Anda di halaman 1dari 59

CLINICAL REPORT SESSION

DEMAM TIFOID

Oleh :

Haemamalini Pakirisamy 1110314009


Mutia Rahman 1210313057

Preseptor

Dr. H. Sadeli Martinus, SpPD


Pendahuluan
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi.

Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena
penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan
lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri
pengolahan makanan yang masih rendah.

Penyakit ini ditandai oleh panas yang berkepanjangan, dengan gejala konstitusional
infeksi sistemik akibat bakterimia

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak
maupun dewasa.

Anak merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala yang dialami
anak lebih ringan dari dewasa.
Tinjauan Pustaka

Definisi
Demam tifoid adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang masuk ke dalam tubuh
manusia.

Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi


akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam
lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, dan gangguan
kesadaran.
Epidemiologi
Demam tifoid Insidensi penderita
dapat menginfeksi demam tifoid
Pada beberapa semua orang dan dengan usia 12-30
dekade terakhir tidak ada tahun sekitar 70-
demam tifoid perbedaan nyata 80%, usia 31-40
jarang terjadi di antara insidensi tahun sekitar 10-
negara industri. pada laki-laki 20%, dan usia > 40
maupun tahun sekitar 5-
perempuan. 10%.
Etiologi

Demam tifoid disebabkan bakteri Salmonella


typhi dan Salmonella paratyphi dari genus
Salmonella.

Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen yaitu:


- Antigen O (antigen somatik) terletak pada lapisan luar
kuman.
- Antigen H (antigen flagela) terletak pada flagela, fimbria,
atau fili dari kuman.
- Antigen Vi terletak pada kapsul (envelope) kuman yang
dapat melindungi kuman terhadap fagositosis.
- Antigen tersebut di dalam tubuh penderita akan
menimbulkan pembentukan 3 macam antibodi yang lazim
disebut aglutinin.
Patogenesis
Manifestasi Klinis

ANAMNESIS
Sakit Kepala
Demam naik turun, tu sore
tu di area
dan malam hari
frontal

Diare / Nyeri Nyeri otot,


Konstipasi/ abdomen tu di insomnia,
BAB berdarah epigastrium anoreksia
PEMERIKSAAN FISIK
KU sakit sedang atau berat
Kesadaran bisa CMC atau Demam >
↓ kesadaran 37.5’C

Bradikardia Lidah Kotor Hepato


Relatif dan tremor splenomegali
Pemeriksaan Penunjang
Kadar hemoglobin dapat
normal atau menurun jika Hitung leukosit rendah
terjadi komplikasi (leukopenia) tetapi dapat
perdarahan atau perforasi normal atau tinggi.
usus.

Hematologi

Hitung jenis neutrofil


Laju endap darah (LED)
rendah (neutropenia)
meningkat.
dengan limfositosis relatif.
Pemeriksaan Serologi
Rx aglutinasi terhadap antigen kuman. Ag H,
Tes Ag O
Widal Sensititas dan spesifisitas rendah. Bisa (+) palsu
dan (-) palsu
Dilakukan setelah demam 7 hari

(+) bila : Agultinin O : 1/320 ; Aglutinin H:


1/640 dan
↑ titer 4 x lipat pd pemeriksaan ulangan
dengan interval 5 – 7 hari
Pemeriksaan Serologi
Tes Mendeteksi IgM dan IgG S. Typhi
typhidot
Diapat dlakukan 4-5 hari pertama demam

Sensitivitas 98%, spesifisitas 76,6%

Tes Menginaktivasi total IgG dalam serum


typhidot pada kasus reinfeksi. Menilai IgM
M
Sensitivitas 100%, cepat 3 jam
Pemeriksaan Serologi
Kultur S. Dapat menggunakan spesimen :
Darah (minggu pertama sampai akhir
Typhi minggu ke 2), feses (pd minggu ke 2 sakit),
urin Pd minggu ke 2 atau ketiga sakit, cairan
(Gold empedu (pd stadium lanjut, deteksi carrier)
standar)
Hasil kultur (+) definitif typhoid, hasil (-)
tidak menyingkirkan diagnosis
Diagnosis
Suspek Demam Tifoid
• dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
didapatan gejala demam, gangguan saluran
cerna. Diagnosis demam tifoid hanya di buat di
layanan primer
Demam tifoid klinis
• Telah didapatkan gejala klinis lengkap atau
hampir lengkap serta di dukung oleh lab yang
menunjukan tifoid
Diagnosis Banding

