Anda di halaman 1dari 50

Kevin Jonathan

406172069
Definisi : suatu kondisi dimana dibutuhkan penganan segera dalam bidang ortopedi
agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut atau bahkan kematian.
- Life threatening
- Limb threatening

Yang termasuk didalam kedaruratan ortopedi adalah


- Open fracture
- Neurovascular injury
- Unstable pelvic fracture
- Dislokasi
- Septic arthritis
 terdapat hubungan antara daerah yang fraktur dengan dunia luar
 risiko untuk terjadinya infeksi pada tulang yang fraktur tinggi. Apabila dilakukan
pengnanganan yang lambat pada fraktur terbuka, hal tersebut akan meningkatkan
resiko dari infeksi bakteri Clostridial dan terjadinya gas gangrene. Komplikasi
jangka panjang adalah kasus infeksi sistemik dapat mengancam jiwa dan
terancamnya fungsi tungkai
Tipe Fraktur Deskripsi
I Fraktur terbuka, luka < 1 cm, bersih, kerusakkan jaringan lunak minimal; fraktur
transversum atau oblique yang sederhana
II Fraktur terbuka, luka > 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak luas, flap, atau avulsi; fraktur
transversum atau oblique pendek yang sederhana dengan kominutif minimal

III Fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak luas. Tipe ini juga termasuk dalam
fraktur terbuka yang membutuhkan perbaikan vaskular, atau fraktur yang telah terbuka
dalam waktu 8 jam sebelum diberikan penanganan; Pola
III A Fraktur terbuka type III dengan perlingkupan periosteal yang adekuat walaupun dengan
kerusakkan jaringan lunak yang luas; luka tembak

III B Fraktur terbuka type III dengan kerusakan jaringan lunak luas ,terkupasnya periosteal
dan ekspos kerusakkan tulang, biasanya berhubungan dengan kontaminasi luas

