Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

FURUNKULOSIS

Pembimbing
dr. Andri Catur Jatmiko, Sp.KK

Disusun Oleh :
Putri Dery Cahyani (201620401011123)

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN JOMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
DEFINISI
Furunkel adalah
• folikel rambut meradang
• mengalami nekrosis
• kemudian bernanah (menjadi
pustule)
• berupa nodul ukuran lebih dari 1
cm
• kadang ditutupi jaringan nekrotik
dan pustule

>1 furunkel  Furunkulosis


EPIDEMIOLOGI

• Statistik Departemen Kesehatan Inggris, pada


tahun 2002 dan 2003 terdapat sekitar 0,19% atau
24.525 penderita yang berobat ke Rumah Sakit
Inggris dengan diagnosa furunkel abses kutaneus
dan karbunkel.

• Di Inggris, pasien yang masuk rumah sakit dengan


furunkel dan abses akibat infeksi stafilokokal
meningkat tiga kali lipat pada tahun 1989 – 2004.
ETIOLOGI

• Furunkel biasanya terbentuk ketika satu atau beberapa folikel


rambut terinfeksi oleh bakteri Staphylococcus aureus.

Bakteri Staphylococcus aureus berbentuk


bulat (coccus), memiliki diameter 0,5 –
1,5 µm, memiliki susunan bergerombol
seperti anggur, tidak memiliki kapsul,
nonmotil, katalase positif dan pada
pewarnaan gram tampak berwarna ungu.
FAKTOR RISIKO

Kontak fisik langsung

Riwayat dirawat di rumah sakit

Multipel lesi

Kebersihan yang tidak terjaga

Penyakit kulit (dermatitis atopi, luka kronis)


PREDILEKSI

• Leher
• Wajah
• Aksila
• Gluteus
• Daerah yang sering terjadi gesekan, tertutup
dan berkeringat
PATOFISIOLOGI

Kulit Yang
Intak
Primer
Memberikan
perlindungan
Infeksi Respon
Kulit Inflamasi
Memelihara
flora normal

Sekunder
Membuat
lingkungan yang
tidak kondusif
bagi organisme
patogen Faktor Risiko
DIAGNOSIS
• Furunkel : nodul keras, nyeri, kemerahan pada sekitar folikel
rambut. Membesar dan menjadi fluktuan pada beberapa hari setelah
terbentuknya abses.
• Furunkel muncul pada area hair-bearing utamanya pada area yang
sering terjadi friksi, oklusi, dan perspirasi (produksi keringat).
• Kadang-kadang terdapat gejala konstitusional, seperti demam dan
malaise.
• Nyeri, terutama pada yang akut, besar, di hidung, lubang telinga luar.
GAMBARAN KLINIS

Furunkel bibir atas. Lesi bersifat nodular, dan


Beberapa furunkel
central necrotic plug ditutupi oleh krusta
purulen. Beberapa pustula kecil terlihat lateral ke
pusat lesi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Laboratorium
• Pemeriksaan Gram
• Kultur Pus
Pemeriksaan histopatologi akan terlihat abses perifolikuler setempat. Pembuluh darah
setempat mengalami dilatasi dan tempat terinfeksi diserang oleh lekosit
polimorfonuklear.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Banding

Karbunkel Cystic Acne

Myiasis Hidradenitis Suppurativa


DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Banding

Kerion Ruptured epidermal inclusion cyst

Apical Dental Abscess Osteomyelitis


TATALAKSANA
TATALAKSANA

• Pada Furunkel di bibir atas pipi dan Karbunkel pada orang tua
sebaiknya dirawat inapkan.
• Bila lesi masih basah/kotor dikompres dengan solusio sodium
chloride 0.9%. Bila lesi telah bersih, diberi salep natrium fusidat atau
framycetine sulfat kasa steril.
• Insisi terhadap lesi awal jangan dilakukan, untuk mencegah inokulasi
lebih dalam infeksi tersebut. Jika lesi telah matang dan bermata
dilakukan insisi dan drainase.
• Sewaktu penderita mendapat antibiotik, semua pakaian, handuk, dan
alas kasur yang telah mengenai bagian yang sakit, harus dicuci dalam
air panas.
• Bila lesi sedikit, cukup diberi antibiotik topikal, misalnya salap/krim
asam fusidat 2%, salap mupirosin 2%, salap basitrasin dan neomisin.
PROGNOSIS

Komplikasi  scar dan


kemungkinan rekuren.

Jarang menyebabkan
infeksi sistemik.