Influenza Malaria

Demam
Gastroenteritis
Dengue
Penatalaksanaan
Terapi suportif
Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan
imobilisasi

Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat


diberikan secara oral maupun parenteral

Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup


kalori dan protein, rendah serat.

Kontrol dan monitor tanda vital ( tekanan darah,


nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat
dengan baik di rekam medik pasien
Terapi Simptomatik Terapi Definitif

Menurunkan
demam dan
Pemberian
mengurangi
antibiotik
keluhan
gastrointestinal
Komplikasi

Perdarahan usus

Perforasi usus

Darah: anemia hemolitik, trombositopenia, dan DIC


Prognosis

Prognosis adalah bonam,


namun ad sanationam dubia
ad bonam, karena penyakit
dapat terjadi berulang.
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
• Nama : Ny. S
• No. MR : 144991
• Umur : 53 Tahun
• Alamat : Padang Sago
ANAMNESIS
• Seorang wanita berusia 53 tahun dirawat di
bangsal Penyakit Dalam RSUD Pariaman pada
tanggal 20 Juli 2018 dengan :

Keluhan Utama
• Demam sejak 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit dan meningkat sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
• Demam turun naik terutama sore dan malam hari tidak
menggigil, sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit
dan meningkat sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
• Mual dan muntah sejak 2 hari sebelum masuk rumah
sakit. Muntah 2 kali sehari berisi makanan.
• Sakit kepala sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit
• Sakit perut sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit
• Nafsu makan menurun sejak 5 hari sebelum masuk
rumah sakit
• BAB encer 1 kali, berisi cairan dan ampas, sebanyak
setengah gelas
• BAK normal. Tidak ada kelainan
Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat Hipertensi (+) tensi paling tinggi 160/90, tidak
terkontrol
• Riwayat Diabetes mellitus (-), Riwayat TB (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


• Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan
yang sama.
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI KEBIASAAN

• Pasien seorang ibu rumah tangga.


• Sumber air minum dan masak dari sumur,
sumur jernih dan tidak berbau
• Rumah tidak ada MCK, MCK di sungai dekat
rumah pasien.
• Pasien jarang mencuci tangan menggunakan
sabun.
• Tidak ada warga sekitar yang menderita
keluhan yang sama dengan pasien.
PEMERIKSAAN FISIK

• Kesadaran : Komposmentis kooperatif


• Keadaan Umum : Sakit Sedang
• Tekanan Darah : 120 / 70 mmHg
• Nadi : 94 kali permenit
• Napas : 36 kali permenit
• Suhu : 38.10C
• Tinggi Badan : 148 cm
• Berat Badan : 50 kg
• Kulit : turgor baik, ikterik (-)
PEMERIKSAAN FISIK

• Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran


kelenjar getah bening
• Kepala : normocephal
• Rambut : hitam, tidak mudah di cabut
• Telinga : bentuk normal, NT auricular (-)
• Hidung : bentuk normal, septum deviasi (-)
• Tenggorokan : tidak ada kelainan
• Gigi dan Mulut : karies dentis (+), lidah tampak kotor
ditengah dan bagian tepi lidah
hiperemis. Lidah tremor (+)
• Leher : JVP 5-2 cmH2O
PEMERIKSAAN FISIK
Paru
inspeksi : statis , kiri = kanan
Dinamis, pergerakan kiri = kanan
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikular, ronki -/-, wheezhing -/-
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Batas atas Jantung : Linea Sternalis Dextra
Batas kiri jantung : 1 jari medial LMCS RIC V
Auskultasi : S1-S2 reguler, bising (-), gallop (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-), tidak tampak membuncit
Palpasi : supel, nyeri tekan (+) di region epigastrika,
hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Punggung :
Nyeri ketok CVA : (-)
Nyeri tekan CVA : (-)
Alat Kelamin : tidak dilakukan pemeriksaan
Anggota Gerak : akral hangat, perfusi baik, edem -/-
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
20/7/2018
• Hemoglobin : 13,0 g/dL
• Leukosit : 4.920 / mm3
• Trombosit : 181.000
• Hematokrit : 36.9%
• Kesan : Leukopeni

