Anda di halaman 1dari 101

PSPDG/2011

Rozi SP,M.Psi.Psikolog
DIMENSI KOMUNIKASI
• Komunikasi adalah proses sosial dimana individu
menggunakan simbol untuk membuat dan
menginterpretasi makna dalam lingkungannya (West
& Turner, 2007)
Environment
Sosial
Meaning

Communication

Symbols Process
DIMENSI KOMUNIKASI
SOSIAL • Komunikasi berarti melibatkan
orang lain dan ada interaksi antara
PROCESS sender dan receiver dimana
SYMBOLS keduanya memainkan peran yang
MEANING integral dalam proses komunikasi.
• Orang-orang yang terlibat dalam
ENVIRONMENT
komunikasi memiliki berbagai
macam niat, motivasi dan
kemampuan.
DIMENSI KOMUNIKASI
• Komunikasi bermakna terus-menerus dan
SOSIAL tanpa akhir
PROCESS • Aktivitas yang dinamis, kompleks dan
berubah-ubah secara kontinyu
SYMBOLS • Menekankan penciptaan makna yang
MEANING dinamis
ENVIRONMENT • Tidak dapat dipastikan kapan dimulai dan
berakhir (masih diingat, mempengaruhi
perasaan kita)
• Bersifat cumulative, dipengaruhi masa lalu
serta mempengaruhi masa depan
• Unrepeatable dan irreversible, menurut
Frank Dance komunikasi seperti
Spiral/Helix
DIMENSI KOMUNIKASI
• Representasi dari fenomena
SOSIAL
• Kata : simbol untuk konsep dan sesuatu
PROCESS • Kadang bersifat ambigu, verbal dan non
verbal, terjadi dalam komunikasi face to
SYMBOLS face maupun mediated
MEANING • Disetujui oleh anggota kelompok,
ENVIRONMENT kelompok lain belum tentu faham
• Concrete symbol : merepresentasikan
objek, seperti, komputer
• Abstract symbol : merepresentasikan
ide/pikiran, seperti, pikiranmu seperti
komputer
DIMENSI KOMUNIKASI
• Sesuatu yang disaring/ditangkap dari
SOSIAL pesan.
• Pesan dapat memiliki lebih dari satu
PROCESS makna
SYMBOLS • Tanpa berbagi makna, kita sulit untuk
mengerti meskipun berbicara dengan
MEANING bahasa yang sama dan melihat peristiwa
ENVIRONMENT yang sama
• Makna dipengaruhi oleh budaya
• Tidak semua orang tahu apa yang
dikatakan orang lain, sehingga kita perlu
menjelaskan, mengulang dan
mengklarifikasi
DIMENSI KOMUNIKASI
SOSIAL • Situasi atau konteks dimana
komunikasi itu terjadi.
PROCESS • Dapat berupa waktu, tempat,
SYMBOLS periode sejarah, hubungan, latar
MEANING belakang pembicara maupun
pendengar.
ENVIRONMENT
BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI
1. Komunikasi sebagai Tindakan (action)
2. Komunikasi sebagai Interaksi
(Interaction)
3. Komunikasi sebagai Transaksi
(transaction)
COMMUNICATION as ACTION
(Shannon dan Weaver)

• Komunikasi dilakukan sebagai sebuah tindakan (satu arah)


kita “melakukan” kepada orang lain
• Kelemahan : hanya satu pesan dalam proses komunikasi
• Kelemahan : Mechanistic Orientation
INFORMATION
(SOURCE/SENDER)

• Keseluruhan tindakan komunikasi dimulai dengan


pengirim menyampaikan (share) sesuatu.
MESSAGE

• Pengirim memiliki PESAN untuk dibagi


(disampaikan) – ide, konsep dll, yang dapat
ditulis, diucapkan ataupun non verbal
CHANNEL : pathway to communication

• Pengirim akan memilih makna dalam pesan-pesan


mereka. Menurut Marshal McLuhan “the means is the
message.”
• CHANNEL bisa berupa verbal maupun non verbal; bisa
berupa cahaya maupun suara atau semua panca indra;
dapat berupa cara penyajiannya.
TARGET (RECEIVER)

• Pengirim akan melakukan encode (penyandian)


pesan (merasakan apa yang mereka terima)
melalui perspektifnya, sehingga hal ini
memungkinkan terjadinya salah faham
(misunderstanding).
NOISE/ENTROPY/INTERFERENCE

