Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN KASUS

KARSINOMA BRONKOGENIK
Oleh:
Deska Rahmita Suganda

Pembimbing:
Dr. Dedi Rinaldi, Sp.P

Kepaniteraan Klinik Senior


Bagian Ilmu Penyakit ParuRSUD Bangkinang
Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab
2017
Definisi
• Dalam arti luas semua penyakit keganasan di
paru keganasan yang berasal dari paru sendiri
maupun keganasan dari luar paru (metastasis
tumor di paru).
• Menurut pedoman penatalaksanaan kanker paru
di Indonesia kanker paru primer tumor ganas
yang berasal dari epitel bronkus atau karsinoma
bronkus (bronchogenic carcinoma)
Epidemiologi
Etiologi dan Faktor Risiko
• Predisposisi genetik
• Gender
Laki-laki 91%
Perempuan 80%
• Riwayat merokok
Aktif 85%-87%
Pasif 3%-5%
• Faktor lingkungan
- Gas radon - Silica
- Asbestos - Berilium
- Bischloromethyl ether - Serbuk kayu
- Chromium - Vinil klorida
- Mustard gas - Polycyclic aromatic hydrocarbons
- Nickel - Radiasi ion
Deteksi Dini Kanker Paru
Sasaran untuk deteksi dini pada subyek dengan
risiko tinggi yaitu:
• Laki -laki, usia lebih dari 40 tahun, perokok
• Paparan industri tertentu
dengan satu atau lebih gejala: batuk darah,
batuk kronik, sesak napas,nyeri dada dan berat
badan menurun
Alur Deteksi Dini Kanker Paru
Patofisiologi
Diagnostik: Gambaran Klinik
• Batuk-batuk dengan/tanpa • Berat badan berkurang
dahak (dahak putih, dapat • Nafsu makan hilang
juga purulen) • Demam hilang timbul
• Batuk darah • Sindrom paraneoplastik,
• Sesak napas seperti "Hypertrophic
• Suara serak pulmonary
• Sakit dada osteoartheopathy",
• Sulit/sakit menelan trombosis vena perifer dan
neuropati..
• Benjolan di pangkal leher
• Sembab muka dan leher,
kadang-kadang disertai
sembab lengan dengan rasa
nyeri yang hebat
Pemeriksaan Fisik
• Dilakukan secara menyeluruh dan teliti
• Tumor paru ukuran kecil dan terletak di
perifer gambaran normal pada
pemeriksaan
• Tumor dengan ukuran besar, terlebih bila
disertai atelektasis sebagai akibat kompresi
bronkus, efusi pleura atau penekanan vena
kava hasil lebih informatif
Gambaran Radiologis
• Foto toraks PA/lateral tepi yang ireguler,
disertai identasi pleura, tumor satelit tumor,
invasi ke dinding dada, efusi pleura, efusi
perikardium dan metastasis intrapulmoner
• CT-Scan toraks penekanan terhadap bronkus,
tumor intra bronkial, atelektasis, efusi pleura
yang tidak masif dan telah terjadi invasi ke
mediastinum dan dinding dada meski tanpa
gejala keterlibatan KGB
• USG abdomen metastasis di hati, kelenjar
adrenal dan organ lain dalam rongga perut
Pemeriksaan Khusus
• Bronkoskopi
Semua tindakan diagnosis untuk kanker paru
diarahkan agar dapat ditentukan :
• Jenis histologis
• Derajat (staging)
• Tampilan (tingkat tampil, "performance
status")
 Jenis pengobatan dapat dipilih sesuai dengan
kondisi penderita
Jenis Histologis
• Karsinoma skuamosa (karsinoma epidermoid)
• Karsinoma sel kecil (small cell carcinoma)
• Adenokarsinoma (adenocarcinoma)
• Karsinoma sel besar (large cell carcinoma)
Klasifikasi Histologis Kanker Paru Menurut WHO tahun 1999
Penderajatan (Staging) Kanker Paru
Kategori TNM untuk Kanker Paru
T : Tumor Primer
To : Tidak ada bukti ada tumor primer
Tx : Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari penemuan sel tumor
ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi tidak tampak secara radilogis atau
bronkoskopik.
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm, dikelilingi oleh jaringan
paru atau pleura viseral dan secara bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari
bronkus lobus (belum sampai ke bronkus lobus (belum sampai ke bronkus utama).
Tumor supervisial sebarang ukuran dengan komponen invasif terbatas pada dinding
bronkus yang meluas ke proksimal bronkus utama
T2 : Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut :
- Garis tengah terbesar lebih dari 3 cm
- Mengenai bronkus utama sejauh 2 cm atau lebih distal dari karina mengenai pleura
viseral
- Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif yang meluas ke daerah
hilus, tetapi belum mengenai seluruh paru.
T3 : Tumor sebarang ukuran, dengan perluasan langsung pada dinding dada (termasuk
tumor sulkus superior), diafragma, pleura mediastinum atau tumor dalam bronkus
utama yang jaraknya kurang dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor yang
berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif seluruh paru.
T4 : Tumor sebarang ukuran yang mengenai mediastinum atau jantung, pembuluh besar,
trakea, esofagus, korpus vertebra, karina, tumor yang disertai dengan efusi pleura
ganas atau satelit tumor nodul ipsilateral pada lobus yang sama dengan tumor
primer.
N : Kelenjar getah bening regional (KGB)
Nx : Kelenjar getah bening tak dapat dinilai
No : Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening
N1 : Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau hilus ipsilateral,
termasuk perluasan tumor secara langsung
N2 : Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum ipsilateral dan/atau KGB
subkarina
N3 : Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau KGB skalenus/supraklavila
ipsilateral / kontralateral
M : Metastasis (anak sebar) jauh.
Mx : Metastasis tak dapat dinilai
Mo : Tak ditemukan metastasis jauh
M1 : Ditemukan metastasis jauh. “Metastastic tumor nodule”(s) ipsilateral di luar lobus
tumor primer dianggap sebagai M1.
Tampilan
Alur Tindakan Diagnosis Kanker Paru
Diagnosis Banding