DIAGNOSIS KERJA
• Observasi febris e.c Susp demam tifoid
DIAGNOSA BANDING
• Demam Dengue
• Malaria

RENCANA TERAPI
• IVFD NaCl 0.9 %
• Paracetamol 3 x 500 mg (po)
• Ranitidin 2 x 1 amp
• Sucralfat 3 x 1 cth

PEMERIKSAAN ANJURAN
• Tes Widal
• Kultur Darah
FOLLOW UP
21/7/2018
S/ Demam naik turun (+) naik terutama sore dan malam hari
Sakit kepala (+)
Mual dan muntah (-)
Nyeri perut (+)
BAB hari ini belum ada. BAK normal, tidak ada keluhan
O/ KU Kes TD Nd Nf T
Sdg CMC 120/60 84x 22x 37,7oC

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik


Lidah : lidah tampak kotor ditengah dan bagian tepi lidah
hiperemis. Lidah tremor (+)
Paru : Suara nafas vesikular, rh-/-, wh-/-
Abdomen : distensi (-), nyeri tekan epigastrium (+), BU (+)
Ekstrimitas : akral hangat, CRT < 2 s
Pemeriksaan Labor 21/7/2018
Widal
- Salmonella Thypi O : (+) positif 1/160
- Salmonella Thypi H : (+) positif 1/320
A/ Susp. Demam Tifoid

P/ Istirahat, Diet Makanan Lunak, rendah serat


IVFD NaCl 0.9% 8 jam/ kolf
Injeksi Ceftriakson 1 x 2 gr
Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg
Sucralfat syr 2 x1 cth
22/7/2018
S/ Demam naik turun (+) naik terutama sore dan malam hari
Sakit kepala (+)
Mual dan muntah (-)
Nyeri perut (+) menurun
BAB hari ini belum ada. BAK normal, tidak ada keluhan
O/ KU Kes TD Nd Nf T
Sdg CMC 100/60 90x 20x 37,2oC

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik


Lidah : lidah tampak kotor ditengah dan bagian tepi
lidah hiperemis. Lidah tremor (+)
Paru : Suara nafas vesikular, rh-/-, wh-/-
Abdomen : distensi (-), nyeri tekan epigastrium (+), BU (+)
Ekstrimitas : akral hangat, CRT < 2 s
A/ Susp. Demam Tifoid

P/ Istirahat, Diet Makanan Lunak, rendah serat


IVFD NaCl 0.9% 8 jam/ kolf
Injeksi Ceftriakson 1 x 2 gr
Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg
Sucralfat syr 2 x1 cth

Anjuran
• Test Widal ulang
23/7/2018
S/ Demam naik turun (-)
Sakit kepala (+)
Mual dan muntah (-)
Nyeri perut (+) menurun
BAB hari ini belum ada. BAK normal, tidak ada keluhan
O/ KU Kes TD Nd Nf T
Sdg CMC 110/60 82x 20x 37,oC

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik


Lidah : lidah tampak kotor ditengah dan bagian tepi lidah
hiperemis. Lidah tremor (-)
Paru : Suara nafas vesikular, rh-/-, wh-/-
Abdomen : distensi (-), nyeri tekan epigAstrium (+), BU (+)
Ekstrimitas : akral hangat, CRT < 2 s
A/ Susp. Demam Tifoid

P/ Istirahat, Diet Makanan Lunak, rendah serat


IVFD NaCl 0.9% 8 jam/ kolf
Injeksi Ceftriakson 1 x 2 gr
Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg
Sucralfat syr 2 x1 cth
24/7/2018
S/ Demam naik turun (-)
Sakit kepala (-)
Mual dan muntah (-)
Nyeri perut (-)
Intake baik, pasien menghabiskan makanan yang
diberikan
BAB normal. BAK normal, tidak ada keluhan

