Anda di halaman 1dari 28

PRODUK BIOSIMLAR DAN

REGULASINYA
Pengertian biosimilar menurut badan
kesehatan dunia (WHO) adalah istilah yang
dipakai untuk obat biologis yang memiliki
karakteristik yang mirip dengan obat biologis
yang sudah disetujui (originator) atau dibuat
ketika masa paten obat originatornya sudah
habis, namun tidak identik.

Obat biosimilar merupakan pengembangan produk


biologi yang berasal dari makhluk hidup berupa
jaringan, sel, DNA, atau protein.
Secara klinis obat bio similar adalah sebutan untuk
obat-obatan biologis yang diklaim sama dengan
produk aslinya.

Contoh produk biosimilar adalah insulin,


immunoglubolin, interferon, eritropoetin serta
sejumlah nama vaksin lainnya.

.
Obat biosimiliar juga akan lebih mudah dicerna,
karena tidak melalui pengembangan sintesis
kimia seperti obat generik. Bahkan, dapat lebih
ampuh mengatasi beberapa penyakit kronis.

obat biosimilar yang mulai banyak dikembangkan


saat ini adalah untuk pengobatan kanker,
penyakit darah, hepatitis, hingga diabetes.
BAD R

Rasio Manfaat-Risiko Dalam Evaluasi Khasiat, AN .I

Keamanan dan Mutu Obat dan Produk Biologi

 Manfaat obat harus lebih besar dari


RISIKO risiko
 Kajian aspek khasiat, keamanan dan
mutu produk untuk memastikan
tingkat risiko yang dapat diterima
MANFAAT dengan manfaat yang signifikan
dalam suatu populasi
3 Regulasi Biosimilar
DEFINISI
INDONESIA WHO EMA US-FDA
J
8AOAN POM Rl

Produk biologi A biotherapeutic A product that is the biological product


dengan profil khasiat, product which is similar to a biological is highly similar to the
keamanan, dan mutu similar in term of medicine that has reference product yang
similar/serupa quality, safety and already been notwithstanding dengan
produk efficacy to an already authorised, the so- minor differences in biologi
yang telah licensed reference called 'reference clinically inactive disetujui.
biological products medicinal product'. components,” and
that “there are no clinically meaningful differences between the biological product and the
reference product in terms of the safety, purity, and potency of the product
P engalaman Penilaian follow –on produk biologi

Terminologi: produk biologi sejenis


Konsep :

◦ Diperlakukan sebagai produk biologi baru


 Memenuhi persyaratan untuk produk biologi baru (dokumen
pengembangan mutu, non-klinik dan klinik lengkap)
 Studi klinik fase III harus menggunakan pembanding produk
inovator atau terapi standar sesuai indikasi yang diajukan.
◦ Diperlakukan sebagai biosimilar
Harus menunjukkan komparabilitas dalam aspek mutu, keamanan
dan efikasi dengan produk yang sudah disetujui di Indonesia.
 Evaluasi mengacu pada pedoman biosimilar EMA (sejak 2005) dan
WHO (sejak 2010)
 Studi klinik harus dibandingkan dengan originator.
 Pembanding : produk originator.
J
BADAN POM
RI

KEBIJAKAN EVALUASI BIOSIMILAR


PRODUK

Evaluasi

Komparabilitas
Produk Biosimilar Produk Pembanding
aspek mutu,
khasiat, dan
keamanan
Persyaratan khusus penilaian produk
biosimilar
1. Studi komparabilitas mutu
 Karakterisasi: sifat fisikokimia, aktivitas biologi,
sifat imunokimia, dan cemaran/impurities
2. Studi komparabilitas non-klinik
 Studi toksisitas berulang dan/atau
farmakodinamik pada hewan
3. Studi komparabilitas klinik
 Studi PK/PD, efikasi & keamanan, imunogenisitas
Pedoman penilaian produk biosimlar berdasarkan
peraturan kepala Badan Pengawasan Obat dan
Makanan nomor 17 tahun 2015

a. Latar belakang
Pengembangan produk biologi tidaklah sederhana
dan tidak seperti obat kimia sintesis. Jika obat kimia
sintesis telah melampua masa patennya, tentu akan
tersedia produk generik yang memiliki sifat-sifat
yang sama dengan originatornya.

Hal ini tidak berlaku untuk produk biologi yang


memiliki molekul yang sangat kompleks yang
diproduksi menggunakan sel hidup dan secara
instrinsik sangat bervariasi.
Setelah masa paten produk biologi originatornya habis,
industri farmasi lain dapat mendaftarkan produk biologi
tersebut yang biasanya dikenal dengan produk biosimilar.

