Anda di halaman 1dari 22

Etika Konselor

1
Kegiatan

3
Isu Etik Dalam Prevensi
dan Layanan HIV
 HIV merupakan subyek sangat peka bagi
individu dan masyarakat.
 Mungkin tak ada area yang demikian
memerlukan profesionalitas, perhatian
tinggi akan etik dan kepekaan klien
dibanding sexual medicine .
 Tanggung jawab klien vs tanggung jawab
kesehatan publik (juga dalam hukum dan
kebijakan).
4
Contoh Isu Etik
 Klien yang menolak menghentikan perilaku
risiko tinggi.
 Klien yang hasil tes + dan tak ingin tahu
hasil
 Klien HIV positif yang menolak
memberitahukan kepada pasangan
seksualnya.
 Kemungkinan pengambilan sampel darah
untuk tes HIV dalam rangka program
penelitian anonimus.

5
Kode Etik Konselor
 Kerangka tata nilai dasar konseling.
– Setiap negara perlu mengembangkan
pedoman etik dan tata cara yang
bberkaitan dengan praktek konseling,
termasuk VCT.

 Standar yang harus dipenuhi konselor


dan klien agar tercapai tujuan.
6
PRINSIP POKOK ETIK
 Konselor memastikan klien tak menderita
gangguan fisik atau secara psikologik
membahayakan selama proses konseling.
 Dilakukan secara profesional.
 Klien senantiasa harus dihormati.
 Konselor bertanggung jawab atas
keamanan dirinya.
 Konselor bertanggung jawab terhadap
masyarakat dan bekerja mematuhi hukum
7
PRINSIP POKOK ETIK
 Konselor memastikan diri telah
melaksanakan pelatihan cukup sehingga
memperoleh ketrampilan konseling.
 Konselor bekerja sesuai kemampuan,
memantau kompetensinya, dan
melaksanakan rujukan sesuai kebutuhan.
 Konselor mengenali keterbatasan dirinya
dan melaksanakan layanan hanya dibidang
yang dikuasainya.
8
PRINSIP POKOK ETIK
 Konselor juga bertanggung jawab
untuk konselor lainnya dan saling
mengkoreksi bila dijumpai kesalahan.
 Konselor bertanggung jawab kepada
klien dan institusi tempat kerjanya.
 Konselor harus mampu mendorong
klien mengontrol hidupnya sendiri.

9
Informed Consent –
Penjelasan Karakteristik
 Klien memberikan ulasan rinci secukupnya
tentang apa yang disetujui dan risiko yang
menyertainya.
 Klien mampu memahami apa yang
dikatakannya : dalam hal umur, kapasitas
intelektual atau status psikiatrik.
 Tidak ada pemutar balikkan. Tak ada
paksaan, tak ada tekanan, meskipun
menurut konselor itu untuk kebaikan klien
10
Informed Consent –
Penjelasan Karakteristik
 Tak ada pemutar balikan.
– Misal Tak ada paksaan atau tekanan,
sekalipun menurut konselor itu untuk
kebaikan klien.
– Ketidak setaraan relasi antara
konselor/pekerja kesehatan dan klien 
klien merasa tak mampu mengambil
keputusannya sendiri.
– Karenanya, tugas dilaksanakan dengan
jujur dan informasi obyektif.
11
Confidential
 Consent harus selalu dilakukan ketika
status HIV klien diungkapkan kepada
pihak ketiga.
– Tertulis atau verbal, dan dicatat di catatan
medik.
 Konselor harus mengambil langkah
beralasan untuk mengkomunikasikan
perluasan confidential yang
ditawarkannya pada klien.
12
Membagi confidential
 confidential diberikan pada orang lain.
 Harus dengan persetujuan klien.
 UNAIDS dan WHO membuat program
etika konseling pasangan yang
membutuhkan konseling serius dan
persuasi menuju konseling dengan
pasangan.