III C Fraktur terbuka type III yang mengalami Cedera vaskular yang membutuhkan
perbaikan, tanpa bergantung pada derajat kerusakan jaringan lunak.
 Sebelum abad ke 18  Amputasi
 Antiseptik, bersama dengan debridement semua jaringan yang terkontaminasi dan
devitalisasi, membuktikan reduksi pertama pada mortalitas.
 Irigasi, dengan debridement, merupakan tindakan penanganan yang sangat
krusial dalam penatalaksanaan fraktur terbuka, untuk menghilangkan debris-
debris kontaminan, mengurangi jumlah bakteri yang berpotensial untuk
menginfeksi, dan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi kronik dan akut.
Terdapat protokol irigasi yaitu 3L untuk fraktur terbuka tipe I, 6 L untuk fraktur
terbuka tipe II, dan 9L untuk fraktur terbuka tipe III
 ABCD
 Cuci luka
 Antibiotik dan analgetik
 Pencegahan Tetanus
 Imobilisasi, luka ditutup kain bersih
 Debridement dalam golden period (6 jam) dengan general anestesia
 tekanan jaringan dalam kompartemen otot tertutup melebihi tekanan perfusi dan
menyebabkan otot dan saraf iskemia
 Biasa terjadi setelah peristiwa traumatis, paling sering patah tulang (69-75%),
namun sindrom kompartemen juga dapat terjadi karena cedera arteri, luka
tembak, gigitan ular, kompresi tungkai, luka bakar
o AKUT  Emergency
o KRONIK
 cedera sel akan melepaskan mediator, dan meningkatkan permeabilitas endotel
yang menyebabkan oedem, selanjutnya meningkatkan tekanan kompartemen
yang menyebabkan hilangnya gradien tekanan sehingga akan mengurangi jumlah
darah arteri teroksigenasi dan mengurangi drainase darah vena. Berkurangnya
drainase ke vena akan menghasilkan ekstrusi daripada cairan menuju
kompartemen ketiga, yang menyebabkan edema jaringan dan meningkatkan
tekanan intrakompartemen kembali. Hal tersebut akan terus berlanjut, hingga
menyebabkan kolapsnya pembuluh limfe hingga suplai arteri yang menyebabkan
iskemi dan nekrosis irreversible
 ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan pengukuran tekanan intra-
kompartemen berulang
 Tekanan intrakompartemen > 30 mmHg dari diastole
 Salah satu cara mengukur tekanan intrakompartemen adalah dengan slit catether
 Non invasive  Near-infrared Spectroscopy (NIRS) dan laser Doppler Flowmetri
 PAIN
 PARESTHESIA
 PALLOR
 PARALYSIS
 PULSELESSNESS
 Singkirkan penyebab kompresi
 Pertahankan ekstremitas setinggi jantung untuk reperfusi kompartemen
 Apabila tidak ada perbaikan dalam klinis pasien, Fasciotomi merupakan indikasi
sebagai prosedur emergensi untuk mendekompresi kompartemen dan mencegah
terjadinya kerusakan iskemi irreversible pada otot dan nervus perifer. Fasciotomi
diindikasikan pada noromotensi pasien dengan klinis pasien yang mendukung
sindrom kompartemen akut dengan tekanan intrakompartemen >30 mmHg., atau >
20 mmHg pada pasien dengan hipotensi.
 sering terjadi pada cedera dengan mekanisme energi tinggi, seperti pada
kecelakaan lalu lintas teruatama motor
 Angka mortalitas pada pasien cedera cincin pelvis berkekuatan-tinggi rata-rata
15-20%. meningkat 13 x pada pasien dengan hipotensi
 Stable Pelvis Fracture  Fraktur yang dapat tetap bertahan dari gaya fisiologis
tanpa dislokasi. bergantung pada stabilitas dari struktur posterior ligamen, otot
dasar pelvis, ligamen-ligamen lain dan fascia. Cedera stabil termasuk didalamnya
adalah fraktur non-dislokasi cincin pelvis dan dislokasi anterior < 2,5 cm.
 Unstable Pelvis Fracture  Instaibilitas vertikal komplit secara radiography
diidentifikasikan dengan displacement anterior atau posterior dari sendi sacroiliac
yang lebih 1 cm. Instabilitas rotasional ditandai dengan melebarnya simfisis pubis
atau dislokasi fraktur rami pubis > 2,5 cm. Dasar instabilitas vertikal adalah
pemindahan superior hemipelvis melalui fraktur sacrum atau ilium dan disrupsi
sendi sacroiliaca > 1 cm
Perdarahan pada fraktur pelvis berasal dari :
 pleksus vena pelvis posterior (> 80%)
 intraabdominal ( +- 40%)
 perdarahan arteri (10 – 15%).
Pengobatan awal harus berfokus pada kontrol perdarahan vena. Reduksi dan stabilisasi
pada dislokasi cincin pelvis membantu mencapai pengontrolan tersebut. Reduksi akan
mengurangi volume pelvis dan lakukan tampon pembuluh darah yang mengalami
perdarahan dengan cara kompresi viscera dan hematom pelvis. Stabilisasi
mempertahankan reduksi dan mencegah pergerakan hemipelvis, mengurangi nyeri
dan membatasi disrupsi gumpalan terorganisir. Reduksi dan stabilisasi saja biasanya
mengontrol perdarahan vena, maka pasien yang tidak merespon manuver ini lebih
mungkin mendapat perdarahan arteri.
 Resusitasi cairan
 Hentikan perdarahan, dengan
o Direct pressure
o Pemasangan stagen, pelvic sling, PASG (Pneumatic Anti
Shock Garment)
o Pelvic C-clamp
 Rujuk
 Dislokasi sendi  tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian
terhadap tulang lainnya.
 Dislokasi dapat berupa lepas komplet (cerai sendi) atau parsial (dislokasi
inkomplet), atau subluksasio. Dislokasi sendi besar (misal, bahu, siku, panggul,
lutut, mata kaki) dianggap sebagai emergensi ortopedi
 Dislokasi berkepanjangan :
• kematian sel kartilago
• artritis paska trauma
• cedera neurovaskular
• Ankylosis
• nekrosis avaskular
 Cedera pada sendi dapat mengenai bagian permukaan tulang yang membuat
persendian dan tulang rawannya, ligamen, atau kapsul sendi rusak.
 Darah dapat mengumpul di dalam simpal sendi yang disebut hemartrosis.
 Apabila hanya tulang rawan saja yang cedera, misalnya pada sendi lutut yang
memiliki meniskus, dapat timbul gejala klinis tertentu yakni secara tiba-tiba sendi
terkunci (locking) atau timbul suara klik atau clunk.
 Dislokasi  otot-otot di sekitar sendi secara khas menjadi spasme, terbatasnya
range of motion.
 Dislokasi panggul posterior  paha dipertahankan pada posisi fleksi dan berotasi
secara internal. Tungkai yang terkena biasanya memendek dan tidak dapat
