Anda di halaman 1dari 206

1.

Sejak Islam masuk ke Indonesia

2. Masa kerajaan-kerajaan Islam di


Indonsia

3. Masa Pemerintahan Kolonial


Sejarah
Peradilan
Agama
4. Masa sesudah Kemerdekaan dan
Pemerintahan Orde Lama

5. Masa Pemerintahan Orde Baru

6. Masa Pemerintahan Reformasi

1 1
Hukum Acara Peradilan Agama
Apa dan
bagaimana
beracara di
PA ???

Hukum Materiil Hukum Formil

12
Pengertian Hukum Acara Perdata
Prof. DR. Wiryono Projodikuro, SH. : HAP adalah rangkaian peraturan-
peraturan yang memuat bagaimana orang harus bertindak di muka
pengadilan dan cara bagaimana pengadilan harus bertindak satu sama
lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum
perdata.

Prof. DR. Sudikno Mertokusumo, SH., HAP adalah keseluruhan peraturan


yang bertujuan melaksanakan dan mempertahankan atau menegakkan
Hukum Perdata Materiil dengan pelaksanaan kekuasaan negara yang
terjadi di Pengadilan.

HAP merupakan hukum yang mengatur tentang tata cara beracara


mengajukan gugatan ke pengadilan, bagaimana pihak Tergugat
mempertahankan diri dari gugatan penggugat, bagaimana cara para
hakim bertindak memutus perkara yang diajukan oleh Penggugat tersebut
serta bagaimana cara melaksanakan putusan tersebut sebagaimana
mestinya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku, sehingga hak
dan kewajiban sebagaimana yang telah diatur dalam Hkm Perdata dapat
berjalan sebagaimana mestinya.
13
Hukum Acara Peradilan Agama
Prof. DR. Abdul Manan, SH. Hukum acara Peradilan Agama merupakan
hukum yang mengatur tentang tata cara mengajukan gugatan kepada
Pengadilan Agama, bagaimana pihak tergugat mempertahankan diri
dari gugatan penggugat, bagaimana cara para hakim bertindak
memutus perkara yang diajukan oleh Penggugat tersebut serta
bagaimana cara melaksanakan putusan tersebut sebagaimana
mestinya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku, sehingga
hak dan kewajiban sebagaimana yang telah diatur dalam Hkm Perdata
dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Drs. Mukti Arto, SH., M.Hum. Hukum Acara Peradilan Agama adalah
semua kaidah hukum yang menentukan dan mengatur cara
bagaimana melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata
agama sebagaimana yang diatur dalam hukum perdata agama dapat
berjalan sebagaimana mestinya.

14
DASAR HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA
Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukum
tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya. Dalam bidang hukum acara peradilan agama, hakim wajib
menggali, mengikuti, dan memahami nilai2 hukum yang hidup dan rasa
keadilan yang tidak menyimpang dari syari’ah Islam.

Pasal 54 UU No.7/1989 “Hukum acara yang berlaku pada lingkungan Peradilan


Agama adalah Hukum acara perdata yang berlaku pada pengadilan dlm
lingkungan peradilan umum, kecuali yang diatur khusus dalam UU ini”.

Dari pasal ini, dapat diartikan :


1. Pada saat diberlakukan UU No.7/1989 tentang PA, maka semua Hukum
acara perdata yang berlaku dalam lingkungan peradilan umum yang ada
kaitannya dengan peradilan agama dijadikan sebagai Hukum Acara
Perdata Peradilan Agama
2. Pada saat berlakunya UU No.7/1989 tentang PA, maka hukum acara
perdata yang diatur secara khusus dalam UU No.7/1989 ttg PA tersebut,
seperti ketentuan yang terdapat dalam Bab IV adalah berlaku pula
sebagai Hukum acara Perdata Peradilan Agama.
15
Sumber Hukum Acara Peradilan Agama
1. HIR (Herziene Inlandsch Reglement) untuk Jawa dan madura, RBg.
(Rechtsreglement Voor De Buitengewesten) untuk luar Jawa dan
Madura.
2. B.Rv. (Reglement Op De Bugerlijke Rechtvordering) diperuntukan
untuk gololongan erofa yang berperkara di muka Raad van Justitie dan
Residentie gerecht. Exp. Formulasi hukum surat gugatan, perubahan
surat gugat, intervensi, dan lain-lain.
3. BW (Burgerlijke Wetbook voor Indonesia) / KUHPerdata. Buku IV
tentang pembuktian yang termuat dalam Psl. 1865 s/d 1993.
4. WvK (Wetboek van Koophandel) / KUHDagang. Exp. Aturan kepailitan.
5. UU No.20 Thn 1947 ttg Acara Perdata dalam hal Banding bagi PT di
Jawa dan Madura, daerah luar jawa dan madura diatur dalam pasal
199-205 Rbg.
6. UU No.14 Thn 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan
kehakiman yang telah diubah dengan UU No.35/1999, dan digantikan
dengan UU No.4 Tahun 2004, dan digantikan UU No.48/2009 Dalam hal
ini memuat tentang hukum acara perdata dalam praktik peradilan di
Indonesia.
16
7. UU No.1/1974 ttg perkawinan dan PP No.9/1975
tentang peraturan pelaksana UU perkawinan
tersebut.
8. UU No.14/1985 ttg Mahkamah Agung yang telah
diubah dan disempurnakan dengan UU No.5/2004,
UUNo.3/2009 perubahan kedua yang berkaitan
dengan acara perdata dan hal-hal yang
berhubungan dengan kasasi dalam proses
berperkara di Mah. Agung.
9. UU No.50/2009 perubahan kedua UU No.7/1989 ttg
Peradilan Agama, dalam Pasal 54 menyebutkan
bahwa hukum acara yang berlaku di ling. Peradilan
agama adalah sama dengan hukum acara yang
berlaku di ling. Peradilan umum, kecuali hal-hal
yang telah diatur secara khusus dalam UU tersebut.
10. UU No.49/2009 tentang Peradilan Umum 17
11. Inpes No.1/1991 Kompilasi Hukum Islam
12. Surat edaran Mahkamah Agung RI
13. Yurisprudensi Mahkamah Agung, yaitu pengumpulan
yang sistematis dari keputusan Mahkamah Agung dan
Keputusan Pengadilan Tingkat banding yang diikuti
oleh hakim lain dalam memberikan keputusan
terhadap masalah yang sama.
14. Kutub Fiqih, yakni pedoman hukum acara yang
bersumber dari kitab-kitab fiqh yang 13, seperti : Al-
Bajuri, Fathul Mu’in, Syarqowi al-Tahrir,
Qalyubi/Mahalli, Fathul Wahab dan syarahnya, Tuhfah,
Targhibul Musytaq, Qowaninus Syari’ah Lis Sayyid bin
Yahya, Qowaninus Syari’ah Lis Sayyid bin Sadaqah
Dahlan, Syamsuri fil Fara’id, Bugyatul Murtarsyidin,
Alfiqhu alaa Mazahibil Arba’ah, Mugnil Muntaj,
18
ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA
1. Asas personalitas keislaman, (Psl.2 UU 50/2009)
Peradilan agama salah satu kekuasan kehakiman bagi
pencari keadilan yang beragama Islam mengenai
perkara perdata tertentu. Ketentuan ini
menggambarkan :
a. Para pihak yang bersengketa harus beragama Islam
b. Perkara perdata yang disengketakan mengenai
perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat,
infaq, shadaqoh, dan ekonomi syari’ah.
c. Hubungan hukum yang melandasi berdasarkan
hukum Islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya
berdasarkan hukum Islam.
19
2. Asas Bebas Merdeka.
Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang
merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
Pancasila, demi terselenggaranya negara hukum RI.
(UU No.50/2009 merujuk Pasal 24 UUD 1945 jo.Psl 1
48/2009 ttg Kekuasaan Kehakiman)
3. Asas wajib mendamaikan
Bahwa selama perkara belum diputus, usaha
mendamaikan dilakukan pada setiap sidang
pemeriksaan. Upaya perdamaian dalam sidang PA
bersifat imperatif khususnya dalam masalah syiqaq
(selisih rumah tangga).
(Psl 39 UU No.1/74 ttg perkawinan jo. Psl 31 PP No.
9/1975 ttg Pelaksanaan UU No.1/1974 jo. Psl 65 & 82
ayat 1 & 2 UU No.50/2009 jo. Psl 115 KHI jo Psl 16 (2)
UU No.48/2009)
110
4. Asas Terbuka untuk umum.
Asas ini bertujuan agar persidangan berjalan dengan
fair. Pemeriksaan di PA adalah terbuka untuk umum
kecuali undang-undang menentukan lain atau jika
hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam
berita acara sidang memerintahkan bahwa
pemeriksaan acara keseluruhan atau sebagian akan
dilaksanakan dengan sidang tertutup. Adapun
pemeriksaan perkara di PA yang dilakukan dalam
sidang tertutup adalah berkenaan dengan
pemeriksaan permohonan cerai talak atau cerai
gugat dikarenakan untuk menjaga aib rumah tangga
dan pribadi suami isteri. Tertutup untuk umum
bersifat interaktif karena aturan ini mempunyai
derajat ketertiban umum.
(Psl.59 ayat 1 UU No.7/1989 yg tidak diubah dalam
UU No.50/2009 Jo. Psl.19 ayat 3 & 4 UU
No.48/2009)
111
5. Asas Equality, (Psl.58 UU No.7/1989 jo.Psl.5 ayat 1 UU
No.48/2009.
yakni setiap orang yang berperkara di Pengadilan Agama adalah
sama hak dan kedudukannya di hadapan hukum, sehingga tidak
ada perbedaan yang bersifat diskriminatif, baik diskriminatif
normatif (perbedaan aturan hukum) maupun diskriminatif kategoris
(status sosial, ras, agama, suku, jenis kelamin dan budaya).
Patokan :
equality before the law (persamaan hak & derajat pada saat sidang),
equality protection on the law (hak perlindungan yang sama oleh hukum),
equality justice under the law (mendapat perlakuan yg sama oleh hukum).
6. Asas sederhana, cepat dan biaya ringan; Psl. 57 UU No.7/89
“sederhana” adalah penyelesaian perkara dilakukan dengan
cara yang efektif dan efesien, acara yang jelas dan mudah.
“cepat” dalam pemeriksaan hakim harus cerdas dlm
menginventarisir, menidentifikasi, intisari dari perkara
“biaya ringan” yaitu biaya harus diperhitungkan secara logis,
rinci dan transparan.
112
7. Asas legalitas (Psl.2 UU No.3/2006 )
mengadili dengan tidak membeda-bedakan orang
menurut dan berdasarkan hukum.
8. Asas aktip memberi bantuan
Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha
mengatasi hambatan dan rintangan untuk dapat
tecapainya peradilan yang sederhana, cepat, biaya
ringan. Dengan batasan-batasan :
a. Membuat gugatan bagi yang buta huruf
b. memberi pengarahan tata cara izin prodeo
c. Menyarankan penyempurnaan surat kuasa
d. Menganjurkan perbaikan surat gugatan
e. memberi penjelasan alat bukti yang sah
f. memberi penjelasan cara mengajukan bantahan/jawab
113
g. Bantuan memanggil saksi secara resmi
h. Memberi bantuan upaya hukum
i. Memberi bantuan tata cara verzet dan rekonpensi
j. Mengarahkan dan membantu memformulasikan
perdamaian.

Selain itu ada juga asas penyelesaian perkara,yaitu :


Asas ketentuan formil, asas beracara dikenakan
biaya, asas hakim aktif dalam pemeriksaan, asas
inisiatif dari pihak yang berkepentingan, asas
inter partner atau erga omnes, asas retroaktif
(besifat ek tune) dan prospektif (bersifat ex
nune).
114
KEWENANGAN PERADILAN AGAMA
Kewenangan Absolut.
Yaitu yang menyangkut masalah kekuasaan kehakiman antar
badan-badan peradilan dilihat dari segi macamnya
pengadilan, menyangkut pemberian kekeuasaan untuk
mengadili.
Kewenangan relatif.
Yaitu mengatur pembagian kekuasaan mengadili antara
pengadilan yang serupa tergantung pada tempat tinggalnya
tergugat. Kekuasaan relatif asasnya adalah yang berwenang
pada pengadilan dimana Tergugat bertempat tinggal (Actor
sequar forum rei), khusus perkara cerai gugat pada
lingkungan peradilan agama yang diajukan oleh pihak isteri
maka gugatan tersebut diajukan di tempat tinggal Penggugat
(isteri), hal ini bertujuan untuk melindungi kaum wanita pada
umumnya dan isteri pada khususnya 115
PSL 49 UU No. 3 Th 2006 ttg Perubahan atas UU No. 7 Th 1989
ttg Peradilan Agama

PERKAWINAN

KEWARISAN

WASIAT
KEWENANGAN
PENGADILAN HIBAH
AGAMA WAKAF

SHADAQAH

EKONOMI ISLAM
116
1.Izin beristri lebih dari seorang (Poligami)
2.Izin melangsungkan perkawinan bagi
orang yang belum berusia 21 tahun, dalam
hal orang tua wali, atau keluarga dalam
garis lurus ada perbedaan pendapat.
3.Dispensasi kawin
4.Pencegahan perkawinan
5.Penolakan perkawinan oleh Pegawai
Pencatat Nikah.
117
6. Pembatalan perkawinan
7. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami
dan istri
8. Perceraian karena talak
9. Gugatan perceraian
10. Penyelesaian harta bersama
11. Penguasaan anak
12. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan
dan pendidikan anak, bila Bapak yang
bertanggungjawab tidak mematuhinya.
118
13. Penentuan kewajiban memberi biaya
penghidupan oleh suami kepada bekas
istri atau penentuan suatu kewajiban
bagi bekas istri
14. Penentuan kewajiban memberi biaya
penghidupan oleh suami kepada bekas
istri atau penentuan suatu kewajiban
bagi bekas istri.
15. Putusan tentang sah atau tidaknya
seorang anak.
119
16. Putusan tentang pencabutan kekuasaan
orang tua
17. Pencabutan kekuasaan wali
18. Penunjukan orang lain sebagai wali oleh
pengadilan dalam hal kekuasaan
seorang wali dicabut.
19. Penunjukan seorang wali dalam hal
seorang anak yang belum cukup umur
18 tahun yang ditinggal kedua orang
tuanya.
120
20. Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta
benda anak yang dibawah kekuasaannya.
21. Penetapan asal usul seorang anak dan penetapan
pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam.
22. Putusan tentang hal penolakan pemberian
keterangan untuk melakukan perkawinan
campuran.
23. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang
terjadi sebelum UU. Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan dan dijalankan menurut
peraturan yang lain.

121
1. Bank Syari’ah
2. Lembaga Keuangan mikro syari’ah
3. Asuransi syari’ah
4. Reasuransi syari’ah
5. Reksa dana syari’ah
6. Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka
menengah syari’ah
7. Sekuritas syari’ah
8. Pembiayaan syari’ah
9. Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah, dan
10. Bisnis syari’ah
122
HARTA BAWAAN DAN HARTA BERSAMA
1. Terjadinya perkawinan harta bawaan suami atau istri
tetap berada dalam kekuasaan masing masing pihak
Pasal 86 ayat 1 KHI, kecuali adanya kesepakatan
untuk menjadikan harta bersama.
2. Perbedaan perjanjian perkawinan dgn taklik talak :
 Perjanjian perkawinan menyangkut mengenai harta
kekayaan; sedangkan
 Taklik talak mneyangkut mengenai kewajiban suami
terhadp istri.
3. Perjanjian perkawinan dibuat pada waktu atau
sebelum perkawinan dilangsungkan (Pasal 29 ayat 1
UU. No.1/1974). Berlaku sejak perkawinan
dilangsungkan (pasal 29 ayat 3 UU No.1/1974). 123
4. Berdasarkan pasal 29 ayat 4 UU No.1/1974, selama
perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat
dirubah, kecuali kedua belah pihak ada persetujuan
untuk merubah dan perubahan itu tidak boleh
merugikan pihak ketiga.

5. Suami istri tidak memiliki harta bersama, manakala dalam


perjanjian perkawinan dibuat yang isinya bahwa harta
kekayaan yang diperoleh masing-masing pihak selama
perkawinan berlangsung tetap dalam penguasaan masing-
masing pihak.

124
6. Wujud harta bersama dalam perkawinan, berdasar-
kan pasal 35 UU No.1/1974 ada dua jenis harta
dalam perkawinan:
 Harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi
harta bersama.

 Harta bawaan masing-masing suami istri dan


harta yang diperoleh masing-masing sebagai
hadiah atau warisan yang disebut dengan harta
pribadi yang sepenuhnya berada dibawah
penguasaan masing-masing sepanjang para
pihak tidak menentukan lain.
125
7. Terbentuknya harta bersama antara lain :
 Harta itu diperoleh dalam perkawinan.

 Harta itu dibeli dan dibangun sesudah perceraian yang


dibiayai dari harta bersama.
 Harta yang dapat dibuktikan diperoleh selama
perkawinan.
 Penghasilan harta bersama dan harta bawaan.

 Segala penghasilan pribadi suami istri.

8. Terbentuknya harta bersama dalam perkawinan monogami


dan poligami Berdasarkan Pasal 65 ayat 1 huruf (b) dan (c) UU
No.1/1974 Pasal 94 KHI, masing-masing harta bersama
terpisah dan berdiri sendiri antara istri yang satu dengan yang
berikutnya yaitu terhitung sejak tanggal perkawinan masing-
masing.
126
Hukum Acara menurut Umar bin Khotthob
1. Kedudukan lembaga peradilan di tengah-tengah
masyarakat suatu negara hukumnya wajib dan
sunnah yang harus diikuti / dipatuhi
2. Pahamilah suatu perkara baik gugatan/permohonan
yang diajukan kpd anda, dan ambillah keputusan
setelah jelas permasalahan mana yang benar dan
mana yang salah. Karena sesungguhnya suatu
kebenaran yang tidak memperoleh perhatian hakim
akan menjadi sia-sia.
3. Dudukanlah kedua belah pihak di majelis secara
sama, pandang mereka dengan pandangan yang
sama, agar orang yang terhormat tdk melecehkan
anda dan orang lemah tidak merasa teraniaya.
127
4. Penggugat wajib membuktikan gugatannya, dan
Tergugat wajib membuktikan bantahannya.
5. Penyelesaian secara damai dibenarkan, sepanjang
tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan
yang halal.
6. Barang siapa yang menyatakan ada sesuatu hal yang
tidak ada tempatnya atau suatu keterangan maka
berilah tempo kepada-nya untuk dilaluinya. Kemudian
jika dia memberi keterangan hendaknya engkau
memberikan kepadanya haknya. Jika dia tidak mampu
memberikan demikian, maka engkau dapat me-
mutuskan perkara yang merugikan haknya karena
yang demikian itu tidak ada alasan baginya untuk
menyatakan ini dan mengatakan itu, sekaligus akan
memperjelas terhadap apa saja yang tersembunyi.
128
7. Janganlan engkau halangi oleh suatu putusan
yang telah anda putuskan pada hari ini,
kemudian anda tinjau putusan itu, lalu anda
ditunjuk pada kebenaran untuk kembali kepada
kebenaran, karena kebenaran itu suatu hal
yang universal, tidak dapat dibatalkan oleh
sesuatu.

8. Pergunakanlah kekuatan logis pada suatu


perkara yang diajukan kepada anda dengan
menggali dan memahami hukum yang hidup
apabila belum jelas dalam alQur’an & Hadis
129
9. Orang Islam dengan orang Islam lainnya
haruslah berlaku adil terkecuali orang yang
sudah pernah menjadi saksi palsu atau sudah
pernah dijatuhi hukuman had atas orang yang
diragukan tentang asal usulnya, karena
sesungguhnya Allah yang mengendalikan
rahasia hamba dan menutupi hukuman atas
mereka, kecuali ada keterangan dan sumpah.

10. Jauhilah diri anda dari marah-marah, pikiran


kacau, perasaan tidak senang dan berlaku kasar
terhadap para pihak. Karena kebenaran itu
hanya berada di dalam jiwa yang tenang dan
niat bersih. 130
I. PENERIMAAN PERKARA
1. TAHAP PENGAJUAN PERKARA
Surat gugatan/Permohonan yang telah dibuat dan
ditandatangani diajukan ke Kepaniteraan Pengadilan
Agama melalui MEJA I, yang bertugas :
a. Menerima surat gugatan/permohonan
b. Menaksir biaya panjar perkara
c. Membuat SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar)
biaya yang meliputi : Psl.90 UU No.3/2006,50/2009
- Biaya kepaniteraan/biaya materai
- Biaya pemeriksaan, saksi ahli, juru bahasa, dan
biaya sumpah
- biaya pemeriksaan setempat & tindakan lain
yang diperlukan dalam penanganan perkara tsb
- biaya pemanggilan, pemberitahuan dll atas
perintah Ketua PA yg berkaitan dgn perkara tsb.
131
2. TAHAP PEMBAYARAN PANJAR BIAYA PERKARA

Calon Penggugat/Pemohon setelah membayar biaya


perkara via bank yang ditunjuk PA kemudian
menghadap ke Kasir PA dengan menyerahkan surat
gugat/permohonan dan SKUM. Tugas kasir :
a. Mencatat dalam jurnal biaya perkara
b. Menandatangani dan memberi nomor Perkara serta
tanda Lunas pada SKUM tsbt.
c. Mengembalikan surat gugatan/permohonan dan
SKUM kepada calon Penggugat atau Pemohon.
d. Mengambil dan menyerahkan uang panjar kepada
Bendahara Perkara.

132
3. TAHAP PENDAFTARAN PERKARA
Calon Penggugat/Pemohon kemudian menghadap ke
Meja II dengan menyerahkan surat gugatan/ per-
mohonan dan SKUM yang telah dibayar terseb,
tugas Meja II :
a. Memberi Nomor pada surat gugatan/permohonan
sesuai dengan nomor yang diberikan Kasir, sebagai
tanda telah mendaftar dan petugas Meja II
membubuhkan paraf
b. Menyerahkan satu berkas gugatan/permohonan
yang telah terdaftar bersama 1 lembar SKUM
kepada Penggugat/Pemohon.
c. Mencatat surat gugatan/permohonan ke buku
register induk.
d. Memasukkan surat gugatan/permohonan ke Map
perkara dan menyerahkan kepada wakil Panitera
untuk disampaikan kepada Ketua PA melalui
Panitera.
133
4. TAHAP PENETAPAN MAJELIS HAKIM (PMH)
Selambat-lambatnya 7 hari, Ketua PA menunjuk
Majelis Hakim untuk memeriksa, mengadili
perkara dalam sebuah “ Penetapan Majelis
Hakim”
Pasal 121 HIR/145 RBg jo. Psl 93 UU No.7/1989

5. TAHAP PENETAPAN HARI SIDANG (PHS)


Majelis Hakim bertugas :
1. Membuat PHS
2. Memerintahkan pemanggilan para pihak oleh
jurusita/Jurusita Pengganti
3. Menyidangkan perkara
134
6. TAHAP PENUNJUKAN PANITERA SIDANG (PPS)
Untuk membantu Majelis Hakim dalam
penyelesaian perkara ditunjuk seorang
Panitera / panitera sidang yang ditunjuk oleh
Panitera Sekretaris.
Pasal 11 ayat (3) UU No.48/2008
7. TAHAP PEMANGGILAN PARA PIHAK
Mekanisme panggilan harus dilakukan secara
RESMI dan PATUT
a. Dilakukan oleh Jurusita/Jurusita Pengganti
yang sah. (Pasal 390 jo. Psl. 389 dan 132
HIR)
135
b. Dilaksanakan langsung kepada pribadi yang dipanggil di tempat
tinggalnya
 Apabila tidak dijumpai di tempat tinggalnya maka panggilan
disampaikan lewat kepala desa/lurah setempat.
 Apabila yang dipanggil telah meninggal dunia maka
panggilan disampaikan kepada ahli warisnya.
 Apabila yang dipanggil tidak diketahui alamatnya atau tidak
dikenal maka panggilan disampaikan lewat bupati / wali kota
setempat yang akan mengumumkannya pada papan
pengumuman.
Pasal 390 HIR/718 RBg, dalam perkara perceraian panggilan
dilakukan dengan menempelkan gugatan/permohonan dan
surat panggilan pada papan pengumuman PA dan
mengumumkannya melalui salah satu mess media lain yang
ditetapkan oleh Pengadilan (pengumuman melalui surat kabar
atau mass media lain tersebut dilakukan sebanyak 2 kali
dengan tenggang waktu 1 bulan antara Pengumuman pertama
dan Pengumuman kedua) sedangkan tenggang waktu
pengumuman terakhir dengan persidangan ditetapkan 3 bulan:
Pasal 27 PP No.9 tahun 1975
136
Contoh Masuk perkara 5 Mei, PMH 10 Mei,
PHS 14 Mei untuk sidang 22 September,
Pengumuman Pertama 17 Mei untuk sidang
22 Sept dan pengumuman kedua 17 Juni
untuk sidang 22 September.
 Apabila yang dipanggil berada di luar negeri
maka panggilan disampaikan lewat
perwakilan RI setempat melalui Dep.Lu RI di
Jakarta dan untuk panggilan tergugat
dilampiri satu berkas surat
gugatan/permohonan
c. Jarak antara hari sidang dengan hari per-
sidangan harus memenuhi tenggang waktu
yang patut yaitu sekurang-kurangnya 3 hari
kerja. 137
PEMANGGILAN SAH DAN PATUT ADALAH :

1. Dilaksanakan atas perintah majlis hakim.


2. Oleh petugas yang ditunjuk. ( JP )dan ditanda
tangani olehnya.
3. Dilaksanakan kepada pribadi ( kuasa bila pakai
kuasa) ditempat tinggal pihak. Bila tidak dijumpai
ke lurah, kepala desa dan ditanda tangani olehnya.
718 Rbg.
4. Dilaksanakan diwilayah hukum tempat tugas JP.
5. Panggilan pertama dilampiri surat gugat.
6. Tenggang waktu antara panggilan dengan hari
sidang minimal tiga kerja tidak termasuk hari libur.
138
Apabila Termohon berada diluar negeri :
1. Permohonan diajukan ditempat tinggal
Pemohon. ( pasal 66 ayat (3) UU No.7
tahun 1989 )
2. Pemanggilan melalui Dirjen Protokol
Deplu yang minta waktu min. 3 bulan.
Pasal 28 PP 9/75, pasal 140 KHI.

139
MEJA III
TUGAS POKOK :
1. Menerima berkas perkara yang telah diputus dan telah
diminutasi
2. Menyusun dan menjahit berkas perkara sebagai bundel A
3. Atas perintah Majelis, melanjutkan perintah pemberitahuan
kepada pihak-pihak yang tidak hadir dalam sidang pembacaan
putusan
4. Membuat catatan pada surat putusan/penetapan dan
salinannya dengan perkembangan zaman berkenaan dengan
putusan/penetapan tsbt.
5. Menghitung dan menetapkan tanggal kekuatan hukum setiap
putusan/penetapan serta tangal terjadinya perceraian
6. Mempersiapkan akta cerai dan memberitahukan kepada para
pihak tentang telah terjadinya perceraian
7. Menyerahkan salinan put/penetapan dan akta cerai kepada
para pihak
8. Mengirim salinan putusan/penetapan kepada instansi yang
terkait.
140
9. Menyerahkan kembali berkas bundel A yang dimintakan
verzet kepada Majelis Hakim yang mengadilinya.
10. Menerima memori/kontra memori banding, Kasasi dan PK
11. Memerintahkan kepada jurusita/JSP untuk
memberitahukan kepada para pihak tentang pernyataan
banding, kasasi, PK, memori dan kontra memori, surat-
surat lain dari para pihak lawan dalam perkara yang
bersangkutan
12. Menyusun dan menjahit berkas bundel B untuk keperluan
banding, kasasi dan PK
13. Mempersiapkan pengiriman berkas banding, kasasi dan PK
14. Memberitahukan kepada meja II segala hal yang perlu
dicatat dlm regstr
15. Memberitahukan kepada kasir yang bertalian dengan biaya
perkara
16. Menyerahkan berkas perkara yang telah dijahit dan telah
selesai kepada Panitera Muda Hukum untuk diarsipkan,
dibuat data dan dilaporkan.
141
Prosedur Penerimaan Perkara Banding

1. Permohonan Banding baru diterima setelah ongkos


biaya dibayar lunas
2. Permohonan Banding dapat diajukan dalam waktu
14 hari setelah putusan diucapkan atau setelah
diberitahukan dalam hal putusan diucapkan di luar
hadir
3. Permohonan Banding yang melampaui tenggang
waktu tetap dapat diterima dan dicatat dengan
membuat surat keterangan Panitera bahwa
permohonan banding telah lampau.
4. Setelah biaya banding dibayar, Pengadilan wajib
membuat Akta Pernyataan Banding, dan
mencatatnya dalam register induk perkara dan
register banding
5. Akta Permohonan Banding dalam 7 hari harus
disampaikan kepada lawannya 142
6. Tanggal penerimaan memori banding dan kontra memori
banding harus dicatat tanggal penerimaannya dan salinan-
nya disampaikan kepada masing-masing lawannya, dengan
membuat relaas pemberitahuan penyerahannya.
7. Sebelum berkas perkara dikirim ke PTA, harus diberikan
kesempatan kepada kedua belah pihak untuk mempelajari/
memeriksa berkas perkara (Inzage) dan dituangkan dlm
akta.
8. Dalam waktu 30 hari sejak permohonan banding diajukan,
berkas banding Bundel A & B harus sdh dikirim ke PTA
9. Biaya perkara banding dikirim melalui bank
pemerintah/kantor pos dan tanda bukti pengiriman uang
harus dikirim bersamaan dengan pengiriman berkas
10. Biaya Banding meliputi : biaya kepaniteraan, biaya
pengiriman uang, ongkos kirim berkas, biaya pemberitahuan
akta banding, memori banding, kontra memori banding,
memeriksa berkas bagi Pembanding dan Terbanding, isi
putusan PTA bagi Pembanding dan Terbanding
143
Prosedur Penerimaan Perkara Kasasi

Permohonan Kasasi dapat diajukan dalam waktu 14 hari


setelah putusan diucapkan atau setelah diberitahukan
dalam hal putusan diucapkan di luar hadir
1. Permohonan Kasasi baru diterima setelah ongkos biaya
dibayar lunas
2. Setelah biaya kasasi dibayar, Pengadilan wajib
membuat Akta Pernyataan Kasasi, yang dilampirkan
pada berkas perkara kasasi dan dan mencatatnya
dalam register induk perkara dan register kasasi
3. Permohonan kasasi dalam 7 hari harus disampaikan
kepada lawannya
4. Memori kasasi, selambat-lambatnya dalam 14 hari
sesudah pernyataan kasasi harus sudah diterima pada
kepaniteraan PA
5. Panitera Wajib memberikan tanda terima atas
penerimaan memori kasasi, dan salinan memori trsebut
disampaikan kepada pihak lawan
144
6. Jawaban/kontara memori kasasi selambat-lambatnya 14
hari sesudah disampaikannya memori harus sudah
diterima oleh Kepaniteraan PA untuk disampaikan kepada
pihak lawan
7. Dalam waktu 30 hari sejak permohonan kasasi diajukan,
berkas berupa bundel A dan B harus dikirim ke Mahkamah
Agung RI
8. Biaya perkara Kasasi dikirim melalui bank BRI cab.
Veteran dan tanda bukti pengiriman uang harus
dilampirkan bersamaan dengan pengiriman berkas
9. Biaya Banding meliputi : biaya kepaniteraan, biaya
ditetapkan Ketua MA, biaya pengiriman uang, ongkos
kirim berkas, biaya pemberitahuan permohonan kasasi,
memori kasasi, kontra memori kasasi, memeriksa berkas
bagi Pemohon dan Termohon kasasi, bunyi putusan
kepada Pemohon dan Termohon kasasi.
10. Dalam hal kasasi diajukan oleh kedua belah pihak maka
biaya kasasi keduanya harus dikirim.
11. Potocopy relaas pemberitahuan putusan MA dikirim ke
MA. 145
Prosedur Penerimaan Perkara PK

