Anda di halaman 1dari 33

Pembimbing

dr. Dedi yanto, Sp.PD


Oleh :
Rio Mulya Riharta
NIM.13101037

KKS ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU
RSUD BANGKINANG
Penyakit refluks gastro esofageal (GERD) adalah penyakit organ esofagus yang banyak
ditemukan dinegara barat. Berbagai survei menunjukkan bahwa 20 – 40 % populasi
dewasa menderita heart burn, suatu keluhan klasik GERD.
Di Indonesia penyakit ini sepintas tidak banyak ditemukan, bahkan mungkin tidak
pernah dibuat diagnosisnya, oleh karena sering tidak terpikirkan.
Lagi pula hanya sebagian kecil pasien GERD datang berobat pada dokter karena
pada umumnya keluhannya ringan dan menghilang setelah diobati sendiri dengan
antasida. Dengan demikian hanya kasus yang berat dan disertai kelainan endoskopi
berupa esofagitis dan berbagai macam komplikasinya yang datang berobat pada
dokter.
• Gastroesofageal refluks disease (GERD ) adalah
suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks
Definisi kandungan lambung ke dalam esofagus, dengan
berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan
esofagus, faring, laring dan saluran nafas.

• Penyakit ini umumnya ditemukan pada populasi negara–


negara barat, namun dilaporkan relatif rendah insidennya di
negara Asia – Afrika.
• GERD dapat diderita oleh laki-laki dan perempuan. Rasio
Epidemiologi laki-laki dan wanita untuk terjadinya GERD adalah 2:1 sampai
3:1(4). GERD pada negara berkembang sangat dipengaruhi
oleh usia, usia dewasa antara 60-70 tahun merupakan usia
yang seringkali mengalami GERD.
ANATOMI ESOFAGUS
Esofagus merupakan salah satu organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25 cm
dan berdiameter 2 cm, terbentang dari hipofaring sampai cardia lambung, kira-kira
2-3 cm di bawah diafragma. Esofagus terletak posterior terhadap jantung dan
trakea, anterior terhadap vertebra dan berjalan melalui lubang diafragma tepat
anterior terhadap aorta
• Sfingter esofagus
Krikofaringeal
Sfingter Esofagus bagian bawah

Dinding esofagus terdiri dari :


1. Mukosa
2. Sub mukosa
3. Muskularis
4. Serosa
• Fungsi esofagus
Menghantarkan makanan dan minuman dari faring ke lambung
• Anatomi Lambung
Lambung merupakan bagian sistem gastrointestinal yang terletak antara esofagus
dan duodenum
• Fungsi Lambung
¾ proksimal, fundus dan korpus berfungsi sebagai penampung makanan serta tempat
produksi pepsin dan asam lambung.
¼ distal lambung/antrum bekerja mencampur makanan dan mendorongnya ke
duodenum serta memproduksi gastrin.
Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) adalah suatu keadaan patologis sebagai
akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus, dengan berbagai gejala yang
timbul akibat keterlibatan esofagus, faring, laring dan saluran nafas.
• Keadaan ini umum ditemukan pada populasi dinegara negara barat, namun
dilaporkan relatif rendah insidennya dinegara negara Asia Afrika
• Di Indonesia belum ada data epidemiologi mengenai penyakit ini, namun di Difisi
Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta didapatkan kasus esofagitis sebanyak 22,8% dari semua pasien yang
menjalani pemeriksaan endoskopi atas indikasi dispepsia
Refluks gastroesofageal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme :
• Refluks spontan pada saat relaksasi LES yang tidak adekuat
• Aliran retrograde yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan
• Meningkatnya tekanan intraabdominal
• Heart burn
• Dispepsia
• Disfagia
• Nyeri menelan
• Esogaitis
• Manifestasi Klinis
• Pemeriksaan :
• Endoskopi saluran cerna bagian atas
• Esofagiografi dengan barium
• Pemantauan pH 24 jam
• Tes Bernstein
Derajat Kerusakan Gambaran Endoskopi

A Erosi kecil – kecil pada mukosa esofagus dengan


diameter < 5mm

B Erosi pada mukosa / lipatan mukosa dengan


diameter > 5 mm tanpa saling berhubungan

C Lesi yang konfluen tetapi tidak mengenai /


mengelilingi seluruh lumen

D Lesi Mukosa esofagus yang bersifat


sirkumferensial (mengelilingi seluruh lumen
esofagus)
1. Modifikasi gaya hidup
• Posisi kepala / tempat tidur ditinggikan 6-8 inch serta menghindari makan sebelum tidur dengan
tujuan meningkatkan bersihan asam selama tidur serta mencegah refluks asam dari lambung ke
esofagus.

