Anda di halaman 1dari 25

MASTOIDITIS

KELOMPOK 4
LATAR BELAKANG
• Di Amerika Serikat dan negara maju lain, kejadian dari
mastoiditis cukup rendah, sekitar 0,004%, meskipun lebih
tinggi di negara-negara berkembang. Usia paling umum
terkena adalah 6-13 bulan, Laki-laki dan perempuan sama-
sama terpengaruh dan beresiko terkena penyakit
mastoiditis.
• Di negara indonesia belum diketahui secara jelas persentasi
kejadian dari pada mastoiditis ini, tetapi negara merupakan
negara berkembang menuju negara yang maju yang masih
rentan dan beresiko tinggi terhadap penyakit ini
Etiologi
– Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus /
pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan
Mastoiditis adalah pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta
sel-sel udara mastoid bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan
infeksi .
sering kali
terlibat,menimbulkan – Penyebab lain dari Mastoiditis antara lain:
peradangan dan nekrosis 1. terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut
tulang yang terlokalisasi 2. Klien imunosupresi atau orang yang menelantarkan
dan ekstensif otitis media akut yang dideritanya. Berkaitan dengan
(osteomyelitis). virulensi dari organisme penyebab otitis media
(Parakrama, 2006) akut yaitu streptococcus pnemonieae.
3. Bakteri lain yang sering ditemukan adalah
branhamella catarrhalis, streptococcus group-A dan
staphylococcusaureus ,streptococcus aureus. Bakteri
yang biasanya muncul pada penderita mastoiditis anak-
anak adalah streptococcus pnemonieae.
• Klasifikasi
Klasifikasi dari mastoiditis antara lain:
• Acute mastoiditis, biasa terjadi pada anak-anak, sebagai
komplikasi dari otitis media akut suppurative.
• Chronic mastoiditis, biasanya berkaitan dengan
cholesteatome dan penyakit telinga kronis.
• Incipient mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat langsung
di bagian mastoid.
• Coalescent mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat
komplikasi dari infeksi di organ tubuh yang lain.
PATOFISIOLOGI
• Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi dari penyakit mastoiditis antara lain:
1. Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang
telinga dan dirasakan lebih parah pada malam hari,
tetapi hal ini sulit didapatkan pada pasien-pasien yang
masih bayi dan belum dapat berkomunikasi. Hilangnya
pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada
besarnya kompleks mastoid akibat infeksi.
2. Keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih
dari tiga minggu
3.Demam
• Komplikasi
Komplikasi yang terjadi bila mastoiditis tidak ditangani
dengan baik adalah
1. Petrositis yaitu infeksi pada tulang disekitar tulang
telinga tengah peforasi gendang telinga dengan
cairan yang terus menerus keluar.
2. Labyrintitis yaitu peradangan labyrint ini dapat
disertai dengan kehilangan pendengaran atau vertigo
disebut juga otitis imtema
3. Meningitis yaitu peradangan meningen (ragdang
membran pelindung sistem saraf) biasanya penyakit
ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme.
4. Abses otak yaitu kumpulan nanah setempat yang
terkumpul dalam jaringan otak
Penatalaksanaan
B. Penatalaksanaan keparawatan
A. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan
1. Pemberian antibiotik sistemik mastoiditis antara lain:
Diberikan beberapa minggu sebelum operasi 1. Perawatan Pre-operasi
dapat mengurangi atau menghentikan Perawat mengajarkan secara khusus pada klien
supurasi aktif dan memperbaiki hasil yang dijatwalkan untuk menjalani tympanoplasty.
pembedahan. 2. Perawat post operasi