O/ KU Kes TD Nd Nf T
Sdg CMC 100/60 65x 18x 36,6oC
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Lidah : lidah kotor sedikit berkurang dan bagian tepi
lidah tidak hiperemis. Lidah tremor (-)
Paru : Suara nafas vesikular, rh-/-, wh-/-
Abdomen : distensi (-), nyeri tekan epigastrium (+), BU (+)
Ekstrimitas : akral hangat, CRT < 2 s
A/ Susp. Demam Tifoid

P/ Istirahat, Diet Makanan Lunak, rendah serat


IVFD NaCl 0.9% 8 jam/ kolf
Injeksi Ceftriakson 1 x 2 gr
Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg
Sucralfat syr 2 x1 cth
Pasien dipulangkan
DISKUSI
Seorang pasien wanita usia 53 tahun datang ke
RSUD Pariaman dengan :

Keluhan utama demam sejak 1 minggu sebelum masuk


rumah sakit dan meningkat sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit, demam hilang timbul dan meningkat
terutama pada sore dan malam hari.

Demam merupakan respon tubuh terhadap adanya


pirogen endogen maupun eksogen melalui
rangsangan interleukin 1, interleukin 6 dan TNF alfa
ke pusat pengatur suhu di hipotalamus.
• demam naik turun
TIFOID • meningkat pada sore dan malam
hari

• mengikuti grafik pelana


DENGUE kuda

• demam muncul periodik


MALARIA • trias malaria
mual dan muntah sejak 2 hari sebelum masuk rumah
sakit, muntah 2 kali berisi sisa makanan

• Mual dan muntah merupakan usaha tubuh untuk mengeluarkan isi


lambung. Dapat diakibatkan oleh empat hal yaitu:
1) peregangan berlebihan dan iritasi saluran cerna
2) penyumbatan di lumen usus, lumen ureter dan lumen saluran
empedu
3) rangsangan psikis dari ekstramedula otak, berupa bau, rasa takut
4) kemoreseptor trigger zone di postrema dasar ventrikel empat
yang dekat dengan aliran pembuluh darah, bila komponen darah
terdapat toksin

Salmonella Typhi menginvasi epitel mukosa saluran cerna


berproliferasi, mengakibatkan peradangan, hyperplasia
plak peyer, hingga nekrosis epitel saluran cerna, iritasi ini
merangsang respon mual dan muntah.
Sakit perut sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit
dapat disebabkan oleh
• peradangan, peregangan berlebihan, iritasi /
luka, iskemi dan penyumbatan saluran
berlumen pada traktus gastrointestinal.

Pada demam tifoid nyeri dapat diakibatkan oleh


iritasi saluran cerna oleh peradangan saluran
cerna.
Sakit kepala sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit
Nafsu makan menurun sejak 5 hari sebelum masuk
rumah sakit

Merupakan gejala konstitusional pada infeksi sistemik


akibat fase bakterimia II pada demam tifoid

Pasien juga mengeluhkan BAB cair 1 x sebelum masuk


rumah sakit

Pada penderita tifoid terdapat gangguan defekasi yang


bisa berupa diare, konstipasi hingga BAB berdarah
akibat erosi pembuluh darah pada plak peyer yang
mengalami hiperplasi dan nekrosis.
Demam dengan suhu 38,1 oC.
Lidah tampak kotor ditengah dan bagian tepi lidah
hiperemis, dengan lidah tremor.

Lidah kotor merupakan lidah yang berselaput ( kotor


ditengah, tepi dan ujung merah disertai tremor lidah).
Lidah tremor diakibatkan oleh gerakan involenter
akibat aktivitas neuron yang berlebihan.

Nyeri tekan pada regio epigastrium. Tidak ditemukan


adanya hepatosplenomegali

Pada penderita tifoid nyeri umumnya pada regio


epigastrium dan bisa ditemukan hepatospleonomegali
akibat S. typhi yang berkembang biak dan menginvasi
organ retikuloendotelial
Dari pemeriksaan laboratorium ditemukan leukosit
4.920 / mm3.

