Anda di halaman 1dari 19

Karina Isti Damayanti

2121210056
1. Panas/Termal (misal api, air panas, uap panas)
2. Radiasi
a. Infra merah
b. Ultraviolet
c. SinaX dan sinar terionisasi
3. Kimia
a.trauma Asam
b.trauma Basa/ Alkali
 Luka bakar panas dapat diakibatkan oleh api, air panas dan
uap panas.
 Trauma ini di dapatkan akibat terjadinya kebakaran,
petasan, atau kecelakaan lainnya.
 Luka bakar termal pada kelopak mata diterapi dengan
antibiotic topical dan pembalut steril.
 Apabila terjadi kerusakan kornea, maka biasanya tidak
perlu dilakukan bebat tekan karena adanya pembengkakan
kelopak yang ekstensif. Setelah 2-3 hari mulai terjadi
ektropion dan retraksi kelopak mata.
 Tarsorafi dan ruang basah yang dibuat dari plastic dapat
melindungi kornea. Tandur kulit, full thickness ditunda
sampai kontraksi kulit tidak lagi berlanjut.
 Trauma radiasi yang sering ditemukan adalah :
Trauma sinar infra merah
 Akibat sinar infra merah dapat terjadi saat menatap
gerhana matahari dan pada saat bekerja di pemanggangan.
 Terkonsentrasinya sinar infra merah terlihat. Kaca yang
mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan
kaca akan mengeluakan sinar infra merah.
 Bila seseorang berada pada jarak satu kaki selama 1 menit
di depan kaca yang mencair dan pupilnya melebar atau
midriasis maka suhu lensa akan naik sebanyak 9ºC.
demikian pula iris yang mengabsorpsi sinar infra merah
akan panas sehingga berakibat tidak baik terhadap kapsul
lensa di dekatnya.
 Absorpsi sinar infra merah oleh lensa akan mengakibatkan
katarak dan ekspoliasi kapsul lensa. Selain itu sinar
infra merah akan mengakibatkan keratitis superpisial,
katarak kortikal anterior posterior dan koagulasi
pada koroid. Bergantung akibat beratnya lesi akan
terdapat skotoma sementara ataupun permanen.
 Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah
terjadi kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra
merah ini. Steroid sistemik dan local deberikan untuk
mencegah terbentuknya jaringa parut pada macula atau
untuk mengurangi gejala radang yang timbul.
Trauma sinar ultraviolet (sinar las)
 Sinar ultraviolet merupakan sinar gelombang pendek yang
tidak terlihat mempunyai panjang gelombang antara 350-
295 Nm.
 Sinar ultraviolet banyak terdapat pada saat bekerja las, dan
menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari
diatas salju.
 Sinar ultraviolet akan segera merusak epitel kornea.
 Sinar ultraviolet biasanya memberikan kerusakan terbatas
pada kornea sehingga kerusakan pada retina dan lensa
tidak akan terlihat secara nyata. Kerusakan ini akan
membaik setelah beberapa waktu dan tidak akan
memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap.
 Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan
memberikan keluhan sekitar 4-10 jam setelah trauma.
Pasien akan merasa mata sangat sakit, mata terasa kelilipan
atau kemasukkan pasir, fotofobia, blefarospasme dan
konjungtiva kemotik.
 Kornea akan menunjukkan adanya infiltrate pada
permukaannya, yang kadang-kadang disertai dengan
kornea yang keruh dan pada uji fluoresein positif.
 Pupil akan terlihat miosis, tajam penglihatan akan
terganggu.
 Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika
local, analgetik, dan mata ditutup untuk selama 2-3 hari.
Biasanya sembuh setelah 48 jam.
Sinar ionisasi dan sinar X
 Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan
katarak dan rusaknya retina.
 Dosis kataraktogenik bervariasi dengan energy dan
tipe sinar, lensa yang lebih mudah dan lebih peka.
Akibat dari sinar ini pada lensa terjadi pemecahan diri
sel epitel secara tidak normal.
 Sinar X merusak retina dengan gambaran seperti
kerusakan yang diakibatkan diabetes mellitus berupa
dilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata dan
eksudat.
 Luka bakar akibat sinar X dapat merusak kornea yang
mengakibatkan kerusakkan yang permanen sehingga
sukar untuk diobati. Biasanya akan terlihat keratitis
dengan iridosiklitis ringan. Pada keadaan yang
berat dapat mengakibatkan parut konjungtifa atrofi
sel goblet yang akan mengganggu fungsi air mata.
 Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topical
dan steroid 3x sehari dan sikloplegik 1x sehari bila
terjadi semblafaron pada konjungtiva dilakukan
tindak pembedahan.
 Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan
dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di dalam
laboratorium, industry, pekerjaan yang memakai
bahan kimia, pekerjaan pertanian dan peperangan
yang memakai bahan kimia di abad modern.
 Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan
pada mata dapat dibedakan dalam bentuk trauma
asam dan trauma basa atau alkali. Pengaruh bahan
kimia sangat bergantung pada pH, kecepatan dan
jumlah bahan kimia tersebut mengenai mata
 Dibanding bahan asam, maka trauma oleh bahan
alkali cepat dapat merusak dan menembus kornea.
 Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan
segera karena dapat memberikan penyulit yang lebih
berat.
 Luka bahan kimia harus dibilas secepatnya dengan air
yang tersedia pada saat itu, seperti dengan air keran,
larutan garam fisiologik dan asam berat.
Trauma asam
 Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan
anorganik, organic anhidrat (asetat). Bila bahan asam
mengenai mata maka akan segera terjadi
pengendapan ataupun penggumpalan protein
permukaan sehingga bila konsentrasi tidak tingi maka
tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali.
 Bahan asam dengan konsentrasi tinggi dapat bereaksi
seperti terhadap trauma basa sehingga kerusakkan
yang akan diakibatkannya akan lebih dalam.
 Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang
terkena secepatnya dan selama mungkin untuk
menghilangkan dan melarutkan bahan yang
mengakibatkan trauma.
 Trauma akibat asam normal kembali, sehingga tajam
penglihatan tidak banyak terganggu.
 Untuk bahan asam digunakan larutan natrium
bikarbonat 3%, sedang untuk basa larutan asam borat,
asam asetat 0,5% atau buffer asam asetat pH 4,5%
untuk menetralisir.
Trauma basa atau alkali
 Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat
yang sangat pada mata. Alkali akan menembus dengan
cepat kornea, bilik mata depan, dan sampai pada jaringan
retina.
 Pada trauma basa akan terjadi penghancuran bahan
kolagen jaringan kornea. Bahan kimia alkali bersifat
koagulasi sel dan terjadi proses persabunan, disertai
dengan dehidrasi. Bahan akustik soda dapat menembus ke
dalam bilik mata depan dalam waktu 7 detik.
 Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan
menambah bertambah kerusakan kolagen kornea. Alkali
yang menembus ke dalam bola mata akan merusak retina
sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita.
Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat
dibedakan dalam :

 Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai dengan


keratitis pungtata
 Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai dengan
hilang epitel kornea
 Derajat 3 : hiperemi disertai dengan nekrosis
konjungtiva dan lepasnya epitel kornea
 Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak
50%
 Tindakan bila terjadi trauma basa adalah dengan
secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik.
 Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Bila
mungkin irigasi dilakukan selama 60 menit segera
setelah trauma.
 Penderita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA untuk
mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu
trauma alkali diperlukan untuk menetralisir
kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh.