Anda di halaman 1dari 30

Rhinosinusitis Kronis

Pembimbing : dr. Ismi Cahyadi,Sp.THT-KL

Disusun oleh : Aditya Naufal Ramzy


Latar Belakang
 Rhinosinusitis adalah penyakit peradangan mukosa yang melapisi hidung dan
sinus paranasalis. Dokter harus mempunyai pengetahuan yang baik
mengenainya, sehingga bisa menangani kasus tersebut, agar tidak menimbulkan
berbagai komplikasi.
 Sejak pertengahan tahun 1990-an, istilah “sinusitis” diganti menjadi
“Rhinosinusitis”. karena:
1). Secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung
2). Sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis
3). Gejala-gejala obstruksi nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis
ataupun sinusitis
ANATOMI HIDUNG
• Hidung Luar
• Hidung Dalam
Sinus Paranasal
Osteomeatal Kompleks
Osteomeatal Kompleks
 Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-
meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis,
bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya
dan ostium sinus maksila.
Fisiologi Sinus Paranasal
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori
fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal
adalah :
1. Air conditioning
2. Sebagai penahan suhu
3. Membantu keseimbangan kepala
4. Membantu resonansi suara
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
6. Membantu produksi mukus
Definisi Rhinosinusitis
Inflamasi hidung dan sinus paranasal yang ditandai
adanya dua atau lebih gejala, salah satunya harus termasuk
sumbatan hidung/ obstruksi nasi/ kongesti atau pilek
(sekret hidung anterior/ posterior).
Epidemiologi Rhinosinusitis
 Di Eropa

Insiden rinosinusistis akut dan kronis terus meningkat,


diperkirakan sekitar 10 - 15 % terjadi pada populasi di
Eropa Tengah setiap tahunnya.

 Di Indonesia

Januari-Desember 2009 tercatat 260 kasus, terdiri dari


121 laki-laki dan 139 perempuan
Etiologi Rhinosinusitis
Rinogen
• Obstruksi ostium sinus, infeksi, fraktur

Dentogen
• Infeksi gigi molar, infeksi gigi premolar

Infeksi Tenggorokan
• Tonsilitis, infeksi faring, adenoiditis
Patofisiologi Rhinosinusitis
Mukosa Silia tidak Lendir tdk gg. Drainase
KOM
KOM dapat bisa & ventilasi
oedem
terinfeksi bergerak dialirkan di dlm sinus

Produksi
Sumbatan
Infeksi bakteri Retensi mukosa sinus
Hipoksia terjadi terus
anaerob Lendir lebih kental
menerus

Jaringan
hipertrofi
polipoid atau
kista
Patogenesis Rhinosinusitis
Klasifikasi Rhinosinusitis
Menurut The Rhinosinusitis Task Force (RSTF):1,2

1. RS akut : 4 minggu

2. RS subakut : > 4-12 minggu

3. RS kronik : > 12 minggu

4. RS akut rekuren : ≥ 4 episode per tahun; tiap episode ≥ 7-10


hari resolusi komplit di antara episode

5. RS kronik eksaserbasi akut : perburukan gejala tiba-tiba dari RS


kronik dengan kekambuhan berulang setelah pengobatan
 Subklasifikasi lebih lanjut dari RS kronik adalah:
1. RS kronik dengan polip
2. RS kronik tanpa polip

 Klasifikasi sinusitis yang disebabkan oleh jamur dikategorikan ke


dalam 3 grup:
1. Sinusitis jamur invasif
2. Fungus ball
3. Allergic fungal rhinosinusitis (AFRS)
Diagnosis Rhinosinusitis
 Kriteria diagnosis:1

