Anda di halaman 1dari 61

Post test

Dita Anvari
15360451

PEMBIMBING :
dr. Hj. Hervina Sp.KK

KKS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. R.M DJOELHAM BINJAI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
TAHUN 2018
1. Identifikasi

Nama : Via Pandjaitan


Umur :17 Tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Status :Belum Menikah
Suku :Batak
Agama :Kristen
Pekerjaan :Akademi Keperawatan Semester I
Pendidikan Terakhir :SMA
Alamat :Binjai
Hobby :Olahraga
Keluhan Utama :

Tidak gatal dijumpai bintik -bintik merah berwarna


merah terang, di Tungkai kanan dan menyebar
ke kaki kiri kurang lebih 7 hari ini.

Telaah :

Awalnya os mengatakan semenjak tinggal di Asrama


kurang lebih ½ bulan ini muncul bintik-bintik
kemerahan yang terang yang timbul di kaki kanan dan
bertambah di kaki kiri dan memberat jika Udara dingin,
keluhan dirasakan sudah kurang lebih 7hari ini.
Lokasi timbul pertama kali : di kaki kanan

Bagaimana perluasan lesi tersebut : bertambah ke kaki kiri

Ada/tidak pengaruh makanan/lingkungan : Ada, Jika suhu udara


dingin

Riwayat Pemakaian Obat : Tidak Ada

Riwayat Penyakit Terdahulu : Tidak Ada

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak Ada

Status Gizi dari Kebiasaan : Baik

Keadaan Lingkungan : Baik


Inspeksi Kulit

a.Lokasi
Regio Cruris Anterior Posterior Dextra et Sinistra Bilateral

b. Distibusi
 Diskret
 Bilateral

c. Bentuk
Tidak Teratur

d. Susunan
Tidak khas

e. Batas
Dibawah Permukaan kulit
F. Ukuran
Miliar

G. Efloresensi
 Primer : Ptekie
Sekunder : Purpura Palpebra

H. Ruam Kuku
Tidak ada

I. Ruam Rambut
Tidak ada

J. Ruam Genitalia
Tidak ada

2. Palpasi Kulit
Kulit kasar
1.inflamasi sistemik yang ditandai dengan meningkatnya
ESR (Eritrosit Sedimentation Rate)/Laju Endap Darah, dan
angka leukosit.
2. Nilai platelet cenderung normal atau sedikit meningkat
karena HSP dikenal dengan nontrombositopenik purpura.
3. Urin harus diperiksa dengan urinalisis untuk melihat
hematuria, dan kreatinin untuk menilai fungsi renal.
4. Pemeriksaan darah pada feses digunakan untuk menilai
iskemia usus. Untuk membuktikannya dipastikan dengan
pemeriksaan radiologi.

Tapi tidak dilakukan


Diagnosis Sementara

Vaskulitis Primer tipe Henoch-Schonlein


1. Vaskulitis Primer Tipe
Purpura Henoch-Schonlein
2. DHF
3. ITP
Non-Farmakologi:

Istirahat yang cukup

Menaikkan kaki saat tidur

Mengurangi aktivitas berdiri dalam jangka


waktu yang lama

Menghindari pajanan antigen


Prednison dimulai 1mg/kb BB/hari, dapat
diberikan 6-8 jam. Dosis permulaan
diberikan antara 7-10 hari dan setelah itu
dapat diberikan pagi hari sampai 2 minggu
berikutnya.
Setelah dosis induksi, pemberian steroid
diturunkan secara bertahap dosis 60mg
diberikan secara selang sehari untuk waktu 1-
2 bulan berikutnya.
Memakai baju hangat di saat
suhu udara dingin

