Anda di halaman 1dari 24

1. ALEXANDER WIKI BELL S.

Kep
2. ANA KARELYN NENOSONO S.Kep
3. CRISYANTI DOS REIS ARAUJO S.Kep
4. DESLIYANE RAMBU LEKI S.Kep
5. DWI OKTOVIN SATRIANA FAN AU S.Kep
6. EMILIA DA SILVA SOARES S.Kep
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peritonitis merupakan inflamasi rongga peritoneal.


Diagnosis peritonitis diangkat apabila ada tiga gejala berikut
: nyeri pada abdominal dan hasil positif pada kultur dari
cairan peritoneal yang keluar. Peningkatan sel darah putih
lebih dari 100/mm3 dan lebih dari 50% netrofil juga
menguatkan diagnosis (Kelman & Watson, 2006 dalam
Batubara, 2011).
Berdasarkan sumber dan terjadinya kontaminasi
mikrobial, peritonitis diklasifikasikan menjadi primer,
sekunder dan tersier
NEXT….

Hasil survei pada tahun 2008 angka kejadian peritonitis di


sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di
Indonesia, jumlah pasien yang menderita penyakit peroitonitis
sebesar 7% dari jumlah penduduk di Indonesia atau sekitar 179.000
orang (Depkes, RI 2008).

Sehingga pada orang penderita peritonitis mendapatkan


penatalaksanaan medis berupa penggantian cairan dan elektrolit,
Pemberian antibiotik , dekompresi saluran cerna dengan
penghisapan nasogastrik, pemberian oksigen dengan nasal kanul
atau masker serta Pembedahan darurat (laparatomi eksplorasi)
dilakukan bila diduga adanya perforasi apendiksitis, ulkus peptikum
yang mengalami perforasi atau divertikulitis (Suratun & Lusianah,
2010)
KONSEP APEDIKSITIS Manifestasi Klinik
Komplikasi
Apendiks adalah organ 1. Nyeri kuadran kanan
1. Perforasi
tambahan kecil yang bawah
menyerupai jari, melekat 2. Peritonitis
2. Demam ringan
pada sekum tepat 3. Abses
3. Mual muntah dan
dibawah katup ileocecal apendiks
hilangnya nafsu
(Brunner & Suddarth, 4. Obstruksi
makan
2002).
5. Sepsis: efek
4. Nyeri tekan local pada
Apendiksitis adalah sinergi kuman
titik Mc. Burney (1/3
peradangan dari apendiks
aerob
vermiforis dan merupakan antara umbilicus dan
6. Syok sepsis:
peyebab abdomen akut anterior superior
endotoksin
yang paling sering iliaka spine (ASIS)).
dalam darah
(Mansjoer, dkk. 2007). 5. Nyeri tekan lepas
Pengertian
Pemeriksaan Penunjang :

Peritonitis adalah inflamasi 1. Leukosit akan meningkat.


pada peritoneum, yaitu Hemoglobin dan hematokrit
membran yang melapisi rongga mungkin rendah bila terjadi
abdomen (Corwin, 2009). kehilangan darah.
Peritonitis adalah 2. Elektrolit serum dapat
menunjukkan perubahan kadar
peradangan pada peritoneum
kalium, natrium, dan klorida.
(lapisan membran serosa rongga
3. Sinar-x dada dapat
abdomen) dan organ didalamnya menunjukkan udara dan kadar
(Muttaqin, 2011). cairan serta lengkung usus
yang terdistensi.
4. Pemindaian CT abdomen dapat
PENANGANAN
menunjukkan pembentukan
• Penggantian cairan, koloid, dan
abses. Aspirasi peritoneal dan
elektrolit
• Analgestik diberikan untuk pemeriksaan kultur serta
mengatasi nyeri. sensitivitas cairan teraspirasi
• Terapi antibiotik masif dapat menunjukkan infeksi dan
• Tindakan bedah mengidentifikasi organisme
penyebab.
A. Identitas
 Nama Lengkap : Nn. M.T Panggilan: Nn. M
 Umur : 20 tahun
 Jeniskelamin : Perempuan
 Agama : Kristen Katolik
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : Mahasiswa
 Suku/bangsa : TTU / Indonesia
 Status perkawinan : Belum Menikah
 Alamat : Belo
 Penanggung Biaya : BPJS
B. RIWAYAT SAKIT DAN KESEHATAN
1 Keluhan utama : Klien mengatakanmerasa sesak nafas.

2 Riwayat penyakit saat ini : Pasien mengatakan 5 hari sebelum MRS


pasien merasa nyeri di perut kanan bawah dan nyeri ulu hati. Nyeri
dirasakan seperti tertusuk-tusuk,dannyeri dirasakan hilang timbul setiap
10-15 menit. Pasien mengatakan muntah saat makan minum, demam
tinggi, pusing dan sakit kepala, mencret lebih dari 3x. Keluhan dirasakan
semakin bertambah pada hari Jumat 27 April 2018 pukul 06.00 sehingga
keluarga membawa pasien ke IGD RS Carolus Borromeus Kupang.Pasien
dirujuk dari RS Carolus Borromeus ke RSUD. Prof. Dr.W.Z Johannes
Kupang dengan diagnosa sementara Peritonitis + APP perforasi +
Anemia gravis post transfusi. Pasien tiba di IGD RSUD. Prof. Dr.W.Z
Johannes Kupang jam 18.00 WITA
 IVFD RL : D5 : Aminofluid : 2 : 1 : 1 20 tpm (500cc/8 jam)
 Injeksi Cefotaxime 1gr/IV
 Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg/IV
 Metronidazole 100 cc infus 3 x 500 mg
 Injeksi Ketorolac 2 x 30 mg/IV
 O2 nasal kanul 4 liter/menit,
 Terpasang NGT No. 18
 Puasa
 Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 27 april 2018 di
IGD : Hb 6,7 gr/dl, Ht : 23,1%, Leukosit : 27,40 10ˆ3/uL,
Neutrofi : 92,9%, Limfosit : 4,8%, APTT : 52,4 detik, GDS :
65 mg/dl, Kalium darah : 2,7 mmol/L, Calsium Ion : 0,880
mmol/L.
 Setelah diberikan perawatan di IGD pasien dipindahkan
keruang perawatan inap (Ruang Cempaka) pada tanggal 28
april 2018 jam 12.00 WITA dengan keadaan umum pasien
sedang, TTV : TD : 120/90 mmHg, Nadi : 104 x/mnt, RR :
36x/mnt, Suhu : 39,6ºC.
• Keadaan umum: Sedang
• Kesadaran : CM
• TB: 150 BB: 40 Kg BB ideal: 45 Kg
• TTV : N : 95x/mnt kuat/teratur, TD: 140/80 mmHg,
RR : 50 x/mnt, S : 39,20C
Masalah keperawatan : Hipertermi

B1 (Breathing)/Pernafasan:
• Irama pola nafas : Tidak teratur, Dispnea, Ada Retraksi
dinding dada, Suara nafas : Vesikuler, Sesak nafas, batuk
tidak ada
B1 • Auskultasi :
(Breath) Lobus kanan atas : Vesikuler
Lobus kiri atas : Vesikuler
Lobus kanan bawah : Vesikuler
Lobus kiri bawah : Vesikuler
• Lainnya: Klien mengatakan napas terasa sesak, sulit bernapas,
Terpasang O2 nasal kanul 5 liter, RR 50x/menit, adanya retrakasi
dinding dada, auskultasi: ekspirasi lebih panjang dari inspirasi.
Masalah keperawatan: ketidakefektifan pola napas
B2 (Bood)/Kardiovaskuler:
• Akar : Panas
B2 • Lainnya : Klien mengatakan merasa panas diseluruh tubuh, S : 39,2,
(Blood) Leukosit 27,40 10^3/uL
Masalah keperawatan : Hipetermi

B5 (Bowel)/Pencernaan :
• Nafsu makan : Pasien terpasang NGT dan sedang puasa makan, minum : 200
cc, Membran mukosa : kering, Abdomen: tegang, kembung, nyeri tekan
diperut kanan bawah, Pasien mengatakan nyeri di perut kanan bawah
B5
dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan nyerinya dirasakan hilang timbul setiap
(Bowel)
10-15 menit dengan skala nyeri 3 (nyeri ringan) dari rentang skala 1-10 yang
diberikan, Peristaltik : 6x/menit
• BAB : lebih dari 3 kali/hari, teratur: tidak, Konsistensi: cair , bau: bau khas ,
warna: kuning kehijauan dan bau amis.
• Lain-lain :sebelum sakit: Keluarga mengatakan BAB seperti biasa 1-2x/hari
dengan konsistensi padat dan berwarna kuning namum 5 hari SMRS pasien
mencret lebih dari 3x/hari berwarna kuning kehijauan.
• Setelah dirumah sakit: Pada saat pengkajian mengatakan pasien mencret
sudah 3x sejak tadi malam hingga pagi ini banyaknya sekitar 200-250 cc
setiap kali mencret warna kuning kehijauan dan bau busuk.
Masalah Keperawatan : Kekurangan volume cairan, Nyeri Akut
B6
(Bone)