diulurkan secara pasif.
 Dislokasi bahu anterior  aduksi ektsternal posisi lengan.
 Dislokasi siku dan lutut (paling sering posterior) mengakibatkan ekstermitas
terkunci pada ekstensi
 Reduksi dislokasi selalu membutuhkan sedasi intravena untuk mengurangi spasme
otot pada sendi. Jika sebuah sendi tidak dapat direduksi oleh metode tertutup
dengan sedasi yang cukup, maka anestesi umum dibutuhkan. Berbagai usaha
dilakukan untuk mereduksi sendi dengan teknik tertutup di dalam ruang operasi
dengan staf yang siap sedia melakukan reduksi terbuka jika prosedur teknik
tertutup ini gagal. Tujuan jangka panjang reduksi adalah untuk mengembalikan
posisi anatomi dan fungsi normal. Reduksi juga meringankan nyeri akut,
membebaskan pembuluh darah dan ketegangan nervus, dan bisa mengembalikan
sirkulasi pada ekstremitas yang tidak terdapat pulsasi
 trauma pada pembuluh darah arteri yang bisa disebabkan oleh trauma tembus
atau trauma tumpul terhadap ekstremitas  jika tidak diketahui dan tidak
dilakukan tindakan sedini mungkin akan mengakibatkan hilang atau matinya
ekstremitas tersebut atau bahkan bisa menyebabkan kematian bagi pasien.
 Penyebab paling sering trauma pada pembuluh darah ekstremitas adalah luka
tembak (70-80%), luka tusuk (5-10%), luka akibat pecahan kaca. Selain itu trauma
pembuluh darah yang disebabkan oleh trauma tumpul seperti pada korban
kecelakaan atau seorang atlet yang cedera jarang (5-10%). Penyebab iatrogenik
sekitar 10% dari semua kasus yang diakibatkan oleh prosedur endovaskuler
seperti katerisasi jantung.
 Derajat I : robekan adventitia dan media, tanpa menembus tunika intima.
 Derajat II : robekan parsial sehingga tunika intima arteri juga terluka dan biasanya
menyebabkan perdarahan hebat karena tidak mungkin terjadi retraksi.
 Derajat III : pembuluh darah putus total
 Derajat I : robekan tunika intima yang luas.
 Derajat II, terjadi robekan tunika intima dan tunika media disertai hematoma dan
trombosis dinding arteri.
 Derajat III merupakan kerusakan seluruh tebal dinding arteri diikuti dengan
tergulungnya tunika intima dan media ke dalam lumen serta pembentukan
trombus pada tunika adventitia yang utuh.
 Tindakan diagnosis maupun penanganan kedokteran dapat menimbulkan trauma
arteri yang merobek sebagian dinding vaskuler. Penyebab tersering yaitu pungsi
arteri untuk pemeriksaan darah, dialisis darah, atau penggunaan kateter arteri
untuk diagnosis atau pengobatan
 Luka tembak umumnya melibatkan arteri besar. Pada ekstremitas atas, area yang
patut dicermati dan menjadi lokasi yang berisiko tinggi adalah aksila, bagian
medial dan anterior lengan atas, fossa antekubiti, tempat lokasi arteri aksilaris dan
brakialis terletak superfisial. Sedangkan ekstremitas bawah yang perlu dicermati
adalah anterior ligamentum inguinalis, inferior dari lipatan glutea dan fossa
poplitea
 melemahnya atau bahkan hilangnya dari denyut arteri distal
 hematom yang meluas
 syok hipovolemik dengan adanya bukti perdarahan
 bruit pada lokasi cedera
 cedera pada lokasi yang dekat dengan arteri besar
 kategori I merujuk kepada pasien dengan cedera vaskular yang mengancam
nyawa
 kategori II merujuk kepada pasien dengan kerusakkan vaskular pada ekstremitas
atau organ
 kategori III merujuk kepada pasien dengan cedera yang berlokasi dekat dengan
vaskular besar.
Terapi urgen, sering kali operasi hemostatsis dengan eksplorasi, diindikasikan pada
kategori I. kedua kategori lainnya dapat dilakukan evaluasi preoperative terlebih
dahulu dan penatalaksanaan direncanakan sesuai dengan kondisi klinis yang terjadi
pada pasien dan hasil dari arteriography
 Visualisasi dari cedera dapat dilihat dengan insisi longitudinal yang panjang.
kontrol vaskular proksimal dan distal merupakan prinsip operasi utama.
Autogenous vein masih menjadi "gold standart". kedua ekstremitas bawah dan
terkadang ekstremitas atas di drap steril untuk memberikkan akses kepada vena
cephalic dan vena saphena. Polytetrafluoroethylene (PTFE) direkomendasikan
sebagai pengganti kanal arteri yang rusak pada arteri berukuran sedang dengan
defek 2-6cm.
 Restorasi dari aliran darah merupakan tujuan utama dalam penatalaksanaan
cedera arteri yang mana apabila penundaan pada pengembalian aliran darah
akan berakibat fatal pada ekstremitas
 septik artritis merupakan infeksi pada rongga sendi dan biasanya merupakan
infeksi bakterial
 Septik arthriris merupakan bentuk akut arthritis yang paling berbahaya, dan
merupakan kasus kegawatdaruratan pada bidang ortopedi, keterlambatan dalam
mendiagnosa dan memberikan terapi dapat menyebabkan kerusakan sendi yang
menetap bahkan dapat menyebabkan morbiditas yang nyata bahkan kematian
 gonococcal . Neisseria gonorrhoeae merupakan patogen tersering ( 75%) pada
pasien dengan aktifitas seksual yang aktif.
 Non-gonococcal  Staphylococcus Aureus merupakan patogen tersering pada
bakterial arthritis pada usia anak-anak diatas usia 2 tahun dan dewasa, sedangkan
penyebab tersering ( 80%) infeksi sendi yang dipicu oleh rheumatoid arthritis
adalah spesies Streptococcal seperti Streptococcus viridans, Streptococcus
pneumoniae, dan streptococci group B. Bakteri gram negatif dapat menjadi
penyebab 20- 25% dan terjadi penderita yang sangat muda atau sangat tua yang
mana terjadi gangguan fungsi imunitas, atau pengguna obat-obat suntikan
terlarang.
 early, infeksi terjadi pada awal, 3 bulan sejak implantasi, biasanya disebabkan oleh
Staphylococcus aureus.
 delayed, terjadi 3-24 bulan sejak implantasi, kuman tersering coagulase-negative
Staphylococcus aureus dan gram negatif. Kedua jenis ini didapat dari kuman di
kamar operasi.
 late, terjadi sekunder dari penyebaran hematogen dari berbagai jenis kuman.
 Nyeri
 Hangat pada sendi yang terkena
 Swelling
 keterbatasan gerak sendi