2. Pembedahan Rendaman antiseptik gauze (an antiseptic-soaked
a. Timponoplasti (rekonstruksi bedah pada gauze) seperti lodoform gauze (nauga-uze)
mekanisme pendengaran ditelinga tengah, dimalut dalam kanal audiotori.
dengan memperbaiki membrana tympanica 3. Terapi konservatif
melindungi finestra cochlease dari tekanan Yaitu menasehati unuk menjaga telinga agar
suara) tetap kering serta membersihkan telinga dengan
penghisap secara berhati-hati ditempat praktek.
b. Mastoidektomi (pembedahan pada tulang 4. Pemberian bubuk atau obat tetes yang
mastoid. Tujuan dilakukan mastoidektomi biasanya mengandung antibiotik dan steroid.
adalah untuk menghilangkan jaringan
infeksi, menciptakan telinga yang kering
dan aman.)
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah
2. Foto Mastoid
3. Kultur Bakteri Telinga
4. MRI
5. CT Scan
6. Radiologi
7. Tympanocintesis &
myringotomi
KASUS
• Ny. S berusia 40 tahun opnam di RS respati yogyakarta sejak 1 hari yang lalu klien
datang dengan keluhan pendengaran telinga kiri dan kanan menurun/tidak mendengar
sejak 2 tahun yang lalu, klien juga mengatakan terasa nyeri pada kedua tulang telinga
bagian belakang, skala nyeri 6, dan klien mengeluh telinga kanan dan kiri 1 bulan
terakhir sering basah karena keluar cairan dari dalam telinga, dari hasil pengkajian
didapatkan TTV: TD 130/80 mmHg, nadi 84x/mnt,RR 24x/menit, suhu 38,8oC, klien
mengatakan badannya terasa demam dan kepalanya kadang- kadang pusing
Kemerahan pada kompleks mastoid, Keluarnya cairan baik bening maupun berupa
lendir dan pus.
• Hasil pemerikasaan penunjang didapatkan:
– Ct scant : ada kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga dalam. Yang
memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam
rongga mastoid.
– Foto Ro: Mastoiditis bilateral tipe sklerotik.
– Otoskopi: terlihat infeksi telinga tengah
1. Biodata
Pasien
Nama :Ny. s
Umur : 45 tahun
Agama : Islam 3. RiwayatKesehatan
Suku : Jawa Riwayat Penyakit Sekarang :
Pendidikan : SD Nyeri pada kedua telinga bagian belakang, dan 1
Pekerjaan :Ibu Rumah Tangga bulan ini telinga kanan dan kiri sering basah akibat
Status pernikahan :Menikah keluarnya cairan dari dalam telinga.
Alamat :Jl.patimura no 64 B Riwayat Penyakit Dahulu :
sleman. Tuli konduksi, perforasi membran timpani/perforasi
DiagnosaMedis :mastoiditis sub total. Klien tidak memiliki riwayat alergi.
Riwayatpenyakitkeluarga :
2. Keluhan Utama Keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit
Klien mengatakan pendengaran telinga keluarga seperti hipertensi, DM, asma, penyakit jantung
kanan dan kiri menurun/tidak mendengar koroner.
sejak 2 tahun.
4. Basic Promotion Physiology of health d. Nutrisi
Sebelum:
a. Aktivitas dan latihan: 1) Frekuensi makan : 3x1
Klien tidak pernah melakukan 2) BB/TB : 50kg/155cm
pemeriksaan tes pendengaran, 3) Jenis makanan : Padat
b. Tidur dan istirahat 4) Makanan yang di sukai : Sate
5) Makanan pantang : Tidak ada makanan pantang
Sebelum:
6) Nafsu makan : Porsi makan selalu di habiskan
Lama Tidur : 8-9 jam 7) Masalah pencernaan : Tidak ada masalah pencernaan
Tidur siang : Ya 8) Diit RS : Tidak ada program diet dari RS
Selama sakit: Selama sakit:
Lama tidur : 4 jam 1) Frekuensi makan : 3x1
2) BB/TB : 50 kg/155cm
Tidur siang : ya 3) IMT :20,41
c. Kenyamanan dan nyeri 4) BB dalam satu bulan terakhir : tidak ada penurunan berat
Paliatif dan profokatif : nyeri badan
terjadi saat klien beraktivitas dan 5) Jenis makanan : Padat
6) Makanan yang disukai : Sate
berkurang saat klien duduk dan istrahat 7) Makanan pantang : makanan yang asin-asin