• Abses Paru
• Pneumonia Bakterial
• Tuberkulosis
• Bronkitis Kronik
Pengobatan

• Pengobatan ca paru combined modality


therapy (multi-modaliti terapi)
• Bukan hanya diharapkan pada jenis histologis,
derajat dan tampilan penderita saja tetapi
juga kondisi non-medis seperti fasiliti yang
dimiliki rumah sakit dan ekonomi penderita
juga merupakan faktor yang amat
menentukan.
• Pembedahan
Indikasi: stadium I dan II
Prinsip: sedapat mungkin tumor direseksi
lengkap berikut jaringan KGB
intrapulmoner, dengan lobektomi
maupun pneumonektomi.
Radioterapi
• Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000–
6000 cGy, dengan cara pemberian 200 cGy/x, 5 hari
perminggu
• Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah :
1. Hb > 10 g%
2. Trombosit > 100.000/mm3
3. Leukosit > 3000/dl
• Radiasi paliatif diberikan pada unfavourable group, yakni :
1. PS < 70
2. Penurunan BB > 5% dalam 2 bulan
3. Fungsi paru buruk
Kemoterapi
• Dapat diberikan pada semua kasus kanker
paru
• Syarat utama ditentukan jenis histologis
tumor dan tampilan (performance status)
harus lebih dan 60 menurut skala Karnosfky
atau 2 menurut skala WHO.
• Dilakukan dengan menggunakan beberapa
obat antikanker dalam kombinasi regimen
kemoterapi
• Prinsip pemilihan jenis antikanker dan pemberian
sebuah regimen kemoterapi adalah:
1. Platinum based therapy (cisplatin atau
karboplatin)
2. Respons obyektif satu obat antikanker s 15%
3. Toksisiti obat tidak melebihi grade 3 skala
WHO
4. Harus dihentikan atau diganti bila setelah
pemberian 2 sikius pada penilaian terjadi
tumor progresif.
• Regimen untuk KPKBSK adalah:
1. Platinum based therapy (cisplatin atau
karboplatin)
2. PE (sisplatin atau karboplatin + etoposid)
3. Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin
4. Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin
5. Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin
Syarat standar yang harus • Granulosit > 1500/mm3
dipenuhi sebelum kemoterapi • Trombosit > 100.000/mm3
• Tampilan > 70-80, pada • Fungsi hati baik
penderita dengan PS < 70 atau • Fungsi ginjal baik (creatinin
usia lanjut, dapat diberikan clearance lebih dari 70
obat antikanker dengan ml/menit)
regimen tertentu dan/atau
jadual tertentu.
• Hb > 10 g%, pada penderita
anemia ringan tanpa
perdarahan akut, meski Hb <
10 g% tidak pertu tranfusi
darah segera, cukup diberi
terapi sesuai dengan penyebab
anemia.
Alur Penatalaksanaan Kanker Paru Jenis Karsinoma
Bukan Sel Kecil
Penatalaksanaan pada Keadaan Khusus
Pencegahan