13
Ketika confidential dibuka

 Menimbulkan efek psikososial


 Menimbulkan stigma dan diskriminasi.
 Penyangkalan akses ke layanan medik.
 Rusaknya hubungan keluarga dan
personal.
 Kehilangan pekerjaan.

14
Tes HIV tanpa consent

 Meski dalam keadaan gawat darurat, tak ada


alasan untuk melakukan tes tanpa izin klien
– Risiko pajanan kerja HIV sangat kecil, dg
mematuhi UP.
– Semua petugas kesehatan harus mempraktekan
universal precautions setiap kali sepanjang
waktu.
– Dalam keadaan gawat, tak cukup waktu
menunggu hasil tes sebelum tindakan.
– Masa jendela berarti hasil tes tak selalu
menunjukkan status-sero seseorang. 15
Tes wajib tidak dibenarkan
 Tes wajib tanpa izin :
– Tak membuat orang mengubah perilaku berisikonya.
– Tes tanpa konseling akan membuat klien yang
hasilnya positif mengalami pukulan yang dapat
membuat ia melakukan tindak kekerasan terhadap
diri dan orang lain.
– Memaksa tes untuk pegawai baru atau militer tidak
memastikan mereka bebas HIV,sebab HIV dapat
datang kapan saja, juga saat mereka sudah diterima
kerja.

16
Pengungkapan hasil kepada
orang lain tanpa izin
Situasi saat mana kemungkinan pengungkapan
tanpa izin diperkenankan :
1. Penjelasan kepada pasangan
Ketika odha terus melakukan tindak yang
mengancam kesehatan oranglain
– mis. Seks tak aman dengan pasangan
– Kebijakan UNAIDS dan WHO jika klien menolak
untuk mengungkapkan pada pasangan, peraturan
kesehatan seharusnya mengizinkan petugas
kesehatan memutuskan memberitahukan atau tidak
status sero seseorang kepada pasangan seksual.
17
1. Penjelasan kepada pasangan
(lanjutan)
 Keputusan memberitahu kepada
pasangan hanya dilakukan bila :
– Klien telah dikonseling demikian rupa dan
tetap tak mengubah perilaku berisikonya.
– Klien menolak memberitahu pasangan.
– Terjadi penularan HIV secara nyata
– Simpan identitas pasangan sejauh dapat
dilakukan.
– Berikan terus dukungan tindak lanjut. 18
Pengungkapan hasil kepada
orang lain tanpa izin
2. Pengungkapan status oleh staf medik – Jika
konselor dan petugas kesehatan membutuhkan
status dibuka kepadanya berkaitan dengan
pemberian terapi yang sesuai.

3. Keamanan publik – Jika konselor patut


menduga bahwa klien akan menyebabkan
gangguan fisik serius pada diri dan orang lain

19
Pengungkapan hasil kepada
orang lain tanpa izin

4. Dibutuhkan oleh hukum – ketika pihak


hukum seperti pengadilan
memerlukannya,mis kasus perkosaan

5. Ketika konselor yakin bahwa klien tak


mampu lagi bertanggung jawab atas
tindakan dan keputusannya
20
Dilemma etik pemecahan
masalah
 Suatu saat terjadi konflik antara etik dan diri.
– Pahami betul kerangka kerja etik dan hukum
dalam melaksanakan VCT.
– Pahami betul situasi tertentu tersebut,
pertimbangkan secara hati-hati.
– Diskusikan dengan konselor supervisor atau
berpengalaman (tetapi tetap jaga
kekonfidensialan )
– Cari rujukan pada pedoman, kebijakan dan
aturan hukum (lokal dan internasional mis. WHO
dan UNAIDS) 21
Dilemma etik pemecahan
masalah

 Meski berbagai rujukan telah menjadi bahan


pertimbangan, tidak semua dilemma etika
dapat diselesaikan dengan mudah atau
memuaskan.

22
Aktivitas

23