Anda di halaman 1dari 28

Nerve 1-4

Nervus Kranialis I-Olfaktorius


CARA PEMERIKSAAN SYARAT INTERPRETASI
Bahan: 1. Pasien sadar dan kooperatif • Normal
Kopi, teh, tembakau, jeruk 2. Tidak menggunakan bahan yang • Anosmia: hilang daya penghidu
Pemeriksaan: mengiritasi dan dapat dikenali oleh • Hiposmia: kurang tajam
1. Periksa kedua lubang hidung, pasien • Hiperosmia: terlambat peka
yakinkan jalan pernafasan & mukosa 3. Tidak boleh menggunakan bahan • Parosmia: tidak sesuai
baik. Pastikan saluran hidung tidak yang mudah menguap karena • Kakosmia: bau yang tidak
tersumbat dengan cara menekan merangsang N.V menyenangkan
salah satu sisi hidung dan minta • Halusinasi olfaktorik: tanpa
pasien menghembuskan napasnya perangsang
keluar melalui saluran hidung yang
lain.
2. Pasien diberitahu bahwa daya
penciumannya hendak diperiksa
3. Pasien diminta menutup mata
4. Tutup salah satu lubang hidung
pasien kemudian letakkan bebauan
di depan lubang hidung yang
diperiksa (jarak 10 cm), menyuruh
pasien untuk menghirup nafas dan
meminta mengidentifikasi baunya
5. Periksa lubang hiduung sebelahnya
dengan cara yang sama
Pemeriksaan Nervus
Cranialis II
(N. Opticus)
NERVUS OPTIKUS ( N II )

Pemeriksaan terdiri dari :


1. Visus
2. Penglihatan warna
3. Lapangan penglihatan
4. Pemeriksaan funduskopi
• Syarat :
- Pemeriksa dalam keadaan sadar
- Pasien kooperatif (Yakin bahwa tidak ada katarak, radang selaput kornea, iritis, uveitis, glaukoma,
korpus alienum)
- Dalam ruangan dengan pencahayaan yang baik

• Alat dan Bahan


- Grafik Snellen
- Penutup mata
- Penutup mata Pin hole (jika ada)
- Senter
- Fundcope/ophtalmoskop
- Buku / kartu isihara
- alat Dokumentasi
A. Prosedur Pemeriksaan Visus
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan.
2. Mintalah penderita duduk pada jarak 5 atau 6 m dari optotipe Snellen.
3. Periksa apakah terdapat kondisi mata merah (infeksi/inflamasi pada mata), minta pasien menutup
satu matanya dengan telapak tangan tanpa menekan bola mata. Bila tidak didapatkan kondisi mata
merah maka minta penderita untuk memakai trial frame.
4. Minta penderita untuk melihat ke depan dengan rileks tanpa melirik atau mengerutkan kelopak
mata. Apabila pasien menggunakan trial frame maka untuk memeriksa visus mata kanan pasien,
tutup mata kiri penderita dengan occluder yang dimasukkan dalam trial frame

5. Minta penderita untuk menyebut huruf, angka atau simbol yang ditunjuk
6. Tunjuk huruf, angka atau simbol pada optotip Snellen dari atas ke bawah.

7. Tentukan visus penderita sesuai dengan hasil pemeriksaan. Visus penderita ditunjukkan oleh angka
disamping baris huruf terakhir yang dapat terbaca oleh penderita

8. Tulis hasil pemerikaan visus.


9. Lakukan hal yang sama pada mata kiri pasien.
10. Bila visus penderita tidak optimal hingga 20/20 atau 6/6 dilanjutkan ke pemeriksaan penilaian
refraksi
INTERPRETASI
• 6/6 : dpt melihat huruf pd jarak 6 m, dimana oleh orang normal dpt dilihat
pd jarak 6 m
• 6/30 : dpt melihat huruf pd jarak 6 m, dimana oleh orang normal dpt dilihat
pd jarak 30 m
BILA TDK DPT MELIHAT HURUF TERBSR , DILAKUKAN UJI HITUNG JARI
• 3/60 : dpt menentukan jumlah jari pd jarak 3 m, yg oleh orang normal dpt
terlihat pd jarak 60 mtr
• 1/60 : dpt menghitung jari pd jarak 1 m
BILA TDK DPT MENGHITUNG JUMLAH JARI, DILAKUKAN UJI LAMBAIAN TANGAN
DIMANA ORANG NORMAL DPT MELIHAT LAMBAIAN TANGAN PD JARAK
300 M
• 1/300 : melihat lambaian tangan pd jarak 1 m
• bila hanya dpt melihat adanya sinar  visus = 1/~ orang normal dpt
melihat adanya sinar pd jarak tak terhingga ( ~ )
BILA TDK MENGENAL SINAR SAMA SEKALI
• visus = 0 ( buta total )
B. PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG DENGAN CARA KONFRONTASI (tanpa alat)
1. Terangkan maksud dan prosedur pemeriksaan
2. Mintalah penderita untuk duduk berhadapan. Posisi bola mata antara
penderita dan pemeriksa selaras dengan jarak 30 – 40 cm.

3. Tutuplah mata di sisi yang sama dengan mata penderita yang ditutup.
4. Difiksasi pada mata pasien yang tidak ditutup.
5. Mintalah penderita agar memberi respons bila melihat objek yang
digerakkan pemeriksa di mana mata tetap terfiksasi dengan mata
pemeriksa.
6. Gerakkan obyek dari perifer ke tengah dari arah superior, temporal,
inferior, dan , nasal,.

7. Catatlah hasil pemeriksaan dalam status penderita.


Pemeriksaan kampimeter/perimeter (lapang pandang dengan alat)
Interpretasi Gangguan Lapangan Pandang
• Skotoma : bagian visual field
yang buta/ tidak dapat dilihat oleh
pasien

• Skotoma positif : pasien dapat


merasakan skotoma tanpa
diperiksa

• Skotoma negatif :
• Setelah diperiksa baru pasien
dapat merasakan adanya skotoma
C. PEMERIKSAAN BUTA WARNA
1. Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan pada penderita.

2. Cahaya ruangan harus dibuat cukup, tidak terlalu terang dan tidak
terlalu redup agar warna pada buku ishihara terlihat jelas

3. Pasien diminta untuk membaca tulisan pada buku ishihara dengan


jarak ± 30-40 cm

4. Setiap plate dibaca dalam waktu 5 detik, hasil pembacaan dituliskan


dalam tabel evaluasi

5. Setelah ke-12 plate terbaca, hasil pembacaan pada tabel evaluasi


disimpulkan
Interpretasi hasil pemeriksaan

Buku ishihara dapat mendiagnosa defek penglihatan warna dengan


klasifikasi, yaitu:
• orang dengan penglihatan normal/trikromat,
• buta warna Merah- Hijau (red-green deficiency)
• buta warna merah (protanopia/protanomalia)
• buta warna hijau deuteranopia/deuteranomalia)
• dan buta warna total/akromatopsia.
D. PEMERIKSAAN SEGMEN POSTERIOR (Funduscopy)
1. Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan
2. Persiapkan alat untuk pemeriksaan segmen posterior bola mata (direct
ophthalmoscope). Ruangan dibuat setengah gelap, penderita diminta melepas
kacamata dan pupil dibuat midriasis dengan tetes mata mydriatil
3. Sesuaikanlah lensa oftalmoskop dengan ukuran kaca mata penderita.
4. Mata kanan pemeriksa memeriksa mata kanan penderita, mata kiri pemeriksa
memeriksa mata kiri penderita.
5. Mintalah penderita untuk melihat satu titik di belakang pemeriksa
6. Arahkan ke pupil dari jarak 25-30 cm oftalmoskop untuk melihat refleks fundus dengan
posisi/cara pegang yang benar
7. Periksa secara seksama dengan perlahan maju mendekati penderita kurang lebih 5 cm.

8. Sesuaikan fokus dengan mengatur ukuran lensa pada oftalmoskop.


9. Amati secara sistematis struktur retina dimulai dari papil N. optik, arteri dan vena retina
sentral, area makula, dan retina perifer.
10. Catatlah hasil yang didapat dalam status penderita
SARAF OTAK III,IV,VI (NERVUS
OKULOMOTORIUS,TROKLEARIS,ABDUSENS)

Fungsi N III,IV,VI saling berkaitan dan diperiksa bersama


sama .
Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan
mengangkat kelopak mata. Serabut otonom N III mengatur
otot pupil.

Cara pemeriksaan.
Terdiri dari:
• pemeriksaan gerakan bola mata.
• pemeriksaan kelopak mata.
• pemeriksaan pupil.

19
Syarat Pemeriksaan :
1. Pasien sadar
2. Pasien kooperatif
3. Pemeriksaan pada ruang dengan pencahayaan cukup
Pemeriksaan
gerakan bola mata
• Penilaian gerakan monokular
• Penilaian gerakan kedua bola
mata atas perintah
• Penilaian gerakan bola mata
mengikuti obyek bergerak
• Pemeriksaan gerakan konjungat
reflektorik (doll’s eye movement)
Interpretasi gerakan bola
mata
Normal :
• Geakan konjungat
• Gerakan diskonjungat/ gerakan
konversion
• Dolls eye movement (+)
Kelainan :
• Tanda parinaud (+) (paralisis lirikan
ketas)
• Strabismus
• Gerakan okulogirik
• Diplopia
• Gangguan gerakan bola mata kesamping
• Gangguan gerakan bola mata adduksi,
kebawah
Penilaian Saat Istirahat :

• Celah kelopak mata :


Cara periksa :
1. Menjelaskan pemeriksaan yang akan dilakukan
dan meminta persertujuan pasien.
2. Pasien diminta duduk atau tidur terlentang.
3. Meminta pasien rileks dan membuka mata, dan
menutup mata amati celah kelopak mata.
Interpretasi
• Normal : membuka dan
menutup sempurna.
Simetris kiri dan kanan
• Kelainan :
1. Celah kelopak mata
menyempit : ptosis,
enoftalmus
2. Celah kelopak mata
melebar : eksoftalmus,
proptosis
Pemeriksaan Pupil
Cara periksa :
1. Menjelaskan pemeriksaan yang akan dilakukan dan meminta
persertujuan pasien.
2. Pasien diminta duduk berhadapan dengan pemeriksa
3. Meminta pasien rileks dan membuka mata, perhatikan pupil
pasien kiri dan kanan : bentuk, ukuran, sama besar/tidak
4. Meminta pasien melihat jauh, senter pupil dari arah lateral
ke medial, liat refleks pupil yang diperiksa, amati juga pupil
kontralateral. Ulangi pemeriksaan pada pupil kanan dan kiri.
5. Meminta pasien melihat jauh, kemudian melihat dekat,
dengan menempatkan objek (cth pena) di dekat mata pasien,
amati refleks akomodatif pupil mata kiri dan kanan.
Interpretasi

Pemeriksaan refleks pupil:


refleks cahaya.
• Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil.
• Normal , akibat adanya cahaya maka pupil akan mengecil ( miosis ).
• Perhatikan juga apakah pupil segera miosis, dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak
terjadi dengan segera.
• Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. Cahaya ditujukan pada satu pupil, dan
perhatikan pupil sisi yang lain.