Anda di halaman 1dari 31

OTITIS MEDIA EFUSI

REFERAT
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
MISKE MARSOGI (40607023)
NINA AMELIA GUNAWAN (406107037)
• Otitis media dengan efusi :
– Adanya cairan di telinga tengah tanpa
dengan membran timpani utuh tanpa
tanda-tanda infeksi
– Apabila efusi tersebut encer → otitis media
serosa
– apabila efusi tersebut kental seperti lem →
otitis media mukoid (glue ear).
• Otitis media serosa akut :
– keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah
secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan
fungsi tuba, disertai rasa nyeri pada telinga,
• Otitis media serosa kronik :
– sekret terbentuknya secara bertahap tanpa rasa
nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang
berlangsung lama
EPIDEMIOLOGI
• Pada tahun 1990, 12,8 juta kejadian otitis media
terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun.
• Statistik menunjukkan 80-90% anak prasekolah
pernah menderita OME.
• Kasus OME berulang (OME rekuren) pun
menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi
terutama pada anak usia prasekolah, sekitar 28-
38%.
• Otitis media serosa kronis lebih sering terjadi
pada anak-anak, sedangkan otitis media serosa
akut lebih sering terjadi pada orang dewasa.
ETOLOGI
• Kegagalan fungsi tuba eustachius :
– Barotrauma
– Hiperplasi adenoid
– Rinitis kronik dan sinusitis
– Tonsilitis kronik
– Tumor nasofaring
– Defek palatum
• Alergi
• Otitis media yang belum sembuh sempurna
• Infeksi virus
PATOFISIOLOGI
• 2 mekanisme utama yang menyebabkan OME:
– Kegagalan fungsi tuba eustachi
• Kegagalan fungsi tuba eustachi untuk pertukaran udara
pada telinga tengah dan juga tidak dapat mengalirkan
cairan.
– Peningkatan produksi sekret dalam telinga tengah
• Dari hasil biopsi mukosa telinga tengah pada kasus
OME didapatkan peningkatan jumlah sel yang
menghasilkan mukus atau serosa.
Sembuh / normal

Tuba tetap
terganggu tanpa
infeksi
Tekanan negatif
Gg tuba Efusi OME
telinga tengah

Tuba tetap
ETIOLOGI: terganggu +
infeksi
Barotitis
Alergi
Infeksi
Sumbatan (sekret, OMA
tampon, tumor)

Sembuh OMSK OME


• N: mukosa telinga tengah  sekresi mukus konstan 
dikeluarkan via mucocilliary transport via t. eustachian

Infeksi

• inflamasi  obs t. eus


• exotosin  paralisis cilia

↑produksi mukus OME ↓clearance mukus

Alergi jalan napas Sumbatan non Rokok  disfungsi


infeksi tekanan (-) cillia
 transudasi

idiopatik
•Menghubungkan kavitas telinga tengah dengan nasofaring
• Fungsi : proteksi ventilasi (keseimbangan telinga tengah) & bersihan Tuba
kavitas telinga tengah (pengeringan cairan )
• Normal = tertutup.
Eustachius
•Saat lahir  17-17mm, sempit, horizontal. Terbuka oleh otot palati
tensor
• Dewasa  36mm. Lebar dan 45o. Terbuka oleh otot palati tensor
dan palati levator
MANIFESTASI KLINIS
Otitis Media Serosa Akut
Gejala:
– Pendengaran yang berkurang (tuli konduktif
<35dB)
– Rasa tersumbat pada telinga atau suara sendiri
terdengar lebih nyaring atau berbeda.
– Terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam
telinga pada saat posisi kepala berubah.
– Nyeri dalam telinga
– Tinitus, vertigo, atau pusing kadang-kadang ada
dalam bentuk yang ringan.
• Pada pemeriksaan fisik memperlihatkan
– imobilitas gendang telinga pada penilaian dengan
otoskop pneumatik.
– Pada otoskopi : membrana timpani retraksi,
tampak berwarna kekuningan, kadang tampak
gelembung udara atau permukaan cairan dalam
cavum timpani
– Maleus tampak pendek, retraksi dan berwarna
kapur.
Transudat otitis media serosa

