Anda di halaman 1dari 81

PERAWATAN DAN PERBAIKAN

RANGKAIAN ELEKTRONIKA
PERAWATAN DAN PERBAIKAN
RANGKAIAN ELEKTRONIKA

MATERI I
PERAWATAN RANGKAIAN ELEKTRONIKA
A. PENGERTIAN PERAWATAN

Suatu kegiatan untuk memelihara atau menjaga


fasilitas atau peralatan dan mengadakan perbaikan
atau penggantian mengikuti cara tertentu untuk
menghindari kegagalan ber-dasarkan keandalan
masingmasing komponen, sehingga terdapat suatu
keadaan operasi pe-ralatan yang efektif dengan
hasil kerja alat yang optimal.
B. TUJUAN PERAWATAN

1. Memperpanjang usia pakai peralatan,


2. Menjamin daya guna dan hasil guna,
3. Menjamin kesiapan operasi atau siap
pakai peralatan, dan
4. Mmenjamin keselamatan orang yang
menggunakan peralatan.
C. Jenis Aktifitas Perawatan

1. Tidak Terencana
Diperlukan pada saat terjadinya kondisi da-
rurat, misalnya saat pelaksanaan praktikum
pengukuran atau pengujian rangkaian elek-
tronika terjadi kerusakan/kerja alat yang tidak
normal, alat pengaman (fuse) putus, instalasi
pengawatan terbakar karena usia dan me-
mungkinkan dapat ditangani secara darurat.
lanjutan

2. Terencana
Aktifitas perawatan yang dilakukan dalam
bentuk korektif dan preventif.
Kegiatan perawatan preventif dilakukan baik
secara terjadwal maupun tidak terjadwal.
Kegiatan perawatan preventif diperlukan untuk
pemantauan kondisi peralatan sebelum dipakai.
Kegiatan Perawatan Preventif

Perawatan preventif dalam pengertian yang luas,


meliputi aspek rekayasa (engneering) dan mana-
jemen.

Perawatan preventif bidang rekayasa dapat berupa


pendeteksi dan koreksi penggunaan peralatan pada
saat peralatan dipakai, seperti kalibrasi alat ukur dan
modul elektronika sebagai trainer secara penciuman
dan penglihatan terdeteksi terjadinya arus lebih atau
hubung singkat.
lanjutan

Grafik Pola Kerusakan Alat pada Umumnya


Perawatan Korektif

Aktifitas perawatan korektif berkaitan dengan deteksi


kerusakan, penentuan lokasi kerusakan, dan perbaikan
atau penggantian bagian yang rusak

Langkah-langkah perawatan korektif meliputi; deteksi,


dan menentukan kerusakan dan metode perbaikan.

Kegiatan deteksi dilakukan dengan cara memeriksa


fungsi, kinerja dan membandingkan dengan spesifikasi
alat.
Alat/Bahan Keperluan Perawatan

Alat/bahan dalam aktifitas perawatan rangkaian


elektronika dapat digunakan semua jenis yang bersifat
membantu kerja.
Peralatan yang dibutuh dapat berupa buku manual
perawatan, peralatan uji meliputi multimeter,
osiloskop, logic probe, dan peralatan khusus untuk
kalibrasi alat ukur.
Peralatan mekanik meliputi toolset, solder dan keleng-
kapannya. Peralatan pendukung lainnya dapat berupa
cairan pembersih mekanik untuk komponen yang se-
ring digerakkan seperti pontensiometer.
lanjutan

Peralatan mekanik meliputi toolset,


solder dan kelengkapannya.

Peralatan pendukung lainnya dapat


berupa cairan pembersih mekanik untuk
komponen yang sering digerakkan
seperti pontensiometer.
PERAWATAN DAN PERBAIKAN
RANGKAIAN ELEKTRONIKA

MATERI II
PELACAKAN KERUSAKAN RANGKAIAN
ELEKTRONIKA
A. Proses Pelacakan Kerusakan

Banyak teknik pelacakan kerusakan dapat


digunakan dalam bidang elektronika.

Proses pelacakan kerusakan secara umum dapat


dilakukan melalui pengamatan fisik, mengenali
gejala kerusakan, melakukan pengujian
komponen dan pemeriksaan input output tiap
blok.
lanjutan

Setiap blok rangkaian terdiri atas ratusan atau


ribuan komponen. Proses pelacakan dengan
memeriksa melalui pengujian untuk masing-
masing komponen pasti tidak mudah.

Secara sistematis, proses pelacakan kerusakan


diawali dengan melakukan analisis dilengkapi
dengan diagram alir sebagai petunjuk menen-
tukan gejala kerusakan yang terjadi.
Spesifikasi Komponen Elektronika

Pelacakan kerusakan rangkaian elektronika


dapat dikenali melalui data spesifikasi kom-
ponen yang digunakan.

Penggunaan lembar spesifikasi komponen


akan membantu proses pelacakan dalam
mengenali tentang pemakaian, batas mak-
simum mutlak, dan batas data kelistrikan
penting lainnya.
Keandalan dan Kegagalan
Keandalan dan Kegagalan memiliki hubungan erat
terhadap pelacakan kerusakan.

Suatu rangkaian elektronika yang memiliki ke-


andalan yang teruji, tidak terlalu sering mengalami
kerusakan.

Sebaliknya rangkaian elektronika yang memiliki


keandalan yang rendah akan mengalami kegagal-
an. Saat terjadi kegagalan diperlukan proses
pelacakan kerusakan.
lanjutan

Pada prinsipnya tidak ada peralatan yang


dapat bekerja secara sempurna sepanjang
waktu, mes-kipun kualitas dan teknologinya
canggih.
Pengetahuan tentang kualitas peralatan elektro-
nika sesuai kemampuan masing-masing kompo-
nen yang memenuhi spesifikasi dapat digunakan
untuk menentukan keandalan kualitas terhadap
waktu.
Tahap kegagalan rangkaian elektronika

1. Tahap kegagalan dini (infant mortality)


Kegagalan peralatan sesaat setelah alat ter-
sebut dibuat dan dikirimkan ke pelanggan.

2. Tahap kegagalan normal


Kegagalan faktor usia kerja peralatan elektroni-
ka. Pada umumnya laju kegagalan normal me-
miliki angka persentase paling rendah.
lanjutan

3. Kegagalan tahap akhir


Periode suatu peralatan mengalami laju ke-
gagalan paling tinggi.
Penyebabnya adalah faktor usia kerja alat
sudah berakhir.
Cepat tidaknya suatu peralatan memasuki
tahap akhir kegagalan tergantung pada cara
pemeliharaan peralatan selama digunakan.
Kegagalan Parsial

Perubahan karakteristik atau parameter di luar batas


spesifikasi, namun tidak sampai mengurangi fungsi
alat secara menyeluruh.

Jenis kegagalan ini disebabkan oleh satu faktor, misal-


nya pada rangkaian elektronika terdapat rangkaian
pembangkit frekuensi yang masih berfungsi meng-
hasilkan sinyal, namum nilai frekuensi yang dihasilkan
tidak sesuai dengan posisi batas ukurnya.
Kecepatan Kegagalan (FR) Komponen

Kerusakan rangkaian elektronika yang bersifat


kompleks membutuhkan waktu dan melelahkan
bila tidak dibarengi pengetahuan tentang usia
pemakaian komponen.
1. Mean Time To Fail (MTTF) adalah lamanya
pemakaian komponen sampai dicapai
kegagalan. MTTF digunakan untuk menghitung
usia komponen elektronika yang tidak dapat
direparasi.
lanjutan

Formula penghitungan diberikan oleh rumus:


lanjutan
lanjutan
lanjutan

Sebuah resistor karbon film merupakan komponen yang


tidak bisa diperbaiki bila telah tejadi kerusakan. Nilai FR
diperoleh dari tabel FR sebesar 0,2 x 10 –6/ jam. Lama
masa pakai komponen resistor;

Angka usia yang diperoleh sangat panjang untuk


sebuah komponen yang berdiri sendiri (belum
menyatu dalam sebuah rangkaian).
lanjutan

2. Mean Time Between Failures (MTBF)


Lamanya pemakaian suatu sistem sampai
dicapai kegagalan. MTBF digunakan untuk
rangkaian yang dapat diperbaiki, seperti
instrumen dan sistem.
Formula penghitungan diberikan oleh rumus:
lanjutan