1. Dalam tenggang waktu 180 hari sejak putusan


BHT atau sejak ditemukan adanya bukti-bukti
baru, panitera menerima permohonan PK yang
diajukan oleh para pihak
2. Pernyataan PK baru diterima setelah ongkos
biaya dibayar lunas
3. Setelah biaya PK dibayar, Pengadilan wajib
membuat Akta Peninjauan Kembali, yang
dilampirkan pada berkas perkara kasasi dan
dan mencatatnya dalam register induk perkara
dan register PK
4. Permohonan kasasi dalam 14 hari panitera
wajib memberitahukan tentang permohonan PK
beserta alasan-alasannya kepada pihak lawan
146
5. Jawaban atas alasan PK selambat-lambatnya 30
hari sejak alasan PK tersebut diterima, harus sudah
diterima di Kepaniteraan kepada Pihak Lawan
6. Jawaban atas alasan PK yang diterima di
Kepaniteraan PA harus dibubuhi hari dan tanggal
penerimaan yang dinyatakan di atas surat jawaban
tersebut
7. Dalam waktu 30 hari setelah menerima jawaban
tersebut, berkas PK berupa bundel A dan B harus
dikirim ke MA RI
8. Biaya PK meliputi : biaya pemberitahuan, berupa
pemberitahuan pernyataan PK dan alasan PK,
jawaban atas alasan PK, penyampaian salinan
putusan kepada Pemohon PK dan pemberitahuan
bunyi putusan kepada termohon PK
9. Potocopy relaas pemberitahuan putusan MA dikirim
ke MA.
147
KEKUASAAN KEHAKIMAN

 Kekuasaan Kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah


Agung dan Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung
membawahi empat lingkungan peradilan, yakni Peradilan
Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara,
dan Peradilan Militer. Psl. 24 UUD 1945
 Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam
lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan tata usaha negara, dn lingkurangan
peradilan militer, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Pasal 18 UU No. 48 Tahun 2009.
148
8/16/2018
TUGAS POKOK HAKIM DALAM PENANGANAN PERKARA
 Dalam Pasal 49 UU 7/89 diubah 3/2006
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutuskan, dan menyelesaikan perkara dalam tingkat
pertama antara orang-orang yang beragama Islam di
bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf,
shodaqoh, infak, dan ekonomi syari’ah
 TUGAS POKOK HAKIM : MENERIMA, MEMERIKSA, DAN
MENGADILI SERTA MENYELESAIKAN PERKARA
(MELAKUKAN PERSIDANGAN), dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Mengkonstantir : artinya membuktikan benar tidaknya
peristiwa/ fakta yang diajukan para pihak dengan
pembuktian alat-alat bukti yang sah menurut hukum
pembuktian. 149
Mengkonstantir meliputi : Memeriksa identitas para pihak,
Memeriksa kuasa hukum para pihak (bila ada),
Mendamaikan para pihak, memeriksa syarat2 sebagai
perkara, memeriksa alat bukti, memeriksa jawaban, sang-
kalan, keberatan, dan bukti2 pihak lawan, mendengar pen-
dapat atau kesimpulan masing-masing pihak, menerapkan
pemeriksaan sesuai hukum acara yang Berlaku.

2. MENGKUALIFISIR peristiwa / fakta yang telah terbukti.


yakni : menilai peristiwa itu termasuk hubungan hukum apa
atau yang mana, menemukan hukumnya bagi peristiwa yang
telah dikonstatiring itu kemudian dituangkan dalam
pertimbangan hukum.
 Mempertimbangkan syarat-syarat formil perkara
 Merumus pokok perkara
 Mempertimbangkan beban pembuktian
 Mempertimbangkan keabsahan peristiwa atau fakta
sebagai peristiwa atau fakta hukum
150
 Mempertimbangkan secara logis, kronologis dan
yuridis fakta2 hukum menurut hukum pembuktian
 Mempertimbangkan jawaban, keberatan dan
sangkalan2 serta bukti2 lawan sesuai hukum
pembuktian
 Menemukan hukumnya
 Mempertimbangkan biaya perkara
3. MENGKONSTITUIR
yakni : menetapkan hukumnya kemudian dituangkan
dalam amar putusan, yang berisi :
 Menetapkan hukumnya dalam amar putusan
 Mengadili seluruh petitum
 Mengadlili tidak lebih dari petitum, kecuali UU
menentukan lain
 Menetapkan biaya perkara
151
 Mempimpin, membimbing dan memprakarsai jalannya
persidangan serta mengawasi terhadap pembuatan
berita acara persidangan, dalam hal ini, hakim
berwenang :
1. Menetapkan hari sidang
2. Memerintahkan memanggil para pihak
3. Mengatur mekanisme sidang
4. Mengambil prakarsa untuk kelancaran sidang
5. Melakukan pembuktian
6. Mengakhiri sengketa
 Membuat penetapan atau putusan yang ditanganinya.
 Meminutir berkas perkara
 Melaksanakan tugas-tugas lain atas perintah Ketua
Pengadilan, antara lain memberikan penyuluhan hukum,
melayani riset untuk kepentingan ilmiah, dan tugas-
tugas lain yang diberikan kepadanya.

152
SUSUNAN PERSIDANGAN

 Pada prinsipnya persidangan minimal ada 3


hakim, seorang menjadi Ketua Majelis/Hakim
Ketua, dan lainnya sebagai anggota majelis.

 Diperbolehkan dengan hakim tunggal, setelah


terlebih dahulu mendapat ijin dari MARI

153
Pembagian Tugas Hakim dalam Persidangan
Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.22 Tahun 1969

1. Bahwa hakim anggota senior adalah bertugas


untuk mencatat dengan sungguh2 dalam
persidangan untuk keperluan menyusun putusan.
2. Hakim Anggota yang yunior mencatat segala hal
untuk keperluan Berita Acara Persidangan yang
saling berkoordinasi dengan Panitera
Pengganti/Panitera Sidang.
3. Ketua Majelis/Hakim Ketua : memimpin jalannya
selama proses pemeriksaan perkara di
persidangan atau ditempat lain bilamana
ditentukan dalam peraturan.

154
Tugas pokok Panitera Pengganti/Pantera Sidang

1. Membantu hakim dengan melakukan persiapan,


mengikuti dan mencatat jalannya persidangan.
2. Membantu hakim dalam hal membuat PHS, membuat
penetapan sita jaminan, membuat beriata acara
persidangan, membuat penetapan2 lainnya, mengetik
putusan dan penetapan
3. Melaporkan kepada Panitera Muda gugatan/permohonan
dan melaporkan kepada Meja 2 untuk dicatt dalam
register perkara.
4. Menyerahkan berkas perkara kepada panitera muda
gugatan/ permohonan yang dikerjakan oleh petugas meja
3 apabila telah selesai diminutasi

Panitera Sidang terdiri dari Panitera, Panitera Muda, Panitera Pengganti, atau
petugas yang ditunjuk untuk itu
155
Tugas Pokok Jurusita/Jurusita Pengganti
1. Menyampaikan surat panggilan, pengumuman2, teguran2
dan pemberitahuan putusan Pengadilan menurut cara2
berdasarkan ketentuan UU.
2. Melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Ketua
pengadilan, Ketua Majelis/Majlis Hakim, dan Panitera
3. Membuat berita acara penyitaan
4. Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan dan
dengan teliti melihat lokasi batas2 tanah yang disita beserta
surat2nya.
5. Melakukan tugas pelaksanaan putusan dan membuat berita
acara yang salinan resminya disampaikan kepada pihak2
yang berkepentingan.
6. Melakukan penawaran pembayaran uang titipan pihak
ketiga serta membuat berita acaranya.
7. Melaksanakan tugas di wilayah pengadilan yang
bersangkutan 156
Mekanisme Pemeriksaan
Perkara dalam Persidangan
I. Mediasi/ Perdamaian
II. Pembacaan Surat Gugatan/Permohonan
III. Jawaban Tergugat/Termohon
IV. Replik dari Penggugat/Pemohon
V. Duplik dari Tergugat/Termohon
VI. Pembuktian
VII. Musyawarah Majelis dan Pembacaan
Putusan

157
UPAYA PERDAMAIAN :

1. Melalui mediasi

2. Perdamaian dalam persidangan

3. Mengangkat hakam

158
PENGGUGAT TERGUGAT
Perdamaian
GUGATAN JAWABAN

REPLIK DUPLIK

PEMBUKTIAN

KESIMPULAN

MUSYAWARAH MAJELIS

PUTUSAN AKHIR
159
Keabsahan pemanggilan pihak
yang berperkara merupakan syarat
mutlak yang harus dipenuhi untuk
dapat dilanjutkannya persidangan
Pasal 55 UU No.50/2009 perubahan Kedua UU
No.7/1989 jo. Psl.26 PP No.9/1975

160
Kehadiran para pihak
 Kehadiran para pihak/wakilnya adalah
keharusan dalam hukum acara persidangan, jika
tidak demikian maka perkara bisa menjadi gugur
atau diputus dengan verstek.
 Namun demikian kehadiran para pihak itu
sendiri merupakan hak yang dimiliki apakah ia
akan hadir di persidangan atau tidak.

161
I. Mediasi
PENGERITAN
 Mediasi adalah Cara penyelesaian sengketa
melalui proses perundingan untuk memperoleh
kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh
mediator. (Pasal 1 ayat 7 Perma No.1 Thn 2008)

 Mediator adalah pihak netral yang membantu


para pihak dalam proses perundingan guna
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian
sengketa tanpa menggunakan cara memutus
atau memaksakan sebuah penyelesian. (Pasal 1
ayat 6 Perma No.1 Tahun 2008)
162
 Upaya mediasi merupakan syarat mutlak
yang harus ditempuh oleh pihak-pihak
yang berperkara.
 Penyelesaian sengketa melalui
perundingan
 Pihak ketiga (mediator) bersifat netral
 Mediator bertugas membantu para pihak
yang bersengketa untuk mencari
penyelesaian secara damai.
Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2008

163
Karakteristik Mediasi
 Perpanjangan atau pengembang proses
negoisasi
 Intervensi dari pihak ketiga (mediator) yang
netral dan dapat diterima kedua belah pihak
 Pihak ketiga tersebut (mediator) tidak
berwenang membuat keputusan
 Pihak ketiga tersebut (mediator) membantu para
pihak untuk mencapai atau menghasilkan
kesepakatan yang dapat diterima para pihak.

164
Dasar Hukum Mediasi

 HIR Pasal 130 dan RBg 154


 Sema No.1 Tahun 2002 tentang pemberdayaan lembaga
perdamaian dalam pasal 130 HIR dan 154 RBg
 PERMA No.2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan
 PERMA No.1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan
 Mediasi atau APS di luar Pengadilan diatur dalam Pasal 6
UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa.

165
Lembaga-lembaga atau badan yang menyediakan
jasa mediasi di Indonesia

 Pusat Mediasi Nasional (PMN)


 Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)
 Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI)
 Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)
 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS
HAM)
 Indonesia Institut For Conflict Tranformation
(IICT)`
 Dan lain-lain
166
Keuntungan Mediasi
 Memperbaiki komunikasi antara pihak yang
bersengketa
 Membantu melepaskan kemarahan terhadap
pihak lawan
 Meningkatkan kesadaran akan kekuatan dan
kelemahan posisi masing-masing pihak
 Mengetahui hal-hal atau isu-isu yang
tersembunyi yang terkait dengan sengketa yang
sebelumnya tidak disadari
 Mendapatkan ide yang kreatif untuk
menyelesaikan sengketa

167
Syarat menjadi Mediator
 Pada asasnya tiap mediator bersertifikat
 Kecuali di wilayah hukum Pengadilan
Tingkat Pertama tidak ada mediator
terdaftar bersertifikat, hakim tanpa
sertifikat boleh menjadi mediator
 Sertifikat diperoleh dari pelatihan oleh
lembaga yang terakreditasi di MARI
Pasal 5 Perma No.1 Tahun 2008
168
Hak para pihak memilih mediator
 Hakim bukan pemeriksa perkara
 Advokat atau akademisi hukum
 Profesi non hukum
 Hakim Majelis pemeriksa Perkara

Pasal 8 Perma No.1 Tahun 2008

169
BATAL DEMI HUKUM

 Tidak ditempuhnya proses mediasi berdasarkan


PERMA No. 1 Tahun 2008 ini merupakan
pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 130
HIR/154 RBg yang mengakibatkan putusan batal
demi hukum. (Pasal 2 ayat 3 PERMA No.1/2008)
 Semua perkara perdata wajib mediasi, kecuali
Perkara Niaga, Pengadilan Hub Industrial,
keberatan atas putusan Badan Penyelesaian
Sengketa Konsumen, dan keberatan putusan
Komisi Pengawas Persaingan Usaha.
 Mediasi diwajibkan pada hari sidang pertama
yang dihadiri para pihak (pasal 7 ayat 1)
170
Lama Proses Mediasi
 Proses Mediasi maksimal 40 hari kerja sejak
mediator dipilih oleh para pihak atau ditunjuk oleh
Ketua Majelis
 Jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling
lama 14 hari atas dasar kesepakatan para pihak
Tugas Mediator :
 Mempersiapkan jadwal pertemuan
 Mendorong para pihak berperan langsung dalam
proses mediasi
 Menyelenggarakan kaukus
 Mendorong para pihak untuk melaksanakan
perundingan berbasis kepentingan
171
Mencapai Kesepakatan
 Kesepakatan perdamaian tertulis,
ditandatangani para pihak dan
mediator.
 Jika proses mediasi diwakili kuasa
hukum, wajib persetujuan tertulis
dari prinsipal.
 Dapat dikuatkan dengan Akta
Perdamaian
172
Perdamaian/Mediasi dilaksanakan bila
tidak berhasil maka sidang selanjutnya
dilanjutkan dengan pembacaan
surat Gugatan/Permohonan
Apakah Hak dan Kewajiban para pihak Selama proses pemeriksaan
perkara di Persidangan ……….?

173
II. Melakukan Perdamaian

 Pada sidang upaya perdamaian inisiatif


perdamaian dapat timbul dari Hakim,
Penggugat/Pemohon atau Tergugat/
Termohon. Hakim harus secara aktif dan
sungguh-sungguh untuk mendamaikan para
pihak. Apabila ternyata upaya damai tidak
berhasil maka sidang dapat dilanjutkan pada
tahapan berikutnya.
 Upaya perdamaian wajib dilakukan setiap
kali persidangan dimulai.

174
PENGERTIAN PERDAMAIAN
Suatu persetujuan di mana kedua belah pihak dengan
menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang,
mengakhiri suatu sengketa yang sedang bergantung atau
mencegah timbulnya suatu perkara, dan persetujuan perdamaian
tidak sah melainkan harus dibuat secara tertulis. (Pasal 1851
KUHPerdata).
Apabila pada hari sidang yang telah ditetapkan kedua belah pihak
yang berperkara hadir dalam persidangan maka Majelis Hakim
berusaha mendamaikan pihak-pihak yang berperkara tersebut. Jika
dapat dicapai perdamaian maka pada hari persidangan hari itu
juga dibuatkan putusan perdamaian dan kedua belah pihak
dihukum untuk mentaati persetujuan yang telah disepakati itu.
Putusan perdamaian tersebut telah mempunyai kekuatan hukum
tetap dan dapat dilaksanakan eksekusi sebagaimana putusan
biasa, namun putusan perdamaian tersebut tidak dapat diajukan
banding ke pengadilan tingkat banding. (Pasal 130 HIR / 154 RBg.)

175
Dasar Hukum Perdamaian
1. Al-Qur’an Surat Al Hujarat ayat 9 “Jika dua
golongan orang yang beriman bertengkar maka
damaikanlah mereka…”
2. HIR Pasal 130 / RBg Pasal 154
3. Pasal 65 dan 82 UU No.7 Tahun 1989 / UU
No.50 Tahun 2009
4. Pasal 39 UU Nomor 1 Tahun 1974
5. Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 9/1975.

