Anda di halaman 1dari 38

PRESENTASI KASUS

KASUS MEDIK
SINUSITIS MAKSILARIS & FRONTALIS BILATERAL

Diajukan Kepada:
dr. Hendryk Kwandang, M.Kes
dr. Benidiktus Setyo Untoro

Disusun Oleh:
dr. Lustyafa Inassani Alifia

RSUD KANJURUHAN KEPANJEN


KABUPATEN MALANG
2017
PENDAHULUAN
Sinusitis  Radang pada mukoperios sinus paranasal

•Sinus maksila
•Sinus frontalis
•Sinus etmoidalis Pansinusitis
•Sinus spheniod

Sinusitis
frontalis

Sinusitis
ethmoidalis Infeksi gigi

Sinusitis Rhinitis
sphenoidalis Infeksi faring
Sinusitis maksilaris
Dll (berenang, trauma,
barotrauma)
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama :Ny. Y
Usia :31 tahun
Alamat : Pagelaran
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Penjual di kantin sekolah
No. Rekam Medis : 4472xx
Tanggal Pemeriksaan: 15 Januari 2018
Anamnesis
Keluhan Utama: Kedua hidung buntu

Riwayat Penyakit Sekarang:


•Pasien datang ke Poli THT RSUD Kanjuruhan dengan keluhan hidung buntu
kanan dan kiri sejak tiga minggu yang lalu. Awalnya pasien hanya merasa pilek
biasa, namun semakin lama keluhan tersebut bertambah berat hingga pasien
merasa sulit bernapas. Menurut pasien buntu ada kedua hidung ini sama
beratnya pada hidung kanan dan kiri.

•Pasien juga mengeluh kadang hidungnya keluar ingus berwarna kuning


kehijauan disertai bau busuk. Pasien mengaku lima hari ini penciumannya
berkurang. Selain itu, pasien merasa kemeng di daerah pipi dan dahi, yang
diperberat ketika pasien menunduk seperti gerakan sujud dan rukuk saat sholat.
Pasien mengeluh nyeri kepala, semakin berat jika menunduk dan berkurang
saat istirahat. Pasien merasa di pipi terasa penuh dan tertekan. Pasien sudah
membeli obat flu di apotek namun keluhan tidak berkurang.

•Keluhan nyeri pada telinga disangkal, keluar cairan dari telinga disangkal,
grebeg-grebeg pada telinga disangkal, keluhan nyeri tenggorokan disangkal,
keluhan batuk disangkal, keluhan sulit menelan disangkal, keluhan demam
disangkal, keluhan gigi berlubang disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengaku belum pernah merasakan keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Ibu pasien menderita asma, serangan terutama ketika terkena debu rumah.

Riwayat Penyakit Pengobatan:


Pasien mengaku sering mengkonsumsi obat warung untuk menghlangkan sakit
kepalanya dan flu

Riwayat Penyakit Pengobatan:


Pasien memiliki alergi terhadap dingin, ketika pagi hari dan malam hari pasien
sering bersin-bersin. Sering menggosok-gosok hidng (+)
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital:
Frekuensi nadi : 78 x/menit, reguler, isi cukup
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Frekuensi nafas : 16 x/menit, reguler
Suhu Axilla : 36,5º C
Status Generalis:
Kepala& Leher : Normochepali, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Thorax : Cor : S1, S2 single, mur-mur (-) gallop (-)
Pulmo:Vesikuler breath sound (+|+) Rh -|- Wh -|-
Abdomen : Flat, soefl, BU (+) N
Ektremitas : Akral hangat kering merah, CRT <2’’ ed -|-
Status Lokalis
TELINGA
Dextra Sinistra
Radang (-), nyeri tekan tragus (-
Aurikula Radang (-), nyeri tekan tragus (-)
)
Retroaurikula Radang (-), nyeri tekan (-) Radang (-), nyeri tekan (-)

Meatus akustikus
Mukosa hiperemi (-) Mukosa hiperemi (-)
eksternus

Membran Utuh, hiperemis (-), reflex cahaya Utuh, hiperemis (-), reflex cahaya
timpani jam 5, warna putih mengkilat jam 7, warna putih mengkilat
HIDUNG
Sekret (-), massa (-),hiperemis (+) Sekret (-) massa (-) hiperemis (-)
Vestibulum
Allergic crease (-) Allergic crease (-)
Konka inferior Edem konka (+), hiperemis (+) Edem konka (+), hiperemis (+)
Meatus nasi
Pus (-), polip (-) Pus (-), polip (-)
media
Kavum nasi Sekret (-) Sekret (-)
Mukosa Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Sekret - -
Septum normal normal
FARING