1. Dua gejala mayor atau kombinasi satu gejala mayor dan dua
gejala minor (sangat mendukung riwayat Rhinosinusitis)

2. Adanya nyeri wajah saja tapi tidak disertai gejala mayor hidung
atau lainnya (tidak mendukung riwayat Rhinosinusitis)

3. Adanya demam saja tapi tidak disertai gejala mayor hidung atau
lainnya (tidak mendukung riwayat Rhinosinusitis).
Rhinosinusitis Akut Rhinosinusitis Kronik
 Infeksi virus pada saluran napas
• Gejala lebih dari 12 minggu
atas
• Dua atau lebih gejala,
 Gejala kurang dari 12 minggu
• Dengan validasi anamnesis
 Onset tiba-tiba dari dua atau
tentang gejala alergi,
lebih gejala
 Dengan interval bebas gejala bila
• Pada anak-anak harus

terjadi rekurensi ditanyakan faktor predisposisi

 Dengan validasi per-telepon


lain seperti defisiensi imun dan

atau anamnesis tentang gejala GERD

alergi
 Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan hidung: edema, hiperemis, pus, dapat
ditemukan polip nasi  kelainan selaput permukaan hidung
berupa massa lunak yang bertangkai berbentuk
bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan
dengan permukaan licin dan agak bening karena
mengandung banyak cairan
2. Pemeriksaan mulut (post nasal drip)

 Pemeriksaan Penunjang

1. Evaluasi Endoskpoik
2. Foto polos sinus paranasal
3. Pemeriksaan Laboratorium
Ethmoid Sinus

Uncinate Process

Infundibulum
Middle Turbinate

Inferior Turbinate Maxillary sinus


Nasal Septum
Penatalaksanaan Rhinosinusitis
Medikamentosa
Rhinosinusitis Kronis
Rhinosinusitis Akut
 Terapi tambahan meliputi cuci hidung hidung
 Pemilihan AB tergantung beratnya penyakit dan
dan irigasi, analgesik, mukolitik, dekongestan
riwayat pemakaian AB dalam 4-6 minggu
oral
1. Ringan dan tidak ada riwayat pemakaian AB.
 Antimikroba.
2. Sedang dan ada riwayat pemakaian AB.
 Kortikosteroid.
 Terapi tambahan meliputi cuci hidung dan
 Penatalaksanaan alergi.
irigasi, analgesik, mukolitik, dekongestan oral
 Terapi tambahan. Irigasi nasal dan mukolitik
(guaifenesin).
Sinusitis jamur meliputi:

1. Sinusitis jamur invasif

a. Debridemen (bila perlu termasuk kavum orbita)

b. Terapi antifungal secara intavena

c. Stabilisasi penyakit immunocompromised

d. Stabilasi penyakit diabetes

2. Fungal ball. Dilakukan ekstirpasi komplit dari massa jamur.

3. Allergic fungal rhinosinusitis (AFRS)

e. Pembedahan primer diikuti pemberian steroid nasal topikal pasca operasi

f. Imunoterapi dan steroid sistemik (bila perlu) untuk mengurangi rekurensi

g. Antifungal topikal juga dapat diberikan


Pembedahan :
1. Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)
FESS adalah tindakan pembedahan pada rongga hidung dan atau
sekitarnya dengan bantuan endoskop fiber optik.8
Indikasi pendekatan endoskopi sama dengan pendekatan intranasal
dan eksternal yang lain dan secara umum meliputi :2,8
a. Sinusitis akut rekuren
b. Sinusitis kronis
c. Sinusitis karena jamur alergi
d. Rhinosinusitis hipertrofi kronis (polip)
e. Polip antrokoanal
f. Mukokel di dalam sinus
ProsedurTerbuka
a. Antrostomi
Indikasi operasi adalah membuat lubang ke sinus maksilaris
sebagai upaya memfasilitasi pengeluaran pus dan atau
memperbaiki drainase.
b. Antrotomi Caldwell-Luc
 Indikasi operasi:
 Tumor jinak
 Empiema kronis yang resisten dengan pengobatan
konservatif
 Fraktur komplikata maksila
 Eksplorasi
Komplikasi Rhinosinusitis

Lokal

Descending
Orbital
Infection
Komplikasi

Fokal Intakranial
Prognosis Rhinosinusitis
 Prognosis Rhinosinusitis akut adalah sangat baik, kira-kira

70%

 RS kronik memiliki masalah yang lebih rumit.

 Bagaimana pun, penyakit ini sering kambuh, sehingga

tindakan preventif adalah hal yang sangat penting.

Anda mungkin juga menyukai