Dalam pasal-pasal tersebut di atas dikemuka-


kan bahwa Hakim wajib mendamaikan para
pihak yang berperkara sebelum putusan
dijatuhkan.
176
Syarat Formal Upaya Perdamaian

A. Adanya persetujuan kedua belah pihak (Psl 1320 dan


1321 KUHPerdata)
1. Adanya kata sepakat secara sukarela
(toestomming)
2. Kedua belah pihak cakap membuat persetujuan
(Bekwainneid).
3. Objek persetujuan mengenai pokok yang tertentu
(beppalde onderwerp)
4. Berdasarkan alasan yang diperbolehkan
B. Mengakhiri Sengketa (Pasal 1320 KUHPerdata)
Putusan perdamaian Akta Perdamaian, mengakhiri
sengketa dengan tuntas untuk mencegah timbulnya
perkara lagi dengan masalah yang sama. 177
C. Mengenai yang telah ada (Pasal 1851
KUHPerdata)
Persengkataan sudah terjadi baik yang sudah
terwujud maupun yang sudah nyata terwujud
tetapi baru akan diajukan ke pengadilan.

D. Bentuk Perdamaian Harus Tertulis


merupakan syarat imperative (memaksa). Akta
perdamaian harus dibuat secara tertulis sesuai
dengan format yang telah ditetapkan oleh
ketentuan yang berlaku.

178
Nilai Kekuatan Perdamaian
 Akta Perdamaian berisi menghukum kedua belah
pihak untuk memenuhi isi perdamaian yang
telah dibuat antara mereka
 Akta Perdamain mempunyai kekuatan hukum
yang sama dengan putusan hakim dan dapat
dieksekusikan.
 Akta perdamaian dicatat dalam register induk
perkara yang bersangkutan pada kolom putusan
 Akta perdamaian tidak dapat dimintakan
banding, kasasi ataupun Peninjauan Kembali.
 Terhadap akta perdamaian tidak dapat diajukan
gugatan baru lagi
179
Perdamaian dalam Perkara Perceraian
 Upaya damai dalam perkara perceraian adalah mendamaikan pihak-
pihak yg bersengketa utk menghentikan perseng-ketaannya dgan
mengupayakan tidak terjadinya perceraian.
 Pada sidang pertama dalam upaya perdamaian, pihak principal
(suami-isteri) harus datang secara pribadi, kecuali apabila salah satu
pihak berkediaman di luar negeri dan tidak dapat datang menghadap
secara pribadi, maka dapat diwakili oleh kuasanya yang secara
khusus dikuasakan untuk itu.
 Upaya perdamaian perceraian dengan alasan perselisihan dan
pertengkaran yg terus menerus, bersifat imperative yang diwajibkan
oleh hukum kepada para hakim yang memeriksa, mengadili dan
memutus perkara perceraian. Upaya damai secara optimal.
 Upaya perdamaian perceraian dengan alasan zina, cacat badan atau
sakit jiwa yang berakibat tidak dapat melaksanakan kewajibannya,
sifat usaha damai yang dilakukan oleh hakim tetap harus dilakukan
karena hal itu merupakan suatu kewajiban tetapi tidk dituntut secara
optimal. Hal mana sebagai kewajiban moral bukan kewajiban
hukum.
 Produk perdamaian dalam perkara perceraian adalah Penetapan,
dimana pihak yang mengajukan gugatan/permohonan mencabut
perkaranya karena telah terjadi perdamaian/islah/rukun
kembali dalam membina rumah tangga. 180
Perdamaian di luar sidang

 Apabila terjadi perdamain di luar sidang yaitu


dengan menyelesaikan sendiri tanpa bantuan
pengadilan sehingga permohonan atau gugatan
itu dicabut, yang demikian itu secara hukum
tidak mengikat, sehingga tidak menutup
kemungkinan dikemudian hari terjadi
persengketaan kembali yang diajukan di
pengadilan.
 Perdamaian yang melalui proses pengadilan
lebih mengikat para pihak, menurut Pasal 130
HIR/154 RBg.

181
Mekanisme perdamaian perkara perceraian
Pasal 82 UU No.7/1989
1. Pada sidang pertama pemeriksaan gugatan perceraian
hakim berusaha untuk mendamaikan kedua belah
pihak
2. Pada sidang perdamaian dalam perkara perceraian
para pihak harus hadir secara in person, kecuali
apabila salah satu berada di luar negeri, dan tidak
dapat datang menghadap secara in person dapat
diwakili oleh kuasanya yang secara khusus dikuasakan
untuk itu.
3. Apabila kedua belah pihak bertempat tinggal di luar
negeri maka Penggugat/Pemohon pada sidang
perdamaian tersebut harus menghadap secara in
person
4. Selama perkara belum diputuskan, usaha perdamaian
dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan. 182
Perdamaian pada Pengadilan Tk. Pertama

1. Bila terjadi perdamaian, maka dibuat


Akta Perdamaian atau dicabut dengan
dibuat Penetapan.
2. Pencabutan perkara oleh pihak
Penggugat/Pemohon bila setelah adanya
jawaban Tergugat/Termohon, maka atas
persetujuan Tergugat/Termohon.

183
Perdamaian pada Pengadilan tingkat
banding atau kasasi

 Apabila putusan dimintakan banding atau kasasi,


dapat diupayakan upaya perdamaian
dikarenakan belum mempunyai kekuatan hukum
yang tetap.
 Dalam perkara perceraian, bila pada
pemeriksaan tingkat banding atau kasasi telah
terjadi perdamaian sebelum perkara diputus
maka perkaranya dicabut dengan persetujuan
kedua belah pihak (suami-isteri).
184
III. Pembacaan Surat Gugatan/ Permohonan

Pada tahap ini pihakPenggugat/Pemohon


berhak meneliti ulang apakah seluruh
materi (dalil gugat dan petitum) sudah
benar dan lengkap. Hal-hal yang
tercantum dalam surat gugatan/
permohonan itulah yang menjadi acuan
(objek) pemeriksaan dan pemeriksaan
tidak boleh keluar dari ruang lingkup yang
termuat dalam surat gugatan/permohonan

185
Pembacaan Surat Gugatan/Permohonan

• Pada tahap ini pihak Penggugat/ Pemohon


berhak meneliti ulang apakah seluruh
materi (dalil gugat dan petitum) sudah benar
dan lengkap.
• Pihak Tergugat/Termohon diberikan hak/
diperlakukan sama dalam proses hukum
seperti hak yang dalam menjawab
gugatan/permohonan, termasuk juga dalam
replik dan duplik dan seterusnya, yang
merupakan bagian dari hukum acara Peradilan
Agama.
186
Pencabutan dan Mengubah Surat Gugatan
 Perubahan dan penambahan gugatan tidak
bertentangan dengan asas-asas hukum acara
perdata, dan tidak mengubah atau menyimpang dari
fakta materiil walaupun tidak ada tuntutan subsider
 Perubahan gugatan tidak diperbolehkan apabila
berdasarkan atas keadaan hukum yang sama
dimohon pelaksanaan suatu hak yang lain atau
apabila Penggugat mengemukakan keadaan baru
sehingga mohon putusan yang baru.
 Perubahan, penambahan, pencabutan gugatan
setelah ada jawaban tergugat, maka harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Tergugat, apabila
pihak Tergugat keberatan maka perubahan,
penambahan tersebut ditolak. 187
Beberapa Kemungkinan Yg Terjadi Dlm Persidangan
1. Pgugat/Pemohon tdk hadir, sdng Tgugat/Termohon Hadir..
a. Hakim dapat menyatakan bahwa gugatan/permohonan
gugur, atau
b. Menunda persidangan sekali lagi untuk memanggil pihak
Penggugat dengan persetujuan pihak Tergugat/Termohon
(Pasal 124 HIR/148 RBg).

2. Tgugat/Termohon Tdk Hadir, Sedang Pggugat/Pemohon Hadir.


 Hakim dapat menunda persidangan untuk memanggil
pihak Tergugat/ Termohon, atau
 Menjatuhkan putusan verstek, karena Tergugat/Termohon
dinilai ta’azzuz atau tawarri atau ghoib.
188
Tergugat/Termohon tidak hadir tetapi mengirim
surat jawaban
 Surat itu dianggap tidak pernah ada, kecuali surat itu
berisi perlawanan (eksepsi) bahwa Pengadilan Agama
yang bersangkutan tidak berwenang untuk
mengadilinya, maka eksepsi tersebut harus diperiksa
oleh Hakim dan diputus setelah mendengar dari
Penggugat/Pemohon.
Penggugat/Pemohon dan Terugat/Termohon sama-
sama tidak hadir dalam persidangan

 Sidang harus ditunda dan para pihak dipanggil lagi


sampai dapat dijatuhkan putusan gugur atau verstek
atau perkara dapat diperiksa.
189
Penggugat/Pemohon dan Tergugat/
Termohon hadir dalam persidangan
 Sebelum perkara diperiksa, harus
dimulai dengan usaha Mediasi dan
perdamaian. Dan perkara diproses
seperti biasa.

190
IV. Jawaban Tergugat/Termohon
 Pihak Tergugat/Termohon diberi kesem-
patan untuk membela diri dan mengajukan
segala kepentingannya terhadap Penggu-
gat/Pemohon melalui Majelis Hakim dalam
persidangan
 Dalam hal tergugat menjawab gugatan,
ada beberapa kemungkinan yang dapat
diajukan Tergugat bersama-sama dalam
jawabannya :
1) Eksepsi,
2) Tuntutan Provisi,
3) Jawaban Terhadap pokok perkara,
4) Mengajukan gugat balik (rekonpensi). 191
Jawaban Tergugat/Termohon
 Jawaban Tergugat/Termohon terdiri dari 2 macam,
Jawaban yang tidak langsung mengenai pokok
perkara yang disebut eksepsi (tangkisan), dan
Jawaban yang mengenai pokok perkara (Verweer ten
principle).
 Maksud pengajuan eksepsi agar hakim menetapkan
gugatan/permohonan tidak diterima atau ditolak.
 Dalam penerapannya, eksepsi dibagi 2 macam yaitu :
1. Eksepsi Formil (Prosessual eksepsi)
2. Eksespsi tentang materi gugatan/permohonan
(Materiil eksepsi).
192
 Eksepsi formil adalah eksepsi yang
berdasar pada hukum formil (hukum acara)
yang berlaku.
 Materiil Eksepsi Yaitu Eksepsi yang
diajukan pihak Tergugat/Termohon
berdasarkan hukum materiil atau eksepsi
yang langsung mengenai materi perkara
atau bantahan terhadap pokok perkara.

193
Eksepsi Formil meliputi beberapa bentuk, yaitu :
1. Eksepsi mengenai Kewenangan Absolut (eksepsi
absolut/attributief exceptie)
 Maksud Eksepsi absolut pernyataan ketidakwenangan
suatu pengadilan untuk menerima, memeriksa, mengadili
dan memutus suatu perkara yang sebenarnya menjadi
kewenangan pengadilan lain dalam lingkungan peradilan
yang berbeda.
 Eksepsi absolut dapat diajukan di setiap saat dn di setiap
tahap pemeriksaan, walaupun tidak diminta oleh pihak
Tergugat/Termohon, namun hakim secara ex officio harus
menyatakan dirinya tidak berwenang memeriksa perkara
tersebut (Pasal 134 HIR)
 Bila Eksespsi diterima maka putusan dinyatakan dalam
secara negatif bahwa pengadilan tidak berwenang
 Bila eksepsi ditolak maka ada putusan sela yg menyata-
kan eksepsi ditolak. Atau diputus bersamaan dengan
pokok perkara dlm putusan akhir. Upaya Hukumnya
Banding. (Pasal 136 HIR/162 HIR). 194
2. Eksepsi Mengenai Kompetensi Relatif (Pasal 118 &
133 HIR dan 142 & 159 RBg.)
 Eksepsi Relatif/distributief eksepsi adalah
ketidakwenangannya suatu pengadilan untuk menerima,
memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang
sebenarnya menjadi kewenangan pengadilan lain dalam
lingkungan peradilan yang sama.
 Eksepsi relatif harus diajukan pada sidang pertama atau
pada kesempatan pertama dan eksepsi dimuat bersama-
sama dengan jawaban.
 Dalam perkara perceraian, jika perkara perceraian diajukan
ke Pengadilan Agama yang tidak berwenang maka hakim
secara ex officio harus menyatakan diri tidak berwenang,
hal ini dimaksudkan untuk melindungi hak isteri. (Psl 66 &
73 UU No.7/1989).
 Bila eksepsi ini disetujui, gugatan tidak dapat diterima. Bila
eksepsi tidak disetujui maka diputus dalam putusan sela
atau bersama-sama dalam putusan akhir.
 Upaya hukum banding. 195
Macam-macam Eksepsi Relatif
 Eksepsi nebis in idem (eksepsi van gewijsde zaak)
Suatu perkara tidak dapat diputus 2 kali sehingga suatu
perkara yang sama antara pihak-pihak yang sama pula,
tidak dapat diputus lagi.
 Eksepsi diskualifikator,
Menyatakan bahwa Penggugat tdk mempunyai hak utk
mengajukan gugatan/permohonan, atau kemungkinan
salah penggugat menentukan tergugat baik mengenai
orangnya dan / ataupun identitasnya.
 Eksepsi Obscurlible
Adanya kekaburan surat gugatan yang diajukan, keka-
buran bisa jadi karena tidak dapat dipahami mengenai
susunan kalimatnya, formatnya, atau hubungan satu
dengan lainnya tidak saling mendukung bahkan
bertentangan.
196
Macam-macam eksepsi Materil
 Prematoir Eksepsi, yaitu eksepsi yang
menyatakan bahwa tuntutan Penggugat
belum dapat dikabulkan karena belum
memenuhi syarat menurut hukum.

 Dilatoir eksepsi, yaitu eksepsi yang meng-


halangi dikabulkannya gugatan, seperti oleh
karena gugatan telah diajukan lampau waktu,
nafkah isteri yang terhutang telah terhapus
dengan rujuknya suami dst.
197
Gugatan Balik (Rekonvensi) dlm Pasal 132 a & b HIR

 Gugatan Rekonvensi adalah gugatan balasan yang


diajukan oleh oleh Tergugat asli kepada Penggugat asli
 Gugatan rekonvensi diajukan bersamaan dengan jawaban
Tergugat

Tujuan diperbolehkan gugatan rekonvensi


 Menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan
 Mempermudah prosedur
 Menghindari putusan-putusan yang saling bertentangan
antara satu dengan lainnya
 Menetralisir tuntutan konvensi
 Acara pembuktian dapat disederhanakan
 Menghemat biaya perkara
198
Syarat gugatan rekonvensi
 Gugatan rekonvensi harus diajukan bersama-sama
dengan jawaban pertama oleh Tergugat baik tertulis
maupun lisan. Sebelum acara pembuktian.
 Tidak dapat diajukan dalam tingkat banding, bila
dalam tingkat pertama tidak diajukan
 Penyusunan gugatan rekonvensi sama dengan
gugatan konvensi

Hal-hal yang tidak dapat diajukan gugatan rekonvensi


 Penggugat dalam kualitas yang berbeda.

 Pengadilan yang memeriksa konvensi tidak


berwenang memeriksa gugatan rekonvensi.
 Perkara mengenai pelaksanaan putusan. 199
V. Replik Penggugat/Pemohon
Penggugat/Pemohon dapat menegaskan kembali
gugatan/permohonannya yg disangkal oleh
Tergugat/Termohon dan juga mempertahankan diri
atas serangan-serangan Tergugat/Termohon.

