Anda di halaman 1dari 13

Sindrom Delirium Akut

Sindrom Delirium Akut 

– Definisi
– Sindrom gangguan kesadaran, ditandai dg penurunan
kemampuan utk memusatkan, mempertahankan, atau
mengalihkan perhatian yg tjd akut dan dpt berfluktuasi dlm
sehari.

– Epidemiologi
– Delirium pd pasien demensia 32-86%, pascaoperasi fraktur pinggul
40-52%
– Delirium pd pasien rw ICU 70–87 %
– Delirium pd kasus emergency pada geriatri 10-30%
Sindrom Delirium Akut 

– Etiologi
– Metabolisme : hipoksia, hipo-/hiperglikemia, azotemia,
hipernatremia, hipokalemia, insufisiensi ginjal, dehidrasi.
– Zat: psikotropika dan alkohol
– Penyakit : demam, infeksi, stres, putus obat, malnutrisi,
fraktur
– Overstimulasi : perawatan ICU, perpindahan ke rw.inap
– Iatrogenik : pembedahan, kateterisasi urin, physical restrain
Sindrom Delirium Akut

Faktor predisposisi Faktor pencetus


– Usia sangat lanjut – Pneumonia
– Usia lanjut yang rapuh (fragile)
– ISK
– Usia lanjut yg m’gunakan obat yg
m’pengaruhi NT mis: antikolinergik, – Kondisi akut lain:
ranitidin, simetidin, ciprofloxacin,
psikotropika – Hiponatremia
– Mild cognitive impairment s.d. – Dehidrasi
demensia
– Hipoglikemia
– Gangguan ADL
– Polifarmasi – CVD
– Komorbiditas – Perubahan lingkungan
Sindrom Delirium Akut

– Patofisiologi
– Stress  perubahan metabolik  availabilitas
as.amino di otak berubah  modifikasi
neurotransmisi otak  sekresi sitokin
– Ex: infeksi, hipoksia, hipoperfusi, trauma bedah
– Defisiensi neurotransmiter ACh dan berlebihnya
neurotransmiter dopaminergik
– Korteks prefrontal, thalamus anterior, parietal non-
dominan, korteks fusiform  terlibat pd delirium
Sindrom Delirium Akut

Gunther M, Morandi A, Ely W. Pathophysiology of Delirium in the Intensive Care Unit. Crit Care Clin 24 (2008) 45–65
Sindrom Delirium Akut
– Presentasi Klinis
– Hiperaktif [mood rendah, kelelahan]
– Hipoaktif [agitasi, increased vigilance, halusinasi]
– Campuran
– Penderita sering berfluktuasi antara hiperaktif dan hipoaktif
Diagnosis

– Sepenuhnya berdasarkan gejala klinis

– Instrumen diagnostik:
– Confusion assessment method (CAM)
– Delirium rating scale (DRS)
– Delirium symptom interview (DSI)
– Kelebihan dan kekurangan masing-masing instrumen
Interpretasi dan Scoring 
CAM
– Diagnosis delirium dengan CAM tegak apabila:
1.Onset akut dan fluktuatif
DAN
2.Inatensi
disertai
3.Pikiran disorganisasi
ATAU
4.Altered level of consciousness
Diagnosis Banding

– Demensia
– Gangguan psikotik akut dan sementara
– Gangguan suasana perasaan
– Gangguan neurotik dan cemas

– Demensia dan delirium sering tumpang tindih


Penatalaksanaan
– Tujuan utama: temukan pencetus, atasi
predisposisi  CGA (fisik, psikiatrik, status
fungsional, riwayat penggunaan obat, asupan
nutrisi dan cairan, serta lainnya)
– Anamnesis
– PF
– Pemeriksaan Penunjang [lab, radiologi, EKG]
Tatalaksana

– Nonfarmakologi
– Reorientasi
– Dukungan keluarga dan caregiver
– Koreksi gangguan sensori (kacamata, alat bantu dengar)
– Meningkatkan mobilitas dan kemandirian
– Menghindari restraints
– Pembenahan status gizi dan nutrisi
– Kenyamanan beristirahat dan tidur
Tatalaksana

– Hanya pada kondisi agitasi yang mengandung risiko


berbahaya bagi pasien.
– Haloperidol 0,25-1 mg IM, IV, ulang setiap 20-30 menit, pantau
tanda vital. Maksimal 3-5 mg dalam 24 jam.
– Benzodiazepin tidak direkomendasikan (oversedasi,
memperberat perubahan status mental), kecuali pada alcohol
withdrawal