• Ada 4 tipe noise (gangguan). Noise inilah


yang menghalangi sebuah pesan
dipahami sebagimana maksudnya.
FOUR TYPES OF NOISE
• PHYSICAL/EXTERNAL NOISE
Adalah noise yang terjadi di luar sender dan receiver.
contoh, jika seseorang laki-laki menggunakan kostum
gorila berlari melalui kelas kita apa yang terjadi ?
• PHYSIOLOGICAL NOISE
Adalah noise yang berupa pengaruh biologis.
contoh, jika Anda tidak merasa baik (lapar,
lelah, sakit), Anda akan dipengaruhi oleh
noise ini.
FOUR TYPES OF NOISE
• PSYCHOLOGICAL/INTERNAL NOISE
adalah noise yang terdiri dari bias-bias,
prasangka komunikator dan perasaan tehadap
orang lain atau pesan. Contoh, Saya juga berpikir
tentang mereka sebagaimana yang kamu
pikirkan; berbicara dengan orang dari suku
berbeda.
• SEMANTIC NOISE
adalah noise yang datang dari perbedaan
pensifatan makna kata-kata. Misal, kita
menggunakan kata teknis psikologi, bagaimana
orang di luar psikologi?
COMMUNICATION as INTERACTIONAL

• Komunikasi sebagai sharing makna dengan feedback


antara sender dengan receiver
• Terdapat feedback antara Sender dengan Receiver.
COMMUNICATION as INTERACTIONAL

• Menekankan proses komunikasi dua arah


diantara komunikator.
• Proses circular komunikasi terjadi terus menerus
• Komunikator dalam interaksi dapat berperan
sebagai sender dan receiver, namun tidak secara
simultan.
• Elemen penting dalam model ini adalah
FEEDBACK atau respon pesan.
• Feedback adalah komunikasi yang ditujukan
kepada sumber oleh receiver yang
mengindikasikan adanya pemahaman.
COMMUNICATION as INTERACTIONAL

• Feedback dapat berupa verbal maupun non


verbal, sengaja maupun tak sengaja
• Feedback diperlukan untuk mengetahui apakah
pesan sudah diterima dan dipahami atau belum
• Lingkungan pengalaman (budaya, pengalaman,
heredity, kemampuan) mempengaruhi komunikasi
dengan orang lain.
• Kelemahan : Menyatakan komunikasi terjadi
dalam konteks communication encounter
• Kelemahan : melihat orang berbicara dan
mendengar tidak dalam satu waktu.
COMMUNICATION as TRANSACTIONAL

Kita adalah komunikator yang berbagi makna


COMMUNICATION as TRANSACTIONAL

• Komunikasi sebagai mengirim dan menerima pesan


secara simultan
• Transaksi bermakna prosess kooperatif, sender dan
receiver saling bertanggung jawab terhadap efek
dan efektifitas komunikasi.
• Apa yang disampaikan dipengaruhi oleh masa
pengalaman lalu saat pesan dibangun oleh pesan
sebelumnya.
• Ada interdependency antar komponen.
• Komunikasi non verbal sama pentingnya dengan
verbal
• Field of experience dapat terjadi overlap.
FUNGSI KOMUNIKASI
1. Komunikasi Sosial
Pembentukan Konsep diri
Pernyataan eksistensi diri
Kelangsungan hidup, memupuk
hubungan dan memperoleh
kebahagiaan.
2. Komunikasi Ekspresif
3. Komunikasi Ritual
4. Komunikasi Instrumental
Komunikasi bersifat persuasif : to
inform, to entertain.
PRINSIP KOMUNIKASI

1. Komunikasi adalah suatu proses simbolik


2. Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi
3. Komunikasi memiliki dimensi isi dan hubungan
4. Komunikasi berlangsung dalam berbagai
tingkat kesengajaan
5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan
waktu
PRINSIP KOMUNIKASI
6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta
komunikasi
7. Komunikasi bersifat sistemik
8. Komunikasi dipengaruhi oleh latar belakang
budaya
9. Komunikasi bersifat irreversible
10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan
transaksional
11. Komunikasi bersifat nonsekuensial
12. Komunikasi bukan panasea (obat mujarab)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERILAKU KOMUNIKASI MANUSIA

1. Faktor-Faktor Personal
Bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang timbul dari dalam dirinya
(psikologis). Faktor-faktor tersebut dapat berupa
motif, instink, sikap kepribadian maupun kognitif
2. Faktor-faktor Situasional
Bahwa faktor situasional dan sosial akan
membentuk perilaku manusia dalam
berinteraksi. Faktor-faktor tersebut antara lain
FAKTOR - FAKTOR PERSONAL
1. Faktor Biologis
Struktur biologis—genetika, sistem syaraf, dan
sistem hormonal—mempengaruhi perilaku
manusia. Sistem saraf, organ indra, otot, dan
kelenjar memungkinkan kita mengetahui dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Persepsi
kita terhadap peristiwa tergantung pada
bagaimana organ indra mendeteksi stimuli dan
bagaimana otak menginterpretasikan informasi
yang datang dari organ indra tersebut.
2. Faktor-Faktor Sosiopsikologis
Antara lain : Sikap, Emosi, Kepercayaan,
kebiasaan dan kemauan
FAKTOR-FAKTOR SITUASIONAL
1. Faktor Ekologis
2. Faktor Rancangan dan Arsitektural
Desain bangunan sociopetal dan sociofugal
3. Faktor Temporal (bioritma manusia)
4. Suasana Perilaku (Behavior Setting)
5. Teknologi
6. Faktor-faktor Sosial (Struktur Sosial)
Peran (role) dan karakteristik populasi
7. Lingkungan Psikososial (iklim psikososial)
8. Stimuli yang Mendorong dan Memperteguh
Perilaku
Bagaimana Hubungan
Dokter-Pasien?

PSPDG/2011
MEMAHAMI PRAKTIK
KEDOKTERAN
ILMU KEDOKTERAN
• EMPIRIS
– PROBABILITAS
– PELUANG BIAS & “UNKNOWN”
– REASONABLE MEDICAL CERTAINTY
• EVIDENCE BASED
• HUBUNGAN DOKTER-PASIEN BERDASAR
UPAYA : KONTRAK TERAPEUTIK
Praktik Kedokteran
• Menurut UU nomor 29 tahun 2004
Pasal 1 ayat 1 :
“Praktik kedokteran adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh dokter
dan dokter gigi terhadap pasien dalam
melaksanakan upaya kesehatan”
HUB. DOKTER - PASIEN
• PATERNALISTIK
– SEJAK HIPPOCRATES
– DIANGGAP DASARNYA : SALING PERCAYA
– PRINSIP MORAL UTAMA : BENEFICENCE
– “MENIADAKAN” HAK PASIEN (CONSENT)
– MULAI DIKRITIK TAHUN 1956
• KONTRAKTUAL
– MULAI TAHUN 1972-1975 (social contract)
– PRINSIP MORAL UTAMA : AUTONOMY
– INSPANNINGSVERBINTENNIS
“KONTRAK TERAPEUTIK”
• SALAH SATU HUBUNGAN HUKUM
DOKTER-PASIEN
• TIDAK SEIMBANG / SETARA
– DOKTER TIDAK MENJANJIKAN HASIL
(RESULTAATSVERBINTENNIS), TETAPI
MENJANJIKAN UPAYA YANG SEBAIK-
BAIKNYA (INSPANNINGSVERBINTENNIS) –
reasonable care
• HARUS DIJAGA DENGAN ATURAN
HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)
• KRITIK TERHADAP KONTRAKTUAL :
– TAK ADA NEGOSIASI EKSPLISIT
– TAK ADA EKSPEKTANSI EKSPLISIT
– TERLALU MATERIALISTIK, BUKAN ETIK
– MELUPAKAN FAKTOR SISTEM SOSIAL
– TERLALU LEGALISTIK : PERATURAN
– TERFOKUS PADA PRINSIP AUTONOMY
– CENDERUNG MEMINIMALKAN MUTU
• DISEBUT : BOTTOM-LINE ETHICS
HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)
• FIDUCIARY : VIRTUE BASED ETHICS
– PRINSIP : MORAL KEUTAMAAN
– BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN DAN
PERATURAN, TETAPI JUGA “BAGAIMANA
SIKAP SEBAIKNYA”
– EMPATHY, COMPASSION, PERHATIAN,
KERAMAHAN, KEMANUSIAAN, SALING
PERCAYA, ITIKAD BAIK, dll
– HUBUNGAN : BERTUMBUH-KEMBANG,
BERTUJUAN MENSEJAHTERAKAN PASIEN
– KOMUNIKASI HARUS BAIK
Declaration of Lisbon
• Hak memilih dokter
• Hak dirawat dokter yang “bebas”
• Hak menerima / menolak pengobatan
setelah menerima informasi
• Hak atas kerahasiaan
• Hak mati secara bermartabat
• Hak atas dukungan moral / spiritual
KOMUNIKASI
EFEKTIF-TERAPEUTIK
DOKTER-PASIEN
Tahapan dalam Perubahan Terpeutik
Rogers (1961) membagi kontinum ini
menjadi menjadi tujuh tahapan.
– Tahap 1 Dicirikan dengan ketidamauan untuk
mengkomunikasikan apa pun tentang diri.
– Tahap 2, Klien mulai menjadi sedikit tidak kaku.
– Tahap 3, Mereka lebih bebas dalam membicarakan
diri mereka sendiri walaupun masih sebagai objek.
– Tahap 4, Mulai berbicara mengenai perasaan
mendalam,tetapi bukan yang sedang dirasakan saat
itu.
– Tahap 5, Mereka mulai melalui perubahan dan
perubahan dan pertumbuhan yang signifikan.
– Tahap 6, Mengalami perubahan dramatis dan
pergerarakan menuju seorang manusia sepenuhnya
– Tahap 7, Klien telah menjadi “manusia masa depan
yang berfungsi sepenuhnya.
Penjelasan Teoritis dari perubahan Teraupetik

• Rumusan teoritis yang dapat


menjelaskan dinamika perubahan
terapeutik menurut Roger
(1980),Memberikan penjelasan sesuai
dengan alur logika.yaitu, Ketika
seseorang sendiri merasa dihargai dan
diterima tanpa syarat , mereka
menyadari bahwa, mungkin untuk
pertama kalinya mereka dapat dicintai
Hasil

• Apabila proses perubahan terapeutik


mulai terjadi, maka dapat diharapkan
beberapa hasil mulai dapat
diobservasi.
• Salah satu hasil yang paling mendasar
dari terapi yang berpusat pada klien
adalah klien yang kongruen, tidak
defensif, dan lebih terbuka, terhadap
pengalaman.
Tabel 11.1 Teori perubahan Terapeutik Rogers

Jika kondisi-kondisi ini ada: Oleh karena itu, perubahan


terapeutik berlangsung dan
klien akan..
1. Klien yang rentan dan cemas 1. menjadi lebih kongruen
2. Kontak dengan konselor yang 2. menjadi tidak terlalu defensif
memiliki: 3. menjadi lebih terbuka pada
pengalaman
3. - Kongruensi dalam hubungan
4. mempunyaipandangan yang lebih
4. - Penerimaan positif yang tidak realistis akan dunia
bersyarat untuk klien 5. mengembangkan penghargaan diri
5. - Pengertian secara empati untuk yang positif
kerangka refrensi internal klien, 6. mempersempit jarak antara diri ideal
dan dengan diri sebenarnya
6. Klien dapat melihat kondisi 3,4,5- 7. menjadi tidak terlalu rentan atas
ketiga kondisi yang penting dan ancaman
8. menjadi tidak terlalu cemas
memadai untuk pertumbuhan
9. mengakui pengalaman -
terapeutik pengalamannya;
10. menjadi lebih menerima orang lain
Latar belakang
• Kompetensi dokter
• Selama ini terabaikan pendidikan
dan praktik kedokteran/kedok.gigi
• Doktertidak punya waktu
• Pasien  “superior-inferior”
• Pasien menerima saja
• Perlu kepercayaan pasien kpd dokter
• Dokter dan pasien komunikasi yg efektif
atas dasar saling percaya
• Komunikasi efektif mempengaruhi emosi
pasien utk keputusan tindakan selanjutnya
• Komunikasi tidak efektif  mengundang
masalah
• Menyatukan sudut pandang pasien-dokter
relasi dok-pasiensejajar&kerjasama
• Keberhasilan komunikasi dr-pasien
Kenyamanan dan kepuasan kedua
pihak
dan empati bagi pasien
. Empati dapat dicapai melalui:
- “listening skills”
- “talking skills”
Penting!
Empati dan bagaimana
dikomunikasikan
Empati
1. Kemampuan kognitif dokter mengerti
kebutuhan pasien
2. Sensitifitas dokter thd perasaan pasien
3. Kemampuan perilaku dokter memperli-
hatkan empati kpd pasien
Aplikasi Empati (Bylund&Makoul 2002)
• ECCS(Empathy Communication Coding System)
levels:
Level 0: menolak sudut pandang pasien
Level 1: mengenal secara sambil lalu
Level 2: mengenal sudut pandang pasien
Level 3: menghargai pendapat pasien
Level 4: menginformasikan kpd pasien
Level 5: berbagi perasaan&pengalaman dgn pasien
Ketrampilan empati (bukan basa basi).
1. mendengarkan aktif
2. responsif pd kebutuhan pasien
3. responsif pd kepentingan pasien
4. usaha memberikan pertolongan
Aplikasi komunikasi empatik dokter-pasien