Suatu rangkaian dibentuk oleh 4 buah resistor


karbon film, 2 buah kapasitor elektrolit, 2 buah
LED dan 2 buah transistor < 1 Watt.
Berdasarkan tabel FR, diperoleh data:
Resistor karbon film = FR(A) = 0,2×10-6/jam
Kapasitor elektrolit = FR(B) = 1,5×10-6/jam
LED = FR(C) = 0,1×10-6/jam
Transistor < 1 Watt = FR(D) = 0,08×10-6/jam
lanjutan

Lamanya pemakaian suatu sistem sampai dicapai


kegagalan.
FR(rangkaian) = FR(A) + FR(B) + FR(C) + FR(D)
FR(rangkaian) = [(4×0,2)+(2×1,5)+(2×0,1)+(1×0,08)]×10-6/jam
FR(rangkaian) = 4,16×10-6/jam
MTBF(rangkaian) = 1/ FR(rangkaian) =240384,615jam = 10016 hari

Angka MTBF yang diperoleh memberikan interpretasi


bahwa komponen dalam rangkaian memiliki tingkat
kegagalan/kerusakan akan jauh lebih kecil dibandingkan
kegagalan sebuah komponen berdiri sendiri.
Hukum Eksponen Keandalan

Hukum Eksponen Keandalan menyatakan


bahwa peluang tidak adanya kegagalan
sistem dalam waktu t merupakan fungsi
eksponensial dari waktu tersebut.
Makin lama sistem dioperasikan, keandalan-
nya akan menjadi berkurang dan peluang
kegagalan (Q) akan naik.
lanjutan
Formula peluang kegagalan (Q) dinyatakan dengan
persamaan:

Hubungan antara keandalan (R) dan laju kegagalan


sistem (λ) dituliskan dengan persamaan:
lanjutan
Suatu sistem radar mempunyai estimasi MTBF
10.000 jam. Peluang keberhasilan untuk waktu
misi:
t = 100, Peluang keberhasilan R =e-0,01 =0,99 = 99%,
t = 2000, Peluang keberhasilan R =e-0,2 =0,819 = 81,9%,
t = 5000, Peluang keberhasilan R =e-0,5 =0,607 = 60,7%,

Nilai R tak mungkin berharga 1, data ini


memberikan interpretasi bahwa sistem radar
tak pernah gagal.
Memperbaiki keandalan (R)

Derating: mengoperasikan komponen di


bawah batas maksimumnya.

Contohnya: menggunakan resistor ½ Watt


untuk rangkaian yang sebenar-
nya hanya butuh resistor ¼ Watt.
lanjutan

Redundancy: Menyambungkan suatu unit ke unit


yang lain dengan fungsi yang sama, sehingga kalau
yang satu gagal yang lain akan mengambil alih
fungsi yang lain. Biasanya unit ini terpasang secara
parallel.
Terdapat dua cara redundancy:
Aktif: bila suatu unit stand by hidup mengikuti
suatu kegagalan.
lanjutan
Contoh: UPS terpasang pada komputer, lampu
darurat AC yang selalu siap menyala
apabila tegangan AC mati.

: bila elemen-elemen bersekutu mem-


bagi beban atau melaksanakan
fungsi-nya secara terpisah.
Contoh: generator pada gedung perkantoran yang
tersedia tapi tidak dijalankan dan tidak
otomatis.
Metoda-Metoda Pelacakan Kerusakan

Pemilihan metoda yang sesuai dalam


mencari kerusakan akan dapat menentukan
efisiensi kerja.
Beberapa teknik yang bisa digunakan, antara lain:
• Symptom-function,
• Signal-tracing,
• Metoda tegangan dan hambatan
• Metoda Half-splitting,
• Metoda Pemutusan Lup, dan
• Metoda substitusi.
Metoda Symptom-function

Metoda Symptom-function (fungsi gejala)


diperlukan untuk mengisolir kerusakan pada
bagian tertentu.

Saat mengoperasikan rangkaian elektronika


ternyata tidak bekerja (gejalanya), periksa kabel
power, terhubung atau terputus, fuse putus, dan
mungkin saklar tidak bekerja dengan baik dan
seterusnya.
Metoda Signal-tracing

Metoda Signal-tracing dipakai untuk menemukan


blok tertentu penyebab kegagalan pemakaian.

Metode signal-tracing pasif


lanjutan
Metode signal-tracing Aktif
Metoda Tegangan dan Hambatan
Metoda Tegangan dan Hambatan digunakan
untuk menunjukkan dengan tepat suatu kompo-
nen atau kerusakan rangkaian dengan cara mem-
bandingkan data hasil ukur terhadap data spesifi-
kasi komponen yang dikeluarkan perusahaan
pembuat.
Pemeriksaan rangkaian elektronika yang dicurigai rusak,
pada umumnya dilakukan pengukuran tegangan dan
resistansi.
Pengukuran tegangan memerlukan peralatan dalam kondisi ON.
Pengukuran resistansi dilakukan pada saat peralatan dalam kondisi OFF.
Metoda Half-splitting

Digunakan untuk rangkaian dengan


blok-blok tersusun seri.
Pelacakan dilakukan untuk setengah sistem dan
secara berturut-turut dilakukan untuk setengah
sistem yang lainnya sampai kerusakan ditemukan.
Metoda Pemutusan Lup

Sistem atau subsistem elektronik dengan


umpan-balik sangat sulit dilacak. Metoda
pemutusan lup digunakan untuk melacak
kerusakan pada rangkaian elektronika
dengan cara memutuskan lup.

Tegangan DC atau sinyal yang sesuai diinjeksikan


pada titik tempat lup terputus. Variasikan besaran
tegangan dari keadaan normal untuk melihat
perubahan respon rangkaian.
lanjutan

Teknik pemutusan lup dapat digunakan


misalnya pada sebuah PLL (phase lock loop)
Metoda Substitusi

Metoda substitusi biasanya memerlukan


penyolderan atau penggantian komponen
sebagai tahap akhir dari proses pelacakan
kerusakan.

Dua tahap pokok dalam metoda substitusi yang


harus dilakukan, yakni penggunaan komponen
pengganti yang benar dengan hubungan rangkai-
an yang benar.
lanjutan

Sebelum melakukan penggantian, disarankan


untuk melakukan pemeriksaan dengan metoda
lain, seperti yang telah diuraikan sebelumnya,
sehingga yakin komponen mana yang mengalami
kerusakan.
Analisa Problem Solving

Digunakan untuk menghadapi sistem


elektronik yang kompleks dengan kerusakan
yang berulang.

Analisis problem solving:


1. Metoda analisis kegagalan,
2. Metoda analisis sinyal,
3. Metoda analisa logika, dan
4. Metoda diagnosa rutin.
lanjutan

Analisa Problem Solving dengan metode analisis


kegagalan dan analisis sinyal dapat dipakai untuk
semua tipe sistem;

Analisa Problem Solving dengan metode analisis


sinyal, analisa logika dan diagnosa rutin terbatas
untuk sistem digital dan dapat dipakai khusus
untuk macam-macam komputer digital.
Analisis Kegagalan

Digunakan ketika kegagalan berulang pada


suatu rangkaian yang disebabkan pada
kerusakan komponen

Tiga langkah penting yang perlu dilakukan


dalam analisis kegagalan; analisis cara kerja
rangkaian, melakukan pengukuran dan
mempelajari data produk.
lanjutan

Contoh yang paling sederhana diterapkan pada


rangkaian dasar regulator DC.

Q1 selalu mengalami kerusakan setelah diganti dua kali


Analisis Sinyal

Metoda analisis sinyal dapat membantu


dalam membuat analisis, bila sinyal yang
diamati dapat memberikan petunjuk
tentang lokasi kerusakan.
Metode ini biasanya memerlukan sebuah osiloskop memori
atau peralatan lain yang dapat menvisualisasikan sinyal.

Analisis Sinyal tanpa alat bantu akan


membingungkan.
Analisis Logika

Analisis logika terbatas untuk rangkaian digital dan


dapat menangani analisis dari yang paling sederha-
na, pengujian bit-per-bit untuk Test-Word dan
dengan menggunakan peralatan otomatis peng-
analisis logika.