B6 (Bone)/Muskuloskeletal:
• Kemampuan pergerakan sendi: bebas.
• Warna kulit: pucat
• Turgor kulit: sedang
• Lainnya: Klien mengatakan lemah, pusing, nyeri
kepala, nyeri perut kanan bawah dan sesak napas,
RR: 50x/menit, ADL dibantu penuh, klien
terpasang O2 nasal kanul 4 liter/menit, terpasang
kateter dan NGT.
• Masalah keperawatan: Intoleransi aktivitas.
NO DATA MASALAH ETIOLOGI
Subjektif Objektif
1 Pasien mengatakan sesak napas Terpasang O2 nasal Ketidakefektifa Keletihan Otot
kanul 4 liter, RR n pola napas Pernafasan
50x/menit, adanya
retrakasi dinding dada,
auskultasi paru :
ekspirasi memanjang.
2 Pasien mengatakan merasa panas diseluruh Suhu 39,2°C, akral Hipertermi Peningktan Laju
tubuh. panas, Leukosit: 27.40 Metabolisme Tubuh
10ˆ3/ul.
3 Pasien mengatakan merasa haus, BAB encer sejak Membrane mukosa Kekurangan Peningkatan Laju
semalam ± 400 cc. kering, warna urine Volume Cairan Metabolisme Tubuh
pekat, turgor kulit
sedang,
Suhu: 39,2°C, Hb: 6.7
g/dl, Hematokrit : 23,1%.

4 Pasien mengatakan nyeri di perut kanan bawah Nyeri tekan (+), distensi Nyeri Akut Agen Cedera
dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan nyerinya abdomen (+), TD : Biologic ( Infeksi)
dirasakan hilang timbul setiap 10-15 menit 140/80 mmHg
dengan menunjukan skala nyeri 3 (nyeri ringan)
dari rentang skala 1-10 yang diberikan.

5 Pasien mengatakan lemah, pusing, nyeri kepala, Pasien tampak lemah, Intoleransi Ketidakseimbangan
dan sesak napas. sesak napas, RR: aktivitas suplai dan
50x/menit, ADL dibantu kebutuhan oksigen.
penuh, pasien terpasang
O2 nasal kanul 4
liter/menit, terpasang
kateter dan NGT.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola napas b.d keletihan otot pernafasan yang ditandai dengan pasien mengatakan
napas terasa sesak dan sulit bernapas, terpasang O2 nasal kanul 4 liter, RR 50 x /menit, adanya
retrakasi dinding dada, auskultasi paru : ekspirasi memanjang.

2. Hipertermi b.d peningkatan laju metabolisme tubuh yang ditandai dengan DO: Pasien mengatakan
merasa panas diseluruh tubuh, suhu 39,2°C, akral panas, Leukosit: 27.40 10ˆ3/ul.

3. Kekurangan volume cairan b.d peningkatan laju metabolisme yang ditandai dengan Pasien
mengatakan merasa haus, BAB encer sejak semalam ± 400 cc. Membrane mukosa kering, warna
urine: pekat, Suhu: 39,2°C, Hb: 6.7 g/dl, Hematokrit : 23,1%.

4. Nyeri akut b.d agen cedera biologis yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri di perut kanan
bawah dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan nyerinya dirasakan hilang timbul setiap 10-15 menit
dengan menunjukan skala nyeri 3 (nyeri ringan) dari rentang skala 1-10 yang diberikan, Nyeri tekan
(+), distensi abdomen (+), TD: 140/80 mmHg.

