Anda di halaman 1dari 16

1

Bahan Sosialisasi

KEBIJAKAN PEMANTAUAN KREDIT DAN


PERMASALAHAN ANALISA KREDIT YANG
DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS
JASA KEUANGAN

 Otoritas Jasa Keuangan KR 3


 Surabaya, Oktober 2014

Otoritas Jasa Keuangan


PROSES PERSETUJUAN KREDIT 2

Permohonan kredit
memuat informasi lengkap dan data, informasi, dan dokumen harus
secara tertulis memenuhi persyaratan sesuai dengan diverifikasi
ketentuan

Analisis Kredit
bentuk format analisis analisis kredit peserta
kredit disesuaikan menggambarkan lengkap, akurat dan mencakup penilaian sindikasi meliputi
dengan jumlah dan konsep hubungan total obyektif 5C’s penilaian terhadap
jenis kredit. bank koordinator
sindikasi.

disusun secara tertulis berdasarkan hasil analisis kredit yang telah dilakukan.

Rekomendasi Persetujuan Kredit

Pemberian Persetujuan Kredit

harus memperhatikan analisis dan rekomendasi persetujuan setiap pemberian persetujuan kredit yang berbeda dengan
kredit. isi rekomendasi harus dijelaskan secara tertulis.

Otoritas Jasa Keuangan


PENGAWASAN KREDIT 3

Prinsip Pengawasan Kredit

Obyek Pengawasan Kredit

Cakupan Pengawasan Kredit

Audit Intern Perkreditan

Otoritas Jasa Keuangan


PRINSIP PENGAWASAN KREDIT 4

• Fungsi pengawasan kredit harus diawali dengan upaya yang bersifat pencegahan
1 dini

• Adanya sistem pengendalian intern BPR yang terkait dengan perkreditan yang
2

• Adanya mekanisme bahwa setiap pelanggaran terhadap PKPB dan prosedur


3 pelaksanaan kredit dapat segera diketahui dan dilaporkan

• Adanya kesempatan yang cukup bagi pihak yang diawasi untuk memberikan
penjelasan tentang latar belakang permasalahan dan masukan sebagai solusi
4 kedepan.

• Pengawasan kredit harus meliputi:


• Pengawasan sehari-hari oleh Direksi dan/atau pejabat (pengawasan melekat)
5 • Pengawasan yang dilakukan oleh satuan/unit kerja audit intern atau
pegawai/Direksi yang menangani audit intern

Otoritas Jasa Keuangan


OBYEK PENGAWASAN KREDIT 5

• Pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan prosedur pemberian


1 kredit serta pejabat/pegawai BPR yang terkait dengan perkreditan.

• Pengawasan terhadap semua jenis kredit dan debitur.


2

Otoritas Jasa Keuangan


CAKUPAN PENGAWASAN KREDIT 6

Kepada Internal BPR:


• proses pemberian kredit dan penagihan
• jumlah kredit yang diberikan tidak melanggar atau melampaui BMPK
• penanganan kredit bermasalah
• pelaksanaan pengadministrasian dokumen perkreditan
• penetapan kualitas kredit dan kecukupan jumlah penyisihan penghapusan kredit
• peringatan dini apabila kualitas kredit debitur berpotensi mengalami penurunan.
• kesesuaian penetapan pegawai yang menempati jenjang jabatan di bidang
perkreditan dengan kompetensinya.
• perilaku pegawai perkreditan
• kebijakan, prosedur, organisasi dan manajemen perkreditan

Kepada Eksternal BPR


• penggunaan kredit sesuai dengan tujuan penggunaan kredit sebagaimana Perjanjian
Kredit.
• perkembangan usaha debitur termasuk pemantauan
• peringatan dini secara tertulis kepada debitur apabila terjadi penurunan kualitas
kredit
• perkembangan ekonomi dan persaingan usaha debitur

Otoritas Jasa Keuangan


AUDIT INTERN PERKREDITAN 7

Fungsi audit intern

• memantau/evaluasi kinerja Sistem Pengandalian Intern termasuk organisasi dan


prosedur perkreditan

Pelaksanaan audit intern untuk meyakini bahwa :

• Pemberian kredit telah dilaksanakan dengan PKPB dan PKPB, ketentuan dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
• Kualitas kredit dan kecukupan PPAP telah sesuai ketentuan BI.
• Penilaian pemberian kredit kpd pihak terkait dgn BPR, debitur grup dan/atau
debitur besar telah sesuai PKPB dan ketentuan BMPK.
• Pemantauan pelaksanaan administrasi dokumen perkreditan telah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
• Penanganan kredit bermasalah telah sesuai dengan PKPB, ketentuan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Otoritas Jasa Keuangan


PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN 8

 Analisa kredit yang dilakukan masih bersifat normatif


dan belum dilengkapi dengan data-data pendukung
yang mencerminkan perputaran modal kerja, kondisi
usaha dan kemampuan membayar.
 Tidak terdapat laporan keuangan (home statement)
yang disampaikan oleh debitur dan data-data
pendukung keuangan sehingga mendukung keakuratan
analisa yang dibuat oleh petugas, mengingat fasilitas
kredit digunakan oleh Badan Usaha.