• Penelitian tentang rokoklebih dari 63 jenis


bahan yang dikandung asap rokok itu bersifat
karsinogenesis.
• Secara epidemiologik kaitan kuat antara
kebiasaan merokok dengan insidens kanker paru
• Keterkaitan rokok dengan kasus kanker paru
diperkuat dengan data bahwa risiko seorang
perempuan perokok pasif akan terkena kanker
paru lebih tinggi daripada mereka yang tidak
terpajan kepada asap rokok.
• Menghindarkan asap rokok adalah kunci
keberhasilan pencegahan yang dapat dilakukan.
• Pencegahan utama kanker paru berupa upaya
memberantas kebiasaan merokok.
• Menghentikan seorang perokok aktif adalah
sekaligus menyelamatkan lebih dari seorang
perokok pasif. Pencegahan harus diusahakan
sebagai usaha perang terhadap rokok dan
dilakukan terus menerus.
Komplikasi

• Empiema
• Abses paru
• Hematotoraks
Prognosis

• Kanker paru sangat mematikan. Di Eropa, tingkat


kelangsungan hidup untuk 5 tahun secara keseluruhan
adalah 11%.
• Perkiraan tingkat harapan hidup dalam 5 tahun dari tiap
stadium adalah sebagai berikut (Tan, 2016):
IA 75%
IB 55%
IIA 50%
IIB 40%
IIIA 10-35%
IIIB <55
IV <5%
ILUSTRASI KASUS
• I. IDENTITAS PASIEN
• Nama : Tn. B
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Umur : 70 tahun
• Alamat : Batu Belah
• Pekerjaan : Petani
• Agama : Islam
• Bangsal : Pejuang
• No. RM : 133073
• Tgl. Masuk : 29 Agustus 2017
ANAMNESIS (autoanamnesis)
• Anamnesis dilakukan pada tanggal 31 Agustus
2017 pukul 13.00 WIB
• Keluhan utama
• Sesak napas
Riwayat penyakit sekarang
• Pasien datang ke RSUD Bangkinang • Dada terasa panas 5 hari SMRS
melalui IGD dengan keluhan sesak • Nyeri ulu hati 5 hari SMRS dan
napas yang semakin memberat 2 hari memberat ketika makan
SMRS • Mual dan Muntah 1x sejak 5 hari
• 3 bulan SMRS, pasien juga ada yang lalu, berisi cairan
mengeluh sesak napas • Nafsu makan menurun 1 minggu
• Sesak napas dirasakan seperti SMRS
terhimpit, tidak berkurang dengan • Penurunan berat badan 6 kg dalam 2
istirahat, diperberat ketika sedang bulan terakhir. Berat badan awal 62
batuk dan tidak berhubungan dengan kg dan berat badan sekarang 56 kg
posisi tubuh ataupun perubahan
cuaca • BAB ada, namun feses dalam jumlah
• Nyeri dada sebelah kiri 1 minggu sedikit
SMRS, dirasakan seperti tersayat • BAK dalam batas normal
pisau dan menjalar sampai ke bagian
ketiak sebelah kiri dan lengan bawah
kiri, diperberat ketika sedang batuk
dan menarik napas
Riwayat Penyakit Dahulu
• 1 bulan sebelumnya, pasien • Hasil CT Scan menunjukkan Ca
pernah dirawat di RSUD bronkogenik dan pasien
Bangkinang selama 2 hari dengan dianjurkan melakukan
kemoterapi sebanyak 9 kali.
keluhan yang sama dan dicurigai Namun, pasien hanya
oleh dokter dengan Ca melakukan 1 kali dikarenakan
bronkogenik melalui gambaran badan pasien tidak kuat untuk
rongten thorax. menempuh perjalanan jauh ke
• Pasien dirujuk ke RS Ibnu Sina Bukit Tinggi
Bukit Tinggi untuk dilakukan • Riwayat penyakit TB paru (-)
pemeriksaan CT Scan dan • Riwayat penyakit jantung (-)
pemeriksaan bronkoskopi. • Riwayat penyakit ginjal (-)
• Hasil pemeriksaan bronkoskopi • Riwayat hipertensi (-)
menunjukkan squamous cell • Riwayat penyakit DM (-)
carcinoma • Riwayat penyakit asma (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
• Tidak ada keluarga yang mengeluhkan hal
serupa dengan pasien
• Riwayat penyakit TB paru dalam keluarga (-)
• Riwayat penyakit jantung dalam keluarga (-)
• Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga (-)
• Riwayat hipertensi dalam keluarga (-)
• Riwayat penyakit DM dalam keluarga (-)