Quality : nyeri tekan 8) Nafsu makan : Porsi makan tidak di habiskan
Region : nyeri pada bagian belakang 9) Masalah pencernaan : tidak ada masalah pencernaan
telinga kiri dan kanan 10) Diit RS : tidak ada program diet RS
11) Kebutuhan pemenuhan ADL makan : Mandiri
Scale :6
Time :0-10 menit nyeri hilang timbul
e. Cairan, elektrolit dan asam basa g. Eliminasi urin
Sebelum: Sebelum:
1) Penggunaan Kateter : Tidak ada
1) Frekuensi minum/24jam : 1500-
penggunaan kateter
1600cc 2) Warna : Bening
2) Turgor Selama sakit:
kulit : Elastis 1) Penggunaan Kateter : Tidak ada
Selama sakit: penggunaan kateter
1) Frekuensi minum/24jam : 1000cc 2) Warna : urine bening
2) Turgor kulit : Tidak elastis h. Eliminasi fekal
Sebelum dirawat:
f. Oksigenasi
Klien mengatakan BAB lancar sebelum sakit dan tidak
Sesak nafas : Tidak diare
Batuk : Tidak Selama dirawat :
Sputum : Tidak Klien mengatakan BAB lancar sebelum sakit dan tidak
Nyeri dada : Tidak diare
RR : 24x/mnit i. Sensori persepsi dan kognitif
Kedalaman Napas : Inspirasi dalam Ggn penglihatan : Tidak
Ggn pendengaran : Ya klien kesulitan dalam
Irama : Reguler
mendengar pembicaraan orang lain
Ggn penciuman : Tidak
Ggn sensori taktil : Tidak
Ggn pengecapan : Tidak
5. Pemeriksaan fisik d. Dada
a. Keadaan umum Bentuk : Simetris
Kesadaran : Composmetis Palpalsi :Taktil fremitus Ki/Ka dan pengembangan dada sama
GCS : 15 ; (E4 V6 M5) Perkusi : sonor
Vital Sign :TD :130/80 mHg, Auskultasi : tidak ada bunyi napas tambahan
Nadi : 84x/mnit, Irama : Cor : Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
reguler, Kekuatan : kuat Palpasi : tidak ada pembesaran pada jantung di mid axila
Respirasi : 24x/mnit Perkusi : redup
Irama : teratur Auskultasi : tidak ada bunyi jantung tambahan
Suhu : 38,80C
b. Kepala
Kulit : Bersih tidak ada lesi,dan sianosis e. Abdomen
Muka : simetris, Tidak ada lesi dan sianosis Inspeksi : simetris
Mata : Konjungtiva : anemis Auskutasi : peristaltik usus 15x/mnit
: Sclera : anikterik Palpasi : Tidak ada pembesaran Hepar, ada benjolan
Hidung : Simetris Kiri kanan, tidak ada sumbatan di perut bagian bawah saat di palpasi benjolan teraba padat
Mulut : Gigi : tidak ada karies gigi benjolan menetap, diameter 1cm
: Bibir : Mukosa bibir lembab Perkusi : Suara tymphani
Telinga : Simetris, ada penumpukan f. Genitalia : tidak terkaji
serumen,pus, ada pembengkakan pada kedua telinga g. Rektum : tidak terkaji
bagian belakang dan tampak kemerahan dan nyeri. h. Ekstremitas
c. Leher : Atas
Simetris tidak ada pembesran kelenjar Tiroid, maupun Capilarry reffil : < 2 detik
pembesaran JVP, tidak ada kesulitan menelan ROM Ka/ki : Aktif
Akral : hangat
6. Psiko sosio budaya dan spiritual
•Psikologi:
•perilaku verbal pasien kurang komunikatif . keadaan emosi pasien tidak stabil karena ia merasa cemas
dengan kondisinya. Klien mudah tersinggung
•Sosio :
•Klien kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang di sekitarnya, bicara dengan klien harus keras dan
menggunakan isyarat dengan tangan, jarak harus dekat dengan klien.
•Budaya :
•Dalam kesehariannyan klien berbahasa jawa.
•Spiritual:
• Klien beragama islam. Ia selalu rajin beribadah.
7. Pemerikasaan penunjang
Foto Ro: Mastoiditis bilateral tipe sklerotik.
Ct scant : ada kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga dalam. Yang memperlihatkan penebalan mukosa
dalam rongga telinga tengah di samping dalam rongga mastoid.
Otoskopi: terlihat infeksi telinga tengah
8. Terapi/Pengobatan
Infus RL 20 tts/mnt.
Klindamycin 3x300 mg.
Mefenamat acid 3x500 mg k/p
ANALISA DATA

NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM


1. DS: Agen injuri Nyeri kronis
P : nyeri terjadi saat klien beraktivitas dan berkurang saat biologis
klien duduk dan istrahat
Q: nyeri tekan
R: nyeri pada bagian belakang telinga kiri dan kanan
S: 6
T: 0-10 menit nyeri hilang timbul
DO :
TTV: TD 130/80 mmHg, N 84x/mnt, RR 24x/mnt
2. DS: Perubahan Gangguan
•Klien mengeluh pendengaran telinga kiri dan kanan presepsi sensori/perse
menurun/tidak mendengar sejak 2 tahun yang lalu, dan klien sensori psi (auditoris)
mengeluh telinga kanan dan kiri 1 bulan terakhir sering basah
karena keluar cairan dari dalam telinga
•Klien mengatakan kepalanya kadang- kadang pusing

•DO:
• Keluarnya cairan dari kedua telinga klien baik bening maupun
berupa lendir dan pus
•TTV: TD 130/80 mmHg, nadi 84x/mnt,RR 24x/menit, suhu 38,8oC,
•Hasil pemerikasaan penunjang didapatkan:
•Ct scant : ada kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga
dalam. Yang memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga
telinga tengah di samping dalam rongga mastoid.
•Foto Ro: Mastoiditis bilateral tipe sklerotik.
•Otoskopi: terlihat infeksi telinga tengah
3. DS: proses Hipertermi
klien mengatakan badannya terasa demam inflamasi
DO:
•badan klien terasa panas, TTV: TD 130/80mmHg, N 110x/mnt,
Suhu 38,8oC

Prioritas Diagnosa
1. Nyeri berhubungan agen injuri biologis
2. Gangguan sensori/persepsi (auditoris) b.d
Perubahan presepsi sensori
3. Hipertermi b.d proses penyakit
RENCANA TINDAKAN DAN
CATATAN PERKEMBANGAN
DX. 1 NYERI BERHUBUNGAN DENGAN AGEN INJURI
BIOLOGIS

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI R A S I O N A L

Setelah dilakukan tindakan selama 1. Kaji skala nyeri 1. Untuk mengetahui tingkatan nyeri
1x24 jam nyeri klien dapat teratasi klien yg dirasakan klien.
dengan kriteria hasil; 2. Lakukan 2. Untuk mengetahui keadaan dan
1. Klien mengatakan nyeri berkurang pemeriksaan fisik kondisi telinga klien
dengan sekala nyeri dari 6 ke 3 telinga 3. Untuk mengurangi rasa nyeri yg
2. Klien tampak rileks 3. Ajarkan tehnik dirasakan klien
3. TTV dalam batas normal TD:110- relaksasi 4. Untuk mengatasi rasa
120/70-80 mmhg 4. Kolaborasikan nyeri,sehingga nyeri dapat berkurang
N:60-100 dengan dokter dalam pemberian obat
pemberian analgetik
DX. 2. Gangguan sensori/persepsi (auditoris) b.d
Perubahan presepsi sensori
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI R A S I O N A L