Menghindari kegiatan yang


berdiri dalam waktu yang
lama
Prognosis bagus karena kebanyakan
Pasien dapat resoluisi total tanpa
adanya gejala sequel yang
menyertainya.
 Vaskulitis adalah suatu
kumpulan gejala klinis dan
patologis yang ditandai
adanya proses inflamasi dan
nekrosis dinding pembuluh
darah. Pembuluh darah yang
terkena dapat arteri atau
vena dengan berbagai
ukuran.
 HSP Suatu Sindrom tanpa
trombositopenia, nyeri
abdomen, kadang ditemukan
perdarahan saluran cerna, dan
kelainan ginjal
HSP paling sering terjadi pada anak-anak
dan nontrombositopenik purpura
dengan insidensi 13 per 100.000 anak. Ini
terjadi pada usia 3-15 tahun, meskipun
juga terjadi pada dewasa. HSP lebih
terjadi pada anak laki-laki dibanding
dengan anak perempuan, dan terjadi
terutama pada musim winter dibanding
musim panas.
Hal yang menyebabkan terjadinya HSP masih belum
diketahui pasti.

Beberapa kasus HSP telah dikaitkan dengan vaksinasi untuk


tipus, kolera, demam kuning, campak, atau hepatitis B;
makanan, obat-obatan, bahan kimia, dan gigitan serangga.
Beberapa ahli juga mengatakan bahwa HSP dikaitkan
dengan cuaca dingin musim gugur dan musim dingin.
 Gejala pada kulit berupa bercak merah (purpura) yang dapat diraba, sedikit meninggi,
simetris, dan tidak gatal Gejala ini disebabkan perembesan sel darah merah di lapisan
kulit, disertai peradangan di sekitarnya, tanpa disertai penurunan kadar trombosit.

 Gejala Persendian
Nyeri sendi (atralgia) atau peradangan sendi (artritis) Gejala ini akan menghilang
dalam beberapa hari dan tidak menimbulkan gejala sisa.

 Gejala Saluran Cerna


berupa nyeri perut yang disebabkan perdarahan pada lapisan usus. Nyeri bersifat
hilang timbul dan umumnya timbul 1 minggu setelah kemunculan bercak kulit.

 Gejala Ginjal
Gangguan pada ginjal berupa peradangan (glomerulonefritis) ditemui pada 40 – 50%
penderita. Gejala ginjal timbul lebih lambat, yaitu sekitar 1 bulan setelah awal
penyakit
Secara umum, sebagian besar sindrom vaskulitis diasumsikan
dimediasi setidaknya sebagian oleh mekanisme immunopatogenik
yang terjadi dalam respon terhadap rangsangan antigen
tertentu.Keadaan imunologi yang dapat menerangkan timbulnya
aktivasi imunologi ditentukan oleh beberapa keadaan, yaitu jumlah
antigen, kemampuan tubuh mengenai antigen, kemampuan respon
imun untuk mengeliminasi antigen dan route (target organ) yang
dirusak. Beberapa mediator yang dapat terlibat dalam vaskulitis,
misalnya Interleukin (sitokin) yaitu suatu molekul yang dihasilkan
oleh sel yang teraktivasi oleh respon imun yang dapat
berpengaruh terhadap mekanisme imunologi selanjutnya
 Henoch-Schönlein purpura (HSP) adalah vaskulitis pembuluh darah kecil
yang dimediasi oleh immunoglobulin (Ig) A yang secara predominan
mempengaruhi anak-anak tetapi juga terlihat pada orang dewasa. HSP
merupakan sub keadaan dari vaskulitis nektrotisasi yang
dikarakteristikan dengan kerusakan fibrinoid pembuluh darah dan
leukocytoclasis. Manifestasi klinis primer termasuk purpura yang dapat
dipalpasi, arthralgia atau arthritis, nyeri abdomen, perdarahan
gastrointestinal, dan nephritis. Komplikasi serius jangka panjang dari HSP
adalah gagal ginjal progressive, dimana timbul pada 1-2% pasien.
 Seperti
infeksi Streptococcus grup A, virus
Herpes Simplex

 Vaksinasi (Varicella, rubella, Hepatitis B)

 Lingkungan; Alergen makanan, Peptisida,


Obat-obatan, Paparan terhadap udara
dingin, Gigitan serangga
1. Purpura palpable

2. Umur mulai kena kurang


atau sama dengan 20 tahun

3. Bowel angina

4. Pada biopsi ditemukan


granulosit pada dinding
pembuluh darah ( arterio
maupun vena)
 Pada pemeriksaan laboratorium dari Henoch-schonlein
purpura menunjukkan tanda inflamasi sistemik yang
ditandai dengan meningkatnya ESR (Eritrosit Sedimentation
Rate)/Laju Endap Darah, CRP dan angka leukosit.

