Anda di halaman 1dari 27

REFERAT “ EPILEPSI “

Dokter Pembimbing : dr. Noorjanah Pujiastuti, Sp. S

SYARIFAH ALFI AZZULFA ALATHAS


H2A010048

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2014
DEFINISI

• Suatu keadaan yg ditandai oleh


bangkitan epilepsi berulang berselang
lebih dari 24 jam yang timbul tanpa
provokasi

• Bangkitan epilepsi ( epileptic seizure ) :


manifestasi klinik yg disebabkan oleh
aktivitas listrik otak yang abnormal dan
berlebihan dari sekelompok neuron.
EPIDEMIOLOGI

• Epilepsi merupakan salah satu kelainan


otak yang serius dan umum terjadi,
sekitar lima puluh juta orang di seluruh
dunia mengalami kelainan ini. Angka
epilepsi lebih tinggi di negara
berkembang. Insiden epilepsi di negara
maju ditemukan sekitar 50/100,000
sementara di negara berkembang
mencapai 100/100,000.
ETIOLOGI
Ditinjau dari penyebab, epilepsi dapat dibagi menjadi 3 golongan
yaitu :
• Epilepsi idiopatik : penyebabnya tidak diketahui, meliputi ±
50% dari penderita epilepsi anak dan umumnya mempunyai
predisposisi genetik, awitan biasanya pada usia > 3 tahun.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
ditemukannya alat – alat diagnostik yang canggih kelompok
ini makin kecil.
• Epilepsi simptomatik: disebabkan oleh kelainan/lesi pada
susunan saraf pusat. Misalnya : post trauma kapitis, infeksi
susunan saraf pusat (SSP), gangguan metabolik, malformasi
otak kongenital, asphyxia neonatorum, lesi desak ruang,
gangguan peredaran darah otak, toksik (alkohol,obat),
kelainan neurodegeneratif.
• Epilepsi kriptogenik: dianggap simtomatik tetapi penyebabnya
belum diketahui, termasuk disini adalah sindrom West,
KLASIFIKASI
• Klasifikasi Internasional • Kejang umum (konvulsi
Kejang Epilepsi atau non-konvulsi)
menurut International – lena/ absens
League Against
– mioklonik
Epilepsy (ILAE) 1981:
– tonik
• Kejang Parsial (fokal)
– atonik
• Kejang parsial
sederhana (tanpa – klonik
gangguan kesadaran) – tonik-klonik
• Kejang parsial • Kejang epileptik yang
kompleks (dengan tidak tergolongkan
gangguan kesadaran)
• Epilepsi Umum
Cont ... – Idiopatik
• Benign neonatal familial convulsions,
benign neonatal convulsions
• Klasifikasi Epilepsi
• Benign myoclonic epilepsy in infancy
berdasarkan Sindroma
• Childhood absence epilepsy
menurut ILAE 1989 : • Juvenile absence epilepsy
• Berkaitan dengan letak focus • Juvenile myoclonic epilepsy (impulsive
– Idiopatik petit mal)
• Epilepsy with grand mal seizures upon
• Benign childhood awakening
epilepsy with • Other generalized idiopathic epilepsies
centrotemporal spikes – Epilepsi Umum Kriptogenik atau Simtomatik
• Childhood epilepsy with • West’s syndrome (infantile spasms)
occipital paroxysm • Lennox gastaut syndrome
– Simptomatik • Epilepsy with myoclonic astatic seizures
• Epilepsy with myoclonic absences
• Lobus temporalis
– Simtomatik
• Lobus frontalis • Etiologi non spesifik
• Lobus parietalis • Early myoclonic encephalopathy
• Lobus oksipitalis • Specific disease states presenting with
seizures
PATOFISIOLOGI

Kejang disebabkan karena ada


ketidakseimbangan antara pengaruh inhibisi
dan eksitatori pada otak
Ketidakseimbangan bisa terjadi karena :
• Kurangnya transmisi inhibitori
– Contoh: setelah pemberian antagonis
GABA, atau selama penghentian
pemberian agonis GABA (alkohol,
benzodiazepin)
• Meningkatnya aksi eksitatori 
meningkatnya aksi glutamat atau aspartat
DIAGNOSIS
• Pasien didiagnosis
epilepsi jika • 3 langkah menegakkan
mengalami serangan diagnosis :
kejang secara 1. Kejadian bersifat
berulang paroksismal
• Untuk menentukan merupakan bangkitan
epilepsi
jenis epilepsinya,
selain dari gejala, 2. Apakah benar terdapat
bangkitan epilepsi ,
diperlukan berbagai
tentukan tipe bangkitan
alat diagnostik : ( ILAE 1981)
– EEG 3. Tentukan etiologi,
– CT-scan tentukan sindrom
– MRI epilepsi yang mana (
ILAE 1989 )
– Lain-lain
GEJALA

Kejang umum terbagi


atas:
• Tonic-clonic convulsion =
grand mal
– merupakan bentuk
paling banyak terjadi
– pasien tiba-tiba jatuh,
kejang, nafas terengah-
engah, keluar air liur
– bisa terjadi sianosis,
ngompol, atau menggigit
lidah
– terjadi beberapa menit,
kemudian diikuti lemah,
kebingungan, sakit
kepala atau tidur
Cont ... • Abscense attacks = petit mal
– jenis yang jarang
– umumnya hanya terjadi pada
masa anak-anak atau awal
remaja
– penderita tiba-tiba melotot, atau
matanya berkedip-kedip,
dengan kepala terkulai
– kejadiannya cuma beberapa
detik, dan bahkan sering tidak
disadari
• Myoclonic seizure
– biasanya tjd pada pagi hari,
setelah bangun tidur
– pasien mengalami sentakan
yang tiba-tiba
– jenis yang sama (tapi non-
epileptik) bisa terjadi pada
pasien normal
• Atonic seizure
– jarang terjadi
– pasien tiba-tiba kehilangan
kekuatan otot  jatuh, tapi bisa
segera recovered
ABSENCE
MYOCLONIC
Cont ...
Kejang parsial terbagi
menjadi :
• Simple partial seizures
– pasien tidak
kehilangan kesadaran
– terjadi sentakan-
sentakan pada bagian
tertentu dari tubuh
• Complex partial seizures
– pasien melakukan
gerakan-gerakan tak
terkendali: gerakan
mengunyah, meringis,
dll tanpa kesadaran
Simple partial seizure
SASARAN TERAPI
Mengontrol supaya tidak terjadi kejang dan
meminimalisasi adverse effect of drug

STRATEGI TERAPI
 mencegah atau menurunkan lepasnya muatan
listrik syaraf yang berlebihan  melalui
perubahan pada kanal ion atau mengatur
ketersediaan neurotransmitter
TATALAKSANA TERAPI
• Non farmakologi:
– Amati faktor pemicu
– Menghindari faktor pemicu (jika ada),
misalnya : stress, OR, konsumsi kopi atau
alkohol, perubahan jadwal tidur, terlambat
makan, dll.
• Farmakologi : menggunakan obat-obat
antiepilepsi
Obat-obat anti epilepsi
Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na+:
• Inaktivasi kanal Na  menurunkan kemampuan syaraf untuk
menghantarkan muatan listrik
• Contoh: fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, okskarbazepin,
valproat
Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori GABAergik:
• agonis reseptor GABA  meningkatkan transmisi inhibitori dg
mengaktifkan kerja reseptor GABA  contoh: benzodiazepin,
barbiturat
• menghambat GABA transaminase  konsentrasi GABA
meningkat  contoh: Vigabatrin
• menghambat GABA transporter  memperlama aksi GABA 
contoh: Tiagabin
• meningkatkan konsentrasi GABA pada cairan cerebrospinal
pasien  mungkin dg menstimulasi pelepasan GABA dari
non-vesikular pool  contoh: Gabapentin
DAFTAR PUSTAKA
1. Tjahjadi,P.,Dikot,Y,Gunawan,D. Gambaran Umum Mengenai
Epilepsi. In : Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press. 2005. p119-127.
2. Heilbroner, Peter. Seizures, Epilepsy, and Related Disorder,
Pediatric Neurology: Essentials for General Practice. 1st ed.
2007
3. Octaviana F. Epilepsi. In: Medicinus Scientific Journal of
pharmaceutical development and medical application. Vol.21
Nov-Des 2008. p.121-2.
4. Price dan Wilson. Patofisiologi: Konsep Klinis Prose-Proses
Penyakit. Ed: 6. Jakarta: EGC. 2006
5. Aminoff MJ dkk. Clinical Neurology. 6th ed. New York:
McGraw-Hill.
6. PERDOSSI. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Ed. 3. Jakarta.
2008
7. Guyton AC., Hall JE., Sistem saraf. In : Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran (Textbook of Medical Physiology) Edisi
11.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta. 2010