Anda di halaman 1dari 35

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK

Fadhillah syafitri suhatril


Internsip PKC Palmerah
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Tn. AB
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Usia : 24 tahun
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Kemanggisan – Palmerah
• Status perkawinan : Belum menikah
• Pendidikan terakhir : Sekolah Menengah Atas
• Pekerjaan :-

Dilakukan Autoanamnesa dan Heteronanamnesa (ibu pasien)


• Tanggal : 22 Maret 2018
• Tempat : Poli BPU PKC Palmerah
Keluhan
• Utama :
BAB sembarangan sejak 2 bulan yll.

• Tambahan :
Suka menyendiri, tidak mau mandi, makan,
menyeringai sendiri, mudah marah, berbicara
sendiri.
Riwayat Penyakit Sekarang
Orang tua asien datang ke Poli Umum PKC Palmerah dengan
keluhan anaknya sering BAB sembarangan sejak 2 bulan yll.
Keluhan disertai dengan adanya perubahan perilaku lain
seperti pasien jadi sulit mengurus diri sendiri, tidak mau
makan, sulit tidur dan tidak ingin melakukan akitivitas seperti
orang normal.
Menurut keluarga, pasien sudah mengalami kelainan perilaku
semenjak tamat SMA, saat pasien berusia 18 tahun. Berawal
saat pasien menyukai teman sepermainannya. Semenjak itu,
pasien lebih sering menyendiri, diam dan menatap ke jendela
dengan ekspresi kosong. Sesekali pasien terlihat berbicara dan
tertawa sendiri.
Pasien hanya melihat pria tersebut dari balik jendela dan tidak pernah mengobrol dengan
pria tersebut. Namun, pasien yakin bahwa pria tersebut juga menyukai dirinya. Pria tersebut akhirnya
pindah rumah dan pasien tidak pernah melihatnya lagi.

Keadaan ini semakin terlihat beberapa bulan kemudian, setelah pasien berhenti burhubungan dengan
teman wanitanya. Pasien sempat tidak mau makan dan susah tidur saat itu, pasien mengakatakan
dirinya kecewa karena dirinya yang merupakan juara sekolah tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan,
sedangkan teman-temannya yang biasa saja sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Sejak saat itu, pasien
sangat membenci orang-orang dengan pekerjaan tertentu, yang menurut pasien rendah seperti:
pengamen, tukang sapu, pengemis dan pemulung.
Menurut keluarga, terkadang pasien suka hormat ke arah pantai saat mereka mengajak pasien berjalan-
jalan ke pantai. Menurut pasien, hormat ke pantai merupakan bagian tugas dan pekerjaannya. Keluhan-
keluhan di atas telah terjadi bertahun-tahun, namun pasien tidak dibawa berobat, karena keluarga tidak
menganggap itu keluhan yang serius dan butuh penanganan sampai pasien sering marah dan
membuang batu ke tengah jalan 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sejak 1 minggu sebelum dibawa
ke rumah sakit, pasien menjadi lebih sering marah, semakin sering melempar batu dan sampah ke
tengah jalan. Keluhan ini terjadi disebabkan ibu pasien meninggal dunia sejak 1 minggu tersebut.
• Setelah pulang dari kontrol tersebut, pasien
menjadi murung, tidak nafsu makan, dan banyak
diam. Berapa hari kemudian pasien menjadi sulit
tidur dan gelisah.
• 1 bulan terakhir pasien sering mengeluh
mendengar suara-suara tidak jelas yang
menyatakan pasien akan segera meninggal. Sejak
saat itu pasien menjadi semakin murung,
kadanga suka melempar suatu benda bila mulai
mendengar suara tersebut.
Riwayat Hidup
• Prenatal dan perinatal : dilahirkan cukup
bulan
• Masa kanak awal (0-3 tahun) : pertumbuhan
dan perkembangan baik
• Masa kanak pertengahan : sekolah Sd sampai
tamat, presentasi baik, sedikit teman dekat
• Masa kanak akhir : mulai menyukai lawan
jenis
• Masa dewasa :
– Bekerja sebagai pedagang sejak tahun 2000
– Tahun 2002 menikah satu kali
– Giat bekerja, jarang bergaul dengan teman
– Belum pernah bermasalah dengan hukum
Riwayat penyakit Dahulu
• Psikiatrik dan terapi : (-)
• Medis dan terapi : Hipertensi – Amlodipin
1x10mg, Hidroklortiazid 1x1
• Penyalahgunaan Zat : (-)
Pemeriksaan Fisik
I. Status Generalis
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Tanda-tanda vital
i. Tekanan darah : 150/80
ii. Nadi : 80 x/menit
iii. Suhu : 36 C
iv. Respirasi : 24 x/menit
• Kepala : Normocephal
• Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
• Toraks :
– Bentuk dan gerak simetris
– Paru Ves +/+, Rhonki -/-, wheezing—
• Jantung : BJ I-II reg, Gallop (-), Murmur (-)
• Abdomen : BU (+) normal, asites (-), nyeri tekan (-)
• Ekstremitas
– Atas : Hangat (+/+), udema (-/-), sianosis (-/-),
– Bawah : Hangat (+/+), udema (-/-), sianosis (-/-)
II. Status Psikiatri
Deskripsi umum
• Penampilan : laki-laki usia 42 tahun, tampak
sesuai dengan usia, penampilan biasa,
berpakaian rapih, ramput cokelat-kehitaman,
tenang.
• Tingkah laku & psikomotor : keadaan pasien
tenang, aktivitas psikomotor normoaktif
• Attitude: pasien kooperatif terhadap lawan
bicara
• Bicara : pasien berbicara bila ditanya,
artikulasi masih jelas, lambat, nada yang
monoton, menjawab sesuai apa yang
ditanyakan.
• Mood & afek : mood sedih / afek depresif /
keserasian sesuai
Pikiran
• Bentuk pikiran : Realsitis
• Isi pikiran : Waham –
• Jalan pikiran : Koheren

