Anda di halaman 1dari 35

PKWT DAN OUTSOURCHING

TERKAIT DENGAN PEKERJA/BURUH


OUTSOURCHING DAN PKWT/PKWTT SERTA
PERMASALAHANNYA

Oleh :

SIBALI, S.E, S.H.

Hakim Ad Hoc PHI


Pengadilan Negeri Makassar
Hubungan Kerja
Hubungan kerja antara pengusaha dengan
pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja
 1. Adanya pekerjaan
 2. Upah
 3. Perintah
Hubungan Kerja
1. Perjanjian Kerja
2. Peraturan Perusahaan
3. Perjanjian Kerja Bersama
4. Peraturan Perundang-undangan
5. Kebiasaan
Hak Pekerja
1. Berserikat
2. Menerima Upah
3. Mendapatkan fasilitas
4. Perlakuan yang baik dari pengusaha
5. Mendapat perlindungan KK
6. Hak untuk pemeliharaan kesehatan
7. Hak untuk istirahat tahunan
8. Hak cuti haid, hamil, melahirkan
9. Perlindungan jamsos
Kewajiban Pekerja
1. Melaksanakan tugas dengan baik
2. Melaksanakan tugas sendiri
3. Mentaati semua peraturan
4. Taat pada perintah yang layak
5. Memakai alat K3
6. Perlakuan yang sopan
Hak Pengusaha
1. Hasil kerja dari pekerja
2. Ditaatinya peraturan dan tata tertib oleh
pekerja
3. Perlakuan yang hormat dari pekerja
4. Memberi perintah yang layak
5. Membuat tata tertib
6. Mutasi
Kewajiban Pengusaha
1. Memberi imbalan berupa upah
2. Menyediakan dan mengatur fasilitas kerja dan
alat kerja
3. Memberi jamsos
4. Menyediakan peralatan K3
5. Memberi cuti tahunan
6. Memberikan cuti haid, hamil dan melahirkan
7. Memberi surat keterangan kalau diminta oleh
pekerja
Hak-hak Pemerintah

• Menuntut hasil pelaksanaan


peraturan perundang-undangan
• Memeriksa
Kewajiban Pemerintah

• Mengawasi terlaksananya peraturan


perundang-undangan ketenagakerjaan
• Membina
• Mengatur
• Memperantarai perselisihan dan PHK
• Menindak bila ada pelanggaran
3. Perjanjian Kerja
– Perjanjian antara pekerja/buruh dengan
pengusaha atau pemberi kerja yang
membuat syarat-syarat kerja, hak dan
kewajiban para pihak.

Perjanjian Kerja
– Tertulis
– Tidak tertulis/lisan
Perjanjian Kerja Dibuat Atas Dasar

1. Kesepakatan kedua belah pihak


2. Kemampuan dan kecakapan melakukan
perbuatan hukum
3. Adanya pekerjaan yang dijanjikan
4. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan
dengan tibum, kesusilaan dan peraturan
perundang-undangan
5. Biaya ditanggung pengusaha
6. Dibuat dalam rangkap dua
7. Tidak dapat ditarik kembali kecuali atas
persetujuan kedua belah pihak.
PK Batal/Batal Demi Hukum
1. PK yang bertentangan dengan point 1
dan 2 dapat dibatalkan
2. PK yang bertentangan dengan point 3
dan 4 batal demi hukum
PK Secara Tertulis Minimal Memuat :
1. Nama, alamat perusahaan dan jenis usaha
2. Nama, jenis kelamin, umur dan alamat pekerja
3. Jabatan/jenis pekerjaan
4. Tempat pekerjaan
5. Besarnya upah dan cara pembayaran
6. Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban
7. Mulai dan jangka waktu PK
8. Tempat dan tanggal PK dibuat
9. Tanda tangan
Catatan :
Khusus point 5 dan 6 tidak boleh bertentangan dengan PP,
PKB atau Peraturan perundang-undangan
Jenis PK
1. Waktu Tidak Tertentu
2. Waktu Tertentu

PK Waktu Tidak Tertentu


1. Dapat mensyaratkan masa percobaan
paling lama 3 bulan
2. Upah dibayar minimum UMP/UMK yang
berlaku
PK Secara Lisan
1. Minimal harus ada SK Pengangkatan
 Nama dan alamat pekerja
 Tanggal mulai bekerja
 Jenis Pekerjaan
 Besarnya upah
2. Tidak ada SK Pengangkatan dikenakan
sanksi pidana, denda minimal Rp.
5.000.000,- dan maksimal Rp. 50.000.000,-
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu
1. Jangka waktu
2. Selesainya suatu pekerjaan tertentu

Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu


1. Tertulis serta menggunakan Bahasa Indonesia dan tulisan
latin
2. Kalau tidak tertulis dinyatakan menjadi perjanjian kerja
waktu tidak tertentu
3. Dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Asing kalau ada
perbedaan yang dipakai Bahasa Indonesia
4. Tidak boleh ada masa percobaan
5. Kalau ada masa percobaan maka pasal batal demi
hukum
Ruang Lingkup
1. PK waktu tertentu hanya dapat dilakukan untuk
pekerjaan tertentu yang menurut jenis sifat
pekerjaan akan selesai dalam waktu tertentu
a. Pekerjaan yang sekali selesai atau semantara
sifatnya
b. Penyelesaiannya tidak terlalu lama dan
paling lama 3 tahun
c. Pekerjaan bersifat musiman
d. Berhubungan dengan produk baru atau
produk tambahan yang masih dalam
percobaan
2. PK waktu tertentu tidak dapat dilakukan untuk
pekerjaan yang bersifat tetap.
PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU
(PKWT)
KEPMENAKERTRANS NO: KEP-100/MEN/VI/2004

 PKWT ADALAH PERJANJIAN KERJA ANTARA


PEKERJA/BURUH DGN PENGUSAHA UNTUK
MENGADAKAN HUBUNGAN KERJA DALAM WAKTU
TERTENTU ATAU PEKERJAAN TERTENTU

 PKWTT ADALAH PERJANJIAN KERJA ANTARA


PEKERJA/BURUH DGN PENGUSAHA UNTUK
MENGADAKAN HUBUNGAN KERJA YANG BERSIFAT TETAP
JENIS-JENIS PKWT

1. PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG SEKALI SELESAI ATAU SEMENTARA


SIFATNYA PENYELESAIANNYA PALING LAMA 3 TAHUN
– PEKERJAAN YANG SEKALI SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYA
ADALAH PKWT YANG DIDASARKAN ATAS SELESAINYA PEKERJAAN
TERTENTU (PALING LAMA 3 TAHUN)
– BILA PEKERJAAN DISELESAIKAN LEBIH CEPAT DARI YANG
DIPERJANJIKAN MAKA PKWT PUTUS DEMI HUKUM, SAAT SELESAINYA
PEKERJAAN
– HARUS DICANTUMKAN BATASAN SUATU PEKERJAAN DINYATAKAN
SELESAI
– KARENA KONDISI TETENTU BELUM TERSELESAIKAN, DAPAT
DILAKUKAN PEMBAHARUAN
– MASA TENGGANG 30 HARI, SETELAH BERAKHIRNYA PERJANJIAAN
– PARA PIHAK DAPAT MENGATUR LAIN, KARENA KONDISI TERTENTU
PEKERJAAN TSB BELUM DAPAT TERSELESAIKAN
lanjutan……..

2. PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG BERSIFAT MUSIMAN

– PELAKSANAANNYA TERGANTUNG MUSIM ATAU CUACA

– HANYA DILAKUKAN UNTUK JENIS PEKERJAAN PADA MUSIM TERTENTU

– UNTUK MEMENUHI PESANAN ATAU TARGET TERTENTU SEBAGAI


PEKERJAAN MUSIMAN (HANYA DIBERLAKUKAN UNTUK PEKERJA/BURUH
YANG MELAKUKAN PEKERJAAN TAMBAHAN)

– HARUS MEMBUAT DAFTAR NAMA PEKERJA/BURUH

– TIDAK DAPAT DILAKUKAN PEMBAHARUAN


lanjutan……..

3. UNTUK PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRODUK BARU


- DILAKUKAN UNTUK PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PRODUK BARU, KEGIATAN BARU ATAU PRODUK TAMBAHAN, YANG
MASIH DALAM PERCOBAAN ATAU PENJAJAKAN
- UNTUK JANGKA WAKTU PALING LAMA 2 (DUA) TAHUN DAN DAPAT
DIPERPANJANG SATU KALI UNTUK PALING LAMA 1 (SATU) TAHUN
- TIDAK DAPAT DILAKUKAN PEMBAHARUAN
- HANYA MELAKUKAN PEKERJAAN DILUAR KEGIATAN ATAU DI LUAR
PEKERJAAN YANG BIASA DILAKUKAN PERUSAHAAN
lanjutan……..
4. PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS
- UNTUK PEKERJAAN TERTENTU YANG BERUBAH-UBAH DALAM HAL WAKTU DAN
VOLUME PEKERJAAN, SERTA UPAH DIDASARKAN PADA KEHADIRAN
- DILAKUKAN DENGAN KETENTUAN PEKERJA/BURUH BEKERJA KURANG DARI 21
HARI DALAM SATU BULAN
- BEKERJA 21 HARI ATAU LEBIH, SELAMA 3 BULAN BERTURUT-TURUT ATAU LEBIH.
MAKA PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS BERUBAH MENJADI PKWTT
- PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS, DIKECUALIKAN DARI KETENTUAN JANGKA
WAKTU PKWT PADA UMUMNYA
- WAJIB MEMBUAT PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS, SECARA TERTULIS, YANG
MEMUAT;
a. NAMA/ALAMAT PERUSAHAAN ATAU PEMBERI KERJA
b. NAMA/ALAMAT PEKERJA/BURUH
c. JENIS PEKERJAAN
d. BESARNYA UPAH ATAU IMBALAN LAINNYA
- DAFTAR PEKERJA/BURUH SELAMBAT LAMBATNYA 7 HARI KERJA SEJAK
MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH DISAMPAIKAN KEPADA INSTANSI
OUTSOURCING

