Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

MORBILI

DISUSUN OLEH :
YUNIASIH RESTU P, S.KED
Identitas Pasien
 Nama : Nn. I
 Umur : 17 Tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 Pekerjaan : Pelajar
 Alamat : RT.12 Olak Kemang
Latar Belakang sosial ekonomi
 Status Ekonomi Keluarga : Cukup
 Kondisi Rumah :
 Pasien tinggal di rumah semi permanen yang beratap
seng dan berlantai. Terdiri dari ruang tamu, ruang
keluarga, 3 kamar tidur, dapur dan kamar mandi.
Ventilasi rumah baik, dan pencahayaan juga baik.
Sumber air pasien dan kelurga menggunakan PDAM
 Kondisi Lingkungan : Rumahnya berada di
lingkungan yang padat penduduk .
 Aspek Psikologis Keluarga : Baik
 Keluhan Utama
 Demam sejak ± 4 hari yang lalu.
 Riwayat Penyakit Sekarang
 Pasien datang dengan keluhan demam sejak 4 hari yang lalu.
suhunya naik turun. Pasien berobat ke bidan dan diberi obat
penurun panas, tapi masih belum sembuh juga. Batu pilek (+)
sejak 5 hari yang lalu. Batuknya tidak berdahak pilek disertai
lendir encer, bening dan tidak ada darah.
 Pasien juga mengeluh timbul bercak-bercak kemerahan di
badannya dan terasa gatal. ± 2 hari ini bercak kemerahan
tersebut bertambah banyak dan hampir mengenai seluruh badan
pasien hingga wajah pasien, dan demam pun semakin tinggi.
Pasien mengaku sebelumnya tidak pernah mengalami gatal-gatal
seperti ini, dan pasien juga mengaku tidak ada memiliki riwayat
alergi.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Pasien tidak pernah mengalami sakit campak
sebelumnya.
 Riwayat alergi obat dan makanan disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


 Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan
yang sama seperti pasien.
Pemeriksaan Fisik
Kepala : normochepal
 Kesadaran : compos 

 Mata : ca-/-, si-/-, mata merah


mentis +/+, berair
Telinga : dbn
 Vital sign : 

 Hidung : sekret bening (+)


 N : 88 x/menit  Mulut : dbn
Leher : dbn
 RR : 22 x/menit 

 Thorax : dbn
 T : 37,4˚ C  Abdomen : dbn
Genitalia : tidak dilakukan
 Tinggi badan: 145cm 

 Anggota Gerak : akral hangat, RCT


 Berat Badan : 40 kg <2 detik, oedem (-)
 Kulit : ruam makulopapular (+)
 Gizi : cukup seluruh tubuh, ulkus (-), petechiae (-
)
Diagnosis
 Morbili

Diagnosis Banding
 Rubella
 Demam tifoid
Tatalaksana
Manajemen
 Promotif :
 Minum banyak air putih dan makan bergizi
 Jika demam turun, mandi untuk mengurang rasa
gatal-gatal. Sebaiknya campurkan larutan
antiseptic (dettol, betadine,) pada air mandi.
 Pakai handuk terpisah dengan anggota keluarga
yang lain
 Jagalah kebersihan dan sanitasi lingkungan
Preventif :
 Terapi suportif seperti istrahat yang cukup dapat
mempercepat kesembuhan pasien.
 Perbaikan nutrisi dengan makan makanan yang
sehat.
Kuratif :
 Non Farmakologik
 Tirah baring

 Farmakologik
 Paracetamol 3 x 500 mg
 Ctm 3x1 tab
 GG 3x1 tab
 Vit B complex 3x1 tab
 Vit A (merah)
 Salicil talk
 Obat Tradisional :
 Bahan-bahan :
 200 gram wortel, 60 gram sawi tanah segar,15 gram
daun ketumbar, 150 gram tebu
 Cara pemakaian :
 Semua bahan di cuci bersih, kemudian di potong-
potong dan di buat jus, minum 2 kali sehari.
 Rehabilitatif :
 Minum obat sesuai anjuran.
 Meningkatkan makanan bergizi agar kekebalan tubuh
meningkat
Resep Dinas Kesehatan Kota Jambi
Puskesmas Olak kemang
dr. Yuni SIP. G1A215030 STR 016/47/2016

Tanggal : 11 Juli 2016


R/ Paracetamol mg 500 tab No. IX
S 3 dd tab 1
R/ CTM tab No IX
S 3 dd tab 1
R/ Vit B Complex tab No IX
S 3 dd tab 1
R/ Vit A (merah) No IX
S 3 dd tab 1
Pro : Nn. I Umur : 17 Tahun

