Anda di halaman 1dari 26

SOSIALISASI POJK TERKAIT

PENERAPAN PRINSIP KEHATI-


HATIAN BPR
PRINSIP KEHATI-HATIAN BANK

Prinsip kehati-hatian (prudent banking principle) adalah


suatu asas atau prinsipyang mmenyatakan bahwa bank
dalam menjalankan fungsi dan kegiatan usahanya wajib
bersikap hati-hati (prudent) dalam rangka melindungi dana
masyarakat yang dipercayakan padanya.23 Hal ini
disebutkan dalam pasal 2 UU Nomor 10 tahun 1998

Prinsip kehati-hatian tertera dalam Pasal 2 dan Pasal 29


ayat (2) UU No 10 tahun 1998.
PERATURAN TERKAIT RINSIP KEHATI-HATIAN BPR

• Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor


30/12/KEP/DIR tentang Tatacara Penilaian Tingkat
Kesehatan BPR
• Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/13/PBI/2009 tentang
Batas Maksimum Pemberian Kredit BPR
• POJK Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata
Kelola bagi BPR.
• Nomor 13/POJK.03/2015 tentang Penerapan Manajemen
Risiko bagi BPR.
• POJK Nomor 12/POJK.01/2017 tentang Penerapan APU
& PPT di Sektor Jasa Keuangan
KESEHATAN BANK

Berdasarkan UU RI Nomor 21 tahun 2011 OJK berwenang


melakukan pengaturan dan pengawasan mengenai
kesehatan bank, meliputi:
1. Likuiditas
2. Rentabilitas
3. Solvabilitas
4. Kualitas aset
5. Rasio kecukupan modal minimum
6. Batas maksimum pemberian kredit
7. Rasio pinjaman terhadap simpanan
8. Pencadangan bank
TINGKAT KESEHATAN BPR

• Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai dengan


pendekatan kualitatif atas berbagai aspek berpengaruh
terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank.
• Tingkat kesehatan BPR dilakukan penilaian terhadap
faktor-faktor:
1. Permodalan
2. Kualitas aktiva produktif
3. Manajemen
4. Rentabilitas
5. Likuiditas
BMPK

Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) adalah


persentase maksimum realisasi penyediaan dana yang
diperkenankan terhadap modal BPR.
1. BMPK untuk Kredit dihitung berdasarkan baki debet
Kredit.
2. BMPK untuk Penempatan Dana Antar Bank pada BPR
lain dihitung berdasarkan nominal Penempatan Dana
Antar Bank.
KETENTUAN BMPK

1. Penyediaan Dana kepada seluruh Pihak Terkait ditetapkan


paling tinggi 10% dari Modal BPR.
2. Penyediaan Dana dalam bentuk Penempatan Dana Antar
Bank kepada BPR lain yang merupakan Pihak Tidak Terkait
ditetapkan paling tinggi 20% dari Modal BPR.
3. Penyediaan Dana dalam bentuk Kredit kepada 1 (satu)
Peminjam Pihak Tidak Terkait ditetapkan paling tinggi 20%
dari Modal BPR.
4. Penyediaan Dana dalam bentuk Kredit kepada 1 (satu)
kelompok Peminjam Pihak Tidak Terkait ditetapkan paling
tinggi 30% dari Modal BPR.
TATA KELOLA BPR
BPR wajib menerapkan Tata Kelola dalam setiap kegiatan
usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi
yang paling sedikit harus diwujudkan dalam bentuk sebagai
berikut:
1. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi;
2. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris;
3. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas atau fungsi komite;
4. Penanganan benturan kepentingan;
5. Penerapan fungsi kepatuhan, audit intern, dan audit
ekstern;
6. Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem
pengendalian intern;
7. Batas maksimum pemberian kredit;
8. Rencana bisnis BPR;
9. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan.
MANAJEMEN RISIKO

BPR wajib menerapkan manajemen risiko paling sedikit


meliputi:
a. Pengawasan Direksi dan Dewan Komisaris.
b. Kecukupan kebijakan, prosedur, dan limit, yaitu:
1) kebijakan Manajemen Risiko;
2) prosedur Manajemen Risiko; dan
3) penetapan limit Risiko.
c. Kecukupan proses dan sistem, yaitu:
1) Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan
pengendalian Risiko; dan sistem informasi Manajemen
Risiko.
2) Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
PENERAPAN PROGRAM APU & PPT
PADA BPR
DASAR HUKUM PROGRAM APU &PPT

Undang-undang dan peraturan terkait dengan Penerapan Anti


Pencucian
Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT), adalah:

1. UU Nomor 8 Tahun 2010, tanggal 22 Oktober 2010 tentang


Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang
2. UU Nomor 9 Tahun 2013, tanggal 13 Maret 2013 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan
Terorisme.
3. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017,
tanggal 16 Maret 2017 tentang Penerapan Program Anti
Pencucian Uang dan pencegahan Pendanaan Terorisme di
Sektor Jasa Keuangan.
POJK Nomor 12/POJK.01/2017

KETENTUAN UMUM

Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat OJK, adalah lembaga yang
independen yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan,
pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang yang mengatur mengenai Otoritas Jasa Keuangan.