5. Intoleransi aktivitas b.d Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen yang ditandai dengan
pasien mengatakan lemah, pusing, nyeri kepala, dan sesak napas, pasien tampak lemah, sesak
napas, RR: 50x/menit, ADL dibantu penuh, pasien terpasang O2 nasal kanul 5 liter/menit, terpasang
kateter dan NGT.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN (Terlampir)

D. IMPLEMENTASI/EVALUASI (Terlampir)

 Catatan perkembangan hari ke 1-3 (Terlampir)


a. Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Japanesa, Zahari, & Rusjdi, 2016) dirumah sakit RSUP Dr.
M. Djamil Padang pada tahun 2014 menunjukkan bahwa kasus peritonitis akibat Apendisitis Perforasi
lebih banyak terjadi pada laki-laki (68,4%) dibandingkan dengan perempuan (31,6%). Hal ini sejalan
juga dengan penelitian yang dilakukan oleh S. Windy C & Sabir.M di RSU. Unutapura Palu pada tahun
2014 bahwa insiden Apendisitis perforasi lebih banyak terjadi pada laki-laki (58,3%) dibandingkan
perempuan. Sedangkan menurut (Suratun & Lusianah, 2010) bahwa insiden peritonitis lebih sering
terjadi pada perempuan dimana diakibatkan karena pada perempuan cavitas peritonium terdapat
hubungan dengan kedua tuba uterina, uterus dan vagina sehingga apabila terjadi inflamasi pada
organ-organ tersebut maka dapat menimbulkan komplikasi terjadinya peritonitis, sedangkan pada
laki-laki cavitas peritonium tertutup sempurna sehingga resiko terjadinya peritonitis rendah.