• Riwayat penyakit asma dalam keluarga (-)
Riwayat Pribadi dan Sosial Ekonomi
• Pasien bekerja sebagai penoreh getah
• Biaya kesehatan ditanggung oleh BPJS
• Riwayat kebiasaan merokok dari usia 10
tahun, 3 bungkus dalam sehari dan mulai
berhenti sejak 3 bulan ini
• Indeks Brinkman (IB)= 16 (batang rokok) x 69
(tahun)= 1.104 Perokok Berat
III. PEMERIKSAAN TANDA VITAL
(VITAL SIGN)
• Dilakukan pada tanggal : 31 Agustus 2017
pukul 13.00 WIB
• Tekanan darah : 120/80 mmHg
• Suhu tubuh : 36,5oC
• Frekuensi denyut nadi : 103 kali/menit
• Frekuensi nafas : 26 kali/menit
IV. PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK
• IV. A. Keadaan Umum
• Kesadaran : Composmentis
• Keadaan umum : Tampak sakit berat
• Tinggi badan : 165 cm
• Berat badan : 56 kg
• Status Gizi (IMT) : 20,58 (normoweight)
IV.B. Pemeriksaan Kepala
• Bentuk kepala : Normochepal
• Rambut : Warna putih, mudah rontok (+)
• Mata : Udem palpebra (-/-), konjungtiva
anemis (+/+), sklera ikterik(-/-), respon pupil terhadap
cahaya (+/+), pupil isokor, diameter 2 mm.
• Hidung : Sekret (-/-), deviasi septum (-)
• Mulut : Bibir kering (-), bibir sianosis (-),
lidah kotor (-), mukosa tidak hiperemis.
• Telinga : Sekret (-/-), deformitas (-/-), nyeri
tekan (-/-)
IV.C. Pemeriksaan Leher
• Inspeksi : Leher tampak simetris,
benjolan/massa (-), peningkatan JVP (+) 5+0
mmH2O
• Palpasi : Massa (-), nyeri tekan (-),
pembesaran kelenjar getah bening (-)
• Pem. Trakea: Posisi trakea simetris, deviasi
trakea (-)
• Pem. Kel. tiroid : Pembesaran kelenjar tiroid
(-), nyeri tekan (-)
IV.D. Pemeriksaan Thoraks
Thoraks Anterior
• Inspeksi : Statis Dinding thoraks tampak
simetris kanan dan kiri, scar (-/-), retraksi dinding
dada (-/-). Dinamis Gerakan dinding thoraks kiri
tertinggal dari kanan
• Palpasi : Fremitus taktil kiri meningkat dari kanan
• Perkusi : Redup di lobus superior paru kiri, sonor di
lobus inferior paru kiri dan lobus paru kanan
• Auskultasi : Suara napas bronkial di paru kiri,
ronchi (+/+), suara napas vesikuler di paru kanan
Thoraks Posterior
• Inspeksi : Statis Dinding thoraks tampak
simetris kanan dan kiri, scar (-/-), retraksi dinding
dada (-/-). Dinamis Gerakan dinding thoraks kiri
tertinggal dari kanan
• Palpasi : Fremitus taktil kiri meningkat dari kanan
• Perkusi : Redup di lobus superior paru kiri, sonor
di lobus inferior paru kiri dan lobus paru kanan
• Auskultasi : Suara napas bronkial di paru kiri,
ronchi (+/+), suara napas vesikuler di paru kanan
Jantung
• Inspeksi : Ictus cordis tampak
• Palpasi : Ictus cordis kuat angkat, teraba
di RIC V linea midclavikula sinistra
• Perkusi : Atas jantung: RIC II sinistra
• Kanan jantung : Linea parasternalis dextra
• Kiri jantung : 1 jari medial linea midclavicularis
sinistra
• Auskultasi : BJ I dan II regular, bising (-)
IV.E. Pemeriksaan Abdomen
• Inspeksi : Bentuk perut cekung, scar (-)
• Auskultasi : Bising usus (+)
• Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (-), nyeri
tekan lepas (-)
• Perkusi : Timpani di seluruh regio abdomen,
kecuali region hipokondrium kanan redup
• Pem. Ginjal : Tidak teraba kanan dan kiri, nyeri
ketok ginjal (-/-)
• Pem. Hepar : Hepatomegali (-)
• Pem. Lien : Splenomegali (-)
IV.F. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin (-/-) (-/-)
Edema (-/-) (-/-)
Sianosis (-/-) (-/-)
Pucat (-/-) (-/-)
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• V.A. Pemeriksaan Laboratorium Fungsi Ginjal
• Tanggal 29 Agustus 2017 Pukul • Creatinin : 0.8 mg/dL
17:02 WIB • Ureum : 1.8 mg/dL