VI. Duplik Tergugat/Termohon


Tergugat/Termohon menjelaskan kembali jawaban-
nya yang disangkal oleh Penggugat.
Replik dan Duplik dapat diulang-ulang sehingga
hakim memandang cukup atas replik dan duplik
tersebut, yg disebut rereplik dan reduplik.
100
VII. Tahap Pembuktian
 Penggugat/Pemohon mengajukan semua alat bukti
untuk mendukung dalil-dalil gugatannya. Demikian
juga Tergugat/Termohon mengajukan alat-alat bukti
untuk mendukung jawabannya (sanggahannya).
 Masing-masing pihak berhak menilai alat bukti
lawan.
Pasal 1685 KUHPer, Pasal 163 HIR dan
Pasal 283 RBg
Barang siapa yang mengaku mempunyai hak maka
ia harus membuktikannya, dan sudah menjadi
pendapat umum dan yurisprudensi bahwa hal-hal
yang menyangkut hak dapat pula dibuktikan di
depan sidang pengadilan. 101
Pengertian Pembuktian
 Menurut Yahya Harahap.
Pengertian secara Luas Pembuktian adalah
kemampuan Penggugat atau Tergugat
memanfaatkan hukum pembuktian untuk
mendukung dan membenarkan hubungan
hukum dan peristiwa-peristiwa yang didalilkan
atau dibantahkan dalam hubungan hukum
yang diperkarakan.
Pengertian secara sempit pembuktian hanya
diperlukan sepanjang mengenai hal-hal yang
dibantah atau hal yang disengketakan atau
sepanjang yang menjadi perselisihan di antara
pihak-pihak yang berperkara. 102
Menurut R. Subekti.
Pembuktian adalah suatu daya upaya para
pihak yang berperkara untuk meyakinkan hakim
tentang kebenaran dalil-dalil yang
dikemukakannya di dalam suatu perkara yang
sedang dipersengketakan di muka pengadilan
atau yang diperiksa oleh hakim.
 Pembuktian adalah utk meyakinkan hakim
akan kebenaran persitiwa/kejadian yg
didalilkan pihak berperkara.
 Pembuktian diajukan oleh org yg mempunyai
hak/mendalilkan sesuatu atau utk membantah
hak/dalil org lain. (Psl 163 HIR/Psl 283 RBg)
 Pembuktian diajukan dengan alat-alat bukti
yang telah ditetapkan oleh UU.
103
 Pembuktian bertujuan untuk mendapatkan
kebenaran suatu peristiwa atau hak yang
diajukan kepada hakim.
 Ada 3 teori pembuktian yaitu :
1) Pembuktian bebas : tidak ada ketentuan
yg mengikat hakim sehingga bebas untuk
menilai alat bukti
2) Pembuktian negatif : ada ketentuan yang
bersifat negatif sehingga membatasi
hakim untuk melakukan sesuatu yang
diizinkan UU.
3) Pembuktian positif : ada perintah kepada
hakim untuk melakukan segala tindakan
dalam pembuktian kecuali yg dilarang UU.
104
Urgensi Pembuktian dlm Pemeriksaan Perkara
 Pembuktian bertujuan memberikan kepastian kepada
hakim tentang adanya peristiwa tertentu.
 Dalam hukum acara perdata, untuk memenangkan
diantara pihak yang berperkara tidak diperlukan
keyakinan hakim, yang penting adalah alat-alat bukti
yang sah dan berdasarkan alat bukti tersebut Majelis
Hakim akan mengambil keputusan siapa yang menang
dan siapa yang kalah, dengan kata lain cukup
kebenaran formil saja.
 Yang harus dibuktikan adalah peristiwa atau kejadian
yang dikemukakan oleh para pihak yang berperkara
dalam hal sesuatu yang belum jelas atau yang menjadi
sengketa yang telah dikonstartir dan dikualifisir.
 Tentang hukumnya ?…
Ius Curia Novit`
105
 Dalam perkembangan selanjutnya
sebenarnya banyak hal yang tidak hanya
dilihat dengan panca indra saja, tetapi
justru banyak hal-hal yang hidup dalam
ingatan kita seperti hak milik, piutang,
perikatan, dst sehingga barang-barang ini
harus dibuktikan secara langsung.
 Jadi, di muka sidang tidak hanya peristiwa
atau kejadian yang dapat dibuktikan tetapi
juga dapat secara langsung membuktikan
hak milik, hak waris dan lain-lain hak.
106
Syarat-syarat peristiwa yang dibuktikan
di persidangan
 Peristiwa atau kejadian tersebut merupakan peristiwa
atau kejadian yang disengketakan. Pembuktian
merupakan cara penyelesaian sengketa, peristiwa yang
tidak disengketakan dan diakui tidak perlu dibuktikan.
 Peristiwa atau kejadian tersebut harus dapat diukur,
terikat dengan ruang dan waktu.
 Peristiwa atau kejadian tersebut harus berkaitan dengan
hak yang disengketakan, karena pembuktian itu tidak
mengenai hak yang disengketakan itu sendiri, tepapi
yang harus dibuktikan adalah peristiwa atau kejadian
yang menjadi sumber hak yang disengketakan.
 Peristiwa atau kejadian itu efektif untuk dibuktikan.
 Peristiwa atau kejadian tersebut tidak dilarang oleh
hukum dan kesusilaan.
107
Siapa yang dibebani
Pembuktian…?
 Para pihak yang berkepentingan dalam
suatu perkara yang wajib untuk
membuktikan peristiwa atau kejadian yang
disengketakan.
 Pihak Penggugat membuktikan dalil-dalil
gugatannya
 Pihak Tergugat membuktikan dalil-dalil
bantahannya.

108
Macam-Macam Alat Bukti
Menurut ketentuan ada beberapa macam alat bukti :
1. Surat
2. Saksi
diatur dlm Psl. 164
3. Persangkaan
HIR / Psl. 284 RBg)
4. Pengakuan
5. Sumpah
Selain alat bukti tsb, masih ada lagi alat bukti lain
yaitu :
1. Descente (185 HIR)
2. Saksi ahli (154 HIR)
3. Pengetahuan hakim (178 (1( HIR). 109
Pengertian alat-alat bukti
 Surat adalah sgl sesuatu yg memuat tanda bacaan
utk mencurahkan isi hati atau untuk
menyampaikan buah pikiran. Surat dalam segi
yuridis disebut jg dengan akta.
 Surat sebagai bukti ada 2 macam yaitu :
- akta
- bukan akta
 Akta dibagi menjadi 2: - akta otentik
- akta di bawah tangan.
 Akta authentik adalah akta yang dibuat oleh atau
dihadapan pejabat berwenang (Psl 1868 BW)
 Akta dibawah tangan adalah akta yg dibuat untuk
menjadi bukti tanpa bantuan pejabat.
110
 Syarat2 Formil akta otentik :
1. Bersifat Partai, dibuat atas kehendak dan
kesepakatan sekurang2nya 2 phk , atau ada
juga yag sepihak, seperti KTP. IMB
2. Dibuat oleh atau dihadapan pejabat
3. Memuat tanggal, hari dan tahun pembuatan
4. Ditandatangani pejabat yang membuat
Akta yg dibuat oleh pejabat disebut acte ambtelijk
Akta yg dibuat dihadapan pejabat disbut partij acte

111
 Syarat2 Materiil akta otentik :
1. Isinya berhubungan langsung dengan apa yang
disengketakan di pengadilan.
2. Isinya tidak bertentangan dengan hukum,
kesusilaan, agama dan ketertiban umum.
3. Pembuatannya sengaja untuk dipergunakan
sebagai alat bukti.
• Batas minimal pembuktian akta autentik :
Mempunyai nilai pembuktian yg sempurna
(volleged) dan mengikat (bindende). Bila ada
bukti lawan (tegen bewijs) sehingga ia lumpuh,
maka akta autentik tsbt jatuh menjadi alat bukti
permulaan, jadi + alat bukti lagi
112
Akta di bawah tangan
 Syarat formil
1. Bersipat partai
2. Pembuatannya tidak dihadapan pejabat atau tidak ada
campur tangan pejabat atas pembuatannya.
3. Harus bermaterai
4. Ditandatangani 2 belah pihak, kalau cap jempol harus
disahkan oleh pejabat atau notaris bahwa ia kenal atau
diperkenalkan dengan orang yang bercap jempol tsbt.
 Syarat materiil akata di bawah tangan
1. isi akta di bawah tangan berkaitan lagsng dengan
apa yang diperkarakan
2. isinya tidak bertentangan dengan hkm, kesusilaan,
agama dan ketertiban umum
3. sengaja dibuat untuk alat bukti. 113
Nilai pembuktikan akta di bawah
tangan
 Nilai pembuktian akta di bawah tangan
sama dengan akta autentik jika isi dan
tanda tangan diakui oleh pihak lawan, jika
isi dan tanda tangan yang ada dalam akta
tersebut disangkal oleh pihak lawan maka
akta tersebut nilainya kekuatan
pembuktian sbgai alat bukti permulaan.

114
Pengertian Saksi
 Saksi adalah orng yg memberikan keterangan dimuka sidang
dgn memenuhi syarat2 tertentu ttg sesuatu peristiwa yg ia
lihat, dengar dan ia alami.
 Syarat-syarat formil saksi:
1. Dewasa
2. Sehat
3. Tidak ada hub. keluarga sedarah maupun semenda dgn pihak
berperkara kecuali undang2 menentukan lain.
4. Tidak ada hub. perkawinan meskipun telah bercerai.
5. Tidak ada hub. kerja kecuali undang2 menetukan lain.
6. Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang
7. Menghadap di persidangan.
8. Memberikan keterangan secara lisan.

115
Syarat - Syarat materil saksi
1. Menerangkan apa yang dilihat, dengar dan
alami sendiri
2. Mengetahui sebab-sebab terjadinya peristiwa
atau keadaan yang diterangkan
3. Bukan merupakan pendapat atau kesimpulan
4. Saling bersesuaian satu sama lain
5. Tidak bertentangan dengan akal sehat

 “Unus testis nulus testis”


 “Testimonium deauditu”
116
Persangkaan dan Pengakuan

 Persangkaan :
Kesimpulan yg ditarik dari suatu peristiwa yg telah dikenal
atau diangap terbukti, bersifat tidak langsung.
(hakim/Undang-undang)

 Pengakuan :
Pernyataan seseorang tentang sesuatu peristiwa atau
kejadian bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan
pihak lain.
 Ada 3 macam pengakuan yaitu :
1. Pengakuan murni-- diakui semua dalil lawan
2. Pengakuan dgn kualifikasi pengakuan dibarengi syarat
3. Pengakuan klausula
117
SUMPAH
 Sumpah adalah suatu pernyataan yang khidmat diberikan
atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan
dengan mengingat akan sifat Maha Kuasa dari Tuhan yang
percaya bahwa siapa yang memberikan keterangan atau
janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya.
 Sumpah merupakan tindakan yg bersifat relegius yang
digunakan dalam persidangan di pengadilan.

Macam-macam sumpah
 Sumpah Pelengkap/tambahan/suppletoireed
 Sumpah Pemutus (decissoireed)
 Sumpah Penaksir (aestimatoir, schattingeed)
 Sumpah Li’an
118
Sumpah pelengkap
 Psl 155 HIR/182 RBg dikatakan bahwa hakim
karena jabatannya dapat memerintahkan
sumpah kepada pihak yang berperkara untuk
melengkapi salah satu pihak yang berperkara
untuk melengkapi alat bukti yang sudah ada
supaya perkara dapat diselesaikan atau supaya
dapat menetapkan sejumlah uang yang akan
diperkenankan.
 Dalam praktek, harus dibuat dalam putusan sela

119
Syarat formil sumpah supplatoir
 Sumpah tersebut untuk melengkapi atau
menguatkan pembuktian yang sudah ada tetapi
belum mencapai batas minimal pembuktian
 Bukti yg sudah ada baru bukti permulaan
 Para pihak sudah tidak mampu lagi menambah
alat bukti yang lain.
 Sumpah dibebankan atas perintah Hakim dan
diucapkan di depan sidang secara in person atau
oleh kuasa dengan surat kuasa istimewa.

120
Syarat Materiil Sumpah pelengkap
 Isi lafadz sumpah harus mengenai
perbuatan yang dilakukan sendiri oleh
pihak yang berperkara atau yang
mengucapkan sumpah tersebut
 Isi sumpah harus harus berkaitan dengan
pokok perkara dan tidak bertentangan
dengan hukum, agama, kesusilaan, dan
ketertiban umum

121
Sumpah Pemutus/Decissoireed
 Adalah sumpah penentu (psl 156 HIR/183 R.Bg.)
 Jika tidak ada sesuatu keterangan yang
menguatkan gugtan atau jawaban atas gugatan
itu, maka salah satu pihak dapat meminta
supaya pihak lain bersumpah di muka hakim.
 Sumpah pemutus dibebankan kepada salah satu
pihak walaupun sama sekali tida ada bukti ,
pembebanan tersebut atas permohonan salah
satu pihak yang berperkara.

122
Syarat meteriil sumpah pemutus
 Isi lafal sumpah harus mengenai
perbuatan yang dilakukan sendiri atau
yang dilakukan bersama-sama oleh kedua
belah pihak yang berperkara
 Isi sumpah harus mempunyai hubungan
langsung dengan pokok perkara yang
disengketakan.

123
Syarat formil sumpah pemutus
 Sumpah pemutus harus atas permintaan
salah satu pihak yang berperkara
 Pembebanan sumpah pemutus harus atas
permintaan salah satu pihak yang
berperkara.
 Sumpah pemutus diucapkan di
persidangan secara in person atau oleh
kuasa dengan surat kuasa istimewa.

124
Nilai kekuatan pembuktian sumpah
pelengkap dan sumpah pemutus
 Mengandung nilai pembuktian yang sempurna,
mengikat dan menentukan atau memaksa.
 Oleh karena itu mutlak dapat berdiri sendiri
tanpa bantuan alat bukti yang lain.
 Kekuatan pembuktiannya daoat dilumpuhkan
dengan putusan pidana yang telah berkekuatan
hukum tetap atas dasar bahwa sumpah yang
dilakukan adalah sumpah palsu.

125
Sumpah Penaksir
 Psl 155 HIR/ 182 RB.g/ 1940 KUHPer
 Adalah sumpah yang diperintahkan oleh Hakim
karena jabatannya kepada Penggugat untuk
menentukan uang ganti rugi.
 Aplikasinya : Penggugat terlebih dahulu
membuktikan bahwa ia mempunyai hak atas
ganti kerugian dari suatu yang dituntut.
 Nilai Pembuktian sumpah penaksir sama dengan
sumpah pelengkap dan sumpah pemutus

126
Sumpah Li’an
 Pasal 87-88 UU No.7/1989
 Apabila permohonan atau gugatan cerai dilakukan
dengan alasan salah satu pihak melakukan zina,
sedangkan Pemohon atau Penggugat tidak dapat
melengkapi bukti2 dan Termohon atau tergugat
menyanggah alasan tersebut, maka hakim karena
jabatannya dapat menyuruh Pemohon atau Penggugat
bersumpah.
 Termohon atau Tergugat diberi kesempatan pula untuk
meneguhkan sanggahannya dengan cara yang sama.
 Apabila sumpah dilakukan oleh pihak suami maka
penyelesaiannya dapat dilaksanakan dengan SUMPAH
LIAN.
 Jadi Sumpah lian adalah khusus dalam perkara
permohonan talak dengan alasan isteri berbuat zina.
127
Syarat Formil Sumpah Lian
 Tuduhan Isteri berbuat zina tercantum
atau dibuat secara kronologis dalam surat
gugatan/permohonan
 Isteri menyanggah tuduhan suami bahwa
dirinya telah berbuat zina dengan laki-laki
lain
 Sumpah lian dilaksanakan atas perintah
Hakim yang memeriksa perkara tersebut.

