Anda di halaman 1dari 15

Preview film

THE ROAD HOME


Setting
Setting sejarah film ini adalah menjelang
masa Revolusi Kebudayaan Mao di
tahun 1966.
Kebudayaan Revolusi kebudayaan Mao
Nilai Budaya
Bangunan Sekolah pertama
Bangunan sekolah yang didirikan
oleh para pemuda di sini memiliki
diameter yang tidak terlalu luas,
dindingnya terbuat dari bata tanah liat
yang dilapisi dengan lumpur (tanah)
yang membentuk dinding tebal yang
berguna agar ruangan terasa hangat.
Memiliki bentuk jendela yang terbuat
dari bilah kayu yang dilapisi dengan
kertas (seperti kertas roti) dimana
jendela ini tidak memiliki lubang udara
dan hanya difungsikan sebagai sumber
cahaya di dalam ruangan. Pagar yang
digunakan terbuat dari susunan ranting
pohon. Konstruksi atapnya terbuat dari
kayu bayu besar.
Menenun kain
Kain tenun berwarna
merah yang digunakan
sebagai Banner di
sekolah yang baru di
didirikan merupakan
buatan tangan Zhao Di
yang dibuat dengan alat
tenun tradisional.
Menggunakan pakaian tebal
Di desa ini kebanyakan
penduduknya menggunakan
pakaian tebal karena letak
desa ini yang ada di dataran
tinggi yang memiliki suhu
yang dingin, serta untuk
mengantisipasi saat musim
salju datang
Transportasi
Transportasi yang
digunakan pada masa ini
masih menggunakan tenaga
dari kuda. Kuda ini menarik
sebuah kereta yang
dikendarai oleh seorang
kusir. Kereta ini dibuat
dengan bahan dasar kayu
dan memiliki 2 buah
roda.Transpotasi tradisional
ini digunakan karena letak
kampung ini yang jauh dari
kota dan harus menembuh
berhari-hari untuk sampai
ke kota.
Reparasi mangkuk
Reparasi mangkuk
pada masa ini masih
menggunakan cara yang
sangat tradisional dengan
menyatukan tiap bagian
secara detail yakni
dengan alat seperti
paku,tang dan palu kecil
serta sebuah alat yang
digunakan untuk memutar
sebuah alat untuk
melubangi mangkuk
Sumur sumber air
Sumur ini merupakan
sumber air di kampung.
Bibir sumurnya memiliki
diameter yang tidak terlalu
besar. Sumur ini memiliki
penutup atap, dan lantai
yang terbuat dari batu
,serta terdapat pinggiran
yang terbuat dari batu
yang difungsikan sebagai
tempat duduk
Budaya Gotong Royong
kepercayaan tradisional. Antara lain, ketika
penduduk desa bergotong-royong membangun
sekolah. Hanya laki-laki yang diperbolehkan
membangun sekolah sedangkan wanita hanya
menonton dari jauh dan memasak untuk pekerja.
Arti Kain Merah

Zhao Di menenun kain merah untuk


diletakkan di bubungan Sekolah. Ini
merupakan kepercayaan rakyat untuk
menolak bala, agar rumah tersebut tampak
awet.
Bentuk Bangunan
Warga desa di film ini memanfaatkan alam
sekitar untuk membangun bangunan seperti
dinding dari batu yang memang banyak
ditemukan di desa ini karena desa ini terletak di
pegunungan, kayu untuk kusen dari hutan, dan
pagar yang bisa terbuat dari kayu maupun jerami
Pada sekolah juga ini
tidak dipasang kaca pada
jendelanya melainkan
kertas untuk
melapisi jendela. Kertas ini
berguna untuk mengatur
cahaya, temperatur serta
kelembabapan dalam
ruangan dan juga
melindungi dari tiupan
angin. Pada musim dingin,
kertas ini dapat sobek
terkena tiupan angin yang
kencang. Maka dari itu
kertas yang sobek juga
harus diganti dengan kertas
yang baru.
Tradisi Orang Meninggal
Setelah Changyu meninggal , Zhao Di yang
sudah tua memaksakan diri menenun kain penutup peti
mati padahal anaknya , Yusheng adalah seorang
pengusaha kaya yang ingin membeli kain serupa di
toko.
Zhao Di tua juga berkeras menolak peti mati
dibawa dari rumah sakit di kota ke kampungnya dengan
menggunakan mobil atau traktor. Menurut kepercayaan
leluhur peti mati itu mesti digotong kembali ke jalan
kampungnya sampai ke pemakaman. Yusheng
mematuhi kehendak ibunya dan meminta Kepala Desa
membayar tukang gotong peti mati, kalau perlu
menyewa orang dari kampung tetangga.
Zhao Di tua juga berkeras menolak peti mati dibawa
dari rumah sakit di kota ke kampungnya dengan
menggunakan mobil atau traktor. Menurut kepercayaan
leluhur peti mati itu mesti digotong kembali ke jalan
kampungnya sampai ke pemakaman. Yusheng mematuhi
kehendak ibunya dan meminta Kepala Desa membayar
tukang gotong peti mati, kalau perlu menyewa orang dari
kampung tetangga.
Namun ternyata mantan-mantan murid mendiang Pak
Guru berdatangan hingga jumlahnya lebih dari 100 orang
dan mau bergantian menggotong peti mati sambil bersorak di
setiap persimpangan jalan, sesuai adat zaman dulu. Perlu
ditekankan, cerita ini bersetting tahun 1960-an ketika
pemerintah komunis dengan kejam melarang semua acara
tradisionil dan kepercayaan yang mereka tuduh takhayul.
Bagi yang melanggarnya bisa dikenakan sanksi dan
hukuman berat! Namun semua penduduk desa mendukung
kemauan Nenek Zhao Di, termasuk Kepala Desa, juga tak
mempedulikan larangan pemerintah komunis, tetap bertekad
mewujudkan berbagai ritual tersebut .