• Sikap profesional dokter


Penting utk menjalin sambung rasa
pasien merasa nyaman,aman &percaya
• Pengumpulan informasi
- proses anamnesa
- penyampaian informasi
• Penyampaian informasi
1. materi informasi yg disampaikan
2. Siapa yg diberi informasi
3. Berapa banyak/sejauh mana
4. Kapan menyampaikan informasi
5. Dimana
6. Bagaimana menyampaikan
Interpersonal
Skills sangat
diperlukan bagi
dokter
50
Interpersonal Skills ?
Key interpersonal skills
Listening
Goal setting
Providing feedback
Empowering people
A B
Coaching Interviewing
Persuading Politicking
Running meetings Resolving conflicts
negotiating Building teams
(Stephen P. Robbins,1989)
51
I. Listening (mendengarkan)
• Penelitian oleh Crocker, 1978 menemukan
fakta bahwa dari 300 organisasi yang diteliti,
sebagian besar menempatkan “listening”
diurutan teratas, sebagai syarat manajer
yang berhasil
• Hearing Vs. Listening
• Hearing – mendengar suara
• Listening – menangkap makna dari suara
yang kita dengar. Listening requires paying
attention, interpreting, and remembering
sound stimuli. 52
Active Vs. Passive Listening
• Mendengarkan secara pasif, menempatkan
diri kita seperti mesin perekam (recorder).
Semua kata dimasukan ke dalam memori
(yang penting dan yang tidak), sehingga kita
tidak dapat membedakannya. Kita ingat apa
yang dikatakannya, tetapi tidak mengerti
apa maknanya.
• Mendengarkan secara aktif menuntut kita
agar mampu menempatkan diri sebagai pihak
yang menyampaikan pesan (empati). Kita
harus berkonsentrasi dan mau memahami
sepenuhnya isi yang dikemukakan
pembicara. 53
Empat tuntutan “active listening”

empati

intensitas Active Listening menerima

Kemauan
memperoleh
informasi
(Rogers & Farson, 1976) lengkap
Active listeners
listen with their:

Emotions
Words
ears
Eye
movement

eyes speaker
Facial
expressions
mind Body Hand
posture gestures

55
Pendengar yang efektif
1. Make eye contact
2. Exhibit affirmative head nods and
appropriate facial expression
3. Avoid distraction actions or
gestures
4. Ask questions
5. Paraphrase
6. Avoid interrupting the speaker
7. Don’t over-talk 56
1. Kontak mata
• Bagaimana perasaan anda ketika melihat
orang yang anda ajak bicara tidak
memandang anda, melainkan memandang ke
tempat lain?. Seperti juga kebanyakan orang
lain, anda akan mentafsirkan bahwa orang
tersebut mungkin tidak tertarik akan apa
yang anda bicarakan. Anda mendengarkan
dengan telinga anda, namun orang lain
menilai apakah anda mendengarkan atau
tidak, dengan melihat mata anda.
57
2. Anggukan kepala dan
ekspresikan wajah penuh
perhatian
• Pendengar yang efektif menaruh minat
atas apa yang sedang diucapkan orang
lain dengan memberikan tanda
“nonverbal”.
• Menganggukan kepala, mengerutkan
wajah, tertawa ketika pembicara
mencoba melontarkan humor,
menggeser posisi duduk ke arah
pembicara, dan lain sebagainya. 58
3. Cegah tindakan atau gerakan
yang berkesan negatif
• Ketika anda sedang mendengarkan
pembicaraan orang lain, jangan
terlampau sering melihat atau melirik
ke arah jam, memainkan pinsil,
membuka-buka halaman buku, atau
mengerjakan sesuatu yang tidak
berkaitan dengan isi pembicaraan.
Tindakan-tindakan tersebut
mengesankan bahwa anda bosan, atau
tidak tertarik pada apa yang sedang 59
diutarakan pembicara.
4. Ajukan pertanyaan
• Pendengar yang kritis menganalisis apa
yang didengarkannya, dan lalu
mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang relevan. Perilaku ini memberikan
keyakinan kepada pembicara bahwa
anda memang benar-benar
mendengarkan.

60
5. Uraikan apa yang didengar
dengan kata-kata sendiri
• Misalnya : “Anda mengatakan …..(kata-kata
pembicara) “ “Apakah itu artinya adalah
…….. (kata-kata anda sendiri) ?” Ada dua
alasan perilaku ini ditampilkan.
• Pertama: sebagai tanda bahwa anda
memperhatikan baik-baik isi pembicaraan.
• Kedua : sebagai tanda bahwa anda ingin
jangan sampai salah mentafsirkan kata-kata
pembicara.
61
6. Hindarkan menginterupsi
atau memotong pembicaraan

• Beri kesempatan kepada pembicara


untuk menyelesaikan isi
pembicaraannya. Setelah itu baru anda
boleh mengajukan pertanyaan atau
memberikan komentar.
• Biasakan untuk bersabar mendengarkan
pembicaraan orang lain.