Prinsip evaluasi produk biosimilar menurut peraturan kepala


BPOM no. 17 tahun 2015 :
1. Pendaftaran produk biosimilar
Pemilihan produk pembanding untuk studi komparabilitas
harus didasarkan pada prinsip-prinsip :

a. Zat aktif suatu produk biosimilar harus mirip (baik


molekuler maupun efek biologik) dengan zat aktif produk
pembanding yang disetujui untuk diedarkan di Indonesia

b. produk obat pembanding terpilih harus digunakan sebagai


acuan pada seluruh studi komparabilitas untuk aspek mutu,
keamanan, dan efiaksi, agar dihasilkan data dan kesimpulan
yang koheren.
Setelah masa paten produk biologi originatornya habis,
industri farmasi lain dapat mendaftarkan produk biologi
tersebut yang biasanya dikenal dengan produk biosimilar.

Prinsip evaluasi produk biosimilar menurut peraturan kepala


BPOM no. 17 tahun 2015 :
1. Pendaftaran produk biosimilar
Pemilihan produk pembanding untuk studi komparabilitas
harus didasarkan pada prinsip-prinsip :

a. Zat aktif suatu produk biosimilar harus mirip (baik


molekuler maupun efek biologik) dengan zat aktif produk
pembanding yang disetujui untuk diedarkan di Indonesia

b. produk obat pembanding terpilih harus digunakan sebagai


acuan pada seluruh studi komparabilitas untuk aspek mutu,
keamanan, dan efiaksi, agar dihasilkan data dan kesimpulan
yang koheren.
c.Bentuk sediaan , kekuatan dan cara pemberian produk
biosimilar harus sama dengan produk pembanding.
d. Bila terdapat perbedaan antara produk biosimilar dan
produk pembanding, perbedaannya harus dijustifikasi
dengan studi yang sesuai atas dasar kasus-per-kasus.
Pertimbangan faktor keamanan lebih diprioritaskan.

2. Studi komparabilitas yang memperkuat


kemiripan/kesetaraan biologis.

Studi komparabilitas untuk produk biosimilar dirancang


untuk menunjukan bahwa produk biosimilar memiliki atribut
mutu yang sangat mirip bila dibandingkan dengan produk
pembanding, termasuk data non klinik dan klinik untuk
menyediakan data komparatif dalam sebuah paket terpadu.
Pendekatan langkah demi langkah harus dilakukan secara
rinci untuk menjelaskan adanya perbedaan pada aspek mutu
produk biosimilar terhadap produk pembanding.Misalnya,
biasanya terdapat perbedaan kecil secara struktural pada zat
aktif.

Perbedaan antara profil cemaran produk biosimilar dan


produk pembanding harus dijelaskan kasus perkasus dan
didukung oleh data studi komparabilitas untuk menjustifikasi
aspek mutu, keamanan dan efikasi.
3. Produk pembanding untuk produk biosimilar

-Produk pembanding adalah produk yang sudah memperoleh ijin


edar berdasarkan pada data mutu, keamanan dan efikasi
lengkap.
- Oleh karena itu produk biosimilar tidak layak dipertimbangkan
sebagai pilihan untuk produk pembanding.
- Produk standar yang terdapat dalam farmakope seperti USP,
Bp, PH.Eur atau WHO mungkin bukan produk pembanding yang
tepat untuk studi komparabilitas bahan aktif produk biosimilar
karena data klinik keamanan dan efikasi tidak ketahui atau tidak
diketahui atau dapat disimpulkan
Produk pembanding yang digunakan dalam uji
komparabilitas produk biosimilar sedapat
mungkin menggunakan produk pembanding yang
sudah disetujui di Indonesia.
Evaluasi Mutu
Perbandingan mutu yang menunjukan kemiripan pada
tingkat molekuler antara produk biosimilar dan produk
pembanding sangat penting sebagai dasar untuk
memprediksi keamanan klinik dan profil efikasi produk
pembanding terhadap produk biosimilar sehingga data
non klinik dan klinik yang diperlukan untuk produk
biosimilar dapat dikurangi.
1. Proses pembuatan
-Produksi produk biosimilar harus berdasarkan pada
proses produksi yang dirancang secara komprehensif
dengan mempertimbangkan semua pedoman yang
terkait.
-Produsen harus menunjukan konsistensi dan
kehandalan proses produksi denagn menerapakan
CPOB terkini, prosedur pengujian dan pemastian mutu
terkini, uji IPC dan validasi proses.
Proses produksi harus memenuhi standar yang
sama dengan yang dipersyaratkan otoritas
regulatori nasional untuk produk originator.