Selain itu harus digali riwayat rheumatoid arthritis, riwayat suntikan pada daerah
sendi. Adakah gejala-gejala ekstra artikuler atau adakah riwayat penggunaan obat
terlarang intravena atau riwayat kateterisasi pembuluh darah. Adakah riwayat
penyakit–penyakit kelamin, adakah penyakit penyakit lain yang menyebabkan
penurunan system imun seperti penyakit liver, diabetes mellitus limfoma,
penggunaan obat obat imunosupresive
 Pada infeksi non gonokokal gejala timbul mendadak dengan terjadinya
pembengkakan sendi, teraba hangat dan sangat nyeri, paling sering terjadi pada
sendi lutut ( 50% kasus ), sedangkan pada anak-anak paling sering terjadi pada
sendi pinggul, sendi pinggul biasanya dalam posisi fleksi dan eksternal rotasi dan
sangat nyeri bila digerakkan. Kurang lebih 10-20 % terjadi infeksi poliartikular,
biasanya 2 atau 3 sendi. Poliartikular septik arthtritis biasanya terjadi pada pasien
dengan reumatoid arthritis, pasien dengan infeksi jaringan lunak atau pada pasien
dengan sepsis berat.
 JOINT ASPIRATION
• Jumlah sel darah putih pada septic arthritis adalah > 50,000-100,000 cells per 10−6/l (50,000-
100,000 cell/mm3) dengan hitung neutrofil > 90%
• Pada prosthetic joint, > 1,100 per mm3 dengan hitung neutrofil > 64%
• Pewarnaan gram
• Kultur
• Tes NAAT
• Lactate > 10 mmol/l
 BLOOD TEST
• Menunjang tanda tanda inflamasi (meningkatnya leukosit, LED, CRP)

