Anda di halaman 1dari 38

ANALISA KUALITATIF

KATION DAN ANION


 Dalam bidang analisis farmasi,
identifikasi bahan baku yang digunakan
sebagai bahan obat atau bahan bantu
tidak begitu banyak dilakukan.
 Namun yang banyak dilakukan adalah
identifikasi anion dan kation yang
merupakan bagian bahan obat, bahan
baku, bahan bantu, dan sediaan obat
atau analisis anion ini jika berada sebagai
pencemar.
 Unsur-unsur yang penting dalam bidang
farmasi diantaranya zat arang, zat asam,
belerang, dan besi.
ANALISA ANION

Secara umum anion dapat kita


bagi dalam golongan besar, yaitu :
 Anion yang menghasilkan gas
bila direaksikan dengan larutan
HCl encer
Contoh : klorida, bikarbonat,
sulfat, tiosulfat, sulfida, nitrit dan
sianida.
 Anion yang tidak menghasilkan
gas bila dipanaskan dengan
larutan HCl encer
 Contoh : klorida, bromida,
iodida, nitrat, sulfat,
posfat,asetat, kromat, bikromat,
anion-anion organik ( asetat,
oksalat, formiat ) dll.
Pelaksanaan pemeriksaan anion
dilakukan dalam 2 tahap, yaitu :

Analisa pendahuluan
 Dimaksudkan analisa langsung
dari zat asal ( sebelum
ditambah pereaksi lain) karena
ada beberapa anion akan terurai
atau terganggu oleh adanya
pereaksi tersebut.
Pemeriksaan/identifikasi dari larutan
“ ekstrak soda”
 Disini dimaksudkan agar anion
yang terikat dengan kation (
golongan I s/d IV) bereaksi
membentuk garam natrium yang
mudah larut sehingga ion logam
tidak mengganggu dan mudah
diidentifikasi.
Cara membuat larutan ekstraks soda
 ± 1 gram sampel dimasukkan gelas
kimia (breaker galss) 100 mL+ 20 mL
larutan Na2CO3 jenuh, didihkan
selama 15 menit
 dinginkan dan saring.
 Filtrat disebut “ekstra soda”
digunakan untuk identifikasi anion
selain karbonat.
 Endapan pda kertas saring
merupakan garam karbonat dan
kation logam yang dapat dipakai
untuk analisa kation.
REAKSI PENDAHULUAN

Khusus untuk anion tertentu dilakukan reaksi


pendahuluan langsung dari zat asal (bukan
ekstra soda) sebagai berikut :
 Zat asal dalam tabung tambah HCl encer bila
perlu dipanaskan akan membebaskan gas
 CO2 ( mengeruhkan air kapur/air barit) berasal
dari karbonat atau bikarbonat
 SO3 ( kertas bikromat + as. Sulfat → hijau)
berasal dari sulfat atau tiosulfat
 NO2 ( bau khas warna coklat tengguli) berasal
dari nitrit.
 HCN (bau khas dan beracun!!! Ditambah
Ammonium sulfida menjadi NH4SCN, ditambah
FeCl3 terbentuk warna merah dari CN-
 Reaksi nyala halogenida (Cl, Br,
I) atau dikenal dengan “reaksi
beilstein”.
 Reaksi pengenal ion borat
 Anion yang mengoksidasi
(Oksidator)
 Membedakan anion halogenida
Untuk membedakan klorida, bromide
dan iodida
 Zat ditambah Oksidator ( MnO2) +
H2SO4 pekat lalu panaskan,
tambahkan beberapa tetes CCl4 atau
CHCl3 , kocok.
 Apabila lapisan CHCl3 tetap tidak
berwarna maka Cl- positif,
 bila berwarna coklat merah maka Br-
positif
 bila ungu ion I- positif.
PEMERIKSAAN
PENDAHULUAN

 Analisa kering.
 Analisa basah.
ANALISA KATION
REAKSI KERING
1. Pemeriksaan organoleptik
Warna yang diperiksa dengan mata
 Merah : HgO, HgI2, Sb2S3, Cu2O, CrO4,
Pb3O4, AgCrO4 dll
 Kuning : As2O3, SnS3, CdS, PbI2, HgO,
K2CrO4, FeCl3 dll
 Hijau : garam-garam ferro, garam-garam Ni,
Cr(OH)3, Cr2O3, CrCl3
 Biru : garam-garam kupri hidrat, garam-
garam kobalt anhidrat.
 Coklat : PbO2, Fe2O3, Fe(OH)3, Fe3O4, SnS
 Hitam : CuS, HgS, NiS, CoS, Ag2S, CuO dll
 Ungu : KMnO4
b. Rasa zat dengan jari (perabaan)
c. Bentuk zat dengan mata
d. Bau zat dengan penciuman
Selain dari bentuk, untuk zat kimia
yang kita uji dapat dikenal dari
baunya.
Contoh :
 Bau khas ammonia : ammonia
 Bau khas menusuk : asam cuka
 Bau khas busuk : asam sulfida
Pemeriksaan kelarutan dalam air
beserta harga pHnya.
Bila zatnya sukar larut dalam air, maka
sudah pasti :
 Bukan garam-garam dari Na, K atau
NH4
 Bukan garam-garam nitrat, kecuali
garam-garam nitrat dari Sb, Bi, Sn (I),
Hg(I) yang oleh air dihidrolisa parsial.
 Bukan logam atau oksida logam,
kecuali oksida-oksida dari Na, K, Ba,
Sr dan Ca.
Bila zatnya mudah larut dalam air, maka
perhatikan :
Warna larutan
 Biru : ion kupri
 Hijau : ion-ion Ni, ferro,
Khromi, manganat
 Kuning : ion-ion khromat
 Merah jingga : ion
bichromat
 Violet : ion permanganat
 Merah muda : ion-ion kobalt,
mangano Pekat
 pH larutan
 kurang dari 7 : asam
garam-garam basa lemah +
asam kuat
garam-garam yang dihidrolisa
oleh air
 sama dengan 7 : garam normal yang tidak
dihidrolisa oleh air
garam-garam dari basa + asam
lemah
 lebih dari 7 : basa
garam-garam dari basa + asam
lemah
garam-garam yang dihidrolisa
oleh air
2. Test nyala
PENGGOLONGAN KATION
METODE H2S
Larutan zat dalam air = HCl encer (4N) berlebih, lalu saring

Endapan
(Golongan HCl) Filtrat dipanaskan, dialiri gas H2S
AgCl
Hg2Cl2
PbCl2

Endapan Filtrat didihkan + NH4Cl & NH4OH


(golongan H2S) sampai basa, + (NH4)2S saring!
CuS hitam
SnS Coklat
FeS hitam
HgS hitam
PbS hitam
AS2S3 kuning

Endapan golongan Filtrat didihakan +


( NH4)2S (NH4)2CO3 lalu
ZnS putih panaskan
MnS kuning
CuS hitam
Al(OH)3 putih

Endapan Golongan sisa


Gol. (NH4)2CO3 Na+
CaCO3 putih K+
BaCO3 putih Mg2+
SrCO3 putih NH4+
METODE NON H2S
Zat dipijar dalam cawan pijar, setelah dingin larutan dalam air lalu disaring

Filtrat Residu + HNO3 encer, panaskan, kocok


K+ Filtrat kemudian saring
Na+ Ca2+
Li+ Ba2+
Sr2=
Mg2+
Zn2+
Cu2+

Filtrat Residu + HCl enser, panaskan,


Ag+ Al3+ kocok dan saring
Bi3+ Sn4+
As3+ Pb2+
Hg2+ Fe3+
Mn2+ Cd2+
Cr3+ Co2+

Filtrat
SiO2
Sb3+
IDENTIFIKASI KATION

Kation Golongan I
 Golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida
encer. Ion-ion golongan ini adalah timbal (Pb), merkurium
(I) raksa, dan perak(Ag). Beberapa reaksi yang dapat
menjadi ciri khas kation golongan I di antaranya:
 Perubahan kelarutan dalam suasana asam dan basa
tertentu
 AgNO3 + HCl  AgCl↓ (putih) + HNO3
 AgCl(s) + 2 NH3  (Ag(NH3)2)Cl
- Endapan AgCl sukar larut dalam air dingin/panas,
mudah larut dalam amonia encer dan sukar larut
dalam suasana asam
 Pb(NO3)2 + 2HCl  PbCl2↓(putih) + 2HNO3
 PbCl2 + 2HCl(pekat)  H2(PbCl4)
 PbCl2 + 2CH3COONH4  Pb(CH3COO)2 + 2NH4Cl
 Endapan PbCl2 dapat larut dalam
 air panas
 HCl pekat
 (NH4 asetat)
 Hg2(NO3)2 + 2HCl  Hg2Cl 2↓(putih) + 2HNO3
 Hg2Cl2 + 2NH3  (Hg(NH2) Cl ↓ + Hg↓)(endapan
Hitam) + NH4Cl
 Hg2Cl 2 + (2 HNO3 + 6 HCl)(aqua regia) → 6
HgCl2+ 4H2O + 2NO
 Endapan Hg2Cl2 sukar larut dalam
 Air dingin/ panas
 asam encer
 ammonia
 tetapi mudah larut dalam aqua regia atau
aqua bromata
2. Perubahan Kelarutan Pada Penambahan
Larutan KI
 AgNO3 + KI  AgI ↓ (kuning) + HNO3
 endapan sukar larut dalam air, dalam
asam dan dalam ammonia encer/pekat
 Pb(NO3)2 + 2KI  PbI2↓ (putih) + 2KNO3
 PbI2 + 2KI  K2[PbI4] + 2 KNO3
 endapan PbI2 agak larut dalam air panas
dan dalam KI berkelebihan
 Hg2(NO3)2 + 2KI  Hg2I2↓ (hijau kuning) +
2KNO3
 Hg2I2 + 2KI (berkelebihan)  K2[HgI4] + Hg↓
(hitam)
Perubahan Kelarutan Pada Penambahan
Larutan K2CrO4
 AgNO3 + K2CrO4  Ag2CrO4↓(merah) + 2KNO3
 endapan sukar larut dalam air dan dalam
asam asetat encer
 Pb(NO3)2 + K2CrO4  PbCrO4↓(kuning) + 2KNO3
 endapan kuning PbCrO4 sukar larut dalam
asam asetat dan dalam ammonia
 mudah larut dalam Asam nitrat encer dan
dalam KOH/ NaOH (beda dengan dikromat)
 Hg2(NO3)2 + K2CrO4→ Hg2CrO4↓ (cokelat) +
2KNO3
 endapan menjadi merah bila dididihkan
Perubahan Kelarutan Pada
Penambahan Larutan K2CrO4
 2AgNO3 + 2NaOH  Ag2O↓ (cokelat) +
H2O + 2NaNO3
 endapan sukar larut dalam NaOH
berlebih
 Pb(NO3)2 + 2NaOH  Pb(OH)2↓ (putih)
+ 2NaNO3
 Endapan larut dalam NaOH
berkelebihan
 Hg2(NO3)2 + 2NaOH  Hg2O↓ (hitam) +
H2O + 2NaNO3
GOLONGAN II
 Kation golongan ini tidak bereaksi
dengan asam klorida tetapi membentuk
endapan dengan hidrogen sulfida dalam
suasana asam mineral encer.
 Ion-ion golongan ini adalah golongan IIA
yaitu merkurium(II), tembaga , bismuth,
kadmium, dan golongan IIB yaitu arsenik
(III), arsenik (V), stibium(III), stibium (V),
timah (II) danTimah (III) (IV).
 Sulfida dari kation golongan IIA tidak
dapat larut dalam amoniumpolisulfida se-
dangkan sulfida dari golongan IIB justru
dapat larut.
Beberapa reaksi yang dapat menjadi ciri khas
kation golongan II di antaranya

Perubahan Kelarutan Pada Ion Hg2+


Pada Penambahan NaOH, HCl , dan
KI
 HgCl2 + 2NaOH → HgO ↓(kuning) +
H2O + 2NaNO3
 HgCl2 dengan HCl tidak memberikan
endapan.
 HgCl2 + 2KI → HgI2↓ (merah) + 2KNO3
 HgCI2 + 2KI (berlebih) ↔ K2[ HgI4]
(endapan menjadi larut)
 Endapan larut saat didiamkan
Perubahan Kelarutan Pada Ion Cu2+ Dengan NaOH,
NH3, K4Fe(CN)6 dan Besi (Fe)
 CuSO4 + 2NaOH Cu(OH)2↓ (biru) + Na2SO4
endapan tidak larut dalam NaOH berlebih
 CuSO4 + 2NH3 + 2H2O  CuSO4.Cu(OH)2↓ (birumuda)
+ Na2SO4
endapan larut lagi dalam NH4OH berlebih.
 CuSO4.Cu(OH)2 + (NH4)2SO4 + 6NH3 
2(Cu(NH3)4)SO4 (larut) + 2H2O
 CuSO4 + K4Fe(CN)6  Cu2((Fe(CN)6)↓ (coklat
kemerahan) + K2SO4
 CuSO4 + Fe  FeSO4(karat besi) + Cu↓ (tembaga)
 As2O3 + 6Zn + 12HCl  2AsH3 ↑ + 6ZnCl2 + 3H2O
 AsH3 ↑ + AgNO3 + 3H2O  6Ag↓(hitam) + 6HNO3 +
H3AsO3
Golongan III

