Anda di halaman 1dari 22

1

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN TB PARU
KELOMPOK VI

ARTIANA E520173348
EKO SUGIYONO E520173354
SRI PURWATI E520173370
RETNO RATMIYANTI E520173367
Pengertian TB Paru 2

Penyakit infeksi menular yg disebabkan


oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis.

Kuman menyerang Paru dan dapat


juga mengenai organ tubuh lain
(Dep Kes, 2003)
Manifestasi Klinis 3

1. Gejala respiratorik
a. Batuk
b. Batuk darah
c. Sesak Nafas
d. Nyeri dada

2. Gejala sistemik : Demam dan Gejala lain

3. Gejala klinis Hemoptoe :


a. Batuk darah
b. Muntah darah
c. Epistaksis
Patofisiologi 4

Penderita Droplet Droplet


TB batuk, bakteri bakteri
bersin, atau jatuh di menguap
bicara lantai oleh angin

Droplet Droplet
Inang baru
masuk
terinfeksi terhirup oleh
alveoli
orang sehat

Bakteri Inang sensitif


Infeksi
menggandakan pada tes
menyebar
diri tuberkulin
Klasifikasi TB Paru 5

Menurut Dep.Kes (2003)

1. Berdasarkan organ yang terinvasi


a. TB Paru : TB Paru BTA Positif
TB Paru BTA Negatif
b. TB Ekstra Paru : Ringan
Berat

2. Berdasarkan tipe penderita


a. Kasus Baru
b. Kambuh (relaps)
c. Pindahan (transfer in)
d. Kasus berobat setelah lalai (default/drop out)
Pemeriksaan Diagnostik 6

1. Pemeriksaan sputum
2. Pmeriksaan Tuberculin
3. Pemeriksaan Rontgen Thoraks
4. Pemeriksaan CT Scan
5. Radiologis TB Paru Milier
6. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Rontgen Thoraks 7
Penatalaksanaan 8

Pencegahan TB Paru

1. Pemeriksaan Kontak
2. Mass chest X-ray
3. Vaksinasi BCG
4. Kemoprofilaksis dengan menggunakan
INH 5 mg/kgBB
5. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
Pengobatan TB Paru
9

1. Fase Intensif (2-3 bulan)


2. Fase lanjutan (4-7 bulan)

Tipe Penderita TB :
1. Kategori I (2HRZE/4H3R3)
2. Kategori II ( HRZE/5H3R3E3 )
3. Kategori III ( 2HRZ/4H3R3 )
4. Kategori IV
Obat-obatan anti tuberkulostatik
10

1. Isoniazid (INH)
2. Rifampisin (R)
3. Pirazinamid (Z)
4. Streptomisin (S)
5. Etambutol (E)
Komplikasi 11

Komplikasi Dini :
 Pleuritis
 Efusi Pleura
 Empiema
 Faringitis
Komplikasi lanjut :
 Obstruksi jalan nafas
 Kerusakan parenkim berat
Asuhan Keperawatan 12

a. Pengkajian
b. Diagnosa
c. Intervensi
Keperawatan
Pengkajian 13

1. Data Demografi
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan :
• Keluhan Utama
• Riwayat Penyakit saat ini
• Riwayat Penyakit dahulu
•Riwayat Penyakit keluarga
•Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pemeriksaan Fisik 14

(ROS : Review of System)


Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital

B1 (breathing)
Inspeksi : Bentuk dada dan pergerakan
pernapasan. Batuk dan sputum. Gerakan
dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan.
Getaran suara (fremitus vokal)
15
Perkusi
• Pada klien dengan TB paru minimal tanpa
komplikasi, biasanya akan didapatkan resonan atau
sonor pada seluruh lapang paru.

Auskultasi
• bunyi napas tambahan (ronkhi) pada sisi yang sakit.
16

Bersihan jalan nafas tak efektif, berhubungkan dengan


sekret kental / sekret darah, kelemahan, upaya
batuk buruk, edema tracheal / faringeal dapat
ditandai dengan:
 Frekuensi pernafasan, irama, kedalaman tak normal.
 Bunyi nafas tak normal, ( ronchi, mengi ) stridor.
 Dispnoe.

Rencana jangka pendek :


 membersihkan nafas pasien.
 mengeluarkan sekret tanpa bantuan.

Rencana jangka panjang : Menunjukan


perilaku untuk memperbaiki /
mempertahankan bersihan jalan nafas.
INTERVENSI KEPERAWATAN I
17
1. Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi, bantu pasien untuk latihan nafas
dalam.
2. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea ; pengisapan sesuai dengan keperluan.
3. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif, catat karakter,
jumlah sputum dan adanya hemoptisis.
4. Kaji fungsi pernafasan, contoh bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman
serta penggunaan otot aksesori.
Rasionalisasi
1. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya
pernafasan
2. Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal ( misalnya ; efek infeksi dan atau tidak
adekuat hydrasi )
3. Mencegah obstruksi / aspirasi, penghisapan dapat diperlukan bila pasien tidak
mampu mengeluarkan sekret.
4. Penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelektasis, ronchi, mengi,
menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan
nafas yang dapat menimbulkan pengguanaan otot aksesori pernafasan dan
peningkatan kerja pernafasan.
DIAGNOSA 18

KEPERAWATAN II
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
penurunan permukaan efektif, atelektasis,
kerusakan membran alveolar kapiler, sekret
kental, tebal, dan edema bronchial.

Rencana jangka pendek : Menunjukan perbaikan


ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat
dengan GDA dalam rentang normal.

Rencana jangka panjang : Bebas dari gejala distres


pernafasan.
INTERVENSI KEPERAWATAN II
19
 Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai
dengan keperluan.
 Tunjukan / dorong bernafas bibir selama ekhalasi, khususnya untuk pasien
dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.
 Kaji diespnoe, tachipnoe, tak normal / menurunnya bunyi nafas, peningkatan
upaya pernapasan, terbatasnya ekspansi dinding dada & kelemahan.
 Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis dan / atau perubahan
pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.
Rasionalisasi.
 Menurunkan konsumsi O2 / kebutuhan selama periode penurunan pernafasan
dapat menurunkan beratnya gejala.
 Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps / penyempitan
jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan
menghilangkan / menurunkan nafas pendek.
 TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronchopneomonia
sampai inflamasi difus luas, necrosis, effusi pleural dan fibrosis luas, efek
pernafasan dapat dari ringan sampai diespnoe berat sampai diestres pernafasan.
 Akumulasi sekret / pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenisasi organ
vital dan jaringan.
DIAGNOSA 20

KEPERAWATAN III
Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivitas ulang )
berhubungan dengan pertahanan primer tak
adekuat, penurunan kerja silia / statis sekret,
penurunan pertahanan / penekanan proses
imflamasi, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk
menghindari pemajanan patogen.
Tujuan jangka pendek : Mengidentifikasi intervensi
untuk mencegah / menurunkan resiko penyebaran
infeksi.
Tujuan jangka panjang : Menunjukan tehnik /
melakukan perubahan pola hidup untuk
meningkatkan lingkungan yang aman.
INTERVENSI KEPERAWATAN III 21

1. Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tissue &
menghindari meludah di tempat umum serta tehnik mencuci tangan yang
tepat.
2. Kaji patologi / penyakit ( aktif / tak aktif diseminasi infeksi melalui bronchus
untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah / sistem limfatik ) dan
potensial penyebaran melalui droplet udara selama batuk, bersin,
meludah,bicara, dll.
3. Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah, anggota,
sahabat karib / teman.
Rasionalisasi.
1. Perilaku yng diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi dapat membantu
menurunkan rasa terisolir pasien & membuang stigma sosial sehubungan
dengan penyakit menular.
2. Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program
pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang / komplikasi. pemahaman
begaiman penyakit disebarkan & kesadaran kemungkinan tranmisi membantu
pasien / orang terdekat mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang
lain.
3. Orang – orang yang terpajan ini perlu program therapy obat untuk mencegah
penyebaran infeksi.
22

TERIMA KASIH