Penyedia Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat PJK adalah PJK di Sektor
Perbankan, PJK di Sektor Pasar Modal, dan PJK di Sektor Industri Keuangan
Non Bank.

PJK di Sektor Perbankan adalah bank umum, bank umum syariah, BPR, dan
BPRS

Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme yang selanjutnya


disingkat APU dan PPT adalah upaya pencegahan dan pemberantasan tindak
pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme.
DEFINISI PENCUCIAN UANG & PENDANAAN TERORIS

Pencucian Uang adalah suatu proses atau perbuatan


yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan
asal-usul uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari
hasil tindak pidana yang kemudian diubah menjadi harta
kekayaan yang seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah.

Pendanaan Terorisme adalah segala perbuatan dalam


rangka menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau
meminjamkan dana, baik langsung maupun tidak langsung,
dengan maksud untuk digunakan dan/atau yang diketahui
akan digunakan untuk melakukan kegiatan terorisme,
organisasi teroris, atau teroris.
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU)

Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,


membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa
ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau
surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.

Setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul,


sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang
sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana.

Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan,


pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran,
atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana.
SANKSI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Dipidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling


lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp. 100 jt dan
paling banyak Rp. 15 Milyar
PENDANAAN TERORIS

Pendanaan terorisme adalah penggunaan harta kekayaan secara


langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme.

Pendanaan terorisme berbeda dengan TPPU yang tujuannya untuk


menyamarkan asal-usul harta kekayaan, maka tujuan tindak pidana
pendanaan terorisme adalah membantu kegiatan terorisme, baik
dengan harta kekayaan yang merupakan hasil dari suatu tindak pidana
ataupun dari harta kekayaan yang diperoleh secara sah.

Untuk mencegah BPR digunakan sebagai sarana tindak pidana


pendanaan terorisme, maka BPR perlu menerapkan Program APU-PPT
secara memadai
PENERAPAN PROGRAM APU & PPT PADA BPR

BPR wajib menerapkan program APU dan PPT untuk


mengelola dan memitigasi risiko yang telah diidentifikasi
berdasarkan penilaian risiko dan memenuhi ketentuan yang
ditetapkan dalam Peraturan OJK, yang paling sedikit
meliputi:
1. Pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris;
2. Kebijakan dan prosedur;
3. Pengendalian intern;
4. Sistem informasi manajemen; dan
5. Sumber daya manusia dan pelatihan.
PENGAWASAN AKTIF DIREKSI

Pengawasan aktif Direksi paling kurang meliputi:


1. memastikan BPR memiliki kebijakan dan prosedur penerapan
program APU dan PPT;
2. mengusulkan kebijakan dan prosedur tertulis yang bersifat
strategis mengenai penerapan program APU dan PPT kepada
Dewan Komisaris;
3. memastikan penerapan program APU dan PPT dilaksanakan
sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis yang telah
ditetapkan
4. membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pejabat
yang bertanggung jawab terhadap penerapan program APU
dan PPT;
5. memastikan bahwa seluruh pegawai, khususnya pegawai dari
satuan kerja terkait dan pegawai baru, telah mengikuti
pelatihan yang berkaitan dengan penerapan program APU
dan PPT secara berkala.
PENGAWASAN AKTIF DEWAN KOMISARIS

Pengawasan aktif Dewan Komisaris paling kurang meliputi:


1. amemberikan persetujuan atas kebijakan dan prosedur
penerapan program APU dan PPT yang diusulkan oleh
Direksi;
2. melakukan pengawasan atas pelaksanaan tanggung
jawab Direksi terhadap penerapan program APU dan
PPT; dan
3. memastikan adanya pembahasan terkait Pencucian
Uang dan/atau Pendanaan Terorisme dalam rapat
Direksi dan Dewan Komisaris.
PENANGGUNGJAWAB PROGRAM APU&PPT

BPR wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau


menunjuk pejabat sebagai penanggung jawab penerapan
program APU dan PPT, pada kantor pusat dan kantor
cabang.

