Anda di halaman 1dari 36

Expanded

Dengue
Syndrome

Merzasilia Hi’ma P

201620401011144
BAB 1

PENDAHULUAN
Dengue
2011 guideline WHO, dengue
dibagi menjadi demam dengue,
demam berdarah dengue, demam Dengue merupakan penyakit virus utama
berdarah dengue tanpa syok atau yang menyerang manusia disebabkan
dengan syok dan expanded dengue oleh nyamuk ditemukan lebih dari 100
syndrome (EDS) negara dan mengancam lebih dari 2,5
juta penduduk di negara tropis dan
subtropik. Case fatality rate dari demam
berdarah dengue sekitar 5%, kebanyakan
kasus yang fatal terjadi pada anak-anak
spektrum yang luas dari infeksi dengue
yang mempengaruhi berbagai sistem
organ; kardiovaskular, gastrointestinal,
hepar, sistem saraf, paru-paru dan
sistem renal. Kondisi ini dapat terjadi
karena mungkin terkait dengan
koinfeksi, komorbid, atau komplikasi
dari syok berkepanjangan
BAB 2

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
– Nama : An. PDM
– Usia : 10 bulan
– Jenis Kelamin : Laki-laki
– Alamat : Kedungbanteng - Blora
– No RM : 23.87.59
– Tanggal Masuk : 25 Juni 2018
Anamnesis
Keluhan Utama :
Demam
Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke IGD RS Muhammadiyah Lamongan pada tanggal 25 Juni 2018.


Pasien datang dengan keluhan utama demam. Dari aloanamnesis dengan ibu
pasien didapatkan bahwa pasein dikeluhkan demam sejak 6 hari smrs (selasa
malam). Demam dikeluhkan terus menerus dan tidak membaik. Demam sempat
turun pada hari ke 2 , namun kemudian demam tinggi lagi. Pasien juga dikeluhkan
mual dan muntah sebanyak >3 kali. Sesak +, batuk -, pilek +, sariawan +, tidak BAB
sejak 3 hari yang lalu, BAK dbn.
Riwayat Penyakit Dahulu :
– Pasien sudah periksa ke dokter dan bidan namun keluhan tidak membaik, lalu
pasien dibawa ke RSUD blora dan dirawat di sana dengan diagnosis observasi
febris. Di RS Blora infus tidak bisa terpasang sehingga pasien dibawa ke RSML
– Alergi (-), Kejang (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :
– Tidak terdapat keluarga yang memiliki riwayat sakit seperti pasien. Riwayat
alergi (-)
Riwayat tumbuh kembang
Riwayat tumbuh kembang kesan normal

Riwayat Imunisasi :
Riwayat imunisasi lengkap sesuai jadwal, terakhir imunisasi campak

Riwayat Nutrisi:
Makan tidak mau, minum sedikt-sedikit
Pemeriksaan

Head to toe
Vital Sign – Kepala/Leher : anemis -, icterus -, cyanosis
– Kesadaran : Compos mentis -, dyspnea +, ubun-ubun cekung, mata cowong
+/+
– GCS : 456
– HR : 133 x/menit – Thorax:

– RR : 60 x/menit •Inspeksi : Simetris, retraksi -/-

– T : 39,6 CoC •Palpasi : Thrill (-),


– BB : 8 KG •Perkusi : Paru sonor/sonor, batas
jantung dbn
•Auskultasi : Paru ves/ves, rh +/+, wh -/-,
Jantung S1S2 tunggal, murmur -, gallop
– Abdomen : – Ekstremitas
•Inspeksi : slight distended •Inspeksi : ikterik -, cyanosis -,
•Auskultasi : Meteorismus -, edema –
bising usus (+) normal •Palpasi : dingin, kering,
•Palpasi : Hepar/Lien tidak merah, CRT <2”
teraba, nyeri tekan (-), asites
•Perkusi : Timpani
Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemeriksaan 25/6/18 Nilai Rujukan

Hemoglobin 12,1 12,0 – 14,5 g/dL


(lab. Darah Lengkap -> Hari 1) Hematokrit 36,5 37 – 47 %

Eritrosit 4,53 4,2 – 5,4 106/mm3

Leukosit 8,1 4,5 – 10,5 103/mm3

Trombosit 41 150-450 103/mm3

MCV 77,30 80-100 fL

MCH 26,70 27-31 pg

MCHC 34,60 32-36 %

RDW 11 11,5-14,5 %

MPV 8 7,2-11,1 fL

Eosinofil 2,6 0-6 %

Basofil 4,4 0-2 %

Neutrofil Segmen 67,2 50-70 %

Limfosit 12,4 20-40 %

Monosit 13,4 2-8 %


LED 10 <15 mm/jam

GDA 131

CRP 0,20 Normal 0,5-10


Pemeriksaan Penunjang
(Foto Thorax)
Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemeriksaan 26/6/18 Nilai Rujukan

Hemoglobin 9,8 12,0 – 14,5 g/dL


(lab. Darah Lengkap -> Hari 2) Hematokrit 20,0 37 – 47 %

Eritrosit 3,64 4,2 – 5,4 106/mm3

Leukosit 26,0 4,5 – 10,5 103/mm3

Trombosit 172 150-450 103/mm3

MCV 75,0 80-100 fL

MCH 25,50 27-31 pg

MCHC 34,00 32-36 %

RDW 121 11,5-14,5 %

MPV 9 7,2-11,1 fL

Eosinofil 0,5 0-6 %

Basofil 3,5 0-2 %

Neutrofil Segmen 75,2 50-70 %

Limfosit 7,9 20-40 %

Monosit 12,9 2-8 %


LED 1 10 0-1

LED 2 41 1-5
Pemeriksaan Penunjang
(lab. Analisa Gas Darah)
Jenis Pemeriksaan 26/6/18 Nilai Rujukan

Clorida 100

Kalium 4,85 3,5-5,1 mmol/L

Natrium 138 136-145 mmol/L

Be -3,5

Beecf -1,5

HCO3 21,2 22,0-26,0

HCT 31

PCO2 126,1 35-48 mmHg

PH 6,993 7,350-7,450

PO2 64,0 83,0-108,0 mmHg

SO2 76,8 94,0-98,0%

CtHb 10,5
Clue and Cue

Demam terus
menerus

trombositopenia
Akral dingin

Melena
An. PDM, Asidosis
Respiratorik
10 bln tanpa
kompensasi

dyspneu Efusi pleura

Hiponatremi
Clue and Cue

Problem List
Trombositopeni
Syok hipovolemik
Gagal Nafas

Diagnosis

DHF grade III dan Expanded


Dengue Syndrome (EDS)
Diagnosis
DHF grade III dan Expanded Dengue Syndrome (EDS)

Hari Pertama Hari ke dua


– Bed rest - Pemasangan ventilator  didapatkan ALO
dan gagal nafas
– NRM 6lpm
- Pemasangan chest tube  adanya
– Infus KaEn 3B loading 550cc/3 jam
pneumothorax
dilanjutkan infus KaEn 3A 800cc/24 jam
– Pasang kateter
– infus HES 160cc/2jam
– infus NaCl 3% 1500cc drop dalam 12 jam
– Injeksi ondansetron 1,6mg extra
– injeksi ranitidin 2x16mg
– Injeksi paracetamol 80mg
Planning
Edukasi
monitoring

keadaan diagnosis
umum penyakit

tanda – penyebab
tanda vital penyakit

Terapi dari
penyakit
BAB 3

PEMBAHASAN
Teori Kasus

Dengue merupakan penyakit virus utama yang Pasien adalah anak-anak sedang berusia 10 bulan
menyerang manusia disebabkan oleh nyamuk
ditemukan lebih dari 100 negara dan mengancam
lebih dari 2,5 juta penduduk di negara tropis dan
subtropik. Case fatality rate dari demam berdarah
dengue sekitar 5%, kebanyakan kasus yang fatal
terjadi pada anak-anak
Teori Kasus

Demam berdarah dengue (DBD), yaitu demam yang Pasien datang dengan keluhan demam mendadak,
timbul mendadak, tinggi (39-40 ̊C), terus-menerus (pola terus menerus, berlangsung selama 6 hari, asites,
demam kurva kontinua), bifasik, biasanya berlangsung
nadi cepat dan lemah, akral dingin, dan gelisah
2-7 hari. Pada DBD terjadi kebocoran plasma
DBD Derajat III  Kegagalan sirkulasi ditandai oleh
denyut nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (<20mmHg) atau hipotensi, suhu tubuh
rendah, kulit lembab dan penderita gelisah.
Teori Kasus

DBD Derajat III  Kegagalan sirkulasi ditandai oleh Pasien mengalami denyut nadi yang cepat dan lemah,
denyut nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi akral dingin, dan gelisah. Pemeriksaan laboratorium
menurun (<20mmHg) atau hipotensi, suhu tubuh didapatkan trombositopenia yaitu 41.000/mm3 ;
rendah, kulit lembab dan penderita gelisah. Peningkatan hematokrit > 20%
Pemeriksaan laboratorium trombositopenia <
100.000/mm3 atau peningkatan hematokrit > 20%
Kasus

Kriteria demam dengue derajat berat adalah Pasien mengalami hiponatremi menunjukkan
1) terdapatnya perembesan plasma yang berat yang ditandai adanya keadaan syok, efusi pleura serta asidosis
dengan syok, penumpukkan cairan dengan respiratory distress respiratorik tak terkompensasi
2) Perdarahan hebat, di evaluasi dari kondisi klinis pasien
3) gangguan organ yang berat, ditandai dengan SGOT atau SGPT
≥ 1000, gangguan sistem saraf pusat, serta gangguan jantung
dan organ lainnya. .
Dengue virus infection

Asymptomatic Symptomatic

Viral syndrome Dengue fever DHF


Plasma leakage
Expanded dengue syndrome
1.Prolonged shock: liver failure,
renal failure,…Encephalopathy…
2. Co-morbidities DHF
3. Co-infections DSS
Teori

Kasus:

Pasien berusia 10 bulan


Teori Kasus

Ensefalopati dengue dapat dijumpai peningkatan kadar • Pasien mengalami peningkatan kadar transaminase
transaminase (SGOT/SGPT), PT dan PTT memanjang. (SGOT/SGPT) dengan nilai SGOT 179 U/L dan SGPT
52 U/L.
• Perdarahan gastrointestinal juga didapatkan ditandai
dengan adanya feses yang berwarna hitam saat BAB
cair (melena).
• Pada pasien juga terjadi asidosis respiratorik tanpa
kompensasi hal ini menunjukkan adanya kegagalan
organ yang mengarah pada kondisi EDS.
NRM 6lpm
Infus KaEn 3B loading 550cc/3 jam dilanjutkan infus
KaEn 3A 800cc/24 jam
Pasang kateter
infus HES 160cc/2jam
infus NaCl 3% 1500cc drop dalam 12 jam
Injeksi ondansetron 1,6mg extra
injeksi ranitidin 2x16mg
Injeksi paracetamol 80mg
KESIMPULAN
– Pada pasien ini didiagnosis dengan DHF grade III karena terdapat keluhan
demam terus menerus disertai trombositopeni dan efusi pleura. Sedangkan
diagnosis Expanded Denge Syndrome (EDS) karena terdapat adanya
ensefalopati dengue dan kegagalan organ akibat asidosis respiratorik tanpa
kompensasi.