Prognosis
baik
BAB 2
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
• Nama : An. O
• Umur : 6 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Alamat : Sumberejo, Jombang
• Suku : Jawa
• Bangsa : Indonesia
• Agama : Islam
• Pendidikan : TK
• Tanggal Pemeriksaan : 4 Juli 2018
ANAMNESIS

Keluhan Utama
•Bentol-bentol kemerahan

Riwayat Penyakit Sekarang


•Pasien datang bersama ibunya dengan keluhan bentol-bentol
kemerahan di kepala, wajah, kedua tangan, dan punggung.
Keluhan dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Menurut ibu
pasien awalnya pada pasien timbul bintil kecil di kepala yang
terasa gatal kemudian semakin hari semakin besar dan
jumlahnya bertambah menjadi banyak. Keluhan terasa nyeri
bila diraba. Beberapa hari kemudian bentol-bentol tersebut
mengeluarkan nanah berwarna kuning kecokelatan bercampur
darah. Pasien tidak mengeluhkan demam.
ANAMNESIS
Riwayat Pengobatan
• Ibu pasien sudah mengolesi dengan minyak Tawon.

Riwayat Penyakit Dahulu


• Pasien tidak pernah seperti ini sebelumnya
• Alergi makanan disangkal
• Asma dan bersin-bersin di pagi hari disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


•Riwayat alergi di keluarga disangkal
•Riwayat keluarga yang pernah seperti ini disangkal
Riwayat Sosial
•Pasien adalah anak pertama. Pasien tinggal dengan kedua orang tuanya. Pasien biasanya
bermain disekitar lingkungan rumahnya bersama dengan teman sebayanya.
•Pasien tidak mengetahui apakah teman-temannya ada yang menderita sama seperti pasien.
•Penderita mandi 2 kali sehari dengan air sumur. Tiap anggota keluarga, menggunakan
handuk pribadi tiap selesai mandi.
PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Keadaan Umum : Cukup Kepala : Normal
Kesadaran : Compos Mentis Mata : Anemia -/-, ikterus -/-
GCS : 456 THT : Dalam batas normal
Tekanan Darah : 120/70 mmHg Thorax : Cor: S1 S2 reguler, murmur (-)
Nadi : 94 x/menit Pulmo : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Respirasi : 20 x/menit Abdomen : Distensi (-), bising usus
Temperatur aksila : 36,2º C normal, hepar dan lien tidak teraba
BB : 20 kg Ekstremitas : Akral hangat, pitting edema
(-/-)
STATUS DERMATOLOGI

• Tampak multiple nodul eritematous, berbatas tidak tegas,


jumlahnya banyak, tidak bergerombol, dengan ukuran
diameter bervariasi antara 1-2 cm, berbentuk kubah disertai
krusta, skuama tipis dan erosi et regio frontal dan parietal,
regio facialis, regio antebrachii dextra et sinistra, dan
punggung
FOTO KASUS
Pemeriksaan Penunjang
•Tidak dilakukan

Resume
•An. O, seorang anak perempuan berusia 6 tahun datang ke
poliklinik kulit dan kelamin RSUD Jombang pada tanggal 4 Juli
2018 diantar oleh ibu pasien dengan keluhan bentol-bentol
kemerahan di kepala, wajah, kedua tangan, dan punggung.
Keluhan dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Menurut ibu pasien
awalnya pada pasien timbul bintil kecil di kepala yang terasa gatal
dan digaruk kemudian semakin hari semakin besar dan
jumlahnya bertambah menjadi banyak. Keluhan terasa nyeri bila
diraba. Beberapa hari kemudian bentol-bentol tersebut
mengeluarkan nanah berwarna kuning kecokelatan bercampur
darah. Ibu pasien sudah mengolesi dengan minyak Tawon.
Diagnosis

•Furunkulosis

Diagnosis Banding

•Karbunkel
•Cystic Acne
•Hidraadenitis Supurative

Planning Pemeriksaan

•Pengecatan Gram
•Kultur pus
TATALAKSANA

• Erysanbe 500 mg + Loratadine 10 mg dibuat dalam bentuk


puyer dan diminum 3x sehari selama 7 hari
• Fulladic Cream 2%: dioleskan pagi dan malam
PEMBAHASAN
IDENTITAS

Usia = 6 tahun

Sesuai dengan literatur : Hal ini ini sesuai dengan penelitian oleh
Gandhi di Department of Microbiology, Gajra Raja Medical
College, India tahun 2012 dimana prevalensi rentang umur pasien
infeksi kulit akibat kuman S. aureus yang paling banyak yaitu <10
tahun dengan jumlah kasus 98 (48%) dari total 200 kasus yang
diteliti.
IDENTITAS

Jenis Kelamin = Perempuan

Sesuai dengan literatur : Hal ini sesuai dengan penelitian oleh


Pangow di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado periode tahun 2012, dimana pada penelitian
tersebut menunjukkan terbanyak pada perempuan (56,6%)
ANAMNESIS

