masuk—sehingga menjadi ia ke dalam
ruang kelas—kalimat tersebut akan kehilangan predikatnya dan tidak dapat dikatakan
kalimat efektif menurut prinsip kesepadanan struktur.
3. Kesejajaran bentuk
kalimat efektif haruslah berimbuhan pararel dan konsisten. Jika pada sebuah fungsi
digunakan imbuhan me-, selanjutnya imbuhan yang sama digunakan pada fungsi yang sama.
Contoh :
 Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan
pengolahannya. (tidak efektif)
 Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan
mengolahnya. (efektif)

4. Ketegasan makna
Tidak selamanya subjek harus diletakkan di awal kalimat, namun memang
peletakan subjek seharusnya selalu mendahului predikat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus
tertentu, kalian bisa saja meletakkan keterangan di awal kalimat untuk memberi efek
penegasan. ini biasanya dijumpai pada jenis kalimat perintah, larangan, ataupun anjuran
yang umumnya diikuti partikel lah atau pun.
Contoh :
 Kamu sapulah lantai rumah agar bersih! (tidak efektif)
 Sapulah lantai rumahmu agar bersih! (efektif)
5. Kelogisan Kalimat
Kelogisan berperan penting untuk menghindari kesan ambigu pada
kalimat. Karena itu, buatlah kalimat dengan ide yang mudah dimengerti dan masuk
akal agar pembaca dapat dengan mudah pula mengerti maksud dari kalimat
tersebut.
Contoh :
 Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kamu persilakan. (tidak efektif)
 Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya (efektif)
1. SUBJEK (S)
Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh,
sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok
pembicaraan.
2. PREDIKAT (P)
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan
(tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau
benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau
perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri,
atau jati diri S. Dalam sebuah kalimat P juga menyataan tentang jumlah
sesuatu yang dimiliki oleh S.
3. OBJEK (O)
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak O
selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang
menuntut wajib hadirnya O.
4. PELENGKAP (PEL)
Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang
melengkapi P. letak Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa
verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O. Letak Pelengkap tidak
selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak pel
adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi
S-P-O-Pel. Brikut ini adalah contoh kalimat yang membedakan Pel dan O:
 Ketua MPR membacakan Pancasila.
S P O
 Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.
S P Pel
4. KETERANGAN
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai
hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat
berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas,
dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat.
No. Jenis keterangan Posisi/penghubung Contoh pemakaian
Di Di kamar, di kota

Ke Ke Surabaya, ke rumahnya
1. Tempat
Dari Dari Manado, dari sawah

Pada Pada permukaan


Pada Pada pukul 5 hari ini

Dalam Dalam 2 hari ini

Se- Sepulang kantor

2. Waktu Sebelum Sebelum mandi

Sesudah Sesudah makan

Selama Selama bekerja

Sepanjang Sepanjang perjalanan


3. Alat Dengan Dengan pisau, dengan mobil
Supaya/agar Supaya/agar kamu faham

Untuk Untuk kemerdekaan


4. Tujuan
Bagi Bagi masa depan

Demi Demi orang tuamu


Secara Secara hati-hati

5. Cara Dengan cara Dengan cara damai

Dengan jalan Dengan jalan berunding

6. Kesalingan – Satu sama lain

Seperti Seperti angin

7. Similatif Bagaikan Bagaikan seorang dewi

Laksana Laksana bintang di langit

Karena Karena perempuan itu


8. Penyebab
Sebab Sebab kegagalannya

Dengan Dengan adiknya

9. Penyerta Bersama Bersama orang tuanya

Beserta Beserta saudaranya


Setiap unsur kalimat efektif yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri
dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu
harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Misalnya, Anda akan
menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain,
bila dikatakan:
 Buat Papa menulis surat saya.
 Surat saya menulis buat Papa.
 Menuis saya surat buat Papa.
 Papa saya buat menulis surat.
 Saya Papa buat menulis surat.
 Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan
itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan
kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa
yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.