Dengan air
fluid level
Otitis Media Serosa Kronik
• Perbedaan antara kondisi otitis media serosa akut
dengan otitis media serosa kronik hanya pada cara
terbentuknya sekret.
• cairan yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi
aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam
mukosa telinga tengah, tuba eustachius, dan rongga
mastoid
• Sekret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri
dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama
• Lebih sering terjadi pada anak-anak.
• Sekret kental seperti lem (glue ear).
Otitis Media Serosa Kronik
• Gejala :
• Perasaan tuli lebih menonjol karena adanya sekret kental.
(40-45 dB)
• Pemeriksaan fisik :
• Pada otoskopi terlihat membran timpani utuh, retraksi,
suram/ keruh, kuning kemerahan atau keabu-abuan.
• Maleus tampak pendek, retraksi dan berwarna kapur.
Diagnosa
• Anamnesa
– Telinga seperti tertutup/ rasa penuh?
– Tinitus frekuensi rendah?
– Pendengaran berkurang, diplakusis?
– Otofoni?
– Riwayat alergi?
– Riwayat infeksi saluran napas atas?
– Riwayat keluarga?
– Aktivitas akhir-akhir ini?
• Pemeriksaan Fisik
– Bisa didapatkan nyeri tumpul, nyeri tarik (-), nyeri
tekan tragus (-), kondisi liang telinga luar dBn.
• Otoscope
– Pemeriksaan otoskopik dapat memperlihatkan:
• Membran timpani yang retraksi (tertarik ke dalam), dan
opaque yang ditandai dengan hilangnya refleks cahaya
• Warna membran timpani bisa merah muda cerah
hingga biru gelap.
• Processus brevis maleus terlihat sangat menonjol dan
Processus longus tertarik medial dari membran
timpani.
• Adanya level udara-cairan (air fluid level) (2i,10i)
• Pneumatic otoscope
– Untuk menilai respon gendang telinga terhadap
perubahan tekanan udara --> Gerakan gendang
telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali
dapat dilihat dengan pemeriksaan ini.
• Pemeriksaan Tuba
– Untuk menilai ada tidaknya oklusi tuba -->
(manuver Valsava, pulitzer balik)
• Pemeriksaan Pendengaran :
– Tes Pendengaran dengan Garpu Tala
– Impedance audiometry (tympanometry)
– Pure tone Audiometry
A : normal  tekanan t. telingah ~ t. atmosfer
B: flat cth: ok efusi t. tengah
C: ok tekanan negatif pada t. tengah
Otitis media serosa Otitis media serosa
akut kronik
Sekret Cairan serosa Cairan sangat kental
(glue ear)
Terbentuk nya sekret tiba –tiba di sertai rasa Bertahap tanpa rasa
nyeri nyeri
Epidemiologi Dewasa Anak - anak
Gejala Pendengaran Tuli lebih (40 – 50 dB)
berkurang
Otoskopi Membran timpani Membran timpani
retraksi, tampak retraksi, utuh, suram,
gelembung udara dan kuning kemerahan /
permukaan cairan keabuan
dalam kavum timpani
Pengobatan Vasokonstriktor Antihistamin –
Antihistamin dekongestan
Perasat valsava Miringotomi
Miringotomi Pipa ventilasi
TATALAKSANA
NON BEDAH BEDAH
Keefektifan masih kontroversial • Miringotomi
• Decongestan • Pemasangan tuba
• Anti histamin timpanostomi
• Antibiotik • adenoidektomi
• Perasat valsava
• Menjauhi alergen

Mencari dan melakukan terapi untuk faktor-faktor penyebab /


pendahulu OME
PEMILIHAN TATALAKSANA
Sembuh

Observasi jika Tatalaksana bedah


perlu + tatalaksa 3 BULAN
non bedah

Keterlambatan bicara & tumbuh


kembang
Gangguan pendengaran bermakna
Pertimbangkan
(cth: >40db) bedah atau
Pasien dengan sindrom, palatoschizis non bedah lain
Otitis media unilateral
PEMILIHAN TATALAKSANA
BERDASARKAN ONSET
• Onset akut:
– Terapi non bedah: dekongestan, anti histamin, perasat
valsava jika tidak ada infeksi jalan nafas atas
• Dekongestan: tetes hidung atau berupa dekongestan oral yang
dikombinasikan dengan anti histamin
– 1-2 minggu  gejala masih (+)  miringotomi  gejala
masih (+)  ditambah pemasangan tuba timpanostomi
• Onset kronis:
– Miringotomi dan pemasangan tuba timpanostomi
KOMPLIKASI
• Beberapa komplikasi yang dapat terjadi:
– Kurangnya pendengaran
– Terganggunya proses bicara dan tumbuh kembang
– Otitis media akut
PROGNOSIS
• Secara umum, prognosis pasien dengan otitis
media efusi tergolong baik.
• Banyak kasus sembuh sendiri tanpa intervensi
• Angka prevalensi otitis media efusi juga
menurun tajam pada anak usia 7 tahun, yang
dikaitkan dengan maturasi tuba eustachius
dan fungsi imunitas
PENCEGAHAN
• Beberapa tindak pencegahan yang dapat
mengurangi prevalensi otitis media efusi:
– menghindari rokok atau asap rokok
– memperpanjang ASI ekslusif
– pada pasien anak disarankan tidak sering ke
tempat ramai berisiko (contoh: day care center,
tempat ramai lain dengan banyak penderita ISPA,
dll)