Anda di halaman 1dari 10

PAPER

SKIZOFRENIA KATATONIK

OLEH :

HENDARTI HUTAMI WULANDARI


17360174

PEMBIMBING :
Dr. dr. Elmeida Effendy, M. Ked. K. J, Sp. Kj (K)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR SMF ILMU PENYAKIT JIWA


RUMAH SAKIT HAJI MEDAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
2018
Latar Belakang
• Hampir 1% penduduk di dunia menderita
skizofrenia selama hidup mereka. Prevalensi
skizofrenia pada wanita dan laki-laki adalah sama.
Tetapi, dua jenis kelamin menunjukkan
perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit.
Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia
remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada
laki-laki biasanya 15-25 tahun dan pada
perempuan antara 25-35 tahun. Prognosis
biasanya lebih buruk pada laki-laki bila
dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah
umur 40 tahun jarang terjadi.
Defenisi
• Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “ Skizo”
yang artinya retak atau pecah (split), dan “frenia”
yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang
yang menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah
orang yang mengalami keretakan jiwa atau
keretakan kepribadian (splitting of personality).

• Skizofrenia Katatonik adalah satu tipe skizofrenia


yang ditandai oleh ketegangan (katatonia),
negativisme, dan stupor atau gaduh.
Etiologi
• Penyebabnya belum diketahui. Berdasarkan penelitian
biologik, genetik, fenomenologik dinyatakan bahwa
skizofrenia merupakan suatu gangguan atau penyakit.

• Skizofrenia tidak diduga sebagai suatu penyakit tunggal


tetapi sebagai suatu kelompok penyakit dengan ciri-ciri
klinik umum. Banyak teori penting telah diajukan
mengenai etiologi dan ekspresi gangguan ini.
• 1. Teori Biologik dan Genetik
• 2. Hipotesis Neurotransmitter
• 3. Pencetus Psikososial
Gambaran Klinis dan Diagnostik
• Kriteria umum untuk suatu skizofrenia harus terpenuhi. Adapun criteria dari skizofrenia ini
adalah harus ada satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya 2 gejala atau lebih, bila
gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

• 1. Thought echo: isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak
keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama tapi kualitasnya berbeda; Thought
insertion atau Thought withdrawl: isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawl);
Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya.
• 2. Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar; Delusion passivity: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; Delusion of perception: pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
• 3. Halusinasi Auditorik
• 4. Waham-waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu,
atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca
atau bercakap-cakap dengan makhluk asing dan sebagainya).
Cont ….
• Atau paling sedikit memiliki 2 gejala dibawah ini yang harus selalu ada
secara jelas:
• 1. Halusinasi yang menetap dari panca indra apa saja apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan secara terus menerus.
• 2. Arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan, yang berakibat
inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologime.
• 3. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, posisi tubuh tertentu
atau fleksibilitas cerea, negativism, mutisme, atau stupor.
• 4. Gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang
dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatjan penarikan diri dari pergaulan sosial serta menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptik.
Untuk diagnosis skizofrenia katatonik satu atau
lebih perilaku berikut ini harus mendominasi
gambaran klinisnya
• 1. Stupor (amat berkurangnya reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme
• 2. Kegelisahan (aktivitas motor yang tampak tak bertujuan yang
tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
• 3. Berpose (secara sukarela mengambil dan mempertahankan sikap
tubuh tertentu yang tidak wajar)
• 4. Negativisme ( perlawanan yang jelas tidak bermotif terhadap
semua instruksi atau upaya untuk digerakan atau bergerak kearah
yang berlawanan)
• 5. Rigiditas ( Rigidity: mempertahankan sikap tubuh yang kaku
melawan upaya untuk menggerakannya)
• 6. Gejala lain seperti otomatisme terhadap perintah (command
automatism: ketaatan secara otomatis terhadap perintah), dan
perseverasi kata-kata serta kalimat
Kriteria Diagnostik
• Satu tipe Skizofrenia Katatonik yang secara klinis didomiasi oleh salah satu gejala
dibawah ini :
• 1. Stupor Katatonik
• Penurunan yang mencolok dalam reaksi terhadap lingkungan dan/atau
pengurangan dari gerakan spontan atau aktivitas atau mutisme.
• 2. Negativisme Katatonik
• Suatu perlawanan yang tanpa motif terhadap perintah atau usaha untuk
menggerakan.
• 3. Kekuatan Katatonik
• Dipertahankannya suatu postur yang kaku terhadap semua usaha untuk
menggerakkan.
• 4. Gaduh Katatonik
• Gerakan motorik yang hebat, yang tidak bertujuan dan tidak disebabkan oleh
rangsangan dari luar.
• 5. Postur Katatonik
• Mempertahankan dengan sengaja satu kedudukan tubuh yang tidak wajar dan
bizarre.
Penatalaksanaan
• Skizofrenia diobati dengan antipsikotika. Obat ini dibagi dalam 2
kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu dopamine reseptor
antagonis (DRA) atau antipsikotika generasi I (APG I) dan serotonin-
dopamine antagonis (SDA) atau antipsikotika generasi II (APG-II). Obat
APG-I disebut juga antipsikotika konvensional atau tipikal sedangkan APG-
II disebut juga antipsikotika baru atau atipkal.

• Sebaiknya skizofrenia diobati dengan APG-II dengan kisaran dosis


equivalen klorpromazin 300-600 mg/hari atau kadang-kadang mungkin
lebih. Pemeliharaan dengan dosis rendah antipsikotika diperlukan, setelah
kekambuhan pertama. Dosis pemeliharaan sebaiknya diteruskan untuk
beberapa tahun.

• Terapi darurat terdiri dari antipsikotika seperti fluefenazin (prolixin,


anantesol) 2-5 mg IM, haloperidol (haldol) 2-5 mg IM, tiotiksen (navane) 5
mg IM, semua diberikan setiap 30 menit seperlunya. Lorazepam (ativan) 1-
2 mg IM tiap 4-6 jam bermanfaat untuk katatonia.