Pada pemeriksaan darah perifer lengkap penderita


tifoid sering menunjukan leukopenia namun dapat pula
terjadi kadar leukosit yang normal dan leukositosis.

Uji Widal agglutinin O 1/160, aglutiin H 1/320,

nilai ini tidak definitif untuk tifoid dan perlu dilakukan


pemeriksaan ulang. Uji Widal dikatakan positif bila titer
agglutinin O 1/320, titer agglutinin H 1/640 atau
terdapat kenaikan empat kali lipat titer aglutinin pada
pemeriksaan ulangan dengan interval waktu 5-7 hari.
• Pemeriksaan widal saja tidak dianjurkan untuk
penegakan diagnosis tifoid karena sensitivitas
dan spesifisitasnya yang kurang, pemeriksaan
serologi lain yang dapat dilakukan adalah uji
typhidot yang sensitivitasnya lebih tinggi.
• Pada pasien dianjurkan dilakukan pemeriksaan
kultur darah. Gold standar untuk diagnosis
demam tifoid adalah pemeriksaan kultur yang
dapat dilakukan dari spesimen, darah, feses, urin
dan cairan empedu pada kasus lanjut dan untuk
mendeteksi karier tifoid.
Terapi non farmakologi
• Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan imobilisasi.
Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat
tidur, seperti makan, minum, mandi, buang air kecil
dan buang air besar akan membantu mempercepat
penyembuhan.
• Pasien diberikan diet bergizi seimbang, konsistensi
lunak, cukup kalori dan protein, rendah serat.
• Pada pasien juga di jaga kecukupan asupan cairan,
yang dapat diberikan secara oral maupun parenteral,
diberikan IVFD NaCl 0.9% 8 jam/kolf untuk rehidrasi.
Obat-obat simptomatik
• Parasetamol 3 x 500 mg untuk menurunkan
demam, dan obat-obat
• Untuk mengurangi keluhan gastrointestinal
seperti, Inj. Ranitidine 2 x 1 amp dan Sucralfat
sirup 3 x 1 cth untuk mencegah iritasi mukosa
usus.
Terapi definitif
• Terapi definitif diberikan antibiotik injeksi
seftriakson 1 x 2 gram.
• Respon terapi baik gejala demam, nyeri perut,
sakit kepala, mual dan muntah, bab cair
berangsur membaik. Pada tanggal 24/7/2018
pasien dipulangkan dengan kondisi gejala klinis
ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi atau
komorbid yang membahayakan, kesadaran baik,
dapat makan serta minum dengan baik.
• Respon terapi baik gejala demam, nyeri perut,
sakit kepala, mual dan muntah, bab cair
berangsur membaik.
• Pada tanggal 24/7/2018 pasien dipulangkan
dengan kondisi gejala klinis ringan, tidak ada
tanda-tanda komplikasi atau komorbid yang
membahayakan, kesadaran baik, dapat makan
serta minum dengan baik.
• Respon terapi baik gejala demam, nyeri perut,
sakit kepala, mual dan muntah, bab cair
berangsur membaik.
• Pada tanggal 24/7/2018 pasien dipulangkan
dengan kondisi gejala klinis ringan, tidak ada
tanda-tanda komplikasi atau komorbid yang
membahayakan, kesadaran baik, dapat makan
serta minum dengan baik.
Pasien memiliki faktor risiko yaitu kebersihan sanitasi
lingkungan dan higine pribadi. Rumah pasien tidak
memiliki MCK dan MCK di lakukan di sungai dekat
rumah pasien. Pasien juga menyiapkan makanan
sendiri di rumah dan jarang mencuci tangan
menggunakan sabun

• Saat pulang pasien diedukasi untuk selalu


mencuci tangan setelah dari kamar mandi,
sebelum menyiapkan makanan dan sebelum
makan. Pasien dan keluarga juga diedukasi untuk
memperbaiki sanitasi di lingkungan rumahnya
untuk menghindari penyebaran penyakit melalui
waterborn disease.
Terimakasih