Arkus faring DBN DBN

T1, hiperemi (-), kripta (-), T1, hiperemi (-), kripta (-),
Tonsil
detritus (-), permukaan rata detritus (-), permukaan rata

Uvula Simetris, hiperemi (-), oedem (-)

Palatum mole Simetris, hiperemi (-)

Dinding faring Mukosa halus, hiperemi (-), refleks muntah +/+


Regio facialis
Regio Fasialis:
Inspeksi : Pembengkakan pipi (-), deformitas wajah (-) Allergic shiners (+)
Palpasi : Nyeri tekan maksila dextra (+) Nyeri tekan regio frontalis (+)
Pemeriksaan Gigi : Lengkap , caries gigi (-)
Pemeriksaaan Penunjang: Foto waters
Foto waters: -Tampak perselubungan pada sinus
frontalis da maksillaris dextra/sinistra
-Sinus-sinus lain tidak tampak kelainan
-Mukosa nasal menebal
-Tidak tampak deviasi septum nasi

Kesimpulan: Sinusitis frontalis dan maksillaris bilateral


dengan air fluid level di sinus maksilaris bilateral.
Diagnosis
-Sinusitis Maxilaris dan Sinusitis Frontalis bilateral
-Rhinitis Alergi

Diagnosis banding
Polip nasal

Diagnosis banding
Co Amoxiclav 3x625 mg
Na diclofenac 2x50 mg
Nasacort spray 1x1
Cetirizine 1x10 mg
Kontrol 1 minggu  pro irigasi sinus
Monitoring
 Keluhan subjektif (Hidung tersumbat, produksi sekret, pembauan)
 Tanda-tanda rekurensi (keluhan subjektif berulang)

Edukasi
Edukasi bahwa penyakit yang diderita pasien disebabkan infeksi kuman pada
suatu ruangan di bagian wajah. Penyakit ini bisa di sembuhkan.
Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi keluhan, dan membunuh
kuman penyebab infeksi.
Pasien dianjurkan untuk istirahat yang cukup agar kondisi tubuh dapat prima
sehingga proses penyembuhan penyakit dapat cepat berjalan.
Kompres air hangat pada wajah untuk meringankan gejala.
Antibiotik harus diminum sampai habis walaupun gejala sudah hilang agar
penyembuhan berlangsung baik dan tidak terjadi komplikasi.
Menghindari hal-hal yang dapat mencetuskan pilek dan batuk dengan cara
menjaga kebersihan diri serta segera berobat jika mengalami batuk dan pilek.
Menjelaskan kepada pasien untuk menghindari alergen penyebab alergi pasien
Menjelaskan untuk kontrol 1 minggu
Prognosis  Dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI SINUS MAKSILARIS

1.Sinus maksilaris berbentuk pyramid 5. Dasar sinus merupakan prosesus


2.Basis di medial yaitu dinding lateral alveolaris ossis maxillaries
cavum nasi 6. Dinding anteriornya memisahkan sinus
3.Apeknya pada prosesus zygomaticus dengan fasies
ossis maxillaris 7. Dinding posteriornya memisahkan
4.Atap sinus dibentuk oleh dasar orbita dengan fossa pterigopalatina
FISIOLOGI SINUS PARANASALIS

I. Mengurangi berat cranium


II. Resonansi udara dan mempengaruhi kualitas suara
III. Penahan suhu dan pengatur kondisi udara
IV. Mempengaruhi gaya berat pada saat mengunyah
sehingga tekanan tidak langsung mengenai orbita,
V. Sebagai peredam perubahan tekanan udara pada
saat bersin atau membuang ingus,
VI. Membantu produksi mukus untuk membersihkan
partikel yang masuk bersama udara inspirasi ke dalam
sinus.

DEFINISI SINUSITIS
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal
FAKTOR PREDISPOSISI SINUSITIS

• edema KOM hambatan


Faktor drainase  tek.negatif 
transudasi  infeksi bakteri
rhinogen anaerob

• Infeksi apikal dan periodontal


premolar dan molar  PD dan
Faktor Pembuluh limfe  masuk sinus
Patogenesis
dentogen sinusitis
KLASIFIKASI : Internasional Conference of Sinus Disease

Sinusitis Sinusitis Sinusitis


akut subakut kronis
• Tanda inflamasi • Tanda • Keluhan tidak
• Sekret inflamasi khas 
mukopurulen sudah mulai mengeluh bau
• Hari hingga 4 reda busuk
minggu • 4-12 (amis)/foetor,
minggu obstruksi nasi,
kadang sakit
kepala
• > 3 bulan
Patofisiologi
Gejala dan Tanda

◦ Demam sampai menggigil, malaise, lesu serta nyeri.