 IMAGING
• X Ray
• CT scan
Prinsip terapi pada septic arthritis :
 drainase cairan sinovial yang terinfeksi secara adekuat
 antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur
 kombinasi Beta-lactam dengan aminoglikosida atau generasi kedua golongan
kuinolon
 imobilisasi sendi untuk mengurangi nyeri
 Pada akut PJI ( prosthetic joint infection ) kurang dari 3 minggu (tipe early) atau
sekunder dari penyebaran hematogen tanpa keterlibatan jaringan sekitar sendi
atau tidak terjadi joint instability, dapat diterapi dengan obat-obatan Antibiotik
intravena diberikan selama 3-4 minggu
 Drainage dapat berupa perkutaneus atau pembedahan, aspirasi dengan
menggunakan jarum secara berulang untuk mencegah pengumpulan cairan di
dalam sendi, aspirasi dapat dilakukan 2-3 kali sehari pada hari-hari awal, apabila
drainage lebih sering diperlukan maka pertimbangan untuk operasi
 Penggunaan antibiotik yang sesuai dan perkutan drainage yang aktif selama 5-7
hari tetap gagal
 Sendi yang terkena sulit untuk diaspirasi ( hip )
 Adanya infeksi pada jaringan sekitar
Emergensi ortopedi merupakan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa
dan hilangnya fungsi dari organ tertentu di bidang ortopedi, seperti ekstremitas dan
persendian. Emergensi ortopedi disampaikan sekitar 20% pasien yang datang ke
rumah sakit membutuhkan suatu penanganan atau tindakan awal yang cepat serta
dibutuhkan keterampilan seseorang dokter.
Pengetahuan dasar mengenai cedera ortopedi, pola fraktur, dislokasi, teknik
reduksi, dan teknik bidai, dibutuhkan untuk mengelola cedera serta pemahaman
tentang pembacaan radiologi, membuat dan menginterpretasikan suatu hasil
radiologi yang dibutuhkan dalam penanganan terhadap kasus emergensi ortopedi.