Anda di halaman 1dari 12

KELOMPOK 3

VIRA JULIA KARTIKA BUAMONA


NOVITA INDAH SARI NUNA
SARTIKA LAMATENGGO
NURLINA RIDWAN
SARKIA PAPALIA
WAHDA KEPER
SULAIMAN
PENGERTIAN

ETIKA merupakan studi tentang nilai dengan


pendekatan kebenaran. Kata etik (atau etika) berasal
dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter,
watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika
akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu
ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-
tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar,
buruk atau baik.
MACAM-MACAM ETIKA

Etika dibagi menjadi , yaitu :

• Etika umum, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam


bidang kehidupan secara umum
• Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam
bidang kehidupan yang khusus
• Etika deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan
rasional sikap dan prilaku manusia
• Etika normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap
dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia
Kode Etik Pelayanan Kefarmasian

• Kode etik apoteker


• Kode etik asisten apoteker
Setiap kode etik memiliki tugas dan kewajibannya masing-masing.
SIAPAKAH YANG MENENTUKAN SESUATU ITU ETIS?

Bagi Apoteker
• Apoteker akan selalu dihadapkan pada hukum yang berlaku
dimana dia berada dan kadang dihukum karena melanggar hukum.
• Beberapa organisasi kesehatan sangat kuat dipengaruhi oleh
ajaran agama, yang mengakibatkan adanya kewajiban tambahan
terhadap anggotanya selain kewajiban apoteker secara umum.
• Di banyak negara organisasi yang menetapkan standar bagi
perilaku apoteker dan memonitor kepatuhan, mereka memiliki
anggota yang berpengaruh yang bukan apoteker.
APAKAH ETIKA KEFARMASIAN DAPAT BERUBAH?

Etika kefarmasian dapat berubah. Contoh keterlibatan dalam aborsi


dilarang dalam kode etik dokter sampai beberapa saat yang lalu, namun
sekarang dapat ditoleransi dalam kondisi tertentu oleh profesi kesehatan
di beberapa negara. Sedangkan dalam etika kedokteran tradisional dokter
hanya bertanggung jawab terhadap pasien mereka secara
pribadi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi medis memunculkan
masalah etis baru yang tidak dapat dijawab oleh etika kefarmasian
tradisional. Reproduksi buatan, genetika, informatika kesehatan serta
teknologi perbaikan kehidupan dan teknologi untuk memperpanjang
kehidupan, kesemuanya memerlukan keterlibatan dokter dan tenaga
kesehatan lainnya, sangat berpotensi menguntungkan pasien namun juga
sangat berpotensi merugikan pasien tergantung bagaimana
menerapkannya.
BAGAIMANA SESEORANG MEMUTUSKAN
SESUATU ITU ETIS?

Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam


mengambil keputusan etis dan dalam mengimplementasikannya.
Bagi apoteker secara pribadi dan mahasiswa farmasi,
etika kefarmasian tidak hanya terbatas pada rekomendasi-
rekomendasi yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan yang lain
karena rekomendasi tersebut sifatnya sangat umum dan setiap
orang harus memutuskan apakah hal itu dapat diterapkan pada
situasi yang sedang dihadapi atau tidak dan terlebih lagi banyak
masalah etika yang muncul dalam praktek kefarmasian yang belum
ada petunjuk bagi ikatan apoteker.
Pendekatan masalah-masalah etika

1. Pendekatan-pendekatan non-rasional:

 Kepatuhan
 Imitasi
 Perasaan atau kehendak
 Intuisi
 Kebiasaan
Lanjut…

2. Pendekatan-pendekatan rasional:

 Deontologi
 Konsekuensialisme
 Prinsiplisme
 Etika budi pekerti
TUJUAN KODE ETIK PROFESI:

1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.


2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
TUJUAN KODE ETIK:

• Melindungi anggota organisasi untuk menghadapi persaingan pekerjaan profesi


yang tidak jujur dan untuk mengembangkan tugas profesi sesuai dengan
kepentingan masyarakat.
• Menjalin hubungan bagi anggota profesi satu sama lain dan menjaga nama baik
profesi.
• Merangsang pengembangan profesi kualifikasi pendidikan yang memadai.
• Mencerminkan hubungan antara pekerjaan profesi dengan pelayanan masyarakat
dan kesejahteraan social.
• Mengurangi kesalahpahaman dan konflik baik dari antar anggota maupun dengan
masyarakat umum.
• Membentuk ikatan yang kuat bagi seuma anggota dan melindungi profesi terhadap
pemberlakuan norma hukum yang bersifat imperatif sebelum disesuaikan dengan
saluran norma moral profesi.