◦ Sekret mukopurulen keluar dari hidung terkadang
berbau busuk.
◦ Kurangnya sensitifitas dalam merasakan rasa dan bau.
◦ Inspeksi di dapatkan pembengkakan di daerah muka
yaitu pipi dan kelopak mata bawah.
◦ Palpasi dan perkusi akan terasa nyeri.
◦ Rhinoskopi posterior didapatkan post nasal drip.
◦ Transiluminasi akan tampak gambaran bulan sabit di
bawah rongga mata.
 American Academy of Otolaringology & American
Rhinologic Society
DIAGNOSIS
Anamnesa
• Pilek yang sudah lama disertai sekret yang berbau busuk,
kurangnya sensitifitas dalam merasakan dan bau, sering
terasa ada lendir yang mengalir di tenggorokan (post nasal
drip)
Pemeriksaan Fisik
• Rhinoskopi anterior, Rhinoskopi posterior dan
Transiluminasi
Pemeriksaan Mikrobiologik Dan
Laboratorium
• Pemeriksaan mikrobiologik dengan mengambil sekret dari
meatus medius atau meatus superior dan kultur sinus
Pemeriksaan Radiologi
• Dengan Posisi water’s namun akhir-akhir ini CT scan
merupakan gold standard diagnosis sinusitis
Pemeriksaan Gigi
• Pemeriksaan gigi rahang atas yang mengalami gangren
pulpa, abses pada apeks gigi
DIAGNOSIS BANDING
 Diagnosis banding dari sinusitis maksilaris akut
adalah :
◦ Rhinitis alergi
◦ Infeksi gigi geraham atas
◦ Benda asing dalam rongga hidung

 Dignosis banding dari sinusitis maksilaris kronik


adalah :
◦ Karsinoma sinus maksila
◦ Ozaena
◦ Benda asing dalam rongga hidung.
Terapi
1. Istirahat
2. Antibiotika
3. Dekongestan lokal (tetes hidung) atau
sistemik (oral)
4. Analgetika dan antipiretik
5. Antihistamin
6. Mukolitik
7. Tindakan operatif
8. Pembedahan radikal
9. Pembedahan tidak radikal
Penatalaksanaan
 Sinusitis akut  konservatif ( antibiotik spektrum
luas , analgetik, dekongestan, mukolitik )
 Subakut  konservatif + diatermi dan pungsi dan
irigasi sinus
 Kronik  konservatif + operatif ( anthrostomi
intranasal, Caldwell-Luc, BESF ) + odontektomi
(dentogen )
PENCEGAHAN
A. Pasien dengan rhinitis alergi harus segera diobati karena
edema mukosa dapat menyebabkan obstruksi sinus.
B. Bila adenoid mengalami infeksi, meghilangkan itu berarti
eliminasi sarang infeksi dan dapat mengurangi infeksi
pada sinus.
C. Menjaga kebersihan gigi dan mulut.
PENCEGAHAN
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyat setelah
ditemukannya antibiotik.
Lokal : Ostomielitis tulang maksila, Mukokel, Piokel.
Orbita : Edema palpebra, Selulitis orbital.
Intrakranial : Meningitis akut, Epidural, Subdural abses,
Abses otak
Sistemik : Kelainan paru, Sepsis, Empyema.
PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari ketepatan serta cepatnya
penanganan yang diberikan. Semakin cepat maka prognosis
semakin baik. Pemberian antibiotik serta obat-obat
simptomatis bersama dengan penanganan faktor penyebab
dapat memberikan prognosis yang baik.
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional akan
mengembalikan fungsi sinus dan gejala akan sembuh secara
komplit atau moderat sekitar 80-90% pada pasien dengan
sinusitis kronis rekuren atau sinusitis kronis yang tidak responsif
terhadap terapi medikamentosa
PEMBAHASAN

Kasus Teori
Pasien datang dengan keluhan Bila terjadi edema di kompleks
hidung buntu kanan dan kiri osteomeatal, mukosa yang letaknya
sejak tiga minggu yang lalu. berhadapan akan saling bertemu,
Pasien juga mengeluh kadang sehingga silia tidak dapat bergerak
hidungnya keluar ingus dan lendir tidak dapat dialirkan.
berwarna kuning kehijauan Maka terjadi gangguan drainase dan
disertai bau busuk satu minggu ventilasi didalam sinus, sehingga silia
yang lalu menjadi kurang aktif dan lendir yang
di produksi mukosa sinus menjadi
lebih kental dan merupakan media
yang baik untuk tumbuhnya bakteri
patogen. Bila sumbatan berlangsung
terus, akan terjadi hipoksia dan
retensi lendir sehingga timbul infeksi
oleh bakteri anaerob.
Kasus Teori