Persepsi
• Ilusi : (-)
• Halusinasi : (+) auditorik

Sensorik
• Kewasapaan : baik
• Orientasi : baik
• Konsentrasi : kurang baik
• Memori : baik
• Kalkulasi : kurang baik
• Insight of illness : baik, pasien mengetahui bahwa
dirinya sakit (hipertensi)
• Penilaian : baik, pasien mengetahui dirinya
sakit (hipertensi), mencoba mecari pertolongan, ingin
sembuh.

Dekorum
• Kebersihan : baik
• Sopan santun : baik
• Kooperatif : baik
• Penampilan : baik
Psikodinamika
• Presipitasi : dokter mendiagnosa pasien
Hipertensi dengan komplikasi Stroke
• Stressor : Tanggungan keluarga masih ada,
seperti anak masih ada yang bersekolah
II. Evaluasi Multiaksial
AKSIS I : F32.3. EPISODE DEPRESIF BERAT
DENGAN GEJALA PSIKOTIK
AKSIS II : Tidak ada
AKSIS III : I00-I99. PENYAKIT SISTEM
SIRKULASI
AKSIS IV : Tidak ada
AKSIS V : GAF 60-51 gejala sedang
(moderate), disabilitas sedang.
III. Diagnosis Banding
• F33.3. Gangguan depresif berulang, episode
kini berat dengan gejala psikotik.
IV. Rencana Terapi
Psikoterapi Suportif
Memberikan motivasi kepada pasien dalam
menghadapi masalah dan selalu memberikan
dorongan agar hidup lebih baik

Farmakologis
• Flouxetin 1x20mg
• Haloperidol 1x10mg

Diet : Rendah garam


V. Prognosis
• Ad vitam : Ad bonam
• Ad functionam : Ad bonam
• Ad sanationam : Ad bonam
Tinjauan Pustaka
Definisi
• Depresi adalah suatu periode terganggunya
fungsi manusia yang dikaitkan dengan perasaan
yang sedih serta gejala penyertanya, dimana
mencakup hal-hal seperti perubahan pola tidur
dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, rasa
lelah, anhedonia, rasa tak berdaya dan putus asa
dan bunuh diri (Kaplan, 2010).
• Pada pasien bunuh diri didapatkan penurunan
jumlah serotonin yang merupakan pencetus
gangguan depresi. (Kaplan, 2010).
• Gejala psikotik yang didapatkan seperti adanya
waham, halusinasi atau stupor depresif.
– Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa,
kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan
pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
– Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau menuduh, atau bau
kotoran atau daging membusuk. Jika diperlukan,
waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai
serasi atau tidak serasi dengan afek (mood congruent)
(Kaplan, 2010)
Epidemiologi
• Prevalensi gangguan depresif berat
didapatkan pada laki-laki sekitar 15% dan
perempuan dapat mencapai 25%. Sehingga
perempuan memiliki kecenderungan lebih
besar dari pada laki-laki untuk mengalaminya.
(Depkes, 2007).
Klasifikasi
• Diagnosis gangguan depresi dapat ditegakkan berdsarkan
PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa
III) yang berpedoman pada DSM-IV. Gangguan depresi dapat
dibedakan menjadi episode depresif ringan, sedang dan berat.
• Kriteria penggolongan diatas berdasarkan atas gejala utama
dan gejala lain. Adapun gejala utama ada tiga yaitu :
(1) Afek depresif,
(2) Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
(3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan
mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit)
dan menurunnya aktifitas.
• Sedangkan gejala lainnya ada tujuh yaitu :
(1) Konsentrasi dan perhatian berkurang
(2) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
berguna
(3) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang,
(4) Pandangan masa depan yang suram dan
pesimistis,
(5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri
atau bunuh diri,
(6) Nafsu makan berkurang dan tidur terganggu
Episode depresi berat dapat ditegakkan dengan ;
- 3 gejala utama ditambah minimal 4 dari gejala
lainnya dan beberapa harus berinteraksi berat
- berlangsung minimal 2 minggu atau kurang
dapat dibenarkan jika terjadi gejala luar biasa
beratnya dan berlangsung cepat dan sangat
tidak mungkin akan bisa meneruskan kegiatan
sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga.
(Kaplan, 2010).
Diagnosis
• Episode depresi berat dengan gejala psikotik
merupakan depresi yang parah walau bukan
penderita psikotik.
• Diagnosis gangguan ini ditegakkan
berdasarkan adanya gejala episode depresif
berat ditambah dengan gejala psikotik.
Terapi
• Psikoterapi bermanfaat untuk mengurangi
atau menghilangkan keluhan-keluhan dan
mencegah kambuhnya pola perilaku
maladaptif atau gangguan psikologik.
Psikoterapi dapat diberikan secara individual,
kelompok, atau pasangan sesuai dengan
gangguan psikologis yang dialaminya. (Kaplan,
2010)
Antidepresan
• Golongan trisiklik, tetrasiklik, monoamine oxydase inhibitor
reversible¸ selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), dan
atipikal. (James Blumenthal dkk, 2007)
• Fluoxetine merupakan obat golongan SSRI yang digunakan untuk
pengobatan depresi. Obat ini bekerja dengan menghambat resorpsi
dari serotonin. Kerja obat ini menghambat re-uptake serotonin dan
noradrenalin dan tidak bersifat selektif.
• Dosis terapi obat ini yaitu 20 mg/hari (pagi), maksimal 80 mg/hari
(dalam dosis tunggal atau terbagi).
• Efek samping yang dapat ditimbulkan yaitu gagal ginjal berat,
hipersensitif terhadap fluoxetin, penggunaan bersama MAO.
(Maslim, 2007).
• Efek antidepresan yang diberikan mulai muncul dalam 1-3 bulan,
sebelum dapat mengurangi atau menghilangkan gejala meskipun
efek yang didapatkan telah memberikan hasil yang baik dalam 2-3
minggu.
Antipsikotik
• Risperidone merupakan jenis antipsikotik atipikal.
Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan memblok
dopamin pada reseptornya di pasca sinaptik pada otak
khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal.
Obat ini selain berafinitas dengan Dopamin D2
receptors juga terhadap Serotonin 5HT2 receptors
sehingga efektif untuk gejala positif dan negatif.
• Dosis terapi yang digunakan yaitu 4-6 mg perhari.
• Efek samping yang bisa terjadi seperti sedasi, sakit
kepala, mual, muntah, konstipasi, insomnia dan
berdebar. (Maslim, 2007)
Kesimpulan
• Pasien depresi berat dengan gejala psikotik harus
mendapat terapi sedini mungkin agar dapat
mengurangi relaps atau rekurensi. Jika tidak maka
ini akan menjadi masalah kesehatan yang serius
dan menyebabkan penderitaan yang signifikan
bagi penderitanya. Sekitar dua per tiga pasien
yang mengalami gangguan depresif berat akan
pulih sempurna. Sepertiga pasien akan pulih
parsial atau tidak sama sekali. Selain itu bila tidak
diatasi, dapat meningkatkan risiko bunuh diri.
• Pasien depresi membutuhkan terapi jangka
panjang. Karena beragamnya penyebab
depresi, beberapa modalitas terapi dapat
digunakan. Kombinasi farmakoterapi dengan
psikoterapi lebih efektif untuk mengobati
depresi dan mencegah relaps atau rekurensi,
dibandingkan dengan hanya farmakoterapi
atau psikoterapi. (Amir, 2012)
• Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan
episode depresif berat dengan gejala psikotik.
• Diberikan Farmakoterapi berupa ;
– Fluoxetine 1 x 20 mg,
– Risperidone 2 x 1 mg.
• Prognosis bergantung pada diagnosis yang
tepat dan sedini mungkin, terapi yang
adekuat, serta dukungan dari keluarga
Daftar Pustaka
• Amir, Nurmiati. 2012. Gangguan depresif Aspek Neurobiologi dan Tatalaksana.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. hal1-140
• Depkes. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penderita Gangguan Depresif. Jakarta :
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
• James Blumenthal, Michael AB, Murali D, Lana W, Benson MH, Krista AB, Steve
Herman, Edward C, Alisha LB, Robert W, Alan H, Andrew S. Exercise and
Pharmacotherapy in the Treatment of Major Depressive Disorder. Psychosomatic
Medicine 2007;69:587– 596
• Kaplan Harold I, Benjamin J Sadock, Jack A Grebb. 2010. Sinopsis Psikiatri. Jakarta:
Binarupa Aksara.
• Maramis, Willy F, Albert A. 2009. Maramis. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2.
Jakarta: Airlangga University Press.
• Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
• Maslim, Rusdi. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropik (Psychotropic
Medication) edisi ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.