128
Syarat Materil Sumpah Lian
 Suami tidak dapat melengkapi bukti-bukti atas
tuduhan zina terhadap isterinya
 Sumpah suami diucapkan dalam sidang yang
dihadiri oleh isteri
 Sumpah suami dibalas pula dengan isteri yang
disampaikan dalam sidang pengadilan
 Sumpah mula’anah (saling melaknat) menurut
teks sumpah yang sudah ditentukan

129
Tata cara sumpah lian (Pasal 127 KHI)

 Suami bersumpah 4 kali dengan kata tuduhan zina dan


atau mengingkari anak tersebut diikuti dengan sumpah
kelima dengan kata-kata “Laknat Allah atas dirinya bila
tuduhan atau pengingkaran tersebut dusta”
 Isteri menolak tuduhan zina atau pengingkaran tersebut
dengan sumpah 4 kali dengan tuduhan atau
pengingkaran tersebut tidak benar diikuti sumpah kelima
dengan kata-kata “Murka Allah atas dirinya bila tuduhan
atau pengingkaran tersebut benar”.
 Tata cara diata merupakah salah satu kesatuan yang tak
dapat dipisahkan.
 Li’an hanya sah dilaksanakan di muka persidangan
Pengadilan Agama yang akibat hukumnya
mengakibatkan putusnya perkawinan antara suami isteri
untuk selama-lamanya.
 Sblm sumpah Lian, dijatuhkan putusan sela dahulu.
130
Alat-alat bukti di persidangan
dalam praktek di pengadilan
 Alat bukti diajukan oleh para pihak di persidangan
pada saat pemeriksaan alat bukti
 Surat bukti berupa potocopy harus mampu
diperlihatkan aslinya. (yurisprudensi putusan Mari
No.701.K/Sip/1974 tgl 14 April 1974
 Surat bukti berupa potocopy harus dimaterai di
kantor pos, sesuai dengan Pasal 2 ayat (3) UU
No.13/1985 tentang bea materai.
 Bahwa alat bukti surat dilegalisir oleh Panitera
Pengadilan untuk diajukan sebagai barang bukti di
persidangan.
 Alat bukti diperlihatkan oleh pihak lawan, dan pihak
lawan dapat mengomentari alat bukti tersebut.
131
VIII. Tahap Kesimpulan
 Setelah melalui proses persidangan, maka pada
tahap kesimpulan masing-masing pihak baik
Penggugat/ Pemohon maupun Tergugat/
Termohon mengajukan pendapat akhir tentang
hasil pemeriksaan.
 Dalam praktek, kesimpulan dapat diajukan secara
lisan dan tertulis`

132
IX. Musyawarah Majelis
 Sifat Musyawarah Majelis dalam bentuk
rapat tertutup dan rahasia.
 Bila terjadi tidak mencapai kata mufakat
bulat, maka pendapat hakim yang berbeda
wajib dimuat dalam putusan (The setting
of opinion).
 Dalam musyawarah Majelis, yang menge-
mukakan terlebih dahulu hakim anggota
yang junior kemudian baru hakim anggota
yang senior dan terakhir Hakim Ketua/
Ketua Majelis.
133
X. Pembacaan Putusan
 Pembacaan putusan dalam sidang yang terbuka
untuk umum.
 Hakim menyampaikan segala pendapatnya
tentang perkara itu dan menyimpulkannya
dalam amar putusan sebagai akhir
persengketaan.
 Suatu putusan baru mempunyai arti, apabila
putusan hakim itu mempunyai kekuatan
eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakan
apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara
paksa.
134
PUTUSAN
Pengertian
• Putusan adalah suatu pernyataan yang oleh hakim
diucapkan dalam persidangan dan bertujuan untuk
mengakhiri sekaligus menyelesaikan suatu perkara
atau sengketa atau perselisihan para pihak, dalam
perkara kontensius.
• Penetapan adalah keputusan pengadilan atas perkara
perkara permohonan/voluntair yang tidak terdapat
sengketa. contoh pengesahan nikah, pengangkatan
wali, penetapan ahli waris.
 Putusan atau Penetapan adalah kesimpulan suatu
pemeriksaan perkara yang didasarkan pada
pertimbangan, apa hukum yang harus dinyatakan
oleh Majelis Hakim melalui pengucapannya di muka
sidang yang terbuka untuk umum dalam mengakhiri
suatu persengketaan. 135
Susunan dan isi putusan
1. Kepala putusan, yang terdiri dari :
 Judul, PUTUSAN

 Nomor Putusan, cth, 111/Pdt.G/2010/PA.Pbr.

 Irrah-irah : Kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” diikuti


dengan kalimat “DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA”
2. Identitas para pihak, beserta kedudukannya dalam
perkaranya.
3. Tentang Duduk Perkara, terdiri dari :
 Gugatan yang diajukan Penggugat
 Jawaban dan tanggapan yang diajukan Tergugat, Replik,
duplik, pembuktian/alat bukti, kesimpulan para pihak.
artinya dalam duduk perkara adalah menguraikan seluruh
fakta yang terakumulasi mulai dari fakta yang terdapat
dalam surat gugatan s/d kesimpulan. 136
4. Tentang Pertimbangan Hukum
memuat hal-hal sebagai berikut :
• Hal-hal yang diakui atau yang tidak disangkal
• Yang menjadi pokok persoalan
• Analisis yuridis tentang segala fakta atau hal-hal yang terbukti
dalam persidangan, bukti-bukti dan saksi-saksi adalah
dihubungkan antara yang satu dengan lainnya dan akhirnya
dapat ditarik kesimpulan
• Penerapan ketentuan hukum pada peristiwanya yang telah
dikemukakan para pihak.
• Alasan atau pertimabangan hukum tersebut harus dimuat atau
disusun secara logis dan sistematis, saling berhubungan dan
saling mengisi
• Tiap-tiap pertimbangan hukum yang dipergunakan harus diberi
alasan yang cukup
• Semua bagian tuntutan atau objeknya dengan petitum si
penggugat harus diadili atau dipertimbangkan satu demi satu
sehingga dapat ditarik kesimpulan terbukti apa-apa yang
tercantum dalam petitum tersebut.
• Harus dimuat dasar dan alasan dari putusan tersebut, pasal-
pasal serta hukum tidak tertulis dalam pokok perkara. 137
5. Amar/Dictum putusan
 Dimulai dari kata MENGADILI
 Amar/dictum putusan adalah jawaban dari
petitum/tuntutan yang diminta.
 Hal-hal yg harus dimuat dlm Amar putusan :
 Dibuat secara jelas, terinci dan tidak boleh
membuka peluang adanya penafsiran.
 Apakah seluruh petitum dari gugatan dikabulkan
atau hanya sebagian
 Mengenai sita jaminan dikabulkan, dalam amar
harus dinyatakan sah dan berharga, apabila
gugatan ditolak maka sita jaminan harus
diperintahkan untuk diangkat
 Ditentukan secara jelas pihak mana yang
membayar biaya perkara
 Jumlah besarnya ongkos perkara harus
dicantumkan 138
6. Bagian Penutup Putusan
Disebutkan Tanggal Putusan dijatuhkan dengan
tanggal Musyawarah Majelis Hakim dilaksanakan,
dan putusan diucapkan dengan menyebut susunan
majelis hakim yang hadir dan panitera sidang, dan
juga dicantumkan kehadiran para pihak pada saat
putusan diucapkan.
Demikianlah diputus dalam sidang musyawarah majelis hakim Pengadilan Agama
Pekanbaru pada hari Selasa tgl 20 Februari 2006 Miladiyah bertepatan dengan
tgl 21 Muharram 1427 Hijriyyah, oleh Majelis Hakim terdiri dari Drs. KONDARTO,
S.H., M.H, sebagai Ketua Majelis, Dra. INIKE WATI, S.H, M.H, dan RUDI, S.H.,
M.H, Hakim-hakim Anggota, yang telah ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama
Pekanbaru dengan Penetapan Nomor :01/Pdt.G/2005/PA.Pbr. tanggal 11 Januari
2006 untuk memeriksa perkara ini dalam tingkat pertama, putusan tersebut
dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum oleh Ketua Majelis pada hari Selasa
tanggal 07 Maret 2006 bertepatan dengan tanggal 07 Safar 1427 Hijriyah dibantu
oleh Herdiman, SH., sebagai Panitera Sidang dengan dihadiri oleh Penggugat
dan Tergugat; 139
MACAM-MACAM PUTUSAN
I. DILIHAT DARI SIFATNYA:
1. Declaratoir
Putusan yg isinya hanya bersifat menyatakan atau menerangkan
sesuatu yg sah atau tidak sah. Putusan Declaratoir yg murni tidak
memerlukan upaya paksa, karena sudah mempunyai akibat hukum
tanpa bantuan dari pihak yg kalah untuk melaksanakannya, setelah
diputus langsung mempunyai kekuatan hukum yg mengikat, contoh
Pengesahan Nikah.
2. Constitutif
Putusan yg bersifat menghentikan atau menimbulkan hukum baru.
Putusan yang menciptakan suatu situasi hukum, atau melenyapkan
suatu situasi hukum. Contoh : - Memutuskan suatu perkawinan
- Memutuskan suatu perjanjian
3. Condemnatoir
Putusan yang bersifat menghukum pihak yg kalah untuk memenuhi
suatu prestasi yang diputus oleh Hakim. Contoh. Membayar Nafkah.
Selain itu ada pula macam putusan akhir lainnya, yaitu :
- Putusan kontradiktur (pernah hadir)
- Putusan verstek 140
- Putusan gugur
II. DILIHAT DARI ISINYA
1. Niet Onvankefijk Verklaart (N.0)
Gugatan tidak dapat diterima karena ada alasan yang
tidak dibenarkan oleh hukum. Ada beberapa
kemngkinan :
a. Gugatan tidak berdasarkan hukum.
Gugatan yang diajukan oleh Penggugat harus jelas
dasar hukumnya dalam menuntut haknya. Jadi kalau
tidak ada dasar hukumnya maka gugatan tersebut
tidak dapat diterima.
b. Gugatan tidak mempunyai kepentingan hukum
langsung pada diri Penggugat. Tidak semua orang
yang mempunyai kepentingan hukum dapat meng-
ajukan gugatan apabila kepentingannya itu tidak
langsung melekat pada dirinya, kecuali ada
141
kuasa
c. Gugatan kabur (obscuur libel).
Posita dan petitum dalam gugatan tidak saling
mendukung atau dalil gugatan saling kontradiksi,
mungkin juga objek yang disengketakan tidak
jelas, dapat juga petitum tidak jelas atau tidak
terinci tentang apa yang diminta.
d. Gugatan masih premature.
Gugatan yang belum semestinya diajukan karena
ketentuan UU belum terpenuhi.
Misalnya :
 Gugatan waris diajukan oleh ahli waris, tetapi
Pewaris belum meninggal dunia.
 Hutang belum masanya untuk ditagih atau
belum jatuh tempo. 142
e. Gugatan Nebis in idem.
Gugatan yang diajukan oleh penggugat sudah
pernah diputus oleh pengadilan yang sama, objek
sengketa yang sama, dan pihak-pihak yang
bersengketa juga sama orangnya
f. Gugatan error in persona. Gugatan salah alamat.
Gugatan salah alamat, ini dapat bersifat gemis
aan laeding heid, misalnya seorang ayah
mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama
untuk anaknya.

143
g. Gugatan telah lampau waktu (daluwarsa).
Gugatan yang diajukan oleh Penggugat telah
melampaui waktu yang telah ditentukan UU.
Contoh pembatalan nikah karena ada ancaman
kepada pihak isteri. Bila ancaman telah berhenti
dan batas 6 bulan lewat maka hak pembatalannya
menjadi gugur
h. Pengadilan tidak berwenang mengadili, maka
gugatan dinyatakan tidak dapat diterima atau NO.
i. Gugatan dihentikan (aan hanging)
Penghentian gugatan disebabkan karena adanya
perselisihan kewenangan mengadili antara PA dan
PN.
144
2. Gugatan dikabulkan.
3. Gugatan ditolak
4. Gugatan didamaikan
5. Gugatan digugurkan
6. Gugatan dibatalkan

145
III. DILIHAT DARI JENISNYA
1. Putusan Sela.
Putusan yang diadakan sebelum hakim memutuskan
perkaranya demi untuk mempermudah kelanjutan
pemeriksaan perkara.
Putusan diucapkan oleh Ketua Majelis dan harus
dimuat dalam Berita Acara Persidangan.
2. Putusan Praeparatoir.
Putusan sela guna mempersiapkan putusan akhir,
tanpa ada pengaruhnya atas pokok perkara atau
putusan akhir. Contoh, putusan untuk menggabungkan
dua perkara atau untuk menolak diundurkannya
pemeriksaan saksi.
146
3. Putusan Interlucotoir.
Putusan yg isinya memerintahkan pembuktian dan dapat mem-
pengaruhi putusan akhir. Contoh putusan untuk memeriksa
saksi-saksi atau pemeriksaan setempat.
4. Putusan Insedentil
putusan yang berhubungan dengan insiden, seperti putusan
yang bertujuan untuk menghentikan prosedur biasa, contoh
putusan yang membolehkan seseorang ikut serta dalam
suatu perkara (vriwaring, voeging dan tussenkomst).
5. Putusan Provisi.
Putusan yang menjawab tuntutan provisionil, yaitu permintam
para pihak yang bersangkutan agar untuk sementara diadakan
tindakan pendahuluan. MisaInya : Perkara cerai talak, dimana
istri menunut nafkah yang dilalaikan suami, sedangkan istri
sangat membutuhkan nafkah lahir dari suaminya tersebut.
5. Putusan akhir.
Setelah tahap pemeriksaan perkara selesai, maka hakim men-
jatuhkan putusan terhadap perka yang diperiksanya. 147
SITA DAN PENYITAAN
PENGERTIAN :
 SITA dan PENYITAAN merupakan tindakan paksa yang
dilakukan hakim terhadap suatu barang untuk diletakkan
atas permintaan Penggugat supaya gugatannya tidak sia-sia
apabila memperoleh kekuatan hukum tetap.
Dengan demikian, suatu benda/barang yg disita tsbt berada
dalam status pengawasan yaitu tidak boleh a) disewakan,
b) diperjualbelikan, c) ditukar, d) diasingkan, dan
e)dianggunkan. dan terhadap barang yang yang telah disita
tidak dapat disita lagi untuk yang kedua kalinya oleh
Pengadilan.

 Pasal 38 - 42 Undang-undang No.7/1989 dikemukakan


bahwa pada setiap Pengadilan Agama ditetapkan adanya
jurusita dan beberapa jurusita pengganti.
148
Tata cara pengajuan Sita jaminan (CB)
 Sita jaminan dapat diajukan bersama-
sama dengan pokok perkara, dan
dirumuskan atau dicantumkan dalam
posita yang merupakan tambahan dalil
gugat dengan alasan tergugat diduga kuat
menggelapkan barang yang
disengketakan.
 Sita jaminan dapat diajukan selama
putusan belum dijatuhkan atau putusan
belum berkekuatan hukum tetap.
149
MACAM-MACAM/JENIS SITA
DI PERADILAN AGAMA
1. SITA JAMINAN
a. Conservatoir Beslag
 benda yang disita milik Tergugat
b. Revindicatoir Beslag
 benda yang disita milik Penggugat yg ada di Tgt
Ciri-ciri Sita Jaminan CB
a. Sita jaminan diletakkan agas harta yang disengketakan
status kepemilikannya atau terhadap harta kekayaan
Tergugat dlm sengketa utang-piutang atau juga dalam
sengketa dan tuntutan ganti rugi.
b. Objek sita jaminan itu bisa meliputi barang yang
bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak
berwujud. 150
c. Pembatasan sita jaminan bisa hanya pada barang-
barang tertentu jika gugatan didalilkan berdasarkan
sengketa hak milik atas barang yang tertentu atau
bisa meliputi seluruh harta kekayaan Tergugat
sampai mencakup jmlh seluruh tagihan apabila
gugtan didasarkan atas utang piutang atau
tuntutan ganti rugi.

d. Tujuan sita jaminan dimaksudkan untuk menjamin


gugatan Penggugat tidak illussior (hampa) pada
saat putusan nanti berkekuatan hkm tetap.

151
Ciri-ciri Revindicatoir Beslag (RB)
 Dilakukan atas permintaan Penggugat
terhadap milik Penggugat yang saat ini
dikuasai oleh Tergugat
 Penyitaan tersebut dilaksanakan atas benda
yang dikuasai oleh Tergugat secara tidak
sah atau melawan hukum atau juga
Tergugat tidak berhak atasnya.
 Objek sita revindikatoir ini hanya terbatas
pada benda bergerak saja.

152
2. Sita Eksekusi (Executorial Beslag)

 Sita eksekusi adalah sita yang berhubungan


dengan masalah pelaksanaan suatu putusan
Pengadilan Agama karena pihak Tergugat tidak
mau melaksanakan putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, meskipun
pihak Pengadilan Agama telah memperingatkan
pihak Tergugat agar putusan PA yang telah
berkekuatan hukum tetap itu supaya
dilaksanakan oleh Tergugat secara sukarela
sebagaimana mestinya.