Otoritas Jasa Keuangan


9
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Tidak ditemukan komentar/ pendapat yang menjadi


concern atau pertimbangan Direksi dan Komisaris untuk
memberikan persetujuan kredit dalam lembar Analisis
Kredit sebagai upaya peringatan/ mitigasi kepada
pelaksana untuk melakukan monitoring usaha debitur
dengan baik.
 Jangka waktu kredit yang diberikan kepada debitur
tidak sesuai dengan ketentuan intern namun tidak
dilengkapi dengan pertimbangan pemberian
persetujuan.
Otoritas Jasa Keuangan
10
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Penilaian terhadap agunan baik berupa kendaraan


bermotor atau tanah dan/atau bangunan belum
dilengkapi dengan data pendukung yang
menggambarkan nilai pasar agunan, termasuk
pengaturan usia kendaraan bermotor yang layak
sebagai agunan kredit
 Tidak dilakukan kunjungan ulang terhadap usaha
debitur yang mengajukan perpanjangan/tambahan
kredit, sehingga tidak terdapat ulasan perkembangan
usaha debitur terkini.
Otoritas Jasa Keuangan
11
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Analisa kredit belum menggambarkan konsep hubungan


total dan memperhatikan informasi yang tercantum
dalam Sistem Informasi Debitur karena masing-masing
fasilitas kredit dianalisa tanpa saling dihubungkan
dengan fasilitas kredit lain yang diterima oleh debitur,
suami/istri debitur dan badan usaha milik debitur di
bank lain maupun fasilitas kredit sebelumnya di BPR.

Otoritas Jasa Keuangan


12
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Seluruh debitur dengan tujuan penggunaan kredit


adalah konsumtif dan sumber pengembalian kredit
adalah berasal dari gaji debitur yang dalam
melakukan analisa tidak dilengkapi dengan slip gaji
atau surat keterangan penghasilan dari calon debitur.
 Tujuan penggunaan kredit yang tercantum dalam surat
permohonan dan analisa kredit tidak dijelaskan secara
spesifik mengakibatkan bank tidak jelas dalam
melakukan monitoring kredit.

Otoritas Jasa Keuangan


13
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Tidak terdapat profil usaha debitur yang dapat


meyakinkan bahwa usaha debitur berjalan dengan baik
dan berpengalaman di bidangnya.
 Bank tidak melakukan pengecekan SID pada saat
proses pengajuan kredit sebagai salah satu
pertimbangan dalam menganalisa dan menyetujui
permohonan kredit. Pengecekan SID agar selalu
dilakukan terhadap debitur, suami/istri debitur, badan
usaha milik debitur, dan pihak-pihak yang memiliki
keterkaitan kredit dengan debitur

Otoritas Jasa Keuangan


14
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Bank melakukan upaya restrukturisasi kredit terhadap


debitur namun belum diikuti dengan pemenuhan
perhitungan biaya/kerugian yang harus dibentuk bank
di masa akan datang sesuai ketentuan PA-BPR dan SAK
ETAP.
 Terdapat analisa yang dibuat oleh petugas tanpa
mencantumkan hutang kepada bank lain, sementara
berdasarkan data SID terdapat pinjaman di bank lain
dengan kolektibilitas NPL.

Otoritas Jasa Keuangan


15
PERMASALAHAN KREDIT YANG DITEMUKAN SELAMA PEMERIKSAAN OTORITAS JASA KEUANGAN

 Penentuan plafon pinjaman dan jangka waktu pinjaman


khususnya untuk pinjaman modal kerja belum
menyesuaikan dengan aktual kebutuhan modal
usahanya. Selain itu analisa yang dilakukan masih
menggunakan pendekatan kebutuhan pribadi debitur
bukan menilai performa dan kelangsungan badan usaha
yang dijalankan oleh debitur.

Otoritas Jasa Keuangan


16

Otoritas
Jasa

Anda mungkin juga menyukai