Tiga hari yang lalu pasien


merasa Nyeri kepala, Berdasarkan teori dapat
kemeng di daerah pipi dan
ditemukan sekret purulen,
dahi, yang diperberat
ketika pasien menunduk, hidung tersumbat, nyeri pada
merasa tertekan di pipi wajah/rasa tertekan di
dan penciuman berkurang. wajah.
Rasa tertekan di wajah
meliputi wajah bagian depan,
daerah periorbital, dan
menyebabkan sakit kepala
diffuse maupun localized.
Kasus Teori

pasien datang dengan keluhan


hidung buntu kanan dan kiri
sejak tiga minggu yang lalu. Pada keluhan yang dialami pasien
Pasien juga mengeluh kadang tersebut, menurut Academy of
hidungnya keluar ingus berwarna
kuning kehijauan disertai bau
Otolaringology & American Rhinologic
busuk satu minggu yang lalu. Society, sudah memenuhi kriteria
Selain itu, tiga hari yang lalu diaganosis untuk sinusitis, yaitu gejala
pasien merasa kemeng di daerah mayor (nyeri atau rasa tertekan di pipi,
pipi dan dahi, yang diperberat
kongesti nasal, dan hiposmia).
ketika pasien menunduk, merasa
tertekan di pipi dan penciuman Sedangkan menurut waktunya,
berkurang. termasuk sinusitis akut.
Kasus Teori

Pasien ini mengaarah


pada penyebab rhinogen,
dimana pasien memiliki
riwayat alergi dingin, pada Etiologi sinusitis adalah sangat
saat dingin pasien sering kompleks. Hanya 25% disebabkan oleh
bersin-bersin. Keluhan infeksi, selebihnya 75% disebabkan oleh
berat di pipi dan nyeri alergi dan ketidakseimbangan pada
kepala saat menunduk sistim saraf otonom
mengarah pada sinusitis
maksillaris dan frontalis
Kasus Teori

Pemeriksaan radiologi rutin untuk


Foto waters: memeriksa sinus paranasal ialah
Sinusitis frontalis dan posisi water’s (oksipitomental),
maksillaris bilateral dengan terutama untuk melihat adanya
kelainan di sinus maksila, frontal,
air fluid level di sinus
dan ethmoid. Posisi postero-anterior
maksilaris bilateral. untuk menilai sinus frontal dan
posisi lateral untuk menilai sinus
frontal, sphenoid, dan ethmoid.
Antibiotik spektrum luas,
seperti: amoxicillin, ampicillin,
Kasus Teori atau eritromisin. Alternatif
lain berupa
amoxicillin/klavulanat,
sefaklor, sefuroksim, dan
trimetoprim plus sulfonamid.
Terapi pasien: Dekongestan, seperti:
pseudoefedrin, tetes hidung
Co Amoxiclav 3x625 mg fenilefrin (neosynephrine)
Na diclofenac 2x50 mg atau oksimetazolin dapat
Nasacort spray 1x1 diberikan selama
Cetirizine 1x10 mg beberapahari pertama infeksi
Kontrol 1 minggu  pro namun kemudian harus
irigasi sinus dihentikan.
Analgetik untuk
meringankan gejala, seperti
aspirin dan asetaminofen.
Kompres air hangat pada
wajah untuk meringankan
gejala.
 DAFTAR PUSTAKA

 Endang Mangun kusumo, N Rifki. Sinusitis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar NH


(eds). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI:2001.hal 120-4
 Mabry RL, Marple BF. The Medical Management of Sinusitis In: Rice DH,
Schaefar SD (eds) Endoscopic Paranasal Sinus Surgery. 3th ed.Philadelphia:
William & Wilkins;2004 p:95-104
 Dudley L. Paranasal sinus Infection. In: Ballenger JJ, Snow JB (eds).
Otorhinolaryngology – Head and neck Surgery. Baltimore: Williams &
Walikins:1996. pp 163-70
 Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies
LR,Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th
ed.Philadelphia, PA: WB Saunders Company; 1989. p.173-90
 Kennedy E. Chronic Sinusitis. November 28, 2005. Available
from:http://www.emedicine.com. Accessed June 14, 2015
 Abdel Razek OA, Poe D. Chronic Sinusitis Medical Treatment. June 7,
2004.Available from: http://www.emedicine.com. Accessed June 14, 2015

TERIMA KASIH