Anda di halaman 1dari 22

KAPUR

OLEH:
NOVITA PUTRI UTAMI
PRIMA ANUGERAH
PENGERTIAN KAPUR
UMUM
Kapur merupakan bahan bangunan yang sangat
penting dan sudah digunakan sejak dahulu. Orang-
orang Mesir menggunakan kapur untuk pekerjaan
plester.
Di Romawi, kapur digunakan untuk pekerjaan
pembuatan adukan, pasangan, plesteran.
Sampai saat ini, kapur merupakan bahan bangunan
yang utama untuk segala tujuan. Selain itu, kapur juga
banyak digunakan dalam bidang industri.
SIFAT-SIFAT KAPUR

 Mempunyai sifat plastis yang baik (tidak


getas)
 Sebagai mortel, member kekuatan pada
tembok.
 Dapat mengeras dengan cepat dan mudah.
 Mudah dikerjakan.
 Mempunyai ikatan yang bagus dengan batu
atau bata.
PENGGUNAAN KAPUR
Kegunaan Batu Kapur secara umum:
 sebagai perekat ( mortar, plesteran, dll )
 sebagai flokulan (ind. gula, dll)
 untuk hidrolisasi ( ind. Sabun, dll )
 sebagai fluk (pembuatan keramik, dll)
 bahan absorbsi ( bahan pemutih, dll )
 sebagai pelumas (pembuat kawat, dll)
 pelarut / solvent (ind. Cat casein, dll )
 bahan koustik (ind. pulp sulfat, dll)
 bahan dihidrasi (pengering udara, dll)
 untuk netralisasi (pemurnian air, dll)
Sedangkan, kegunaan kapur pada bidang teknik sipil:
 Memudahkan pengolahan pada adukan (mortar)
semen
 Mengikat kapur bebas, yang timbul pada ikatan
semen
 Perekat dan digunakan untuk plesteran
 Sebagai bahan ikat pada beton. Bila dipakai
bersama-sama semen Portland,sifatnya menjadi
lebih baik dan dapat mengurangi kebutuhan
semenPortland.
 Sebagai bahan pemutih
 Sebagai batuan jika berbentuk batu kapur
KLASIFIKASI KAPUR
 Kapur tohor(CaO)
Hasil pembakaran batu alam yang
komposisinuasebagian besar berupa kalsiu karbonat2.
 Kapur padam (Ca(OH)
Hasil pemadama kapur tohor dengan air
danmembentuk hidrat3.
 Kapur udara
kapur padam yang apabila diaduk dengan air setelah
beberapawaktu dapat mengeras di udara karena
pengikatan karbon dioksida.4.
 Kapur hidrolis
kapur padam yang apabila diaduk dengan air
setelahbeberapa waktu dapat mengeras baik di dalam
air atau di udara.
Kapur dapat digolongkan menjadi

 Fat Lime
 Hidraulic Lime
 Poor Lime
FAT LIME

 Kapur ini diperoleh dengan pembakaran batu


kapur murni (CaCO3).
 Kapur ini berisi sekitar 95% kalsium oksida
(CaO) dan sekitar 5% material lain setelah
pembakaran.
Sifat-sifat Fat lime:

 Tingkat pengerasan lambat


 Mengembang 2 sampai 2,5 kali setelah
pembasahan
 Mempunyai suatu derajat tingkat kekenyalan
sangat tinggi
 Mudah larut dalam air
 Berwarna putih susu ketika bentuknya murni
Kegunaan Fat Lime:

 Pemutih cucian
 Untuk plesteran
Kapur Hidrolik

 Kapur padam yang bila diaduk dengan air


setelah beberapa waktu dapat mengeras baik
dalam air maupun diudara.
 Kapur ini tidak berwarna putih karena
pengaruh presentase kandungan silika alumina
dan besi oksida di dalamnya.
 Banyak digunakan sebagai mortar dan
pengerjaan plester. Mengalami penyusutan
sangat sedikit.
kapur hidrolik dapat dibagi menjadi 3:

 kapur hidrolik lemah


persentase silika alumina dan besi oksida kurang dari
15%
 kapur hidrolik sedang
terdiri dari 15 sampai 20% silika dan alumina
 kapur hidrolik kuat
kualitas kapur ini lebih baik dari pada kapur sebelumnya.
Persentase silika dan alumina antara 20 sampai
30%.Sering digunakan dalam pengerjaan dibawah air
atau lingkungan lembab.
Poor Lime

 Kadar lempung lebih dari 30%.


 Dikenal juga sebagai kapur tidak murni.
PENGOLAHAN KAPUR MURNI

Pengolahan kapur murni melibatkan tiga


langkah-langkah yang terpisah:
 Mengumpulkan batu kapur
 Pembakaran atau kalsinasi batu kapur
 Pemadaman dari kapur yang dikalsinasi atau
kapur apung
Mengumpulkan batu kapur

 Batu kapur yang bermutu baik dikumpulkan


dari lapangan ke pabrik.
 Batu kapur harus mengandung 95% calcium
carbonat (CaCO3).
 Batu kapur yang terkumpul kemudian di
pecah menjadi bongkahan-bongkahan yang
berukuran lebih kecil.
Pembakaran atau Kalsinasi

 Pada proses ini, batu kapur yang telah di


pecah di bakar ke suhu pijar (panas tinggi),
pada kiln.

Kiln dibagi menjadi 2 macam:


1. Intermittent kilns
2. Continuous kilns
Intermittent kilns

Ada beberapa tipe dari intermitten kilns ini,


tetapi yang sering digunakan adalah
1. Intermittent flame kiln.
Kiln diisi dengan batu kapur yang sudah
hancur dan bahan bakar, dan disusun berlapis-
lapis. Kemudian kiln di bakar sampai 3 hari
2. intermittent flare kiln; pada proses ini bahan
bakar tidak boleh kontak langsung dengan batu
kapur yang sudah dihancurkan.
Continuous kiln
1. Cotinuous flame type kiln ini terdiri atas satu
penutup yang silindris yang tetap membuka ada
di puncak
2. Continous flare type kiln pada dalam kiln ini,
bahan bakar tidak boleh tercampur dengan batu
kapur.
Kelebihan pembakaran berkelanjutan :
 Bahan bakar digunakan secara ekonomis
 Suplai batu kapur berkelanjutan
 Terdapat pengendali api dan temperatur
 Batu kapur dengan kualitas yang bagus dapat
diperoleh.
Kekurangan pembakaran berkelanjutan :
 Investasi awal besar
 Suplai berkelanjutan dan besar, ini hanya sesuai
dimana permintaan berkelanjutan dan besar.
 Setelah memulai, sulit uuntuk menghentikannya
PEMADAMAN DARI KAPUR
YANG DIKALSINASI
 Ini merupakan suatu proses di mana kapur(CaO)
ditambah air menjadi kapur padam (CaOH2).

 Bahan perekat (CaOH2) ini siap untuk digunakan


dalam pekerjaan teknik.
Slaking dibagi menjadi 2 :

 Slaking to paste : dalam proses ini, kapur apung


dimasukkan suatu tangki/bak berisi air yang
cukup . Banyaknya air harus 2-3 kali volume dari
kapur apung yang di padamkan

 Slaking to Powder : di dalam metoda ini


pemadaman kapur apung dengan disiram dengan
gembor yang berisi air. Tumpukan dari kapur tadi
kita bolak-balik satu atau dua kali.