62
7. Jangan terlalu banyak
bicara
• Memang, sebagian besar kita lebih suka
mengemukakan gagasan kita ketimbang
harus mendengarkan gagasan orang
lain. Namun ketika kita sedang dalam
posisi sebagai pendengar yang baik,
tahanlah untuk tidak banyak bicara.

63
II. Providing feedback
(memberikan umpan balik)
• Umpan balik ??
• Setiap bentuk komunikasi yang
disampaikan kepada seseorang dengan
tujuan agar orang tersebut mengetahui
dampak perilakunya terhadap anda
atau orang lain

64
Feedback positif dan negatif
• Umpan-balik positif lebih bisa diterima
daripada yang negatif. Hal ini bisa
dipahami karena sebagian besar
manusia lebih menyukai “good news”
ketimbang “bad news”.
• Agar umpan balik negatif bisa
diterima, maka utarakan seobyektif
mungkin disertai oleh informasi atau
data lain yang mendukung.

65
Beberapa tips pemberian
umpan balik
1. Fokuskan pada perilaku yang
spesifik. Hindarkan kalimat seperti ini
: “ Perilakumu sangat jelek” atau
“Saya sangat terkesan pada pekerjaan
anda”.
• Lebih baik jika kita katakan : “Kemarin
Anda terlambat sepuluh menit” atau
“Laporan keuangan yang Anda susun
mudah dimengerti” 66
2. Jaga agar tetap bersifat
“impersonal”.
• Upayakan, walau anda dalam situasi
marah sekali pun, jangan mengkritik
kepribadian seseorang. Mis: “Dasar
pemalas, pembohong” atau kata-kata
yang menunjukan sifat seseorang.
• Lebih baik kritik tindakannya Mis. :
“Dalam satu minggu ini Anda sudah dua
hari tidak masuk tanpa
pemberitahuan” 67
3. Segera
• Umpan-balik akan sangat bermakna
bagi pihak penerima, jika dilakukan
segera setelah perilaku tertentu
ditampilkan.
• Misalkan memberikan tepuk tangan
atas tampilan pembicara, atau teguran
sopan atas pelanggaran yang dilakukan
seseorang
4. Dimengerti
• Pihak yang diberi umpan balik harus
mengerti isi dari umpan balik yang
dilontarkan kepadanya
68
III. Persuading - Membujuk
• Definisi : Komunikasi tatap muka yang
dilakukan dengan sengaja oleh
seseorang dengan tujuan agar pihak
lain mau mengikuti dengan sukarela
kehendak seseorang tadi.

a Please ….dong
b

69
Strategi Membujuk
• Ada tiga strategi yang umumnya
dilakukan dalam membujuk seseorang
untuk melakukan sesuatu.
1. Kredibilitas
(anda bisa dipercaya)
2. Nalar
(isinya masuk akal)
3. Sentuhan emosional
(memunculkan perasaan suka)
70
Taktik pembujukan
1. Memberikan kemudahan secara aktif
(active facilitative) . Kita harus melakukan
persiapan matang guna meyakinkan pihak
yang akan kita bujuk. Misalnya dengan
mempersiapkan data atau informasi yang
diperlukan.
2. Memberikan kemudahan pasif (passive
facilitative) . Kadang, justru tidak
melakukan tindakan apa pun, upaya
membujuk seseorang akan lebih berhasil.
Tenang, sabar menunggu, memberikan
kesempatan berpikir. 71
Ketrampilan membujuk
1. Bangun kredibilitas
• Kembangkan pengetahuan anda di
bidang pekerjaan yang memerlukan
bantuan orang lain.
• Jaga hubungan dekat dan akrab
• Sajikan informasi yang dapat
diandalkan.
• Kembangkan rasa saling percaya
• Lakukan presentasi yang dinamis
• Minta bantuan pihak ketiga 72
2. Gunakan pendekatan positif dan
bijaksana
• Kita harus berasumsi bahwa pihak yang
akan kita bujuk adalah orang yang
pintar dan dewasa. Jangan
meremehkannya. Hormat, sopan, dan
bijak.
3. Jelaskan dengan baik maksud kita
• Kita harus mengerti sekali sekali apa
yang kita inginkan. Persiapkan dan
pelajari secara cermat apa yang
menjadi tujuan kita yang sebenarnya.
73
4. Sajikan bukti yang kuat guna mendukung
permintaan kita.
• Kita harus mampu menjelaskan mengapa
permintaan kita penting, dengan cara
memberikan bukti yang mendukung
5. Sesuaikan alasan permintaan kita dengan
karakteristik orang yang kita bujuk.
• Jika orang yang kita bujuk termasuk orang
yang cerdas dan rasional, alasan yang harus
dikemukakan juga harus bisa logis (diterima
oleh akal)