Setelah dilakukan tindakan 1. pantau dan 1. untuk mengetahui adanya


keperawatan selama 2 x 24 jam dokumentasikan perrubahan terhadap status neurologis
penurunan sensori persepsi dapat perubahan status pasien
teratasi dengan kriteria hasil : neurologis pasien 2. untuk mengetahui keadaan umum
1. Klien mengatakan sudah tidak 2. lakukan telinga klien dan mengurangi
pusing lagi, pemeriksaan fisik telinga pengeluaran cairan
2. Klien mengatakan sudah dapat 3. kolaborasikan untuk 3. membantu klien untuk mendengar
mendengar kembali pemberian alat bantu
3. Hasil pemeriksaan fisik telinga pendengaran
dalam rentang normal
DX. Hipertermi b.d proses penyakit
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL I N T E R V E N S I R A S I O N A L

Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor suhu tubuh 1. Untuk mengetahui penurunan


keperawatan 1x24 jam hipertermi klien suhu tubuh klien
dapat diatasi dengan kriteria hasil: 2. Lakukan kompres 2. Membantu menurunkan suhu
1. Klien mengatakan sudah tidak hangat/ dingin tubuh klien
demam lagi 3. Anjurkan klien 3. Untuk menurunkan hipertermi
2. Badan klien tidak panas lagi menggunakan pakaian 4. Agar suhu tubuh klien kembali
3. TTV dalam rentang normal, suhu yang tipis normal
36,5-37,5oC, TD 110-120/70-80 4. Kolaborasihan
mmHg N 60-100 dengan dokter untuk
pemberian antipiretik
T G L / J A M
CATATAN PERKEMBANGAN
I M P L E M E N T A S I E V A L U A S I

18 Agustus 2011 1 . Mengkaji skla nyeri klien 13.00 WIB


09.15 wib S: klien mengatakan nyeri berkurang S: Klien mengatakan sudah tidak merasa nyeri lagi
O: skala nyeri 3 klien tampak rileks O: Skala nyeri klien 3, klien tampak rileks
2. Melakukan pemeriksaan fisik telinga A: Tujuan tercapai
O: klien mau untuk dilakukan pemeriksaan fisik P: Intervensi dihentikan
3. Mengajarkan tekhnik relaksasi
S: klien mengatakan mau diajarkan tehnik relaksasi
O: klien tampak mengerti semua yang diajarkan
4. Berkolaborasikan dengan dokter pemberian analgetik
O: klien mau menerima terapi analgesik

18 Agustus 2011 1. Memantau dan dokumentasikan perubahan status neurologis pasien 13.00 WIB
09.30 wib O: status gizi klien baik S: Klien sudah dapat mendengar walaupun belum bisa
2. Melakukan pemeriksaan fisik telinga mendengar secara efektif
O: Telinga klien sedikit kemerahan dan masih ada oedema O: Telinga klien sedikit kemerahan dan masih ada oedema
3. Berkolaborasi untuk pemberian alat bantu pendengaran. A: Tujun belum tercapai
O: klien menerima alat bantu pendengaran P: Intervensi 1,2 dilanjutkan
18 Agustus 2011 1. Memonitoring suhu tubuh klien 13.00 WIB
09.50 wib O: suhu tubuh klien dalam rentang normal (37,5oC) S: Klien mengatakan sudah tidak demam lagi
2. Melakukan kompres hangat O: Suhu tubuh klien sudah kembali normal (36,5 – 37,50 C)
S: klien mengatakan mau dikompres hangat A: Tujuan tercapai
O: klien menerima kompres hangat/dingin P: Intervensi dihentikan
3. Menganjurkan klien menggunakan pakaian yang
tipis
O: klien melakukan semua yang dikatakan perawat
4. Berkolaborasihan dengan dokter untuk pemberian
antipiretik
O: klien menerima analgesik
TERIMAKASIH