 Nilaiplatelet cenderung normal atau sedikit meningkat


karena HSP dikenal dengan nontrombositopenik purpura.

 Urinharus diperiksa dengan urinalisis untuk melihat


hematuria dan kreatinin untuk menilai fungsi renal.

 Pemeriksaan darah pada feses digunakan untuk menilai


iskemia usus. Untuk membuktikannya dipastikan dengan
pemeriksaan radiologi.
 Vaskulitis tipe Henoch-Schonlein

 DHF

 ITP
Farmakologi :
Non-Farmakologi:

 Istirahat  Prednison dimulai 1mg/kb


 Menaikkan kaki saat
tidur BB/hari, dapat diberikan 6-8

 Mengurangi aktivitas jam. Dosis permulaan diberikan


berdiri dalam jangka
waktu yang lama antara 7-10 hari dan setelah itu

 Menghindari pajanan dapat diberikan pagi hari sampai


antigen
2 minggu berikutnya.
Edukasi

Memakai baju hangat jika berada di


suhu udara dingin

Hindari kegiatan yang berdiri lama


Kebanyakan gejala membaik alami
selama 3-4 minggu kemudian,
sembuh total. Ruam dapat
bertambah besar atau berkurang
setelah 1 tahun dan orangtua harus
waspada adanya rekurensi. Artritis
tidak akan meninggalkan kerusakan
serius pada sendi.
prognosis dari HSP bagus
karena kebanyakan Pasien dapat
resoluisi total tanpa adanya
gejala sequel yang
menyertainya.
Dengue ialah suatu infeksi arbovirus

(arthrop-borne virus akut)

ditularkan oleh nyamuk spesies

Aedes . Dengue Hemorrhagic

fever (DHF) atau Demam berdarah

dengue adalah penyakit menular

yang disebabkan oleh virus

dengue dan ditularkan melalui

gigitan nyamuk aedes aegypti


Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menetapkan tiga
kabupaten di wilayahnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Ketiga
kabupaten itu adalah Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan
Binjai," kata Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan
(PMK) Dinas Kesehatan Sumatera Utara NG Hikmet di Medan, .
"Dari tiga kabupaten/kota tersebut, dilaporkan jumlah korban
yang meninggal sebanyak tujuh orang yakni tiga dari Labuhan
Batu, tiga Labuhan Batu Utara dan satu orang dari Binjai
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh
salah satu dari 4 serotipe virus yang
berbeda antigen.
Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan
serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4.
 Nyeri kepala
 Nyeri retro-orbital
 Mialgia/atralgia
 Ruam kulit
 Manifestasi perdarahan
 Leukopenia
 Pemeriksaan serologi dengue positif; atau
ditemukan DD/DBD yang sudah
dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang
sama
Respon imun diketahui berperan dalam patogenesis DBD, antara lain:
 Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam
proses netralisasi virus, dimediasi antibodi. Antibodi pada virus dengue
berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau
makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement (ADE).
 Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksit (CD8) berperan dalam
respon imun seluler terhadap virus ini. Diferensiasi T-helper yaitu TH1
akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin. Sedangkan TH2
memproduksi IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-10.
 Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan antibodi.
Namun proses fagositosis ini menyebebkan peningkatan replikasi virus
dan sekresi sitokin oleh makrofag.
 Aktivitas komplemen oleh komplek imun menyebabkan terbentuknya C3a
 1. Pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak
memiliki pola tertentu,
 2. Urbanisasi yang tidak berencana dan
terkontrol dengan baik, semakin majunya
sistem transportasi sehingga mobilisasi
penduduk sangat mudah
 3. Sistem pengelolaan limbah dan penyediaan
air bersih yang tidak memadai.
Kriteria DBD menurut WHO 1997
 Riwayat demam akut demam akut 2-7 hari,
biasanya bifasik.
 Terdapat minimal 1 dari manifestasi pendarahan
berikut : uji bendung positif; petekie, ekimosis,
atau purpura; pendarahan mukosa (espitaksis,
pendarahan gusi), atau pendarahan di tempat
lain; hematomesis atau melena.
 Trombositopenia ( < 100.000 / ul).
 Terdapat tanda-tanda kebocoran plasma
(peningkatan hematokrit < 20%; tanda
kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites,
hipoprotenemia).
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menskrining
penderita DF adalah melalui pemeriksaan kadar
hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit,

