Anda di halaman 1dari 14

FARINGITIS

1. DEFENISI
Faringitis (dalam bahasa latin; pharyngitis),
adalah sebuah penyakit yang menyerang
tenggorokan atau faring. Radang ini bisa
disebabkan oleh virus atau bakteri,
disebabkan daya tahan yang lemah
Dapat pula disebabkan oleh berbagai faktor
pendukung seperti adanya rangsangan oleh
asap, uap dan zat kimia.
2. KLASIFIKASI
• Faringitis akut, adalah radang tenggorok yang disebabkan oleh virus dan
bakteri yaitu streptokokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan
tonsil yang masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggorok dan kadang
disertai demam dan batuk.Faringitis ini terjadinya masih baru,belum
berlangsung lama.
• Faringitis kronis adalah radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam
waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada
sesuatu yang mengganjal di tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi
pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkungan
berdebu,menggunakan suara berlebihan, menderita batu kronik, dan
kebiasan menkonsumsi alcohol dan tembakau.
• Faringitis kronik dibagi menjadi 3, yaitu: Faringitis hipertrofi,ditandai
dengan penebalan umum dan kongesti membran mukosa. Faringitis
atrofi merupakan tahap lanjut dari faringitis hipertrofi (membran tipis,
keputihan,licin dan pada waktunya berkerut). Faringitis granular kronik
terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding faring.
3. EPIDEMIOLOGI
• Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak
dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang
paling tinggi terjadi pada anak-anak.
• Faringitis akut jarang ditemukan pada usia
dibawah 1 tahun. Insedensi meningkat dan
mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi
tetap berlanjut sepanjang akhir masa anak-anak
dan kehidupan dewasa.
• Kematian akibat faringitis jarang terjadi, tetapi
dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi
penyakit ini.
4. ETIOLOGI
• 1. Group A beta-hemolytic streptococci (GABHS) 15% kasus faringitis.
• Gambaran klinis berupa: demam lebih dari 101.5°F, tonsillopharyngeal eritem
dan eksudasi, pembengkakan limfonodi leher, sakit kepala, muntah pada anak-
anak, petechiae palatal, biasa terjadi pada cuaca dingin.
• Suatu ruam scarlatiniform juga dihubungkan dengan infeksi GABHS ruam
kemerahan pada ekstremitas dan lidah memerah (strawberry tongue)

2. Group C, G, F Streptococci ( 10%), mungkin secara klinis tidak bisa dibedakan


dari infeksi GABHS, namun Streptococcus jenis ini tidak menyebabkan sequelae
immunologic. Streptococci grup C dan G telah dilaporkan sebagai penyebab radang
selaput otak (meningitis), endocarditis, dan empyema subdural.
• Arcanobacterium Chlamydia pneumoniae (5%), gejala mirip dengan M
pneumoniae. Faringitis biasanya mendahului terjadinya peradangan pada paru.
• Corynebacterium diphtheriae
• Bakteri yang jarang namun dapat dijumpai pada faringitis yaitu Borrelia species,
Francisella tularensis, Yersinia species, and Corynebacterium ulcerans.
• ( Corynebacterium) haemolyticus ( 5%) banyak terjadi pada dewasa
muda,gejalanya mirip dengan infeksi GABHS, berupa ruam scarlatiniform. Pasien
sering mengeluh batuk.
• Mycoplasma pneumoniae, pada dewasa muda dengan headache, faringitis, and
nfeksi pernafasan bawah. Kira-kira 75% pasien disertai batuk.
• 3. Viral pharyngitis
o Adenovirus (5%):.
o Herpes simplex (< 5%):
o Coxsackieviruses A and B (< 5%):
o Epstein-Barr virus (EBV):
o CMV.
o HIV-1:

4. Penyebab lain
o Candida sp. Pada pasien-pasien dengan riwayat
pengbatan penekan sistem imun. Banyak terjadi pada anak
dengan gambaran plak putih pada orofaring.
o Udara kering, alergi (postnasal tetes), trauma kimia,
merokok, neoplasia.
5. PATOGENESIS

• Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan


epitel kemudian epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial
bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian
oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi
menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat
pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding
faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning,
putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid.
Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring
posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan
membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau
faringitis.
6. DIAGNOSIS
• Gejala Klinis :
Faringitis mempunyai karakteristik yaitu demam yang
tiba-tiba, nyeri tenggorokan, nyeri telan, adenopati
servikal, malaise dan mual. Faring, palatum, tonsil
berwarna kemerahan dan tampak adanya
pembengkakan. Eksudat yang purulen mungkin
menyertai peradangan. Gambaran leukositosis dengan
dominasi neutrofil akan dijumpai. Khusus untuk
faringitis oleh streptococcus gejala yang menyertai
biasanya berupa demam tiba-tiba yang disertai nyeri
tenggorokan, tonsillitis eksudatif, adenopati servikal
anterior, sakit kepala, nyeri abdomen, muntah, malaise,
anoreksia, dan rash atau urtikaria
• Demam akibat infeksi streptokokus biasanya lebih dari 38,30C. Faringitis
dengan penyebab bakteri dan virus biasanya bertahan dalam waktu 1
minggu, namun faringitis dengan penyebab noninfeksi biasanya lebih
lama. Penting untuk menggali informasi mengenai riwayat penyakit
pasien, seperti alergi, demam reumatik, dan penyakit imunokompromis.
• Pemeriksaan fisik yang terutama pada faringitis yaitu pemeriksaan tanda
vital dan pemeriksaan THT. Pada pemeriksaan tenggorokan, dapat
ditemukan adanya :
• · Eksudat dan kemerahan pada tonsil
• · Bercak kemerahan pada palatum molle, tampakan lidah seperti
stroberi dengan papila yang merah dan lidah yang keputihan
• · Limfadenopati servikal
• · Pada pemeriksaan paru, dapat ditemukan beberapa tanda klinis pada
pasien dengan riwayat demam reumatik, yaitu pembengkakan sendi,
nyeri, nodul subkutan, eritema marginatum, atau murmur jantung.
• Pemeriksaan penunjang dapat berupa :
• · Kultur swab tenggorokan; merupakan tes gold standard. Jenis
pemeriksaan ini sering dilakukan. Namun, pemeriksaan ini tidak
bisa membedakan fase infektif dan kolonisasi, dan membutuhkan
waktu selama 24 – 48 jam untuk mendapatkan hasilnya.
• · Tes infeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH
• · Tes Monospot, merupakan tes antibodi heterofil. Tes ini
digunakan untuk mengetahui adanya mononukleosis dan dapat
mendeteksi penyakit dalam waktu 5 hari hingga 3 minggu setelah
infeksi
• · Tes deteksi antigen cepat; tes ini memiliki spesifisitas yang
tinggi namun sensitivitasnya rendah
• · Heterophile agglutination assay
7. TATALAKSANA
• Faringitis bakteri yang tidak diobati dapat
sembuh dengan sendirinya dalam 3-7 hari. Bila
faringitis bakteri diberi antibiotik pada 1-2 hari
pertama, masa penyembuhan dan masa
penularan akan menjadi lebih pendek.
Faringitis virus akan sembuh dalam 1 minggu,
lamanya tergantung sistem kekebalan tubuh.
• Apabila penyebabnya diduga infeksi firus, pasien cukup
diberikan analgetik dan tablet isap saja. Antibiotika
diberikan untuk faringitis yang disebabkan oleh bakteri
Gram positif disamping analgetika dan kumur dengan
air hangat. Penisilin dapat diberikan untuk penyebab
bakteri GABHS, karena penisilin lebih kemanjurannya
telah terbukti, spektrum sempit,aman dan murah
harganya. Dapat diberikan secara sistemik dengan dosis
250 mg, 2 atau 3 kali sehari untuk anak-anak, dan 250
mg 4 kali sehari atau 500 mg 2 kali sehari selama 10
hari. Apabila pasien alergi dengan penisilin, dapat
diganti dengan eritromisin.
8. KOMPLIKASI
• Demam scarlet, yang ditandai dengan demam dan bintik
kemerahan
• Demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi atau
kerusakan pada katup jantung. Pada negar berkembang, sekitar 20
juta orang mengalami demam reumatik akut yang mengakibatkan
kematian.5Demam reumatik merupakan komplikasi yang paling
sering terjadi dari faringitis.2
• Glomerulonefritis; Komplikasi berupa glomerulonefritis akut
merupakan respon inflamasi terhadap protein M spesifik. Kompleks
antigen-antibodi yang terbentuk berakumulasi pada glomerulus
ginjal yang akhirnya menyebabkan glomerulonefritis ini.1
• Abses peritonsilar biasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia,
demam, dan dehidrasi.2
• Shok
9. PROGNOSIS
• Prognosis dari faringitis ini biasanya baik,
karena biasanya faringitis ini dapat sembuh
sendiri. Namun, jika faringitis ini berlangsung
lebih dari satu minggu, masih terdapat
demam, pembesaran nodus limfa, atau
muncul bintik kemerahan, hal tersebut dapat
berarti terjadi komplikasi dari faringitis,
seperti demam reumatik.