• Menghindari menggukan baju yang ketat (tekanan intraabdominal)


• Menghindari rokok
• Mengurangi berat badan jika overweight
• Menghindari makanan yang dapat menstimulasi asam lambung:
• coklat, teh, peppermint, kopi dan minuman bersoda
• Menghindari obat-obat yang dapat menurunkan tonus LES :
• antikolinergik, teofilin, diazepam, opiate, antagonis kalsium, agonis beta adrenergic,
progesterone.
2. Terapi medikamentosa
Antasid
Golongan obat ini cukup efektif dan aman dalam menghilangkan gejala GERD
tetapi tidak menyembuhkan lesi esofagitis. Selain sebagai buffer terhadap HCl, obat
ini dapat memperkuat tekanan sfingter esophagus bagian bawah.
Antagonis reseptor H2
Sebagai penekan sekresi asam, golongan obat ini efektif dalam pengobatan
penyakit refluks gastroesofageal jika diberikan dosis 2 kali lebih tinggi dan dosis
untuk terapi ulkus.
Obat-obatan prokinetik
Secara teoritis, obat ini paling sesuai untuk pengobatan GERD karena penyakit
ini lebih condong kearah gangguan motilitas.
Metoklopramid
Obat ini bekerja sebagai antagonis reseptor dopamine. Efektivitasnya rendah
dalam mengurangi gejala serta tidak berperan dalam penyembuhan lesi di
esophagus kecuali dalam kombinasi dengan antagonis reseptor H2 atau penghambat
pompa proton.
Domperidon
Golongan obat ini diketahui dapat meningkatkan tonus LES serta mempercepat
pengosongan lambung
Cisapride
Efektivitasnya dalam menghilangkan gejala serta penyembuhan lesi esophagus
lebih baik dibandingkan dengan domperidon.
Sukralfat (Aluminium hidroksida + sukrosa oktasulfat)
Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan pertahanan mukosa esophagus,
sebagai buffer terhadap HCl di eesofagus serta dapat mengikat pepsin dan garam
empedu
Penghambat pompa proton (Proton Pump Inhhibitor/PPI)
Golongan obat ini merupakan drug of choice dalam pengobatan GERD.
Golongan obat-obatan ini bekerja langsung pada pompa proton sel parietal dengan
mempengaruhi enzim H, K ATP-ase yang dianggap sebagai tahap akhir proses
pembentukan asam lambung.
3. Operasi
Operasi adalah sangat efektif dalam menghilangkan gejala-gejala dan merawat
komplikasi-komplikasi dari GERD
Tekniknya dikenal sebagai fundoplication
• Edema laring
• Perforasi esofagus
• Aspirasi pneumonia
• Peradangan
• Pembentukan tukak
• Perdarahan
• Striktur
• Pembentukan jaringan parut.
• Bareett’s
• Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) adalah suatu keadaan patologis sebagai
akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus, dengan berbagai gejala yang
timbul akibat keterlibatan esofagus, faring, laring dan saluran nafas.
• Di Indonesia belum ada data epidemiologi mengenai penyakit ini, namun di Difisi
Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta didapatkan kasus esofagitis sebanyak 22,8% dari semua pasien yang
menjalani pemeriksaan endoskopi atas indikasi dispepsia.
• Kondisi penyakit refluks gastroesofagus atau GERD disebabkan aliran balik (refluks)
isi lambung ke dalam esophagus. GERD seringkali disebut nyeri ulu hati (heartburn)
karena nyeri yang terjadi ketika asam yang normalnya ada dilambung, masuk dan
mengiritasi atau menimbulkan rasa seperti terbakar di esophagus
• Gejala-gejalanya dapat mencakup heart burn(sensasi terbakar pada esofagus),
dispepsia, regurgitasi, disfagia, atau osinofagia (kesulitan menelan / nyeri saat
menelan), hipersalivasi, atau esofagitis. Gejala-gejala ini dapat menyerupai serangan
jantung.
• Pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas merupakan standar baku untuk
diagnosis GERD dengan ditemukannya mucosal break di esofagus (esofagitis refluks).