Keluhan yang dialami pasien Sesuai dengan literatur : anamnesis 


berupa bentol-bentol kemerahan di nodul yang nyeri dan ukuran meningkat
kepala, wajah, kedua tangan, dan dalam beberapa hari. Semakin
punggung sejak 1 minggu yang lalu. membesar, menjadi berfluktuasi
Awalnya timbul bintil kecil di kemudian menjadi lunak dan meletus
kepala yang terasa gatal, semakin dengan sendirinya setelah 1-2 minggu
untuk mengeluarkan jaringan nekrotik
hari semakin besar dan jumlahnya
dan pus.
bertambah banyak. Nyeri bila
diraba. Beberapa hari kemudian
mengeluarkan nanah berwarna
kuning kecokelatan bercampur
darah. Tidak demam
PREDILEKSI

Sesuai dengan literatur  muncul pada


Bentol-bentol kemerahan di daerah yang tumbuh rambut, daerah yang
kepala, wajah, kedua tangan, dan sering terjadi gesekan, tertutup dan sering
punggung berkeringat, misalnya pada wajah, leher,
aksilla, dan gluteus.
STATUS DERMATOLOGIS

• Multipel nodul eritematosa,


berbatas tidak tegas, • Sesuai literatur bahwa lesi kulit
jumlahnya banyak, tidak furunkel berupa nodul eritematosa,
bergerombol, dengan ukuran
edem, ukuran 1-3 cm, dan kadang-
diameter bervariasi antara 1-2
kadang ditengahnya terdapat pustul
cm, berbentuk kubah disertai
dan mengalami nekrose. Pecah
krusta, skuama tipis, dan erosi
et regio frontal dan parietal,
terjadinya dengan keluarnya nanah,
regio facialis, regio antebrachii dan seringkali merupakan inti dari
dextra et sinistra, dan bahan nekrotik.
punggung
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Sesuai dengan literatur  pemeriksaan


penunjang berupa pewarnaan gram dan
Pemeriksaan penunjang tidak
kultur pus tidak harus dilakukan.
• Pada beberapa kasus pemberian terapi
dilakukan pada pasien ini. tetap diberikan tanpa dilakukan
pemeriksaan penunjang. Untuk diagnosis
ditegakkan berdasarkan gambaran klinis.
DIAGNOSIS

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat diambil


diagnosis berupa Furunkulosis
TATALAKSANA

• Sesuai dengan literatur  pemberian antibiotik


Eritromisin 500 mg 3x sehari yang direkomendasikan pada infeksi kulit yang
selama 7 hari berkaitan dengan penyakit yang berat (area
Fulladic cream 2% dioleskan infeksi multipel atau progresi cepat), penyakit
sistemik atau adanya kondisi komorbid dan
pagi dan malam imunosupresi, usia tua, abses pada area yang
sukar untuk drainase (wajah, tangan dan
genitalia). Pemberian antibiotik sistemik
umumnya diberikan 7-10 hari.
Loratadine 10 mg diberikan • Literatur lain  diberikan terapi empiris
sebagai antihistamin  antibiotik Trimetroprim-sulfometoxazole atau
keluhan simptomatik (gatal) doksisiklin.
• Pengobatan topikal pada kasus sesuai dengan
literatur yaitu dapat diberikan salep/krim asam
fusidat 2%.
KESIMPULAN
Pada kasus ini diagnosis pasien yaitu Furunkulosis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis dengan keluhan bentol-bentol kemerahan di kepala, wajah, kedua tangan, dan
punggung sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya timbul bintil kecil di kepala yang terasa gatal,
semakin hari semakin besar dan jumlahnya bertambah banyak. Nyeri bila diraba. Beberapa
hari kemudian mengeluarkan nanah berwarna kuning kecokelatan bercampur darah.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan pasien dalam batas normal. Pada status lokalis
didapatkan efloresensi berupa multipel nodul eritematosa, berbatas tidak tegas, jumlahnya
banyak, tidak bergerombol, dengan ukuran diameter bervariasi antara 1-2 cm, berbentuk
kubah disertai krusta, skuama tipis, dan erosi et regio frontal dan parietal, facialis, antebrachii
dextra et sinistra, dan punggung.
Pada kasus ini pasien mendapat terapi Eritromisin 500 mg + Loratadin 10 mg dibuat
puyer dan diminum tiga kali sehari selama 7 hari dan fulladic cream 2% dioleskan pagi dan
malam. Selain terapi medikamentosa, pasien diberikan edukasi tentang kesehatannya seperti
membatasi penularan penyakitnya dengan cara menjaga kebersihan perorangan yang baik,
menghindari untuk menggaruk di daerah lesi.
Prognosa pada pasien ini adalah baik karena pada kasus ini tidak didapatkan komplikasi
atau faktor lain yang memperberat derajat penyakit.
TERIMA KASIH