74
6. Perhatikan kepentingan pihak yang
sedang kita bujuk.
• Kita harus memperrtimbangkan
keuntungan apa yang bisa diperoleh
pihak yang kitabujuk, jika dia bersedia
memenuhi permintaan kita.
7. Sentuh aspek emosionalnya
• Kadang alasan rasional dan obyektif
belum cukup, maka sentuh hal-hal
yang bisa membangkitkan luapan emosi
pihak yang kita bujuk

75
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PADA ANAK
Komponen-komponen komunikasi :
1. Sender/ pengirim/ sumber pesan/
komunikator.
2. Message/pesan/informasi.
3. Receifer/penerima pesan.
4. Chanel/media yang digunakan.
5. Obyektif/tujuan.
Agar komunikasi lancar & berhasil ;
 Situasi harus tepat.
 Waktu tepat.
 Pesan yang disampaikan jelas.
Menurut Haber (1987)
komunikasi dibagi 2 macam :

1. Intrapersonal (Dalam diri sendiri)


2. Interpersonal (Dg 2 orang atau
lebih)
Ada 3 (tiga) komunikasi :
1) Komunikasi sosial.
2) Komunikasi collegia!.
3) Komunikasi fasi1itative.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Yaitu hubungan interpersonal dimana
perawat – klien memperoleh
pengalaman belajar bersama serta
memperbaiki pengalaman emosional
klien.
Komunikasi terapeutik mempunyai :Tujuan
spesifik, saling membagi pikiran, perasaan dan
berorientasi pada masa sekarang (Here and
Now), berfokus pada klien dalam memenuhi
kebutuhan.
Ciri-ciri komunikasi terapeutik :

1. Empati
2. Rasa percaya “Trust”
3. Validasi
4. Perhatian
HAMBATAN – HAMBATAN KOMUNIKASI

a. Sosialisasi
b. Memberi nasehat tdk ada kaitannya
c. Memberi dorongan sepintas
d. Melindungi suatu situasi
e. Menawarkan keyakinan yg kurang sesuai
f. Memberikan pujian secara stereotipe
g. Menahan ekspresi emosi dg pertanyaan
tertutup
h. Menginterupsi
ESENSI KOMUNIKASI DG ANAK
1. Menggunakan bentuk bahasa yg bermakna bagi
orang yg mereka ajak komunikasi.
2. Anak harus memahami bahasa yg digunakan
orang lain.
BENTUK KOMUNIKASI PRA BICARA
1. Tangisan
2. Celoteh
3. Isyarat dan
4. Ekspresi emosional
TEHNIK BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK

A. Teknik Verbal
1. Teknik orang ketiga
2. Neuro linguistic programming
(penglihatan, pendengaran, kinesthetic)
3. Fasilitative responding
4. Bercerita
5. Bibliotherapi
6. Fantasi/Menyebutkan keinginan
7. Mimpi
8. Rating skale khususnya untuk usia
sekolah
9. Pro dan kontra
B. Teknik Non Verbal
1. Menulis
2. Menggambar
3. Bermain
4. Sosiogram (gambar ruang kehidupan)
5. Menggambar bersama keluarga
KOMUNIKASI DENGAN ORANG TUA ;

1. Mendorong orang tua untuk


berbicara.
2. Fokusing.
3. Mendengarkan (listening).
4. Diam (Using Silence)
5. Empati
KOMUNIKASI DENGAN ORANG TUA ;