Metoda analisis logika menggunakan sinyal digital


satu dan nol, untuk menentukan fungsi logika yang
mengalami kerusakan.
lanjutan
Diagnosa Rutin
Diagnosa rutin digunakan pada bagian program
tes-diri komputer dan dapat dipanggil untuk
membuat pemeriksaan secara cepat
pada bagian sistem komputer.
Bagian atau peripheral yang akan dites harus diketahui, agar dapat
dipilih diagnosa rutin yang tepat. Diagnosa rutin juga dapat
menge-tahui bagian dasar dari sistem komputer yang mengalami
gangguan.
Diagnosa rutin hanya dapat digunakan pada sistem yang
minimum mempunyai sebuah mikroprosesor yang dapat
diprogram.
PERAWATAN DAN PERBAIKAN
RANGKAIAN ELEKTRONIKA

MATERI III
KERUSAKAN DAN PERBAIKAN
RANGKAIAN ELEKTRONIKA
Setiap komponen elektronika bersifat pasif dan
aktif memiliki keterbatasan dalam pemakaian

Bagian penting dalam mencari kerusakan adalah


memahami dengan baik tentang komponen dan
keterbatasannya
Kesalahan yang terjadi kebanyakan pada saat
mengoperasikan komponen diluar batas kemampuan.
Komponen Pasif
Komponen pasif rangkaian elektronika terdiri atas
resistor, kapasitor dan induktor.
Komponen induktor dalam pemakaian pada rang-
kaian elektronika jarang mengalami kerusakan.

Kerusakan dan Perbaikan Komponen Resistor


Setiap resistor ketika beroperasi akan mendisipasikan
daya. Kenaikan temperatur yang disebabkan oleh daya
yang didisipasikan akan maksimum ditengah-tengah badan
resistor, ini disebut “Hot spot temperature”.
lanjutan

Tabel Kegagalan-Kegagalan pada Resistor-Resistor Tetap


lanjutan

Tabel Kegagalan-Kegagalan pada Resistor-Resistor Tetap


lanjutan

Tabel Kegagalan-Kegagalan pada Resistor-Resistor Tetap


lanjutan

Kecepatan kegagalan pada resistor variabel


lebih tinggi dari pada jenis resistor tetap

Potensiometer mempunyai kecepatan kegagalan


pada umumnya kira-kira 3×10-6 perjam, tetapi
angka-angka itu berubah bergantung pada
metode yang digunakan oleh pabriknya
lanjutan

Kerusakan yang terjadi pada sebuah potensiometer


bisa sebagian atau total.
1. Kerusakan sebagian disebabkan oleh kenaikan
resistansi kontak yang menimbulkan kenaikan
noise kelistrikan.
Bentuk lain kegagalan sebagian disebabkan oleh
kontak putus karena debu, minyak gemuk kering
terkumpul antara kontak geser dan jalur.
Diatasi dengan bahan pembersih seperti contact
cleaner.
lanjutan

2. Kerusakan total disebabkan sirkit terbuka di-


antara jalur dan sambungan ujung-ujungnya
atau antara kontak geser dan jalur.

Penyebab: perkaratan bagian logam karena


kelembaban, atau pembengkakan logam atau
plastik yang terjadi saat penuangan jalur yang
menggunakan temperatur tinggi.
lanjutan
Kerusakan dan Perbaikan Komponen Kapasitor

Kapasitor merupakan komponen yang dapat


diandalkan karena memiliki tingkat kegagalan yang
rendah terutama.
Umur kapasitor dapat diperpanjang dengan cara:

a. dioperasikan di bawah batas tegangan yang diperbolehkan.

b. dioperasikan pada temperatur ambient yang rendah, dengan


menurunkan temperatur 10ºC dapat melipatkan umurnya
dua kali lebih panjang.
lanjutan

Jenis Kerusakan Kapasitor

1. Katastrofik (mendadak dan total) dalam bentuk:

a. hubung singkat disebabkan dielektrik


tembus,

b. sirkit terbuka yang disebabkan kerusakan


pada penyambung ujung lepas.
lanjutan

2. Degradasi: Kerusakan secara berangsur-


angsur dan dalam bentuk:

a. Penurunan resistansi dari isolasi atau


kenaikan arus bocor pada jenis elektrolit
secara berangsur-angsur,

b. Kenaikan resistansi seri yang disebabkan


oleh kenaikan faktor disipasi.
lanjutan

Tabel Kerusakan Kapasitor dan Penyebabnya.


lanjutan

Tabel Kerusakan Kapasitor dan Penyebabnya.