2. Uji tourniquet ditujukan untuk menilai ada tidaknya gangguan


vaskular.Hasil dikatakan positif jika terdapat 10-20 atau lebih
petekie dalam diameter 2,8 cm di lengan bawah bagian
depan dan pada lipat siku.

3. Peningkatan nilai hematokrit yang selalu dijumpai pada DHF


merupakan indikator terjadinya perembesan plasma, selain
hemokonsentrasi juga didapatkan trombositopenia, dan
leukopenia.

4. Uji Hambatan Hemaglutinasi yang merupakan gold standard


WHO untuk mendiagnosis infeksi virus dengue.
Pemeriksaan Radiologi

Kelainan yang didapatkan antara lain :


Dilatasi pembuluh darah paru
Efusi pleura
Kardiomegali atau efusi perikardi
Hepatomegali
Cairan dalam pongga p
Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4
tingkatan :
 Derajat I : demam diikuti gejala tidak spesifik. satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah tes torniquet yang positif
atau mudah memar.
 Derajat II : gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan
perdarahan spontan. perdarahan bisa terjadi di kulit atau di
tempat lain.
 Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi
yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah,
kulit lembab dan penderita gelisah.
 Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan
tekanan darah tidak dapat diperiksa. fase kritis pada
penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.
Pemasangan infuse dan dipertahankan
selama 12 – 48 jam setelah renjatan
diatasi.
Observasi keadaan umum, nadi, tekanan
darah, suhu dan pernapasan tiap jam,
serta Hb dan Ht tiap 4 – 6 jam pada hari
pertama selanjutnya tiap 24 jam.
 Ensefalopati dengue

 Kelainan ginjal

 Udem paru.
dapat beragam, dipengaruhi oleh adanya
antibodi yang didapat secara pasif atau
infeksi sebelumnya. Pada DBD, kematian
telah terjadi pada 40-50% pasien dengan
syok, tetapi dengan penanganan intensif
yang adekuat kematian dapat ditekan <1%
kasus
ITP adalah kondisi idiopatik atau
tidak diketahui
penyebab/penyakit dasar.
Secara istilah, berikut ini
penjelasan tentang ITP.
Idiopathic. Tidak diketahui
penyebab dasarnya.
Thrombocytopenic. Jumlah
trombosit di bawah kadar
normal.
Purpura. Ruam berwarna merah-
keunguan.
Sering kali dijumpai pada anak dan
dewasa muda. Pada anak yang tersering
ialah diantara umur 2-8 tahun. Lebih
sering terjadi pada wanita daripada laki-
laki (perpandingan berkisar diantara 4 :
3 dan 2 : 1 serta akan menjadi lebih nyata
setelah pubertas).
Penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi
dikemukakan berbagai kemungkinan diantaranya ialah
hipersplenisme, infeksi virus (demam berdarah,
morbili, varisela dan sebagainya), intoksikasi makanan
atau obat ( asetosal, PAS, fenibultazon, diamox, kina,
sedormid) atau bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi,
panas), kekurangan faktor pematangan ( misalnya
malnutrisi)
Bintik-bintik merah pada kulit (terutama di daerah kaki),
seringnya bergerombol dan menyerupai rash. Bintik
tersebut petechiae, disebabkan karena adanya
pendarahan dibawah kulit .Memar atau daerah kebiruan
pada kulit atau membran mukosa (seperti di bawah mulut)
disebabkan pendarahan di bawah kulit. Memar tersebut
mungkin terjadi tanpa alasan yang jelas Memar tipe ini
disebut dengan purpura. Pendarahan yang lebih sering
dapat membentuk massa tiga-dimensi yang disebut
hematoma.
Hidung mengeluarkan darah atau pendarahan pada gusi.
Ada darah pada urin dan feses. Beberapa macam
pendarahan yang sukar dihentikan dapat menjadi tanda
ITP. Termasuk menstruasi yang berkepanjangan pada
wanita.
Anti bodi IgG yang ditemukan pada membran
trombosit akan mengakibatkan gangguan
agregasi trmbosit dan meningkatkan
pembuangan serta penghancuran trombosit
oleh sistem makrofag sehingga fungsi
trombosit dapat berubah (trombositopati)
melalui berbagai cara yang mengakibatkan
perdarahan yang lama.
Patofisiologi
 Purpura trombositiopenik idiopatik adalah salah satu
gangguan perdarahaan didapat yang paling umum erjadi.
Purpura trombositopenik idiopatyik adalah sindrom yang
didalamnya terdapat penurunan jumlah trombosit yang
bersirkulasi dalam keadaan sumsum normal. Penyebab
sebenarnya tidak diketahui,meskipun diduga disebabkan
oleh agens virus yang merusak trombosit. Pada umumnya
gangguan ini didahului oleh penyakit dengan demam
ringan 1-6 minggu sebelum timbul gejala.
Wanita lebih cenderung terkena ITP