Darah Lengkap Diabetes


• Hemoglobin : 10.6 gr% • Gluksa Darah Sewaktu 129 mg/dL
• Leukosit : 7.2 10^3/mm3
• Hematokrit : 30.8% Kesan: Anemia + Trombositosis +
• Trombosit : 489 10^3/mm3 Peningkatan fungsi hati

Fungsi Hati
• SGOT : 38 U/L
• SGPT : 62 U/L
V.B. Pemeriksaan Radiologi
Pulmo:
• Tampak massa radioopak, bentuk
bulat dengan ukuran 8cm x 8cm
di lobus superior pulmo sinistra
dengan gambaran ball lesion.
Cor:
• CTR 48%, kardiomegali (-)
Diafragma:
• Permukaan licin, Sudut
costophrenicus lancip kanan dan
kiri, Diafragma setinggi costa IX di
posterior.

Kesan: Tumor Paru Sinistra


• Tampak massa di segmen
paru kiri dengan batas
sebagian tidak tegas disertai
dengan infiltrat di
sekitarnya. Ukuran 8,4 x 7,1
x 9,4 cm.
• Kesan: Massa Paru Kiri
V.C. Pemeriksaan Histopatologi
Makroskopik:
• 2 potong jaringan ukuran 0,2cm x 0,2cm x 0,1cm
Mikroskopik:
• Tampak potongan jaringan dengan permukaan dilapisi
epitel skuamosa yang mengalami proliferasi dengan
susunan ireguler, inti besar, pleomorfik, sebagian
hiperkromatik, sebagian vesikuler dengan nucleoli
nyata, membrane inti ireguler, sitoplasma eosinofilik.
Sel-sel ini tumbuh infiltratif di antara stroma
membentuk pulau-pulau epitel. Stroma besebukan
limfosit dan sel plasma.
Kesan: Squamous Cell Carcinoma
VI. DIAGNOSIS
Ca Bronkogenik, Jenis Squamous Cell Carcinoma,
T3NXMX, Stadium minimal III+gastritis.
VII. FOLLOW UP PASIEN
Follow up Keterangan
29/8/2017 S : Sesak napas, nyeri dada kiri, dada terasa panas, nyeri ulu
hati, mual, muntah 1x, nafsu makan menurun.
O : TD : 120/80 mmHg
HR : 103 x/menit
RR : 26 x/menit
T : 36,5oC
Rhonki (-/+)
A : Ca Bronkogenik+gastritis
P : Tirah Baring
Diet MLTKTP
O2 2-4 L/pm
IVFD D5% 20 gtt/i
Inj. Omeprazol 40 mg/24 jam/IV
Inj. Ondansetron 4 mg/12 jam/IV
Antacid syr. 3xCI
Proliva 3x1
30/8/2017 S : Badan lemas, sesak napas, nyeri dada kiri, mual, tidak
mau makan
O : TD : 120/80 mmHg
HR: 96x/menit
RR : 22 x/menit
T : 36,4 C
Rhonki (-/+)
A : Ca Bronkogenik+Gastritis
P : Tirah Baring
Diet MLTKTP
O2 2-4 L/pm
IVFD D5% 20 gtt/i
Inj. Omeprazol 40 mg/24 jam/IV
Inj. Ondansetron 4 mg/12 jam/IV
Antacid syr. 3xCI
Proliva 3x1
Rujuk ke RSUD AA dari poli jika kondisi stabil
31/8/2017 S : Nyeri dada kiri, mual, badan lemas, nafsu makan
menurun
O : TD : 120/70 mmHg
HR : 97 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36,6 C
Rhonki (-/+)
A : Ca Bronkogenik+Gastritis
P : Tirah Baring
Diet MLTKTP
IVFD D5% 20 gtt/i
Inj. Omeprazol 40 mg/24 jam/IV
Inj. Ondansetron 4 mg/12 jam/IV
Antacid syr. 3xCI
Proliva 3x1