- Proses produksi harus dioptimasi untuk


meminimumkan perbedaan antara biosimilar dan
produk pembanding agar memaksimumkan untuk
mengurangi persyaratan uji klinik untuk produk
biosimilar berdasarkan sejarah klinik produk
pembanding dan meminumkan pengaruh yang
dapat diprediksi terhadap keamanan dan efikasi
produk.
Kriteria berikut harus dipertimbangkan ketika
melaksanakan pengujian komparabilitas :
a. Sifat fisikakimia
Karakterisasi fisikakimia harus mencakup
penentuan struktur primer dan tingkat yang lebih
tinggi menggunakan metoda analisis yang sesuai
contohnya spektrofotometri massa, Nuclear
magnetic resonance (NMR) dan sifat biofisika
lainnya.
B . Aktivitas biologi adalah kemampuan atau
kapasitas spesifik produk untuk mencapai efek
biologi yang ditetapkan.
Uji biologi adalah ukuran kualitas fungsi protein
dan dapat digunakan untuk menentukan apakah
varian memiliki tingkat aktivitas yang sesuai atau
tidak aktif
c. Sifat imunokimia
adalah bagian dari karakterisasi contoh antibodi,
produsen harus mengkonfirmasi bahwa produk
biosimilar sebanding dengan produk pembanding
dalam hal spesifitas, afinitas, kinetika pengikatan
dan aktivitas fungsional .
d. Cemaran
Pedomaan UUmum Penilaiann Proodduuk
Biosimilaarr
Indonesia
BADAN POM RI

Tahap (
Finalisa
si

Produk originator
terdaftar di
Indonesia

Jika produk originator Produk yang disetujui di


Produk negara dengan sistem
Pembandi tidak terdaftar di
Indonesia evaluasi established
ng

Jika produk originator Produk Biologi yang


tidak diproduksi lagi di paling established
Indonesia

Produk Biologi yang pertama kali dikembangkan oleh Industri


Produk Originator Farmasi dan memiliki Izin Edar berdasarkan penilaian data mutu,
khasiat,dan keamanan lengkap
J
BADANPOMRI

Registrasi produk biosimilar

Proses
pengembangan
dibawah supervisi
NRA negara asal
Produk produk

Data Komparabilitas
Mutu
Biosimilar
Impor
[ 1
Dokumen lengkap Pre Klinik

Klinik
Registrasi Produk biosimilar

Pengembangan dibawah supervisi BPOM

Evaluasi melalui mekanisme IND like system:


~----\ step wise approach konsultasi dengan tim
Ahli pada tiap tahap pengembangan
Produk
Biosimilar
Produksi Lokal Studi Komparabilitas Klinik hanya dapat
dilakukan jika data komparabilitas mutu dan
pre klinik cukup dan adekuat

Protokol uji klinik harus mendapat persetujuan


dari komite etik dan BPOM
'============.'
Produk Bioterapetik di Indonesia

Epoeitin
r-human alfa
Follicle Rec.
Human

Stimulatin
g Hormon Insulin
(r-hFSH)

Rec.
Interferon Bio
r-GCSF/
Filgrasti

beta m
therape
utic
Product
Rec.
Interferon Somatropin
alfa
Low
Molecular Monoclonal
Weight antibody Biosimilar
Heparin
(LMWH) 
Tantangan Implementasi Pedoomaan Umum
Penilaian Produk Bi•10
osimilar J
BADAN POM RI

• Pemahaman terhadap pedoman


• Akses terhadap produk pembanding
• Pelaksanaan studi komparabilitas, eg.:
◦ Efikasi dan keamanan
◦ Imunogenisitas
• Perbedaan persyaratan registrasi biosimilar di negara
produsen produk impor.
• Ekstrapolasi indikasi
• Pengembangan produk biosimilar dalam negeri.
Contoh produk biosimilar di Indonesia
J
BADAN POM RI

1. EPO
Suntik Epo (Erythropoietin) setiap selesai hemodialisis menjadi salah satu prosedur
dalam penanganan anemia pada pasien gagal ginjal.

Erythropoietin (EPO) adalah glikoprotein hormon yang berfungsi dalam erythropoiesis,


yaitu proses proliferasi dan differensiasi progenitor sel erythroid menjadi erythrocyte
pada bone marrow atau sumsum tulang.

Erythropoietin berfungsi menstimulasi (merangsang) sumsum tulang untuk


menghasilkan lebih banyak sel-sel darah merah. Kenaikan dalam sel-sel darah merah
akan meningkatkan kapasitas darah dalam mengangkut oksigen.

Terapi Epo diberikan dalam dosis tertentu bagi pasien anemia pada kasus gagal ginjal
dan terapi kanker. Namun, obat ini tersebut saat ini hampir 100 persen merupakan
produk yang diimport dari Korea maupun dari Cina.
Contoh produk biosimilar di Indonesia
J
BADAN POM RI

2. Obat Biosimilar Enbrel

Untuk Terapi Arthritis dan Psoriasis

Diproduksi oleh Pfizer

3. INFLECTRA, Produk Biosimilar Antibodi Monoklona

INFLECTRA adalah produk obat biosimilar pertama monoclonal antibody (mAb) yang
disetujui untuk diedarkan di AS, dan diindikasikan untuk pengobatan pasien dengan
sejumlah penyakit serius autoimun, termasuk penyakit Crohn, ulcerative colitis,
rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, psoriasis arthritis dan plak psoriasis.

Anda mungkin juga menyukai