Anda di halaman 1dari 18

GAWAT DARURAT

PADA SISTEM
PERNAPASAN
TRAUMA THORAX :
FLAIL CHEST

BY
KELOMPOK 4
PENGERTIAN
Flail chest adalah keadaan dimana
beberapa atau hampir semua kostae patah,
biasanya di sisi kanan atau kiri dada yang
menyebabkan pelepasan bagian depan dada
sehingga tidak bisa lagi menahan tekanan
negatif waktu inspirasi dan bergerak ke
dalam waktu inspirasi. (Northrup, Robert
S. 1989)
ANATOMI FISIOLOGI
ETIOLOGI
a. Trauma tembus :
 Luka tembak

 Luka tikam/ tusuk

b. Trauma tumpul
 Kecelakaan
kendaraan
bermotor
 Jatuh

 Pukulan pada dada


PATOFISIOLOGI
TANDA DAN GEJALA
• Ada jejas pada thorak
• Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi
• Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi
• Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek
• Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan
• Penurunan tekanan darah
• Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan
oleh distensi vena leher
• Perfusi jaringan tidak adekuat
PEMERIKSAAN DIAGNOSA
1. Radiologi : X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan
lateral)
2. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau
menurun.
3. Torakosentesis : menyatakan darah/cairan
serosanguinosa.
4. Hemoglobin : mungkin menurun.
5. Pa Co2 kadang-kadang menurun.
6. Pa O2 normal / menurun.
7. Saturasi O2 menurun (biasanya).
PENATALAKSANAAN
Sebaiknya pasien dirawat intensif bila ada indikasi
atau tanda-tanda kegagalan pernapasan atau karena
ancaman gagal napas yang biasanya dibuktikan melalui
pemeriksaan AGD berkala dan takipneu pain control.
Stabilisasi area flail chest (memasukkan ke ventilator,
fiksasi internal melalui operasi) bronchial toilet fisioterapi
agresif tindakan bronkoskopi untuk bronchial toilet.
Tindakan stabilisasi yang bersifat sementara
terhadap dinding dada akan sangat menolong penderita,
yaitu dengan menggunakan towl-clip traction atau dengan
menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah dengan
pembedahan. Takipnea, hipoksia, dan hiperkarbia
merupakan indikasi untuk intubasi endotrakeal dan
ventilasi dengan tekanan positif.
KOMPLIKASI

1. Iga : fraktur multiple dapat menyebabkan


kelumpuhan rongga dada.
2. Pleura, paru-paru, bronkhi : hemo/
hemopneumothoraks -emfisema pembedahan.
3. Jantung : tamponade jantung ; ruptur jantung ;
ruptur otot papilar ; ruptur klep jantung.
4. Pembuluh darah besar : hematothoraks.
5. Esofagus : mediastinitis.
6. Diafragma : herniasi visera dan perlukaan hati, limpa
dan ginjal
(Mowschenson, 1990).
KONSEP DASAR ASUHAN
KEPERAWATAN GAWAT
DARURAT FLAIL CHEST
PENGKAJIAN
A. Data Biografi Klien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, Medrec, dan diagnosa medis.
B. Primary survey
Pada tahap ini harus dicari keadaan yang mengancam nyawa, tetapi
sebelum memegang penderita / klien, kita harus selalu proteksi diri
terlebih dahulu untuk menghindari penyakit yang menular seperti
hepatitis dan AIDS.
 A ( airway + control cervikal) : dilihat ada atau tidak
gangguan/sumbatan pada jalan napas pasien.
 B ( breathing / pernafasan + oksigenasi/ventilasi) : pada pasien flail
chest biasanya akan mengalami sesak napas yang berat karena
ketika inspirasi atau ekspirasi akan merasakan nyeri sehingga
pasien akan “malas” bernapas dan bisa terjadi gagal napas. Selain
itu biasanya pergerakan dada pada pasien flail chest akan asimetris
karena akibat dari fraktur segmen iga sehingga dinding dada
bergerak kedalam ketika inspirasi dan akan mengembang ketika
ekspirasi. Ketika di palpasi dinding dada pasien ditemukan adanya
krepitasi.
Lanjutan ….

 C (circulation + kontrol perdarahan dan perbaikan volume) :


dilihat ada atau tidak tanda syok atau perdarahan pada pasien
 D (Disability / pemeriksaan status neurologis) : di kaji
bagaimana kesadaran pasien dengan GCS
 E (Exposure / gunting pakaian dan lihat jejas atau cedera
ancaman yang lain) kemudian cegah hipotermi
C. Secondary Survey
Secondary survey adalah pemeriksaan teliti yang dilakukan dari
ujung rambut sampai ujung kaki, dari depan sampai belakang dan
setiap lubang dimasukan jari. Secondary survey hanya dilakukan
apabila penderita telah stabil. Pertama yang harus dilakukan
adalah anamnesa dengan lengkap mengenai riwayat cedera yang
yang diiderita oleh pasien. Selain itu anamnesis juga harus meliputi
: KOMPAK (Keluhan, Obat, Makanan terakhir, Penyakit penyerta,
Alergi, Kejadian)
Setelah anamnesis lakukan pemeriksaan fisik head to toe dan finger
in everi orifice untuk menilai adakah BTLS (perubahan Bentuk,
Tumor, Luka, Sakit).
DIAGNOSA
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan
dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena
akumulasi udara/cairan.
2. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan
dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot
sekunder.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
trauma mekanik terpasang bullow drainage.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk
ambulasi dengan alat eksternal.
5. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat
masuknya organisme sekunder terhadap trauma.
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak
maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil : Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive, Mengalami
perbaikan pertukaran gas-gas pada paru, Adaptive mengatasi faktor-faktor
penyebab.
Intervensi Keperawatan Rasional
Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang
yang benar. diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru
optimum/drainase cairan.
Periksa batas cairan pada botol penghisap, Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang
pertahankan pada batas yang ditentukan. mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.

Observasi gelembung udara botol penempung. Gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang
angin dari penumotoraks/kerja yang diharapkan.
Gelembung biasanya menurun seiring dengan ekspansi
paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung
dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau
slang buntu.
Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan
optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.
menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat
drainage. Alirkan akumulasi drainase bila perlu
Catat karakter/jumlah drainage selang dada. Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya
perdarahan yang memerlukan upaya intervensi
2. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan
trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
• Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
• Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/
menurunkan nyeri.
• Pasien tidak gelisah.
Intervensi Keperawatan Rasional

Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik Akan melancarkan peredaran darah,


untuk menurunkan ketegangan otot sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan
rangka, yang dapat menurunkan akan terpenuhi, sehingga akan
intensitas nyeri dan juga tingkatkan mengurangi nyerinya.
relaksasi masase.
Ajarkan metode distraksi selama Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-
nyeri akut. hal yang menyenangkan.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang
bullow drainage.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus, luka bersih tidak
lembab dan tidak kotor.,
Intervensi Tanda-tanda vital dalam batas normal
Keperawatan atau dapat
Rasional
Kajiditoleransi.
kulit dan identifikasi pada tahap mengetahui sejauh mana perkembangan luka
perkembangan luka. mempermudah dalam melakukan tindakan yang
tepat.
Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan
dan tipe cairan luka. mempermudah intervensi.
Pantau peningkatan suhu tubuh. suhu tubuh yang meningkat dapat
diidentifikasikan sebagai adanya proses
peradangan.
Berikan perawatan luka dengan tehnik tehnik aseptik membantu mempercepat
aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan penyembuhan luka dan mencegah terjadinya
steril, gunakan plester kertas. infeksi.
Jika pemulihan tidak terjadi agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi
kolaborasi tindakan lanjutan, tidak menyebar luas pada area kulit normal
misalnya debridement. lainnya.
Setelah debridement, ganti balutan sesuai balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk
ambulasi dengan alat eksternal.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil : Penampilan yang seimbang, melakukan pergerakkan dan perpindahan, mempertahankan
mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi Keperawatan Rasional
Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
dan kebutuhan akan peralatan.

Tentukan tingkat motivasi pasien dalam mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan


melakukan aktivitas. aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah
ketidakmauan.
Ajarkan dan pantau pasien dalam hal menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
penggunaan alat bantu.
Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan
ROM aktif dan pasif. ketahanan otot.
Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan
okupasi perencanaan dan mempertahankan dan meningkatkan
5. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder
terhadap trauma.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus, luka bersih tidak lembab
dan tidak kotor, tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

Intervensi Keperawatan Rasional

Pantau tanda-tanda vital. mengidentifikasi tanda-tanda peradangan


terutama bila suhu tubuh meningkat

Lakukan perawatan luka dengan Mengendalikan penyebaran


teknik aseptik. mikroorganisme patogen.
Lakukan perawatan terhadap untuk mengurangi risiko infeksi
prosedur inpasif seperti infus, kateter, nosokomial.
drainase luka, dll.
Jika ditemukan tanda infeksi penurunan Hb dan peningkatan jumlah
kolaborasi untuk pemeriksaan darah, leukosit dari normal bisa terjadi akibat
seperti Hb dan leukosit. terjadinya proses infeksi.
Kolaborasi untuk pemberian antibiotik mencegah perkembangan
antibiotik. mikroorganisme patogen