Resep tidak boleh di tukar tanpa sepengetahuan dokter


TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
 Campak atau morbili adalah suatu infeksi virus akut
yang memiliki 3 stadium yaitu Stadium inkubasi,
Stadium prodromal dan Stadium erupsi.
 Transmisi campak terjadi melalui udara, kontak
langsung maupun melalui droplet dari penderita.
Penderita masih dapat menularkan penyakitnya mulai
hari ke-7 setelah terpajan hingga 5 hari setelah ruam
muncul. Biasanya seseorang akan mendapat kekebalan
seumur hidup bila telah sekali terinfeksi oleh campak
 Etiologi :
 virus RNA famili paramyxoviridae dengan
genus Morbili virus.
Gejala klinis
 Stadium inkubasi
 Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari).
pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif,
penderita tidak menampakkan gejala sakit.
 Stadium prodromal
 Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium
prodromal yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari
gejala klinik khas berupa batuk, pilek dan konjungtivitis, juga demam
 Stadium erupsi
 Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi
yaitu pada saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala
gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39,5˚C.
 Penatalaksanaan
• Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat
• pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi,
• antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder,
• anti konvulsi apabila terjadi kejang,
• antipiretik bila demam,
• vitamin A 100.000 Unit untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun dan
200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun. Vitamin A diberikan untuk
membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak,
menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk meningkatkan
titer IgG dan jumlah limfosit total.
ANALISA KASUS
Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan
lingkungan sekitar
 Pasien tinggal di rumah semi permanen. Rumah tersebut di
huni oleh 6 orang yang terdiri dari pasien, ibu, adik pasien,
nenek, kakek, dan paman pasien. Keadaan rumah pasien,
untuk pencahayaan bagus, dan ventilasi juga banyak.
Rumah terkesan bersih.
 Tetapi pada kasus ini tidak ada hubungan antara diagnosis
dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar pasien
 Tidak ada hubungan antara penyakit yang diderita pasien
dengan keadaan rumah pasien dan lingkungan sekitar.
Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan
hubungan keluarga
 Tidak ada hubungan antara penyakit yang diderita
pasien dengan keadaan keadaan keluarga dan
hubungan keluarga.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam


keluarga dan lingkungan sekitar
 Tidak ada hubungan antara diagnosis dengan perilaku
kesehatan dalam keluarga dan lingkungan sekitar
Analisis kemungkinan berbagai faktor resiko atau etiologi
penyakit pada pasien ini
 Penyebaran virus maksimal adalah melalui percikan ludah
(droplet) dari mulut selama masa prodormal (stadium kataral).
Penularan terhadap penderita rentan sering terjadi sebelum
diagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi
menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan, pada
beberapa keadaan dapat menularkan hari ke 7.
 Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa kemungkinan faktor
yang menyebabkan pasien menderita campak karena ada
tetangganya atau dari teman yang menderita keluhan yang
sama seperti pasien.
Analisis untuk mengurangi paparan / memutus rantai penularan
dengan faktor resiko atau etiologi pada pasien ini
 Pasien dan keluarga kita edukasi agar pasien diisolasikan karena
penyakit campak mudah menular misalnya peralatan makan dan
peralatan mandi yang berisiko menularkan virus lewat kontak
langsung
 Jika demam turun, mandi untuk mengurang rasa gatal-gatal. Kalau
tidak dimandikan dkhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh
anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya
menggaruk kulit dengan tangan yang tidak bersih dan terjadi
infeksi. Sebaiknya campurkan larutan antiseptik (dettol, betadine)
pada air mandi.
 Istirahat dan makan-makanan bergizi dan hindari makanan yang
bisa merangsang timbulnya batuk seperti gorengan
 Jagalah kebersihan dan sanitasi lingkungan
 Hindari kontak langsung dengan penderita campak
Daftar Pustaka
 Phillips C.S. 1983. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds) Nelson Textbook of
Pediatrics. 12th edition. Japan. Igaku-Shoin/Saunders. p.743
 T.H. Rampengan, I.R. Laurentz. 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 90
 Soegeng Soegijanto. 2002. Campak. dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk.
(ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai
Penerbit FKUI. Hal. 125
 Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook
of Pediatrics Infectious Disease. 5th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 –
2298
 Alan R. Tumbelaka. 2002. Pendekatan Diagnostik Penyakit Eksantema Akut dalam:
Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi &
Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 113
 Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed) Buku
Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal.
105