Perusahaan dapat menyerahkan sebagian


pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
lainnya melalui perjanjian pemborongan
pekerjaan atau penyediaan jasa
pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.
Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu / PKWT
LATAR BELAKANG
1. Timbulnya Outsourcing :
Efisiensi, kiat berhemat adalah jangan mengerjakan
semuanya sendiri
Mengurangi panjang dan kompleksnya rentang
kendali manajemen usaha
Ada jenis pekerjaan spesifik memerlukan penanganan
khusus oleh keahlian tertentu
Bentuk hubungan bisnis dengan sistem order
lanjutan…

2. CENDERUNG DILAKUKAN UNTUK MENEKAN


BIAYA BURUH ;

 Hubungan kerja selalu dalam bentuk kontrak


 Upah lebih rendah
 Jamsos dalam batas minimal
 Tidak adanya job security
 Tidak adanya jaminan pengembangan karir.
Dasar Hukum
• Pasal 50 sd. 66 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
• Kepmenakertrans RI. No. Kep-100/MEN/VI/ 2004 tentang Ketentuan
Pelaksanaan PKWT
• Putusan MK No. 27 /PUU IX/2011
• PERMENAKERTRANS No.19 tahun 2012 (Tentang Syarat2
penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
lain)
• Surat Edaran Menakertrans No.4 tahun 2013 (Tentang pedoman
pelaksanaan Permenakertrans no.19 tahun 2012 Tentang Syarat2
penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
lain)
PELUANG OUT SOURCHING

1. Secara yuridis, pelaksanaan outsourcing ada landasan


hukumnya, tidak bertentangan dengan UUD 1945
(Putusan MK NO. 27/PUU-IX/2011).
2. Efisiensi dan fokus pada kompetensi inti.
3. Meningkatkan produktivitas dan lebih mudah
menjaga kualitas perusahaan.
4. Mendorong tumbuhnya perusahaan out sourcing
lapangan kerja.
TANTANGAN OUT SOURCING

1. Produktivitas menurun jika perusahaan outsourcing


tidak kompeten.

2. Terkena kewajiban ketenagakerjaan jika pelaksanaan


dan pilihan outsourcing tidak benar.
STRATEGI PELAKSANAAN OUTSOURCING

• Tentukan secara benar pekerjaan yang akan di outsourcing.

• Tentukan pilihan pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa


pekerja.

• Pastikan perusahaan outsourcing memenuhi syarat.

• Pastikan perusahaan outsourcing memiliki pengaturan syarat


kerja (PP atau PKB).

• Lakukan legal audit secara berkala terhadap perusahaan


outsourcing.
Aspek Hukum PKWT
PKWT yang :
• Bukan pekerjaan tertentu, dalam jangka waktu tidak tentu;
• Diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap;
• Lebih dari 3 (tiga) tahun;
• Pengusaha tidak memberitahukan kepada pekerja/buruh
dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sebelum berakhir;
• Pembaruan sebelum 30 hari berakhirnya PKWT lama
dan/atau dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dan lebih dari 2
(dua) tahun

Demi hukum PKWT menjadi PKWTT


Aspek Hukum Outsourcing
Outsourcing yang :
• Melaksanakan kegiatan pokok atau berhubungan langsung
dengan proses produksi
• Tidak terdapat hub. kerja antara pekerja/buruh dengan
penyedia jasa pekerja/buruh;
• Hub kerja tersebut tidak diikat dalam PKWT atau PKWTT;
• Perjanjian tidak tertulis antara penyedia jasa pekerja/buruh
dan tidak memuat pasal-pasal dalam UU 13 Tahun 2003;
• Penyedia tidak berbadan hukum serta tidak mempunyai
izin

Demi hukum status hubungan kerja pekerja/buruh


beralih kepada pengguna tenaga kerja
Lanjutan….

Ganti Rugi
Apabila salah satu pihak mengakhiri
PKWT sebelum berakhir pihak yang
mengakhiri wajib membayar ganti rugi
sebesar upah sampai berakhirnya
PKWT
PENYELESAIAN PERSELISIHAN KAITANNYA DENGAN
PRODUKTIVITAS KERJA
Pasal 27 (2)
GLOBALISASI UUD 45

TK PRODUKTIF

PENGANGGURAN

KUALITAS
Knowld Skill Attitude - HI HARMONIS
- PENGEM. USAHA
JAHTRA TK
SARANA H I
- SP/SB
- ORGANISASI PENGUSAHA
- LKS BIPARTIT & LKS
TRIPARTIT
IPOLEKSOS - PP, PKB
Peraturan
BUD - PER – UU – AN
Per-UU-an
- LEMBAGA PPHI
Sekian
Dan
Terima Kasih