Dari kasus Nn. M.T yang dirawat di Ruang Cempaka pada tanggal 27 April
2018 dengan diagnosa Medis Peritonitis cc Appedisitis Perforasi, menurut
penulis tidak ada hubungan antara tingginya insiden dengan jenis kelamin
karena secara anatomis bentuk apendiks laki-laki dengan perempuan
sama, Tingginya kejadian apendiks perforasi ini disebabkan oleh karena
kurangnya kesadaran penderita untuk segera meminta pertolongan ke
rumah sakit dan keterlambatan penderita datang ke fasilitas kesehatan.
B. Usia
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh S. Windy C & Sabir. M yang
dilakukan di RSU. Unutapura Palu (2014) diperoleh data bahwa kelompok usia yang
menderita apendisitis adalah kelompok usia 17-25 tahun (remaja akhir) dimana
sebanyak 38,9% dengan apendisitis akut dan 27,8% dengan apendisitis perforasi
yang dapat menimbulkan komplikasi peritonitis. Menurut hasil penelitian yang
dilakukan oleh (Japanesa, Zahari, & Rusjdi, 2016) bahwa distribusi usia pasien yang
terkena peritonitis bervariasi dari 6-86 tahun. Berdasarkan kelompok usia dapat
dilihat bahwa peritonitis sering terjadi pada kelompok usia 10-20 tahun (24.5%). Hal
tersebut tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Marisa Dkk di
Semarang pada thaun 2011, didapatkan insiden tertinggi pada apendisitis akut dan
perforasi terjadi pada usia 15-24 tahun, dimana tinggi insiden pada usia remaja
disebabkan pada perkembangan jaringan limfoid maksimal sehingga lebih mudah
terjadi obstruksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal.
 Ketidakefektifan Pola Napas menjadi prioritas  Hipertermi b.d peningkatan
masalah keperawatan pada kasus ini karena secara laju metabolisme tubuh yang
teori pada pasien dengan peritonitis terjadi ditandai dengan pasien
peningkatan tekanan permeabilitas pembuluh mengatakan merasa panas
darah kapiler dan membrane kapiler mengalami diseluruh tubuh, suhu 39,2° C,
kebocoran sehingga terjadi akumulasi cairan di
badan teraba panas, Leukosit:
rongga peritoneum dan selanjutnya terjadi
peningkatan tekanan intra abdomen sehingga
27.40 10ˆ3/ul. Menurut teori
terjadi penekanan pada diafragma sehingga Hipertermi terjadi karena
menghambat ekspansi paru, jika paru-paru tidak adanya proses peradangan
mengembang dengan baik dalam waktu lama maka akibat perforasi apendiks
akan terjadi gangguan pertukaran oksigen dan sehingga terjadi pelepasan zat
karbondioksida sehingga menyebabkan pirogen yang akan memacu
penumpukan kadar karbondioksida dalam tubuh peningkatan set poin di
yang berpotensi menyebabkan komplikasi lain. hipotalamus. Apabila masalah
Pada kasus Nn. M.T saat dilakukan pemeriksaan hipertermi ditangani maka
fisik tidak ditemukan adanya pembengakakan pada akan beresiko terjadinya
area abdomen tetapi terdapat tanda-tanda klinis masalah Kekurangan volume
lain yang menunjukan adanya asites yaitu nyeri cairan.
tekan abdomen, kembung dan sesak napas serta
didukung oleh hasil pemeriksaan penunjang USG  Hal ini menunjukan bahwa
kesan asites. terdapat kesesuaian antara
 Hal ini menunjukan bahwa terdapat kesesuaian teori dan kasus pada Nn.MT.
antara teori dan kasus pada Nn.M.T.
 Kekurangan volume cairan b.d peningkatan laju  Nyeri akut b.d agens cedera
metabolisme yang ditandai dengan pasien biologi (infeksi) yang ditandai
mengatakan merasa haus, berkeringat, membrane dengan pasien mengatakan nyeri
mukosa kering, produksi urine : 600 cc/hari, Suhu: di perut kanan bawah, seperti
39,2°C, pasien juga dibatasi minum hanya tertusuk-tusuk dan nyerinya
200cc/hari. Menurut teori pasien dengan dirasakan hilang timbul setaip 10-
Peritonitis terjadi masalah kekurangan volume
15 menit dengan skala nyeri 3
cairan yang disebabkan karena proses peradangan
(nyeri ringan) dari rentang skala 1
menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan
– 10, nyeri tekan (+), distensi
membrane mengalami kebocoran. Jika deficit
abdomen (+), TD: 140/80 mmHg.
cairan tidak terkoreksi dengan baik maka dapat
Menurut teori, pasien dengan
menimbulkan kematian sel. Cairan dan elektrolit
yang hilang kedalam lumen usus menyebabkan
Peritonitis biasanya mengalami
terjadinya dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan
nyeri abdomen baik nyeri konstan
oliguria. Keadaan ini dapat berat dengan adanya
maupun nyeri lepas di dekat area
peningkatan suhu tubuh yang berlebihan sehingga inflamasi atau pada seluruh area
dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh dan abdomen yang disebabkan karena
bisa beresiko pasien mengalami kekurangan adanya reaksi peradangan dan
volume cairan, oleh karena itu mempertahankan akumulasi cairan pada rongga
volume cairan yang optimum merupakan suatu peritoneum.
tindakan keperawatan yang sangat penting untuk  Hal tersebut diatas menunjukkan
dilakukan. bahwa ada kesesuaian antara teori
 Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa ada dan kasus pada pasien Nn.MT
kesesuaian antara teori dan kasus pada Nn.MT dimana pasien juga mengalami
dimana pada pasien Nn.MT terjadi peningkatan nyeri pada area abdomen pada
suhu tubuh hingga 39,2° C, Balance Cairan Pasien perut kanan bawah dengan skala
mengalami deficit 1000 cc yang menyebabkan nyeri 3 (nyeri ringan).
pasien mengalami kekurangan volume cairan.
 Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen yang ditandai
dengan DS: pasien mengatakan lemah, pusing,
nyeri kepala, dan sesak napas. DO: pasien
tampak lemah, sesak napas, RR: 50x/menit,
ADL dibantu penuh, klien terpasang O2 nasal
kanul 4 liter/menit, terpasang kateter dan NGT.
 Intervensi keperawatan Evaluasi keperawatan dilakukan
adalah rencana yang untuk melihat, menilai apakah
disusun untuk dilaksanakan tujuan keperawatan telah tercapai,
oleh perawat. tercapai sebagian atau tidak
tercapai.Evaluasi terbagi atas dua
 Implemetasi keperawatan jenis, yaitu evaluasi formatif dan
adalah tindakan yang evaluasi sumatif. Evaluasi formatif
dilakukan oleh perawat ini dilakukan segera setelah
sesuai dengan intervensi perawat mengimplementasikan
yang telah dibuat. rencana keperawatan guna menilai
 Pada kasus ini implementasi keefektifan tindakan keperawatan
keperawatan telah yang telah dilaksanakan. Evaluasi
sumatif adalah evaluasi yang
dilaksanakan sesuai dengan
dilakukan setelah semua aktifitas
intervensi yang telah dibuat.
proses keperawatan selesai
dilakukan (Asmadi, 2008).

Intervensi Implementasi Evaluasi Keperawatan


1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan
keletihan otot pernafasan masalah tidak teratasi
sehingga intervensi harus dilanjutkan.
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme tubuh masalah tidak teratasi.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
Kehilangan cairan aktif masalah tidak teratasi.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologi
(infeksi) masalah tidak teratasi.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
umum masalah tidak teratasi.
Semua diagnosa keperawatan masalah tidak teratasi dan
intervensi dihentikan karena pasien pulang paksa.