daripada pria. Umumnya anak-anak

menderita ITP pasca terinfeksi virus

tertentu (misalnya campak).


 Tes darah lengkap. Tes darah umum ini berguna
untuk menghitung jumlah sel darah putih, sel darah
merah, dan trombosit darah. Penderita ITP akan
memiliki jumlah sel darah merah dan sel darah putih
normal, tapi jumlah trombosit menjadi rendah.
 Tes fisik dan riwayat kesehatan lengkap. dokter
juga menanyakan riwayat penyakit yang pernah Anda
derita dan jenis obat-obatan maupun suplemen yang
Anda konsumsi.
 Pemeriksaan sumsum tulang. Prosedur ini juga bisa
membantu dalam mengenali penyebab rendahnya
trombosit jumlah. Trombosit diproduksi di dalam
sumsum tulang. Prosedur yang biasanya dilakukan
adalah biopsi sumsum tulang atau aspirasi sumsum
tulang.
1. Vaskulitis

2. DHF
 Prednison : 2-5 mg/kgbb/hari peroral.

 Merkaptopurin : 2,5-5 mg/kgbb/hari peroral.

 Azatioparin: 2-4 mg/kgbb/hari peroral.

 Siklofosfamid : 2 mg/kgbb/hari peroral.


Idiopatik Trombositopeni Purpura (ITP) tidak
dapat dicegah, tetapi dapat dicegah
komplikasinya.Menghindari obat-obatan
seperti aspirin atau ibuprofen yang dapat
mempengaruhi platelet dan meningkatkan
risiko pendarahan. Lindungi dari luka yang
dapat menyebabkan memar atau pendarahan.
Komplikasi dari ITP yang paling sering terjadi adalah
perdarahan. Apabila perdarahan terjadi di otak
(perdarahan intrakranial), efeknya bisa mematikan.
Sedangkan komplikasi dari ITP kronis dan parah akan
muncul sebagai akibat dari pengobatan yang
dilakukan.Meskipun kortikosteroid cukup efektif dalam
mengobati ITP, obat ini berpotensi menyebabkan efek
samping yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka
panjang. Contohnya adalah osteoporosis, katarak, dan kadar
gula tinggi yang bisa menyebabkan diabetes tipe 2.
Pada ITP akan bergantung kepada
penyakit primernya. Bila penykit
primernya ringan, 90% akan sembuh
secara spontan. Prognosis ITP menahun
kurang baik,