MST 15 mg 2x1
Rujuk ke RSUD AA dari poli jika kondisi stabil
1/9/2017 S : Nyeri dada kiri, mual ↓, badan lemas
O : TD : 110/80 mmHg
HR : 98 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36,6 C
Rhonki (-/+)
A : Ca Bronkogenik+Gastritis
P : Tirah Baring
Diet MLTKTP
IVFD D5% 20 gtt/i
Inj. Omeprazol 40 mg/24 jam/IV
Inj. Ondansetron 4 mg/12 jam/IV
Antacid syr. 3xCI
Proliva 3x1
MST 15 mg 2x1
Rujuk ke RSUD AA dari poli jika kondisi stabil
2/9/2017 S : Nyeri dada kiri ↓, mual ↓, nafsu makan sudah ada
O : TD : 120/80 mmHg
HR : 98 x/menit
RR : 18 x/menit
T : 36,5 C
Rhonki (-/+)
A : Ca Bronkogenik+Gastritis
P : Omeprazol tablet 20 mg 1x1
Antacid syr. 3xCI
Proliva 3x1
MST 15 mg 2x1
Pasien boleh pulang dan kontrol ke poli paru untuk di
rujuk ke RSUD AA Pekanbaru
PEMBAHASAN
• Telah dilporkan seorang laki-laki usia 70 tahun, dengan
keluhan sesak napas sejak 3 bulan yang lalu, memberat dua
hari ini. Sesak napas dirasakan seperti terhimpit, tidak
berkurang dengan istirahat, diperberat ketika sedang batuk
dan tidak berhubungan dengan posisi tubuh ataupun
perubahan cuaca. Nyeri dada sebelah kiri 1 minggu SMRS,
dirasakan seperti tersayat pisau dan menjalar sampai ke
bagian ketiak sebelah kiri dan lengan bawah kiri, diperberat
ketika sedang batuk dan menarik napas. Dada terasa panas
5 hari SMRS. Nyeri ulu hati 5 hari SMRS dan memberat
ketika makan. Mual dan Muntah 1x sejak 5 hari yang lalu,
berisi cairan. Nafsu makan menurun 1 minggu SMRS.
Penurunan berat badan 6 kg dalam 2 bulan terakhir. Berat
badan awal 62 kg dan berat badan sekarang 56 kg.
• Hasil foto toraks di RSUD Bangkinang menunjukkan
tumor paru sinistra. Pemeriksaan CT Scan toraks di RS
Ibnu Sina Bukit Tinggi menunjukkan massa di paru kiri
berukuran 8,4 x 7,1 x 9,4 cm. Hasil pemeriksaan
histopatologi menunjukkan Squamous Cell Carcinoma,
tampak potongan jaringan dengan permukaan dilapisi
epitel skuamosa yang mengalami proliferasi dengan
susunan ireguler, inti besar, pleomorfik, sebagian
hiperkromatik, sebagian vesikuler dengan nucleoli
nyata, membrane inti ireguler, sitoplasma eosinofilik.
Sel-sel ini tumbuh infiltratif di antara stroma
membentuk pulau-pulau epitel. Stroma besebukan
limfosit dan sel plasma
• Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah
tirah baring, diet MLTKTP, O2 2-4 L/pm, IVFD
D5% 20 gtt/I, inj. Omeprazol 40 mg/24 jam/IV,
inj. Ondansetron 4 mg/12 jam/IV, antacid syr.
3xCI, proliva 3x1 dan setelah kondisi pasien
stabil, pasien dirujuk ke RSUD AA Pekanbaru
melalui poli untuk menjalani kemoterapi.