lanjutan
Kerusakan dan Perbaikan Komponen Aktif
Komponen aktif rangkaian elektronika:
1. Semikonduktor bipolar: dioda, transistor, ujt, IC logika
dan IC linear
2. Semikonduktor unipolar: FET, MOSFET, VMOS, CMOS
dan IC linear
Mudah terjadi kerusakan kalau mendapat
beban lebih
Kemungkinan kerusakan yang terjadi dalam bentuk
hubung singkat dan terbuka pada junction
lanjutan

Penyebab kerusakan semikonduktor:


1. kerusakan mekanis,
2. salah pemakaian, dan
3. bahaya lingkungan

Kerusakan mekanis saat fabrikasi disebabkan oleh


proses-proses difusi, proses metalisasi dan proses
mekanis.
lanjutan

Kerusakan salah pemakaian meliputi kerusakan


yang disebabkan oleh melewati tegangan catu,
arus dan daya maksimum, memasukan atau
mencabut IC saat tegangan hidup

Kerusakan yang disebabkan bahaya lingkungan


meliputi interferensi kelistrikan, kejutan tegangan
oleh mesin atau relay, dan medan magnetik
lanjutan

Kerusakan dan Perbaikan


Rangkaian Elektronika
Kegiatan perbaikan rangkaian elektronika:
1. kegiatan pelacakan kerusakan dengan
menggunakan berbagai metoda,
2. melakukan pengukuran dan pengujian,
3. melakukan perbaikan (pergantian).
PERAWATAN DAN PERBAIKAN
RANGKAIAN ELEKTRONIKA

MATERI IV
MANAJEMEN PERAWATAN DAN PERBAIKAN
Penerapan sistem perawatan dan
perbaikan secara sistematis dan
terprogram pada dasarnya merupa-
kan penerapan sistem manajemen
untuk seluruh pekerjaan perawatan
dan perbaikan
lanjutan

Aktifitas perawatan dan perbaikan secara


sistematis dan terprogram dengan mengikuti cara
tertentu dapat menghindari beberapa bentuk
kerugian, antara lain;
1. rugi waktu karena pekerjaan yang tertunda,
2. produktifitas turun,
3. efisiensi turun, dan
4. menambah biaya operasional.
lanjutan

Secara umum prinsip manajemen


terdiri atas unsur:
1. perencanaan,
2. perorganisasian pelaksanaan pekerjaan,
3. pelaksanaan pekerjaan dan pelaporan,
4. audit dan evalusi.
Perencanaan Pekerjaan
Pekerjaan perawatan yang
terencana akan mendapatkan hasil
yang baik dan optimal

Untuk itu diperlukan format khusus


yang digunakan untuk membuat
perencanaan.
lanjutan

Isi format perencanaan pekerjaan


perawatan memuat tentang:

1. Jenis atau tipe pekerjaan,


2. Sifat atau level pekerjaan,
3. Tenaga pelaksana yang diperlukan,
4. Material atau suku cadang yang diperlukan,
5. Waktu atau lama pengerjaan, dan sebagai-
nya.
Perorganisasi Pelaksanaan Pekerjaan

Koordinasi pekerjaan pemeliharaan yang


terorganisir akan membantu percepatan
penyelesaian pekerjaan
Pengorganisasi pelaksanaan pekerjaan membu-
tuhkan koordinasi yang melibatkan semua bagian,
misalnya:
1. front office,
2. bagian bengkel,
3. gudang,
4. administrasi dan keuangan.
lanjutan

Seorang perencana untuk


mempermudah pekerjaan membuat
suatu mekanisme kerja pemeliharaan
dengan menggunakan sarana yang
disebut Perintah Kerja (Work Order)

Seluruh prosedur pelaksanaan pekerjaan


harus ditaati oleh seluruh karyawan.
Pelaksanaan Pekerjaan dan Pelaporan

Jenis pelaporan dari pelaksanaan pekerjaan


1. Volume pekerjaan yang berkaitan dengan waktu dan
jumlah pekerja.
2. Bahan atau material yang berkaitan ketersediaan suku
cadang (industri) dan ketersediaan dana (sekolah)
Audit dan Evaluasi

Kegiatan audit dan evaluasi terhadap seluruh


pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan di-
lakukan setelah seluruh pekerjaan selesai
dikerjakan

Tujuan Audit dan Evaluasi


untuk selalu menjaga kualitas dan kinerja,
baik pada lembaga industri maupun
lembaga pendidikan
TIM PPG PRODI TEKNIK ELEKTRONIKA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG