Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KASUS
KEGAGALAN MULTI ORGAN:
DIC, SIRS, SEPSIS, DAN
MODS
Anggota Kelompok 4

 Siti Sholihah 131411131013


 Lailaturohmah Kurniawati 131411131016
 Lucy Kartika Dewi 131411131031
 Sucowati Dwi Jatis 131411131032
 Retno Dewi Anggraini 131411131059
 Haris Arganata 131411131071
 Thaliah Jihan Nabilah 131411133014
 Faizah Maulidiyah 131411133019
 Arfa Zikriani 131411133024
 Aida Lutfiati 131411133026
DIC
(Disseminated Intravascular
Coagulation)
Definisi DIC

 Disseminated Intravaskular Coagulation (DIC) atau


dalam bahasa Indonesia di singkat KID (koagulasi
intravaskular diseminata) adalah suatu stimulus
abnormal dari proses koagulasi normal. Proses
pembekuan yang normal adalah keseimbangan antara
pembentukan pembekuan dan disolisi, pada DIC
keseimbangan tersebut terganggu
Etiologi DIC

Etiologi DIC adalah sindrom hemorrhagic diperoleh di


mana kedua pembekuan dan perdarahan terjadi secara
bersamaan. Sindrom ini juga dikenal sebagai
"disseminated intravascular coagulopathy" atau
"disseminated intravascular consumption" di beberapa
referensi.
Penyebab DIC:
Komplikasi Infeksi Neoplasms Massive Lainnya
Obstretik tissue injury
1. Abruptio 1. Gram- 1. Kanker 1. Trauma 1. Acute
Placenta negativ pancreas 2. Luka intravascular
2. Sisa kematian e sepsis , paru, bakar hemolysis
janin 2. Mening prostat 3. Operasi 2. Gigitan ular
3. Septic ococce 2. Acute ekstensif 3. Giant
abortion mia promyel Hemangioma
4. Amniotic 3. Histopla ocytic 4. Shock
fluid smosis leukimia 5. Heat Stroke
embolisme 4. Aspergil 6. Vasculitis
5. Toxaemia losis 7. Aortic Aneurysm
5. Malaria 8. Penyakit Liver
Patofisiologi DIC

 DIC merupakan paradoks dari kedua trombosis dan perdarahan.


dipercepat pembekuan intravaskular dengan kerusakan endotel
vaskular (sepsis, luka bakar), pelepasan zat prokoagulan ke
dalam darah (bisa ular, keganasan), generasi prokoagulan dalam
darah (transfusi darah yang tidak kompatibel), atau stagnan
aliran darah (syok). faktor koagulasi, terutama protrombin,
trombosit, faktor V, dan faktor VIII, dengan cepat dikonsumsi.
pada saat yang sama, sistem fibrinolitik diaktifkan untuk
memecah gumpalan. produk degradasi fibrin atau produk
pemecahan fibrin yang bertindak sebagai antikoagulan yang
beredar. kombinasi koagulasi, antikoagulan, dan fibrinolisis
akhirnya mengarah ke perdarahan (Copstead & Banasik 2013).
WOC DIC
Manifestasi Klinis DIC

 Pasien dengan DIC memang sakit berat. DIC sering


berkembang diam-diam, dan tanda pertama yang
terjadi adalah perdarahan luas. Pembekuan yang
terjadi menyumbat banyak pembuluh-pembuluh
darah kecil di perifer, dan karena ada gangguan pada
pembekuan, timbul perdarahan luas, berupa
ecchimosis, petechiae, perdarahan dari berbagai
lubang atau luka. Sering ada akrosianosis pada jari-jari
tangan dan kaki, dispnea (sesak napas), dan lain-lain
(Tambayong 2000).
Pemeriksaan Diagnostik DIC

 Pemeriksaan diagnostik DIC (Karamel 2001):


1. Pemeriksaan laboratorium
2. Pemeriksaan hemostatis
3. Pemeriksaan fragmen protombin 1+2
4. Pemeriksaan Laju Endap Darah
Komplikasi DIC

 Jika siklus proses DIC tidak dapat diatasi, maka akhir


proses ini akan terjadi (Manuaba 2007):
1. Perdarahan perdiatesis organ/ organ vital
2. Ekstravasasi cairan menimbulkan edema
3. Gangguan metabolisme berat, menimbulkan nekrosis

 Selanjutnya diikuti dengan proses kematian:


1. Kesadaran menurun
2. Koma
3. Gagal jantung dan akhirnya kematian
SIRS
(Systemic Inflammatory Response
Syndrome)
Definisi SIRS

Systemic Inflammatory Response Syndrome atau SIRS


terdiri dari rangkaian kejadian sistemik yang terjadi
sebagai bentuk respons inflamasi. Respons yang terjadi
pada SIRS merupakan respons selular yang menginisiasi
sejumlah mediator-induced respons pada inflamasi dan
imun (Burns M. & Chulay, 2006)
Etiologi SIRS

SIRS dapat disebabkan oelh infeksi-infeksi bakteri gram


negatif (-) beberapa diantaranya dapat disebabkan oleh
infeksi-infeksi jamur, dan sangat jarang disebabkan oleh
penyebab-penyebab lain.
Patofisiologi SIRS

Sebagai respon terhadap insult, tubuh akan menghasilkan


sitokin (tumor necrosis factor-a [TNF-α], interleukin) dan
substansi vasolidator (nitric oxide [NO], prostaglandin E2,
prostasiklin). Makrofag jaringan, monosit, sel matosit, sel
platelet, dan sel endotel akan memproduksi sitokin. TNF- α
dan interleukin 1 (IL-1) pertama kali dilepas dan memulai
beberapa kaskade. Terlepasnya IL-1 dan TNF- α (atau adanya
endotoksin atau eksotosin) menyebabkan pembelahan
nucleas factor-kB (NF-kB) inhibitor. NF-kB akan memicu
produksi messenger ribonucleic acid (mRNA), yang akan
menginduksi produksi sikotin proinflamasi lain.
WOC SIRS
Manifestasi Klinis SIRS

Diagnosis SIRS dapat diangkat apabila terdapat 2 atau


lebih dari 4 variabel berikut ini :
1. Suhu lebih dari 38ºC kurang dari 36ºC
2. Denyut jantung lebih dari 90x/menit
3. Frekuensi nafas lebih dari 20x/menit atau tekanan
parsial kaerbon dioksida (PaCO2) kurang dari 32
mmHg
4. Leukosit >12.000/µL atau <4.000/µL atau >10%
bentuk imatur
Pemeriksaan Diagnostik SIRS

 Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang


diagnosis SIRS (Burns M. & Chulay, 2006), yaitu:
1. Pemeriksaan sel darah lengkap
2. Arterial Blood Gas
3. Chest X-ray
4. Kultur dan sensitivitas
5. Computed axial tomography scan
Penatalaksanaan SIRS

1. dentifikasi pasien dengan risiko tinggi


2. Optimalisasi Hemodinamik Dini
3. Pemantauan Hemodinamik
4. Terapi Volume
5. Obat-Obatan Vasoaktif
6. Pemberian Eritrosit
7. Terapi Inotropik
8. Menurunkan Konsumsi Oksigen
Komplikasi SIRS

 SIRS sering berkembang menjadi kegagalan satu atau


lebih organ atau sistem organ Komplikasi SIRS
termasuk :
1. Cedera paru akut
2. Cedera ginjal akut
3. Syok
4. Sindrom Disfungsi organ multiple
Sepsis
Definisi Sepsis

Sepsis adalah suatu sindroma klinik yang terjadi oleh


karena adanya respon tubuh yang berlebihan terhadap
rangsangan produk mikroorganisme.
Etiologi Sepsis

Mayoritas dari kasus-kasus sepsis disebabkan oleh


infeksi-infeksi bakteri gram negatif (-) dengan
persentase 60-70% kasus, beberapa disebabkan oleh
infeksi-infeksi jamur, dan sangat jarang disebabkan oleh
penyebab-penyebab lain dari infeksi atau agen-agen
yang mungkin menyebabkan SIRS. Sepsis bisa
disebabkan oleh mikroorganisme yang sangat
bervariasi, meliputi bakteri aerobik, anareobik, gram
positif, gram negatif, jamur, dan virus (Linda D.U, 2006).
Patofisiologi Sepsis

Perjalanan terjadinya sepsis merupakan mekanisme


yang kompleks, antara mikroorganisme penginfeksi,
dan imunitas tubuh manusia sebagai penjamu . Saat ini
sepsis tidak hanya dipandang sebagai respon inflamasi
yang kacau tetapi juga meliputi ketidakseimbangan
proses koagulasi dan fibrinolisis . Hal ini merupakan
mekanisme – mekanisme penting dari patofisiologi
sepsis yang dikenal dengan kaskade sepsis.
WOC Sepsis
Manifestasi Klinis Sepsis

 Pada pasien sepsis kemungkinan ditemukan:


1. Perubahan sirkulasi
2. Penurunan perfusi perifer
3. Takikardia
4. Tachypnea
5. Pyresia atau temperature <360c
6. Hipotensi
Pemeriksaan Diagnostik Sepsis
1. Hitung darah lengkap
2. Jumlah trombosit rendah, bisa menunjukkan koagulasi intravascular
diseminata (DIC) pada sepsis berat.
3. Kultur darah
4. WBC > 12.000/mm3 atau < 4.000/mm3 atau 10% bentuk immature
5. Hiperglikemia > 120 mg/dl
6. Peningkatan Plasma C-reaktif protein
7. Peningkatan plasma procalcitonin.
8. Serum laktat > 1 mMol/L
9. Creatinin > 0,5 mg/dl
10. INR > 1,5
11. APTT > 60
12. Trombosit < 100.000/mm3
13. Total bilirubin > 4 mg/dl
14. Biakan darah, urine, sputum hasil positif
Penatalaksanaan Sepsis

1. Terapi antibiotik
2. Resusitasi Cairan
3. Oksigenisasi dan bantuan ventilasi
4. Vasoaktif dan Inotropik
Komplikasi Sepsis

 Komplikasi bervariasi berdasarkan etiologi yang mendasari.


Potensi komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
1. Cedera paru akut (acute lung injury) dan sindrom
gangguan fungsi respirasi akut (acute respiratory distress
syndrome)
2. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
3. Gagal jantung
4. Gangguan fungsi hati
5. Gagal ginjal
6. Sindroma disfungsi multiorgan
MODS
(Multiple Organ Dysfunction
Syndrome)
Definisi MODS

Sindrom Disfungsi Organ Multipel (Multiple Organ


Dysfunction Syndrome/ MODS) didefinisikan sebagai
adanya fungsi organ yang berubah pada pasien yang
sakit akut, sehingga homeostasis tidak dapat
dipertahankan lagi tanpa intervensi. Disfungsi dalam
MODS melibatkan >2 sistem organ (Herwanto &
Amin,2009).
Etiologi MODS

Faktor risiko utama terjadinya MODS adalah sepsis


dan Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS),
beratnya penyakit (berdasarkan Acute Physiology and
and Chronic Health Evaluation/APACHE II dan III), shock
dan hipotensi berkepanjangan, terdapat fokus jaringan
mati, trauma berat, operasi besar, adanya gagal hati
stadium akhir, infark usus, disfungsi hati, usia >65 tahun,
dan penyalahgunaan alkohol. (Herwanto & Amin,2009)
Patofisiologi MODS

penting untuk mengatahui bahwa fenomena hetergogen


diketahui sebagai systemic inflammatory response
syndrome (SIRS), sepsis dan multiple organ dysfuction
syndrome (MODS) bukanlah suatu penyakit. Ketiga hal
tersebut adalah proses inflamasi dan pada dasarnya
merupakan konsekuensi yang tidak diinginkan dari resusitasi
pada sejumlah penyakit parah atau cidera mengetumakan
perawatan medis yang baru akan menyebabkan fatal.
Beberapa contoh penyakit adalah luka bakar berat, luka
trauma, pankreatitis parah, kerusakan intra abdominal.
Ruptur aneurisma aorta, seta infeksi nosokomial dengan
organisme resistan (Fischer, 2007).
WOC MODS
Manifestasi Klinis MODS

Kegagalan hematologi dan miokardial biasanya


merupakan manifestasi akhir MODS, sedangkan
kegagalan SSP dapat terjadi di awal atau akhir
perjalanan penyakit. Urutan kegagalan organ ini dapat
dipengaruhi oleh proses penyakit akut dan cadangan
fisiologis pasien. Pada pasien MODS, gagal respirasi
merupakan jenis disfungsi yang paling sering (74,4%)
dan menyebabkan mortalitas yang tinggi (65,5%)
(Herwanto & Amin, 2009).
Pemeriksaan Diagnostik MODS

Pemeriksaan diagnostic MODS bisa dilakukan dengan


Pendekatan Klinis dengan Sistem Skoring. Skor
kegagalan organ terutama dimaksudkan sebagai alat
deskriptif untuk menstratifikasi dan membandingkan
status pasien di ICU dalam hal morbiditas, bukan
mortalitas (kecuali Logistic Organ Dysfunction System/
LODS) (Herwanto & Amin, 2009).
Penatalaksanaan MODS

Manajemen pasien MODS yang terutama adalah


suportif, sedangkan terapi spesifik diarahkan untuk
mengidentifikasi dan menterapi penyakit dasar. Infeksi
dan sepsis adalah kondisi tersering sebagai penyebab
MODS. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan
investigasi terhadap kemungkinan adanya infeksi aktif
pada setiap kasus MODS dengan pemeriksaan kultur
dari lokasi infeksi hingga dengan pemeriksaan
diagnostik lain.
ASKEP
Terima Kasih