6. Meyakinkan kembali.
7. Merumuskan masalah.
8. Pemecahan masalah (Problem solving).
9. Memberi petunjuk apa yang akan
terjadi (Providing Anticipatory)
10. Menghindari hambatan dalam
komunikasi.
KONSEP DASAR
KEPERAWATAN
JIWA
Pengertian Kesehatan Jiwa
• Kes Jiwa bukan hanya tdk ada
gangguan jiwa melainkan megandung
berbagai karakteristik yg positif
menggambarkan keselarasan dan
keseimbangan kejiwaan yang
mencerminkan kedewasaan
kepribadiannya ( WHO)
• Kondisi yg memungkinkan perkembangan
fisik, intelektual, emosional secara optimal
dr seseorg n perkembangan ini berjalan
selaras dgn org lain (UU Kes. Jiwa no 13 thn
1996).
• A mind that grows and adjust, is in control,
and is free of serious stress. Kondisi jiwa
seseorg yg terus tumbuh berkembang dan
mempertahankan keselarasan, dalam
pengendalian diri serta terbebas dr stress yg
serius (Rosdahl, Texbook of Basic Nursing,
1999:58)
Kriteria Sehat Jiwa Menurut
Yahoda
1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Tumbuh kembang dan actualisasi diri
3. Itegrasi (keseimbangan/ kebutuhan)
4. Otonomi
5. Persepsi realitas
6. Environmental mastery (kecakapan
dlm adaptasi dgn lingk).
8 sehat jiwa (WHO)
1. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif
pada kenyataan
2. Mendapat kepuasaan dari usahanya
3. Lebih puas memberi dari pada menerima
4. Bebas (relatif) dari cemas
5. Berhubungan dengan oranglain secara
tolong menolong & memuaskan
6. Dapat menerima kekecewaan sebagai
pelajaran dikemudian hari
7. Mengarahkan rasa bermusuhan pd
penyesuaian yg kreatif & konstruktif
8. Daya kasih sayang yg besar.
Penanganan Untuk Area Patologis
• Menggunakan ilmu tingkah laku manusia
sbg dasar dan menggunakan diri sendiri
secara terapeutik dlm meningkatkan,
mempertahankan, memulihkan kes.
Mental klien dan kes mental masy.
Dimana klien berada (ANA)
• Proses interpersonal yg berupaya u/
meningkatkan dan mempertahankan
prilaku yang akan mendukung integrasi.
Pasien dapat berupa indiv, keluarga,
kelompok, organisasi atau
komunitas.(Kaplan Sadock)
PERAN PERAWATAN
• Menurut Weis (1974) dalam Stuart
Sunden(1995)  Attitude Therapy
Yakni:
1. Mengobservasi perubahan yg tjd pd klien
2. Mendemonstrasikan penerimaan
3. Respek
4. Memahami klien
5. Mempromosikan ketertarikan &
berpartisipasi dlm interaksi.
KONSEPTUAL MODEL
1. PSYCHOANALITTYCAL (Freud,
Erickson)
Gg jiwa dpt tjd pd seseorang bila Ego (akal)
tdk berfungsi dlm mengontrol id
(kehendak nafsu atau insting)
ketidakmampuan seseorang dlm
menggunakan akalnya (ego) u/
mematuhi tatatertib, peraturan, ormas,
agama (super ego/ das uber ich) akan
mendorong tjdnya penyimpangan prilaku
(deviation of Behavior)
2. INTERPERSONAL (Sulivan, Peplau)

Kelainan Jiwa seseorang bisa muncul


akibat adanya ancaman. Ancaman tsb
menimbulkan kecemasan (Anxiety),
Kecemasan timbul dan dialami
seseorang akibat adanya konflik saat
berhubungan dgn orang lain
(interpersonal)
3. SOCIAL (Caplan, Szasz)
Seseorang akan mengalami Gg, jiwa /
penyimpangan prilaku bila banyaknya
faktor lingk. Yg akan memicu
munculnya stres pd seseorang. (Social
& environ mental factor creat stress,
wich cause anxiety & symptom)
4. Existensial (Ellis, Roger)
Gg. Prilaku/ Gg, Jiwa terjadi bila
individu gagal menemukan jati diri
sendiri dan engalami gangguan dalam
body image-nya
5. SUPPORTIVE TEORY (Wermon,
Rockland)
Gg, jiwa disebabkan faktor biopsikososial
dan respon maladaptif saat ini. Aspek
biologisnya mjd masalah (sering Sakit
mag), Psikologisnya mengalami banyak
keluhan (ragu2 dll), Aspek sosialnya
memiliki masalah (susah bergaul, dll)
semua terakumulasi menjadi gangguan
jiwa.
6. Medical ( Meyer, Kreaplin)
Gg jiwa akibat multifactor yg komplek
meliputi:
• aspek fisik,
• genetik,
• lingkungan
• dan faktor sosial.
Sehingga fokus penatalaksanaannya harus
lengkap melalui diagnostik, terapi somatik,
farmakologik dan teknik interpersonal.
Sekian….

Sampai jumpa di lain


kesempatan

Rozi SP,M.Psi.Psikolog
Rozi_sp@yahoo.com