153
Ciri-ciri Sita Eksekusi :

a. Dilaksanakan setelah ada putusan yg BHT.


b. Tujuan utk memenuhi pelaksanaan putusan
dan berakhir pada tindakan lelang.
c. Hanya terjadi dalam hal2 pembayaran
sejumlah uang / ganti rugi
d. Atas perintah Ketua Pengadilan, bukan Ketua
Majelis Hakim
e. Dapat dilaksanakan berulang3 sampai
pembayaran atau pelunasan sejumlah uang
dan ganti rugi terpenuhi.
154
3. Sita atas harta Perkawinan (Maritale Beslag)
 Adalah sita yang diletakkan atas harta bersama
suami isteri yang berada pada suami maupun
yang berada pada isteri dalam perkara
perceraian atau gugatan harta bersama.
 Pada prinsipnya sama dengan CB
 Pengkhususan untuk perceraian
 Tujuan untuk menjamin agar harta perkawinan
tetap utuh dan terpelihara sampai perkara
mendapat putusan yang berkekuatan hukum
tetap
 Maritale Beslag -- Sita Harta bersama.
155
TATA CARA PENYITAAN
1. Dilaksanakan Berdasarkan Penetapan Pengadilan (HIR 197(1))
a. Surat penetapan sita dibuat oleh Ketua atau Majelis hakim
yang bersangkutan
b. Surat penetapan berisi perintah kepada panitera atau
jurusita untuk melaksanakan sita objek yang disebutkan
dlm penetapan
2. Penyitaan dilaksanakan oleh Panitera atau Jurusita
HIR 197 (2)
3. Pemberitahuan Penyitaan (197 ayat 5 HIR)
a. Penyitaan harus diberitahukan kepada Termohon sita/
Tergugt
b. Isi pemberitahuan sita : jam, hari, tanggal, bulan dan tahun
pelaksanaan sita.
c. Menyebutkan barang dan tempat penyitaan
d. Mohon kehadiran pelaksanaan sita. 156
4. Juru sita dibantu oleh 2 orang saksi
a. Ditulis nama, umur, pekerjaan, dan tempat tinggalnya
dalam berita acara penyitaan.
b. Berpenduduk Indoneisia, umur minimal 21 tahun,
dipercaya
5. Sita dilaksanakan di tempat barang
a. Petugas jurusita dan saksi harus datang ke lokasi
penyitaan secara langsung.
b. Menurut pasal 197 (9) HIR, penyitaan yang tidak
dilakukan
ditempat di mana barang berada adalah tidak sah.
6. Penyusunan berita acara penyitaan nomor, tgl, bulan, tahun
surat penetapan perintah sita, waktu pelaksanaan
penyitaan, nama umur dan tempt tiggal saksi, barang yang
disita, penjagaan objek sita diserahkan kpd Termohon sita,
berita acara dittd jurusita dan saksi-saksi.
157
7. Pendaftran sita
a. Berita acara penyitaan didaftarkan dan diumumkan
melalui kantor yang berwenang.
b. Barang sitaan berupa tanah bersetifikat, maka
didartarkan Badan Pertanahan Negara (BPN)
c. Barang sitaan berupa tanah belum bersetifikat
dicatatkan dalam buku Letter C di kantor lurah/Desa
8. Barang Sitaan ditempatkan pada tempat asalnya
a. Penjagaan barang sita baik bergerak maupun tidak
bergerak diserahkan kepada Termohon.
b. Tidak boleh mengalihkan dan atau menyerahkan
penguasaannya kepada pemohon sita atau kepada
pihak ketiga / kepala desa.
c. Termohon sita diperbolehkan u/ memakai menikmati
dgn tidak berakibat brang sitaan menjadi habis dalam
pemakaian 158
Pelaksanaan sita barang tidak
bergerak SEMA No.2 1962
 Haruslah dilaksanakan di tempat kediaman orang
yang menguasai barang-barang tersebut.
 Harus datang ketempat Lurah/desa dan melapor
tentang akan adanya sita yang objeknya terdapat di
dlm wilyah desa tersebut
 Pelaksanaan sita harus dilaksanakan di tempat
barang berada dan dicocokkan dengan batas-
batasnya, luasnya dan disaksikan oleh aparat
kelurahan desa setempat
 Harus cocok luas dan batasnya dengan surat
permohonan sita, jika tidak cocok maka hendaknya
dibuat berita acara tidak terdapat barang yang disita
itu (proses verbaal van non bevending)
159
PATOKAN UMUM SITA
 Karakter assesoris (tambahan gugatan)
 Tindakan paksa oleh Pengadilan atas harta milik
Tergugt apabila ada permintaan dari Penggugat.
 Sita merupakan tindakan eksepsional, yaitu
tindakan pengecualian, yakni meskipun perkara ini
belum diputus seolah-olah sudah diadakan eksekusi
terhadapa Tergugat/Tersita
 Alasan permintaan sita adalah bahwa Tergugat
diduga kuat akan menggelapkan harta yang
disengketakan, namun alasan tersebut sangat
bersifat subjektif apabila dikaitkan dengan sifat
eksepsional. 160
Pendelegasian Sita dan
Penyitaan
 Bilamana barang yang akan disita berada di luar
wilayah hukum suatu Pengadilan Agama maka
didelegasikan di PA tempat barang tersebut berada.
 Surat Permohonan sita dibuat oleh Ketua PA dengan
melampirkan penetapan sita yang telah dibuat oleh
Majelis Hakim.
 PA yang mendapat pendelegasian sita itu menunjuk
panitera/juru sita untuk melaksanakan sita sesuai
dengan apa yang tersebut dalam penetapan sita.
 Hasil penyitaan berupa berita acara penyitaan dikirim
ke PA yang meminta Sita dalam tempo 2 x 24 jam,
dikirim melalui surat pengantar di tandatangani oleh
Ketua PA.
161
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam
penyitaan
 Dilarang jurusita melakukan penyitaan thdp hewan dan
perkakas
hewan  sifatnya sungguh2 dipergunakan sebagai alat
pencarian.
perkakas  sifat dan wujudnya dipergunakan langsung
oleh seseorang untuk mencari nafkah . Cangkul
 Dilarang Panitera/Jurusita melakukan penyitaan yang
melampaui jumlah tagihan
 Dilarang meletakkan sita jaminan terhadap barang milik
pihak ketiga
 Dilarang panitera/jurusita melakukan penyitaan di belakang
meja, (tidak ditempat barang berada)
 Larangan menyerahkan penyimpanan dan penjagaan
barang yang disita kepada Penggugat
 Larangan pemakaian uang yang disita 162
SITA JAMINAN MENURUT PASAL 95 KHI
 Dalam Pasal 95 KHI disebutkan bahwa suami atau
isteri dapat meminta Pengadilan Agama untuk
meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa
adanya perceraian terlebih dahulu.
 Hal ini dilakukan apabila salah satu dari mereka
melakukan perbuatan yang merugikan dan
membahayakan harta bersama seperti menjadi
penjudi, pemabuk, pemboros, dll.
 Selama masa diletakkan sita jaminan dapat dilakukan
penjualan atas barang2 yang disita itu atas izin
Pengadilan Agama karena kepentingan yang sangat
mendesak untuk kepentingan keluarganya.
 Assesor kah..? Contensius.. ? Volountair..? 163
Langkah-langkah yang ditempuh PA..?
 Permohonan sita harta bersama ke PA dg alasan-alasannya.
 Meja I menaksir biaya SKUM dan dibayar via bank, setelah
kasir PA mencap LUNAS, diberi nomor/bukan nomor perkara
seperti sama seperti penyelesaian permohonan P3HP.
 Berkas dicatat di Meja II
 Berkas dinaikkan kepada Ketua melalui Wakil Panitera dan
Panitera kemudian Ketua PA mempelajari berkas tersebut.
Apabila beralasan segera mengadakan sidang untuk Aan
Maning, dalam sidang tersebut Ketua Pengadilan
memberikan nasehat seperlunya kepada suami atau isteri
agar supaya harta bersama itu tetap utuh seperti semula
 Atas nasehat tersebut salah satu pihak membuat surat
pernyataan atau bila tidak ada perubahan melakukan
penyitaan. 164
Amar penetapan sita harta bersama
 Menyatakan sah dan berharga pelaksanaan sita
harta bersama yang dilaksanakan pada
tanggal….. Oleh Panitera/jurusita Pengadilan
Agama………
 Menetapkan …………(dirinci barang-barang yang
disita itu satu persatu) adalah harta bersama
dalam perkawinan antara……. Dan ……………
 Menyatakan bahwa harta bersama tersebut
dalam diktum ….. di bawah pengawasan
Pengadilan Agama………….

165
UPAYA HUKUM
Pengertian :
 Upaya hukum adalah upaya yang diberikan undang-undang
kepada seseorang atau badan hukum untuk dan dalam hal
tertentu melawan putusan hakim.
Dasar Pemikiran :
 Ius curia novit -- namun hakim juga insan biasa yg tdk lepas
dari kekhilafan dan kesalahan, meskipun ia telah berusaha
untuk menghindar dari kekhilapan dan kesalahan tersebut.
Dan karena itulah dlm pelaksanaannya, tidk semua putusan
yang dijatuhkan mutlak sudah benar dan adil, namun masih
terbuka kemungkinan ada yang merasa bahwa putusan
yang dijatuhkan oleh hakim tidak memenuhi rasa keadilan.
 Adanya Pengadilan Tinggi Agama, Mahkamah Agung sebgai
lembaga peradilan untuk mengadakan koreksi terhadap
putusan hakim Pengadilan bawahnya yang dirasa tidak adil
atau tidak sesuai dengan peraturan hukum yg berlaku.
166
MACAM-MACAM UPAYA HUKUM
A. UPAYA HUKUM BIASA
1. VERZET (PERLAWANAN)
2. BANDING
3. KASASI
B. UPAYA HUKUM LUAR BIASA
1. PENINJAUAN KEMBALI ( PK )
2. DERDEN VERZET
167
 Upaya hukum biasa adalah perlawanan
terhadap putusan verstek berupa verzet,
banding dan kasasi, pada asasnya upaya hukum
ini menangguhkan eksekusi, (pengecualian
adalah apabila ada putusan tersebut dijatuhkan
dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih
dahulu / uitvoerbaar bij vorraad, maka eksekusi
tetap berjalan).
 Upaya Hukum Luar Biasa pada asasnya tidak
menangguhkan eksekusi, baik dalam denden
verzet (perlawan pihak ketiga) maupun dalam
Peninjauan Kembali terhadap putusan yang
telah berkekuatan hukum tetap.
168
UPAYA HUKUM BIASA
A. VERZET
1. Verzet merupakan upaya perlawanan atas putusan verstek.
2. Perlawanan Verstek dapt diajukan dlm tenggang waktu 14 hari
sejak pemberitahuan putusan diterima Tergugat secara langsung
(in person)
3. Bila putusan itu tdk langsung diberitahukan kpd Tergugat sendiri
dan pada saat aanmaning (teguran) Tergugat hadir, tenggang
waktu perlawanan adalah 8 hari sejak dilakukan aanmaning (Pasal
129 HIR/153 RBg)
4. Dan apabila Tergugat tidak hadir pada saat aanmaning, maka
tenggat waktunya adalah hari kedelapan sesudah sita eksekusi
dilaksanakan (pasal 129 ayat 2 jo. Pasl 196 HIR dan pasal 153
ayat 2 jo. Pasal 207 RBg). Dan perkara verzet sama dengan nomor
perkara putusan verstek.
5. Perkara verzet dapat dilakukan walaupun ketidakhadiran Tergugat
dalam proses sidang verstek tidak memiliki alasan yang
dibenarkan hukum. 169
6. Pemeriksaan perkara verzet diperiksa secara keseluruhan yang
dilakukan secara biasa (Psl 129 ayat 3 HIR, Psl 153 ayat 3 RBg)
7. Pengajuan perlawan verzet dilakukan sama pada pendaftaran
perkara biasa.
8. Apabila dalam pemeriksaan verzet pihak Penggugat asal
(Terlawan) tidak hadir, maka pemeriksaan dilanjutkan secara
contradictoir, akan tetapi bila Tergugat asal (Pelawan) yang tidak
hadir maka dijatuhkan putusan verstek yang keduakalinya. Atas
putusan verstek yang dijatuhkan keduakalinya ini tidak dapat
diajukan perlawanan (verzet kembali), tetapi bisa diajukan upaya
hukum banding. (Psl 129 ayat 5 HIR, pasal 153 ayat 5 RBg).
9. Dalam hal Penggugat mengajukan permohonan banding atas
putusan verstek dan Tergugat mengajukan verzet, maka
permohonan verzet Tergugat harus dianggap banding. Jika
diperlukan pemeriksaan tambahan, Pengadilan tk. Banding dengan
putusan sela dapat memerintahkan pengadilan tk.I untuk melakukan
pemeriksan tambahan yang berita acaranya dikirim ke pengadilan
tk. Banding.
170
B. UPAYA HUKUM BANDING
 Adalah permintaan atau permohonan yg diajukan oleh
salah satu atau oleh pihak-pihak yang terlibat dalam
perkara, agar penetapan atau putusan yg dijatuhkan
pengadilan tk.I diperiksa ulang dalam pemeriksaan tk.
Banding oleh Pengadilan Tinggi Agama.
 Dasar hukum Pasal 61 UU No.7/1989 telah diubah
keduakalinya dengan UU No.50/2009
“Atas penetapan dan putusan yang Pengadilan Agama
dapat dimintakan banding oleh yang berperkara, kecuali
apabila undang-undang menentukan lain”.
 Kewenangan Pengadilan Tinggi Agama mengadili
perkara dalam tk. Banding adalah kewenangan
memeriksa ulang suatu perkara yang telah diputus oleh
PA sbg Pengadilan Tk.I dengan memeriksa
keseluruhan perkara yg bersangkutan. 171
Putusan dan Penetapan Yang Tidak Dapat
Dimintakan Banding :

 Perkara yang bersifat finansial sbgmna diatur psl


49 (i) UU 50/2009 mengenai ekonomi syari’ah,
maka perkara yang dpt diajukan banding
mengacu kpd nilai standar objek terperkara
sbgman pasal 6 UU No.20/1947 yaitu tidak boleh
kurang dari seratus rupiah.
 Perkara voluntair pada Peradilan Agama yaitu :
Penetapan Ahli Waris, Dispensasi Kawin, Izin
Kawin, Permohonan penetapan wali adhol,
permohonan penetapan perwalian, penetapan
asal-usul anak. 172
Tujuan Utama Banding
1. Untuk mengoreksi dan meluruskan segala kesalahan
dan kekeliruan penerapan hukum
2. Tata cara mengadili
3. Penilaian fakta dan pembuktian

Tata cara Permohonan Banding


1. Tenggang Waktu permohonan banding
a. 14 hari sejak putusan diucapkan, bila P+T hadir
b. 14 hari sejak putusan diberitahukan bila ada pihak yg
tidak hdr
c. Jika putusan prodeo, terhitung 14 hari dari tanggal
pemberitahuan putusan prodeo dari pengadilan tinggi
kepada pemohon banding. 173
2. Pengaduan permohonan banding disampaikan
kepada panitera pengganti yang memutus
perkara yang hendak dibanding.
3. Yang berhak mengajukan permohonan banding
 in person
 Kuasanya yang sah, ada surat kuasa khusus
4. Bentuk permintaan banding bisa dengan lisan
atau dapat dengan tulisan

174
5. Pembayaran ongkos banding
pembayaran ongkos  syarat formil
yang membayar  pemohon banding
6. Kalau syarat formil telah terpenuhi, registrasi ke
kepaniteraan, membuat akta banding, dan melampirkan
akta banding dalam berkas perkara sebagai bukti akta
atau bukti bagi PTA ttg adanya permohonan banding
7. Jurusita menyampaikan permohoanan banding ke pihak
lawan. Para pihak menyampaikan memori dan kontra
memori banding ke dalam berkas dan disampaikan.
8. Menyampaikan pemberitahuan inzage, selambat-
lambatnya dalam 14 hari dari tanggal permohonan
banding.
175
9. Penyampaian memori dn kontra memori banding menyam-
paikan memori dan kontra memori banding, serta inzage
bukanlah syarat formil permohonan banding, namun
merupakan HAK.
 Tenggang waktu penyampaian memori banding tidak
terbatas waktunya, kapan saja bisa disampaikan selama
perkara belum diputus.
 Harus diberitahu dlm bentuk relaas tentang adanya
memori banding kpd pihak lawan, tujuannya pihak lawan
dpt menyanggah memori dengan kontra memori banding
 harus memberitahu dengan relas kontra memori banding
kepada pemohon banding
 semua memori dan kontra memori banding
dilampirkan/disatukan dalam berkas perkara.
10. 1 bulan sejak tanggal permohonan banding, berkas perkara
harus sudah dikirim ke pengadilan tingkat banding
176
Pemeriksaan Tingkat Banding
1. Dilakukan berdasarkan berkas, tidak ada hubungan
hakim dengan pihak secara langsung, ciri
pemeriksaan secara rasional & realistik
2. Pemeriksaan Tambahan :
a. berdasarkan putusan sela
b. pemeriksaan tambahan dpt dilaksanakn sendiri
oleh Pengadilan Tinggi Agama
c. diperintahkan ke Pengadilan yang memeriksa dan
memutus pada tingkat pertama
3. Pemeriksaan dengan Majelis min 3 orang hakim
tinggi, kecuali UU menentukan lain.
177
KEWENANGAN PEMERIKSAAN TK. BANDING
I. Dari segi putusan:
1. putusan akhir. mengakhir sengketa secara keseluruhan
eksepsi bila putus dengan putusan akhir bisa dibanding, bila
masih berjalan tidak bisa dibanding.
2. Pengabulan atau penolakan sita jaminan tidak bisa dibanding,
karena bukan putusan akhir
3. Tidak bisa diajukan banding terhadap putusan provisi. Karena
putusannya tidak menyangkut pokok perkara.
 Ruang lingkup pekerjaan
 Untuk barang meliputi : jenis, jumlah, spesifikasi teknis
barang, dan distribusi
 Untuk jasa konsultan meliputi : kuantitas, dan kualifikasi
tenaga ahli dan pendukung yang dibutuhkan (pendidikan
dan pengalaman), serta lama penugasan yang
keseluruhannya dituangkan dalam TOR/KAK
 Untuk jasa pemborongan/jasa lainnya meliputi : kuantitas
dan spesifikasi teknis
178
II. Putusan banding tidak boleh melampaui kewenangan
mengadili
III. Putusan formil yang tidak berdasar kompetensi
IV. Banding meliputi kepentingan para pihak seperti
perkara waris
V. Permohonan banding tergugt tidak boleh
menguntungkan Penggugat
VI. Permohonan banding yang disebut tidak memenuhi
syarat formil- di NO, yaitu :
a. Permohonan banding melampaui tenggang waktu
b. Tidak melaksanakan pembayaran ongkos banding
c. Permohonan banding ditandatangani oleh orang
yang tidak berhak.
179
UPAYA HUKUM KASASI
Kasasi memecahkanmembatalkan casser
Bilamana suatu permohonan kasasi terhadap putusan
pengadilan di bawahnya diterima oleh MA maka hal
itu berarti bahwa putusan tersebut dibatalkan MA
karena dianggap mengandung kesalahan dalam
penerapan hukumnya.
Putusan dpt dibatalkan di Mahkamah Agung, karena :
1. Tdk berwenang / malampaui batas wewenang
2. Salah menerapkan hukum yang berlaku
3. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan
oleh peraturan perundang-undangan yang
mengancam kelalaian itu dengan batalnya
putusan yang bersangkutan. 180
PEMERIKSAAN TK. KASASI, batas-batasannya :
1. Memeriksa dan memutus tentang tidak berwenang
atau malampaui batas wewenang pengadilan tk.
bawah dn memeriksa dn memutus suatu perkara.
2. Memeriksa dan mengadili kesalahan penerapan
atas pelanggaran hukum yang dilakukan
pengadilan tingkat bawah dalam memeriksa dan
memutus perkara. (salah penerapan hukumnya)
3. Memeriksa dan mengadili disebabkan karena ada
kelalaian tentang syarat-syarat yang wajib dipenuhi
menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku,
181
Tata Cara Pengajuan Kasasi
 Pemohon kasasi menyatakan kehendaknya
ke pengadilan agama yang memutus
perkaranya, 14 hari dari putusan banding
diberitahukan kepada ybs.
 Pemohon kasasi menghadap meja I yang
mejelaskan dan menaksir panjar perkara–
SKUM bayar via bank.
 Kasir menandatangani SKUM-Lunas.
 Setelah itu Panitera membuat akta
permohonan kasasi.
182
 Permohonan kasasi dicatat oleh Meja II dalam register
buku induk
 Paling lama 7 hari diberitahukan ke pihak lawan melalui
jurusita.
 selambat2nya 14 hari 14 hari permohonan kasasi dicatat
dalam register buku induk, maka pemohon kasasi wajib
menyampaikan memori kasasi yang memuat alasan-
alasannya. Bila lewat waktu maka Ketua PA mengeluarkan
penetapan bahwa permohonan kasasi tidak diterima.
 Selamabat-lambatnya 30 hari setelah memori kasasi
diserahkan, maka meja III wajib memberitahukan kepada
pihak lawan melalui jurusita dengan menyerahkan pula
salinan memori kasasi tersebut.
 Pihak lawan berhak mengajukan kontra memori kasasi
terhadap memori kasasi selambat-lambatnya dlm
tenggang waktu 14 hari sejak tanggal diterimanya memori
kasasi.- selambat-lambanya 30 hari sejak diterimanya
kontra memori kasasi , berkas bundel A dan B di kirim ke
Mahkamah Agung.
183
UPAYA HUKUM LUAR BIASA
 Peninjauan Kembali adalah pemeriksaan kembali putusan
pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap
Masalah yang terjadi bila ada PK :
1. Unsur manusiawi– kekhilafan
2. Unsur kebohongan
3. Unsur ditemukan alat bukti baru
4. Dua putusan yg sama objek, subjek dn pokok perkaranya.
 PK kewenangan mutlak MA
 Yang berhak mengajukan PK : pihak secara in person, ahli
waris mereka, kuasa yang diberik kuasa khusus untuk itu.
 Permohonan PK hanya 1 kali
 PK tidak menangguhkan eksekusi
 Pencabutan permohonan PK adalah hak. 184
Alasan permohonan PK
 Putusan berdasarkan kebohongan
 Ditemukan bukti2 baru yang menentukan
 Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut
atau lebih dari yg dituntut
 Pihak dan hal-hal yang sama
 Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan
hakim atau suatu kekeliruan semata.

Tenggang waktu PK
 Batas tenggang waktu mengenai alasan kebohongan 180 hari
terhitung sejak tanggal diketahui kebohongan
 Jika kebohongan itu sampai pidana dengan dijatuhkan
putusan, maka 180 sejak putusan tsebut BHT
 Bila alasan novum, 180 hari dari tanggal diketemukan surat2
bukti tersebut.
185
Upaya hukum Derden verzet
 Derden Verzet  Perlawanan pihak
ketiga

186
EKSEKUSI
Eksekusi adalah hal menjalankan putusan
pengadilan yang sudah berkekuatan hukum
tetap.  putusan eksekutorial.
Putusan pengadilan yg dieksekusi adlh putusan
pengadilan yg mengandung perintah kepada
salah satu pihak untuk membayar sejumlah
uang, atau juga pelaksanaan putusan hakim
yang memerintah-kan pengosongan benda
tetap sedangkan pihak yg kalah tidak mau
melaksanakan putusan tersebut secara suka
rela sehingga diperlukan usaha paksa dari
pengadilan untuk melaksanakannya.
Putusan yang mempunyai eksekutorial yang
mengadung amar comdenatoir. 187
Asas-asas yang perlu diketahui
dalam pelaksanaan eksekusi
1. Putusan pengadilan harus sudah
berkekuatan hukum tetap
2. Putusan tidak dijalankan secara sukarela
3. Putusan mengadung amar
comdemnatoir
4. Eksekusi di bawah pimpinan Ketua
Pengadilan.

188
Macam-macam/Jenis Eksekusi

1. Eksekusi putusan yang menghukum pihak yang


dikalahkan untuk membayar sejumlah uang
2. Eksekusi putusan yang menghukum orang
untuk melakukan sesuatu
3. Eksekusi riil yaitu pelaksanaan putusan hakim
yang memerintahkan pengosongan benda tetap
kepada orang yang dikalahkan, tetapi perintah
tersebut tidak dilaksanakan secara sukarela.

189
Dalam praktek di Peradilan Agama
1. Eksekusi riil atau nyata, yang meliputi
penyerahan, pengosongan, pembongkaran,
pembagian, dan melakukan sesuatu.
2. Eksekusi pembayaran sejumlah uang
melalui lelang atau executorial verkoop.
dengan cara menjual lelang barang milik
debitur.
Eksekusi pembayaran sejumlah uang Berarti
Tergugat diperintahkan utk membayar atau
melunasi sejumlah uang kepada
Penggugat. 190
Tata cara eksekusi riil
 Permohonan pihak yang menang.
 Penaksiran biaya eksekusi
 Melaksanakan peringatan (Aan maning)
1. Melakukan sidang insidental yang dihadiri oleh
Ketua PA, Panitera dan pihak yang kalah
2. Memberi peringatan u/ melakukan putusan
hakim dalam jangka waktu 8 hari
3. Membuat berita acara Aan maning
 Bila pihak yang di aan maning tidak hadir telah
dipanggil secra resmi dan patut dan
ketidakhadirannya tidak dapat
dipertanggungjawabkan, maka Ketua PA dapat
langsung mengeluarkan surat penetapan perintah
eksekusi kepada Panitera / Jurusita.
191
 Mengeluarkan surat perintah eksekusi,
dengan ketentuan :
 perintah eksekusi berupa penetapan
 Perintah ditujukan kepada Panitera/
Jurusita
 disebut dengan jelasnomor perkara dan
objek yang akan dieksekusi
 perintah eksekusi dilakukan ditempat
letak barang dan tidak boleh dibelakang
meja.
 isi perintah eksekusi supaya dilaksanakan
sesuai amar putusan
 Pelaksanaan eksekusi riil.
192
Dalam praktek di Peradilan Agama
1. Mengeluarkan penetapan sita ekskusi
2. Mengelurakan perintah eksekusi
3. Pengumuman lelang
4. Permintaan lelang
5. Pendaftaran permintaan lelang
6. Penetapan hari lelang
7. Penentuan syarat lelang dan floor price
8. Tata cara penawaran
9. Pembeli lelang dan menentuakan pemenang
10. Pembayaran harga lelang.
193
Lelang eksekusi putusan PA
Lelang eksekusi adalah lelang yang
dilakukan untuk melaksanakan putusan
hakim sesuai dengan amar yang telah
ditetapkan, termasuk dalam rangka
eksekusi grose akta.
Dalam praktek peradilan agama barang
dijual dulu lalu kemudian hasil penjualan
itu dibagi sesuai dengan amar putusan PA.

194
Lelang dilihat dari segi fungsinya
 Memberikan pelayanan penjualan barang secara
lelang yang bersifat cepat, efesien, aman dan dapat
mewujudkan harga yang wajar kepada masy. atau
penguasa yang bermaksud barangnya dilelang atau
juga kepada peserta lelang.
 Memberikan pelayanan penjualan yang bersifat paksa
atau eksekusi baik menyangkut bdg pidana, perdata,
ataupun perpajakan dlm rgk mendukung terwujudnya
keadilan dalam masyarakat
 Memberikan pelayanan penjualan dalam rangka
mengamankan barang2 yang dimiliki atau dikuasai
oleh negara termasuk barang milik BUMN atau BUMD
 Mengumpulkan penerimaan negara dalam bentuk bea
lelang dan uang miskin.
195
Lembaga Lelang
 Lembaga lelang merupakan lembaga
penjualan di muka umum yang dipimpin
oleh pejabat lelang dengan cara
penawaran harga secara terbuka atau.
lisan dan atau tertutup/tertulis yang
didahului dengan pengumuman lelang
kepada seluruh masyarakat.

196
Keuntungan Lelang dengan
penjualan biasa
 Adil, karena penjualan lelang bersifat terbuka
(transparan dan objektif)
 Aman, karena penjualan lelang disaksikan,
dipimpin dan dilaksanakan oleh pemerintah yang
bersifat indefenden
 Tepat dan efesien, krn lelang didahului dengan
pengumuman lelang peserta dapat kumpul pada
saat hari lelang dan pembayaran secara tunai.
 Mewujudkan harga yang wajar.
 Memberikan kepastian hukum. Ada berita acara
pelaksanaan lelang yg disebut risalah lelang
sebagai akta autentik.
197
Hak-hak pemohon penjual baramg

 Memilih cara penawaran lelang


 Menetapkan syarat2 lelang jika dianggap
perlu.
 Menerima uang hasil lelang (pokok lelang)
 Menerima uang jaminan dalam hal
pemenang lelang mengundurkan diri.
 Meminta kutipan atau salinan risalah
lelang.
198
Kewajiban-kewajiban pemohon lelang
 Mengajukan permohonan lelang ke kepala
kantor lelang negara
 Melengkapi syarat2 dan dokumen yg diperlukan
 Mengadakan pengumuman lelang di surat kabar
setempat
 Menetapkan harga limit yang wajar atas barang-
barang yang dilelang
 Membayar bea lelang penjualan
 Menyerahkan barang dan dokumen kepada
pemenang lelang melalui Kantor Lelang Negara
 Membayar PPh psl 25
 Mentaati tata tertib lelang
199
Hak-hak peserta atau pembeli lelang

 Melihat dokumen tentang kepemilikan


barang
 Melihat dan meneliti barang yang dilelang
 Meminta salinan risalah lelang bila beli
 Meminta kembali uang jaminan lelang
atau kelebihan uang jaminan
 Mendapatkan barang dan bukti pelunasan
serta dokumen-dokumen apabila ditunjuk
sebagai pemenang lelang
200
Kewajiban perserta lelang/pembeli

 Menyetor uang jaminan


 Hadir pada saat lelang atau kuasanya
 Mengisi surat penawaran di atas kertas
bermaterai
 Membayar pokok leleng, bea lelang, uang
jaminan secara tunai dalam hal menjadi
pemenang lelang
 Mentaati tata tertib pelaksanaan lelang
201
Syarat-syarat lelang eksekusi
 Harus ada surat permintaan lelang
 Harus ada fotocoy grose akta.

202
Pengertian istilah hadhonah
 Hadhonah adalah pemeliharaan anak yang
belum mampu berdiri sendiri, biaya
pendidikannya dan pemeliharaannya dari
segala yang membahayakan jiwanya.

203
Eksekusi putusan hadhanah

 Eksekusi putusan hadhonah masih


diperdebatkan. Ada 2 pendapat.
1. Tidak ada eksekusi hadhonah, alasan :
- bila putusan bersifat deklatoir
- dalam yurisfrudensi eksekusi pada
benda, bukan pada person/orang
- dijalankan secara sukarela.
2. Bila putusan berisfat comdemnatoir dapat
dieksekusi. Bilamana putusan tlh BHT. 204
Diantara Kekhususan beracara pada
Pengadilan Agama (Lex Spesialis) :
1. Putusan/Penetapan :
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
2. Perkara diajukan di tempat kediaman istri
3. Bid. Perkawinan, biaya perkara dibebankan
kepada yang mengajukan perkara.
4. Perceraian terdiri dari “Cerai Talak (CT) dan
Cerai Gugat (CG)”
5. Perkara Cerai Talak (Kontentius) para pihak
disebut “PEMOHON dan TERMOHON”
6. Perkara perceraian sidang tertutup untuk
umum 205
7. Penguasaan anak, nafkah anak,
nafkah istri, dan harta bersama,
dapat diajukan bersamaan
perceraian.
8. Pembuktian :
 Pengakuan dalam perceraian tidak
dipandang sebagai alat bukti
yang sempurna.
 Dalam perceraian saksi adalah
keluarga/orang dekat.
9. Hak ex officio hakim.
206

Anda mungkin juga menyukai