 Kation golongan ini tidak bereaksi


dengan asam klorida encer ataupun
dengan hidrogen sulfida dalam
suasana asam mineral encer.
 kation ini membentuk endapan
dengan amonium sulfida dalam
suasana netral atau amoniakal.
 Kation-kation golongan ini adalah
kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III),
kromium(III) aluminium, zink dan
mangan (II).
Beberapa reaksi yang dapat menjadi ciri
khas kation golongan III di antaranya:

Perubahan Kelarutan Hasil Reaksi


Dengan NaOH dan Pereaksi
Alizarin-s
 Al2(SO4)3 + 6NaOH  2Al(OH)3↓ (putih
kental) + 3Na2SO4
 endapan dapat larut lagi dalam NaOH
berlebih.
 Al(OH)3 + NaOH ↔ NaAlO2 + 3H2O
 NaAlO2 atau ion [Al(OH]4]- dapat
membentuk endapan merah dengan
Alizarin-S/Alizarin-S (natrium alizarin-
sulfonat)
Gambar 1 Struktur molekul
Alizarin-s
 ZnSO4 + 2NaOH 
Zn(OH)2↓(putih) + Na2SO4
endapan larut dalam NaOH
berlebih
 Zn(OH)2 + NaOH ↔ Na2ZnO2 +
2H2O
Perubahan Kelarutan Hasil Reaksi
Dengan K4Fe(CN)6
 Al2(SO4)3 + 2K4Fe(CN)6 
2AlK[Fe(CN)6] + 3K2SO4
 2ZnSO4 + K4Fe(CN)6 
2Zn2[Fe(CN)6]↓(putih) + 2K2SO4
 FeSO4 + K4Fe(CN)6 
K2Fe[Fe(CN)6] ↓(putih) + K2SO4
 FeCl3 + K4Fe(CN)6 
KFe[Fe(CN)6] ↓(biru tua)/(biru berlin) +
3KCl
Perubahan Kelarutan Dan
Warna Larutan Hasil Reaksi
Dengan K3Fe(CN)6
 FeSO4 + K3Fe(CN)6 
KFe[Fe(CN)6 ] ↓(biru tua)/(biru berlin) +
K2SO4
 FeCl3 + K3Fe(CN)6 
Fe[Fe(CN)6] (larutan cokelat) + 3KCl
Perubahan Kelarutan Hasil
Reaksi Dengan NH4OH
 FeSO4 + 2NH4OH  Fe(OH)2↓

(putih/hijau kotor) + (NH4)2SO4


 FeCl3 + 3NH4OH  Fe(OH)3↓

(merah cokelat) + 3NH4Cl


Pembentukan ion kompleks
dengan fenantrolin
 FeSO4 + 1,10–fenantrolina 
[Fe(C18H8N2)3]2+(merah)
Pembentukan Ion Kompleks Dengan
KSCN Dalam Eter Atau Amil Alkohol

 FeCl3 + 3 SCN-  Fe(SCN)3 (merah tua)


Molekul yang tak bermuatan ini
(Fe(SCN)3) dapat diekstraksi oleh eter
atau amil alkohol. Warna merah yang
terbentuk dulu disangka karena terbentuk
ferirhodanida Fe(SCN)3 sekarang
ternyata disebabkan oleh ion kompleks
ferirhodanida [Fe(SCN)]2+ karena ion
kompleks tersebut lebih mudah larut
dalam eter atau amil alkohol
Golongan IV

 Kation golongan ini tidak be-


reaksi dengan reagensia go-
longan I, II, dan III. Kation-kation
ini membentuk endapan dengan
amonium karbonat dengan
adanya amonium klorida dalam
suasana netral atau sedikit
asam. Kation-kation golongan
ini adalah kalsium, stronsium
dan barium.
Golongan V
 ion magnesium, natrium,
kalium, dan amonium