Unit kerja khusus dan/atau pejabat yang ditunjuk ditetapkan


sebagai bagian dari struktur organisasi BPR dan
bertanggung jawab kepada Direksi yang membawahkan
fungsi kepatuhan.
UNIT KERJA KHUSUS

Dalam hal BPR membentuk unit kerja khusus sebagai


penanggung jawab penerapan program APU dan PPT,
berlaku ketentuan sebagai berikut:
1. unit kerja khusus paling sedikit terdiri dari 1 (satu) orang
yang bertindak sebagai pimpinan dan 1 (satu) orang
yang bertindak sebagai pelaksana;
2. pimpinan dan pelaksana pada unit kerja khusus tidak
merangkap fungsi lain;
3. pimpinan unit kerja khusus ditetapkan/diangkat oleh
Direksi;
4. unit kerja khusus berada di bawah koordinasi Direksi
secara langsung dalam struktur organisasi BPR dan
5. unit kerja khusus bersifat independen dari fungsi lain.
PENUGASAN PEJABAT

Dalam hal BPR menugaskan pejabat sebagai penanggung


jawab penerapan program APU dan PPT, pejabat tersebut
harus ditetapkan atau diangkat oleh Direksi dan hanya
dapat merangkap untuk melaksanakan fungsi manajemen
risiko dan/atau fungsi kepatuhan.
PELATIHAN APU PPT

1. Seluruh karyawan harus mendapatkan pengetahuan mengenai


kebijakan, prosedur, dan pelaksanaan Program APU-PPT.
2. Karyawan yang diprioritaskan untuk mengikuti pelatihan, adalah:
a. Berhadapan langsung dengan Nasabah (pelayanan Nasabah)
b. Pelaksanaan tugas sehari-hari terkait dengan pengawasan
pelaksanaan Program APU dan PPT, atau
c. Pelaksanaan tugas sehari-hari terkait dengan pelaporan kepada
PPATK dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
3. Karyawan yang mendapatkan prioritas harus mendapatkan
pelatihan secara berkala, sedangkan karyawan lainnya yang tidak
memenuhi harus mendapatkan pelatihan paling kurang 1 (satu) kali
dalam masa kerjanya.
4. Karyawan yang berhadapan langsung dengan nasabah atau front
liner harus mendapatkan pelatihan sebelum penempatan.
METODE PELATIHAN APU PPT

Pelatihan dapat dilakukan dengan cara:


1. Menyelenggarakan in house training
2. Menyelenggarakan forum tukar-menukar informasi
3. Mengikutsertakan pegawai dalam pelatihan dari pihak lain
4. Tatap muka secara interaktif (workshop) dengan topik pelatihan
disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
5. Melakukan pembelajaran dengan menggunakan sarana elektronik
(e-learning) maupun melalui pertemuan
6. Tatap muka satu arah (seminar) dengan topik pelatihan adalah
berupa gambaran umum dari pelaksanaan Program APU-PPT.
PERANGKAT KERJA PENERAPAN APU-PPT

No Tahap Perangkat Kerja


1 Tahap Indentifikasi 1. Formulir identifikasi nasabah
2. Formulir pembukaan rekening
3. Formulir perubahan/pengkinian data
4. Stempel dokumen sesuai asli
2 Tahap Verifikasi 1. Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT),
2. Daftar Hitam Nasional (DHN) apabila ada,
3. Daftar Informasi orang yang telah menjadi terduga, tersangka, atau yang
telah dijatuhi hukuman yang informasinya diperoleh dari media masa,
4. Form penetapan tingkat risiko
5. Stempel hasil untuk dokumen yang sudah diverifikasi.
3 Tahap Pemantauan 1. Komputer dan sistem yang complaince terhadap pelaksanaan CDD/EDD
2. Bukti transaksi
3. Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT),
4. Daftar Hitam Nasional (DHN) apabila ada,
5. Daftar Informasi orang yang telah menjadi terduga, tersangka, atau yang
telah dijatuhi hukuman yang informasinya diperoleh dari media masa,
KEWAJIBAN PELAPORAN APU PPT

Laporan yang wajib disampaikan ke OJK:


1. Kebijakan dan prosedur penerapan program APU PPT
2. Laporan rencana kegiatan pengkinian data disampaikan
setiap tahun paling lambat akhir bulan desember
3. Laporan realisasi pengkinian data disampaikan setiap tahun
paling lambat akhir bulan desember